Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 167.


__ADS_3

Aku keluar dari peti yang kugunakan untuk bersembunyi. Kedua tanganku masih terasa dingin dan gemetaran karena sudah merasakan tidak adanya Anitya dalam diriku. Meskipun aku bilang tadi sudah siap dengan tekadku, namun bila dipikir-pikir lagi. Keluar tanpa Anitya memanglah sangat berbahaya. Aku bisa mati kapan saja bila terkena peluru nyasar.


Saat mataku menatap keluar dunia, aku terkejut dengan apa yang sedang kulihat. Diriku seakan tidak percaya kalau aku saat ini masih ada di tempat yang sama.


Oi! Oi!... Dimana ini? Jangan bilang ini adalah gedung bupati!


Mataku terus memandang sana sini, kakiku melangkah sedikit demi sedikit di tengah latar yang luas ini. Tempat ini sudah bagaikan lapangan yang sudah jadi tempat pembuangan bahan konstruksi. Reruntuhan bangunan berserakan secara acak-acakan di sana-sini.


Langkah kakiku seketika berhenti setelah aku melihat sebuah artilery yang cukup besar di atas sebuah bukit. Benda itu berdiri gagah menghalangi sinar rembulan malam.


Jadi dia di sini? Aku mendercakkan bibirku.


Menurut cerita yang disampaikan Nazrul sebelumnya, satu-satunya yang bisa membuat barang semengerikan itu hanyalah satu orang.


Gubernur Halim Perdana Kusuma.


Nama itu langsung terlintas di otakku.


Di sekitar artilery raksasa itu, sedikit ke arah barat. Aku melihat banyak cahaya yang berkedip-kedip di sekitar sana.


Ada yang sedang bertarung di bukit bagian selatan.


Situasi saat ini benar-benar kacau, aku sampai tidak yakin kalau mencopot Anitya benar-benar adalah pilihan terbaik sekarang.


......................


Wush! Jdar!


Sesosok mirip malaikat seketika mendarat di depanku, makhluk dengan 8 sayap yang setiap sayapnya melambangkan setiap elemen yang dimiliki oleh Anitya.


Dia tidak membuang-buang waktu, ya? Saat melihatku, dia langsung mencoba menamatkanku saat ini.


Kami berdua saling menatap satu sama lain, kedua mata kami sama-sama tajam seperti tahu kalau saat ini kedua lawan ada di kondisi yang bagus untuk bertarung.


"Ketemu juga kau, Rasyid! Darimana saja kau?" Tanyanya bergurau.


"Hanya bersembunyi..." Ucapku tenang sambil mengaktifkan pageblug.


Saat pageblug-ku aktif, Nova terkejut dan seketika berubah menjadi tersenyum. Dia tahu dari mana aku hanya dengan melihat pageblug yang kugunakan.


"Peti mati itu, bukankan itu milik kakakmu? Jadi dari sana ya, kau? Pantas saja aku tidak bisa menemukanmu."


Pageblug yang kugunakan saat ini bukanlah pedangku yang biasanya, melainkan peti mati milik kakakku. Ini kugunakan untuk mempermudah diriku untuk menggunakan sihirku. Aku tidak mau tiba-tiba kelelahan dan tidak bisa menggunakan sihirku di tengah-tengah pertarungan. Fatal akibatnya.


Tanpa menunggu lama dan bercakap kecil, aku seketika melompat mundur kebelakang dengan kecepatan cahaya. Saat aku berada di udara, aku membuka peti itu dan memanggil sebuah kuda air yang sudah lama tidak kuperlihatkan.


Kuda itu berlari kencang ke arah nenek itu bagaikan berada di tengah balapan pacu kuda.

__ADS_1


Nova menggerakkan sayap es nya dan memukul kuda itu sampai beku.


Situasi ini sesuai dugaanku, kudaku tidak akan berhenti begitu saja.


"Majulah, Red Hare berwarna biru!" Teriakku sambil mendaratkan kakiku.


Kudaku yang sudah menjadi es kembali bergerak dan mencoba menabrak Nova sekali lagi.


Tahu kalau dia berada dalam masalah dan jarak kuda berada di titik buta sayapnya, Nova mengaktif tongkat sihirnya.


"CODE NAME: HRSFMLR, REMOVE CORE!" Dia mencoba mematikan kuda itu secara paksa.


Namun...


"Apa?!"


*Brak!


Sihir kode tidak berefek sama sekali pada sang kuda, dan kuda itu terus melaju dan berakhir menabrak nenek muda itu.


Nova terbaring di tanah setelah terinjak oleh kaki es kuda yang kupanggil.


"Sekarang aku tahu apa yang sudah kau lakukan, Rasyid!" Dia mencoba berdiri meskipun sempoyongan sambil tertawa sarkas, matanya yang menyipit seakan memberi tahu bahwa dia semakin tertarik dengan pertarungan ini. "Kau mencopot Anityamu?! Sungguh tindakan yang nekat!"


Tanpa membuang-buang waktu, dia langsung melebarkan kedelapan sayapnya dan terbang ke langit. Di atas langit, dia memperlihatkan keagungannya di dunia malam. Dia seperti menjadi rembulan kedua saat ini.


8 bola elemen terbentuk di setiap sayapnya. Bola-bola itu semakin lama semakin besar, jika perkiraanku benar. Bila aku terkena serangan ini, aku bukan hanya akan mati, namun tak akan bersisa bahkan tulang ekor-pun.


Saat mencoba memikirkan apakah aku harus menyerangnya dan menganggu pengumpulan energinya, atau malah cari cara untuk bertahan. Sesuatu menganggu pikiranku, ada sesuatu yang mendekat. Dia terbang menuju ke arah sini.


Nova sepertinya tidak mendengar suara datangnya sosok terbang itu karena suara pengumpulan energinya yang cukup keras.


Ada pengganggu lainnya!


Tidak tahu dia dipihak mana, namun aku segera menyimpulkan orang itu hanyalah orang menyusahkan lainnya.


Pengumpulan energi mau berakhir, namun aku belum melakukan apa-apa sama sekali karena pikiranku yang teralihkan.


Gawat!


Aku membanting tanah dengan petiku, sebuah kura-kura tanah keluar dari peti dan berdiri miring untuk melindungi tubuhku menggunakan tempurungnya.


"Selamat tinggal, Rasyid Lon-!"


*Gubrak!


*Gedebuk!

__ADS_1


Saat mau mengatakan salam perpisahan, aku mendengar seseorang menyerang nenek muda itu dengan kekuatan fisik.


Dia bahkan sampai terbanting di tanah reruntuhan yang keras.


"Hah?"


Rasa penasaranku mengalahkan keselamatanku, aku dengan nekat mencoba mengintip apa yang terjadi di balik tempurung kura-kura itu.


"Kau....!"


Wajahku terkejut saat melihat sesosok wanita sedang melayang di langit. Rambut hitam panjangnya berkibar-kibar oleh tiupan angin. Matanya yang bewarna merah menyala di langit yang gelap.


"Madu Haran..." Ucapku sekali lagi.


Orang yang kupikir akan mati di tempat reruntuhan sekolah saat ini malah sedang berada tepat di hadapanku.


Sesuatu terbayang di pikiranku.


Jika Nova adalah Pangeran yang berunsur cahaya, maka aku bisa menyimpulkan bahwa kehadiran wanita yang menjatuhkannya tadi sebagai sosok kegelapan yang akan menghancurkan kesucian.


"Kghhh!"


Nova mencoba berdiri untuk kedua kalinya. Tatapannya yang saat ini berbeda dengan yang sebelumnya, jika tadi dia tersenyum sarkas ke arahku, kini dia malah terlihat kesal karena kedatangan sosok penganggu itu.


"Nova Sana!" Dia berteriak di udara, suara kencang bahkan sampai berdengung di reruntuhan bangunan yang rata ini. "Ini sudah keberapa kalinya kira-kira aku mencoba menghentikanmu?! Semuanya selalu berakhir gagal..." Saat mengatakan kata 'gagal' dia melirik ke arahku.


Dia menandaiku sebagai penghalang setiap rencananya.


"Namun lihatlah saat ini..." Dia merentangkan kedua tangannya seakan dialah yang menguasai pertempuran. "... Kau membuang semuanya, dan saat ini kau sendirian!"


"Diamlah kau, ******!" Nova menggenggam tangannya, kedua mulutnya menipis seperti merasakan pahit dari ejekan wanita itu.


Namun, semua kepahitan dan kekesalan Nova seketika berubah menjadi kecewa dan tidak percaya.


"Kenapa tidak bisa?! Kenapa kau kebal terhadap kuasa Pangeran?!"


Dari kalimatnya, aku menyadari kalau Nova mencoba membunuh Haran secara langsung, namun gagal.


Aku yang berlindung di balik kura-kura dan berada di antara mereka berdua hanya bisa menatapi bingung dengan apa yang terjadi pada wanita itu.


Saat ini beberapa hal yang menjadi pertanyaan di kepalaku.


Seberapa kuat Haran saat ini?


Apakah Haran akan menyerang kami berdua ada Nova saja?


Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana?!

__ADS_1


__ADS_2