
Point of View: Marika Tasya
Aku sedang sedih dan duduk dibangku penonton untuk merenungi kekalahanku.
'Padahal aku sudah janji padamu...Aku akan menunjukkan kehebatanku...Aku bukanlah sebuah kesalahan...Aku bukanlah anak yang gagal.' Aku mengungkap dalam hati.
Dalam keluargaku, aku adalah anak yang kurang diperhatikan. Mereka selalu menyebutku anak yang tidak diinginkan. Dulunya mereka hanya menginginkan 2 anak, tapi secara tidak sengaja aku terlahir. Mereka hanya merawatku seadanya tanpa memikirkan itu baik bagiku apa tidak.
Keirian selalu menyelimutiku setiap kali di rumah. Setiap aku pulang tidak ada yang menyambutku, setiap kali aku berangkat tidak ada yang bisa kusalami, dan setiap kali aku makan tidak ada senyum ke arahku. Semua senyum dan kasih sayang hanya dilontarkan ke kedua kakakku.
Aku terasingkan di rumah ini. Kedua kakakku tidak mau berurusan denganku, mereka tidak mem-bully-ku, tapi mereka hanya menganggapku tidak ada.
Suatu hari, aku memberanikan diri untuk mendeklarasikan kalau aku ini bukanlah anak yang tidak diinginkan saat makan malam seminggu sebelum penilaian guru. Tapi sekarang semua itu hancur, aku kalah di babak penyisihan.
"Kenapa?!" Aku bertanya pada diri sendiri.
"Padahal aku sudah berlatih keras! Kak Erika dan Pan Rasyid bahkan juga sudah membantu perkembanganku! Tapi kenapa aku masih gagal?!" Aku menegur diriku sendiri.
Suaraku tidak terdengar karena tertutup kerasanya suara sorakan penonton. Aku melihat ke arah arena, di saat itu juga aku terkejut.
"Kak Erika?" Aku menyebut nama orang itu.
Orang yang telah melatihku terbaring kaku di arena. Dengan kekuatan anitya, seharusnya lukanya akan sembuh dengan cepat. Petugas keselamatan membawanya pergi dengan tandu ke UKS.
Aku berjalan menuju UKS untuk menemuinya. Saat di perjalanan, aku bertemu dengan 2 guru yang lain.
"Pak Samuel dan Pak Xander! Apa kalian mau melihat Kak Erika?" Tanyaku.
Mereka berdua mengangguk dan kami bertiga jalan ke Uks bersama.
Sampainya di sana, kami melihat tubuh Kak Erika sedang terbaring di atas kasur. Dia melihat ke arahku dengan tersenyum lemah.
"Oh kalian...Masuklah!" Erika menyuruh kami masuk dengan suara lemah.
Kami berjalan dan berdiri mengelilingi kasurnya.
"Apa yang terjadi padamu? Ini aneh sekali untuk melihatmu kalah." Samuel bertanya.
"Maafkan aku(memalingkan mata)...Aku termakan omongannya."
"Tidak biasa bagimu untuk termakan omongan lawanmu, apalagi itu Fredrica. Bukannya kau tahu bagaimana sifatnya?" (Xander)
"Entah kenapa omongannya sangat nyelekit, jadi aku ingin segera menghancurkannya, tapi itu malah berujung kekekalahanku...hihihi."
"Emangnya apa yang Ibu Fredrica katakan sehingga membuatmu jadi seperti itu...?" Aku bertanya.
"Bukan sesuatu yang besar, dia- (terpotong oleh suara gebrakan pintu).
BRAK!
Pak Rasyid datang ke UKS dengan raut muka yang bingung. Aku melihat wajah Erika yang tiba-tiba berpura-pura tidur. Kedua guru yang lain sepertinya langsung paham apa masalah dari Kak Erika. Jika begitu, maka masalah dari ini semua.
Aku menoleh ke orang yang baru saja datang. Orang itu langsung berjalan mendekat dan bertanya apa yang terjadi pada Kak Erika. Mulutku secara otomatis terbuka.
__ADS_1
"Saat melawan Fredrica, Erika terus dikata-katain sebagai lacur. Dia mengatakan itu karena Erika tiba-tiba mendekatimu, orang yang punya koneksi langsung dari wakil bupati." Aku mengatakan itu dengan wajah datar dengan kesedihan menyelimutinya.
Semua guru terkejut namun aku membiarkannya. Pak Samuel yang tidak mau keadaan semakin memburuk membawa Pak Rasyid keluar untuk bicara 4 mata.
"Kau sebaiknya menenangkan pikiranmu dulu..." ucap Pak Xander menegurku dengan berbisik.
"Maaf, aku mencoba mengerti situasi." Aku memalingkan mataku dari tatapan Pak Xander.
"Sudahlah, biarkan saja. Pak Samuel akan mengurus ini." Pak Xander menyentuh keningnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa kau sangat ingin menang?" Pak Xander bertanya dikesunyian UKS.
"Aku hany ingin membuktikan...."
"Membuktikan pada siapa?"
"Seseorang yang tidak pernah menganggapku ada."
"Apakah yang kau maksud keluargamu?"
".......(terdiam)"
"Aku anggap diammu sebagai jawabanya iya."
"...."
"Aku tidak tahu masalah apa yang kau hadapi dengan keluargamu, tapi aku akan mendukung perjuanganmu. Latihan kerasmu pasti akan terbayar."
"Ini hanyalah awal(menutup mata)... kau tidak bileh menyerah begitu saja...Musuhmu, Pak Nurdin jarang sekali menghormati lawannya. Tapi saat melawanmu, dia memberi salam hormat sebelum meninggalkan arena. Itu artinya latihanmu tidaklah sia-sia."
"Benarkah...?"
"Sepertinya mereka berdua sudah selesai, ayo keluar. Kita berikan Rasyid dan Erika waktu(tersenyum)."
"Hmm(tersenyum mengangguk)."
Kami berdua keluar dari UKS, dan berjalan melewati Pak Samuel dan Pak Rasyid. Aku berjalan ke suatu tempat untuk menyendiri.
Aku duduk merenunginya. Apakah ini sudah semuanya? Aku harap bukan.
Sekitar 1 jam aku duduk di sana.
DUARRR!
Sebuah ledakan mengembalikanku pada kenyataan. Aku keluar dari toilet dan melihat keluar. Terdapat banyak makhluk aneh yang terbuat dari elemen.
"Apa itu?" Kengerian terpancar di mukaku.
Salah satu makhluk itu berjalan mendekat, sebuah makhluk menyerupai macan tapi terbuat dari api menyerang murid-murid di sana. Murid mencoba melawannya dengan sihir dan pageblug mereka.
"Jumlah kita ada banyak! Gunakan elemen air atau tanah untuk mengalahkannya! Yang punya elemen itu, maju!" Salah satu murid memimpin.
Para murid maju menyerang dengan sihir dan senjata mereka. Macan itu tidak merasakan sakit sama sekali, justru dia malah membakar mereka yang dekat dengannya.
__ADS_1
"Arghhh! Panas Panas!"
Para murid yang menyerang menggunakan jarak dekat terbakar hidup-hidup. Mereka mungkin tidak akan mati, tapi trauma dari rasa sakit tetap ada.
Aku mencengkram kuat tanganku yang memegang pageblug. Aku tidak akan gagal untuk kedua kalinya. Sebuah cambuk terbuat dari pageblug-ku. Aku mengibaskan cambukky dari kejauhan dan membuat hujan pasir untuk memadamkan api yang membakar para murid.
"Aku takut!" Para murid jarak dekat mundur ketakutan setelah merasakan terbakar hidup-hidup.
Macan itu tidak tinggal diam, dia menerkam dari belakang salah satu murid yang mencoba lari. Dia menyobek-nyobek badan murid yang malang itu. Sebuah kengerian tidak boleh menghentikanku.
Aku berlari mendekat macan itu, saat jarak sudah kuanggap cukup dekat. Aku mengambil pose dansa dan memutarkan tubuh dan cambukku. Sebuah tornado dari tanah terbentuk dari tarianku. Macan itu terlempar dan murid berhasil kuselamatkan.
"Mundurlah!" Aku menghentikan tarianku dan menepuk murid itu.
"Semua yang punya elemen tanah serang duluan! Lalu dilanjutkan dengan air! Mengerti?!"
"Baikk!"
Aku mengambil alih komando, siswa itu tidak keberatan dan ikut menurut komandoku.
Para siswa melesatkan berbagai macam sihir tanah ke arah macan yang terbaring setelah kulempar.
"Sekarang air!"
Sebuah paduan puluhan sihir air ditembakkan ke arah macan yang sudah tertimbun oleh tanah. Api dari macan itu semakin menghilang. Kini lumpur menutupi macan itu.
"Horeeeee!"
Para siswa bersorak setelah melihat api dari macan itu padam. Tapi aku masih khawatir, kita sama sekali belum pernah lihat makhluk seperti itu.
"Anda hebat Bu! Terima kasih!" Siswa yang memberi komando di awal berterima kasih dengan suara kencang.
"Eh...Ini bukan apa-apa kok? Hehehehe"
Aku tiba-tiba tersadar, nadaku kembali seperti semula. Meskipun gagal di arena, aku berhasil menyelamatkan para murid itu saja sudah cukup. Bukankah itu memang tujuan awalku menjadi guru?
Saat siswa tadi kembali,
Klek klek klek!
Suara dari langkah lari macan itu mengarah ke siswa itu.
"Tidak akan kubiarkan!" Aku yang melihatnya refleks dan mengebaskan cambukku yang tidak kucampuri sihir apa-apa.
Anehnya makhluk itu tiba-tiba terbelah menjadi 2 dan hangus menjadi debu.
"Hampir saja!" Siswa itu tersungkur.
"Tenanglah, Ibu akan melindungi kalian semua!" Senyumku kembali, aku terlalu fokus pada keinginanku sampai lupa hal yang terpenting di sini.
Para murid bersorak padaku. Menganggapku sebagai penyelamat mereka.
Aku masih tidak paham, kenapa macan itu bisa terbelah?
__ADS_1