
PYAR!
Sebuah air yang dingin dilemparkan ke arah wajahku.
"Bangun bodoh! Mau sampai kapan kau tidur terus?!"
Suara seorang pria? Dengungan itu seperti...
Seperti milik orang yang baru saja dikalahkan wanita itu.
Tapi siapa?
Kenapa ingatanku kabur?
"Dasar pemalas!"
BRAK!
Sebuah telapak kaki memberi perutku gaya dorong dan menghempasku ke belakang.
"Akghh!" Erangku.
Tiba-tiba mataku terbuka, dan aku berakhir di ruangan misterius.
Tangan dan kakiku terikat oleh borgol anti-sihir, dan aku seperti merasakan kalau ada yang hilang dalam diriku.
"Akhirnya bangun juga!" Ucap pria itu sambil memasang senyum hina.
"A-Akash Singh?!"
Apa yang terjadi?
Kenapa dia tiba-tiba ada di depanku?
Bukankah dia tadi sudah dikalahkan Salwa?
"Di mana ini?" Ucapku hampa meskipun dalam kondisi tersudut.
"Entahlah, mungkin ini yang disebut sebagai gedung Sangkuni."
"Ha?!"
Saat mendengar nama itu, tubuhku membeku dan tak bisa bergerak normal. Seperti kesetrum, nadiku seakan tidak bereaksi secara normal.
"Di mana yang lainnya?" Tanyaku.
"Maksudmu teman perempuanmu dan anak-anak itu?" Akash memberi tatapan sinting padaku. "Mereka memperlihatkan kenyataan yang disembunyikan guru gendut itu!"
"Bahar?"
"Ya, orang itu... Bila kuingat-ingat, dia menyembunyikan sesuatu saat penilaian guru saat itu, bukan?"
Saat mendengar kata-kata itu, aku seketika tahu maksud arah bicaranya.
"Persetan!"
Aku mencoba mengeluarkan sihirku.
....
Tapi tidak ada yang terjadi.
"Hahaha... Kau pikir kami tidak tahu? Aku mematikan sihirmu, bukan hanya di tangan dan kaki, tapi juga seluruh tubuhmu!"
"Ha?"
"Itu artinya, kau sekarang... Permanen, kehilangan sihirmu! Dan hanya... bisa hidup abadi tanpa sihir! Hahahahhaha!"
Sihirku hilang? Tapi aku tidak boleh gegabah, sihirku hilang karena tersegel oleh benda anti-sihir yang bernama 'TolakBalak' ini.
Tapi ucapannya soal menunjukkan tentang kebenaran Anitya tadi tidak bisa membuatku terus santai dan diam saja.
Aku harus segera menghentikannya.
"Akash..." Aku memanggil namanya dengan senyuman optimis.
"Apa?"
"CODE NAME: AKSHSGH, REMOVE: LIFE!"
Sesaat setelah aku menyebut kode itu, tubuh Akash langsung tumbang dan kejang-kejang.
Cairan putih yang terus keluar dari dalam mulutnya.
Sekitar 7 detik setelah dia kejang, tubuhnya membeku dan diam seperti patung.
"Untunglah kalian bodoh..." ucapku seperti orang yang kecewa.
'Tidak ada waktu lagi!'
Aku memaksa keluar tanganku yang terikat menggunakan kekuatan fisikku.
Jemariku mengalami terkilir bahkan tulang-tulangnya tidak berbentuk normal lagi.
Begitu juga dengan kakiku, semua susunan tulangnya terbalik-balik tidak teratur.
Rasa sakit dari terkilir kurasakan di sekujur tangan dan kakiku.
Tapi dengan segera, Anitya meregenerasi semua bagian tulang yang terkilir.
"Apa masih tidak bisa?"
__ADS_1
Aku berdiri dan menatapkan kedua telapakku pada pintu keluar ruangan ini.
...
Tidak ada yang terjadi.
"Sial!"
Sekarang bagaimana aku keluar?
Pupilku berkeliling di ruangan itu, namun tak ada yang bisa kulihat.
"Bodoh, aku lupa..." ucapku pada diri sendiri sambil menatap orang yang tepar di lantai itu.
"Maaf, tapi ini sekarang punyaku."
Kunci yang ada di pinggangnya kuambil paksa, lagipula dia sudah tidak membutuhkannya lagi.
BRAKKK!
Aku keluar dari ruangan itu, dan menyusuri lorong-lorong 'gedung?' sembari mendeteksi mereka(muridku dan Salwa) menggunakan deteksi Anitya yang ada pada Sophia.
......................
Di ruangan lain, Sophia, Camal, dan murid culun berkacamata yang bernama Julia sedang ditahan dengan diikat dikursk di sebuah ruangan yang berbentuk persegi.
Di dalamnya, ada banyak alat-alat penyiksaan yang akan membuat sang sandra segera mengatakan apa yang mereka inginkan.
Di depan mereka, terlihat Salwa yang tangannya sedang digantung dan tak dapat menyentuh permukaan lantai.
"Akhirnya kalian bangun juga, murid-murid Sekolah Podoagung!" (Garnt Towel)
Seorang pebisnis yang berwajah muda dan tampan sedang berdiri di depan mereka bertiga.
"Kalian bertiga pasti pernah dengar... Soal, kenapa sebuah pertandingan tiba-tiba dihentikan?" (Garnt Towel)
Ketiga murid tadi hanya menatap takut orang itu. Mereka sudah menyadarinya, sesuatu yang buruk akan terjadi pada wanita yang ada di depannya.
Tapi sekarang, mereka sedang tidak berdaya.
Tidak ada satupun yang bisa mereka lakukan. Orang yang ada di depannya terlalu kuat, bahkan guru mereka saja terkena ilusi orang ini.
"Tidak ada jawaban? Berarti itu adalah iya, bukan?" Orang itu mengangkat kedua bahunya.
"Baiklah, aku langsunh saja memperlihatkan ini pada kalian!" (Garnt Towel)
Towel membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah wanita malang itu.
"Inilah yang mereka sembunyikan!"
Towel membuat sebuah hamparan listrik yang sangat kuat di tangan kanannya dan pusaran angin yang sangat tebal di tangan kirinya.
"Kenapa aku harus melakukan ini...?" Terdengar lirih, pria itu seperti kebingungan karena harus menuruti perintah seseorang.
SLAB!
Sebuah tusukan dari tangan kirinya menusuk jantung wanita itu.
"AKKGHH!" Seketika, wanita itu terbangun dan berteriak kencang.
SLARSSS!
Tidak membiarkan wanita itu istirahat, pria itu menusukkan tangannya yang satunya lagi ke jantung yang sudah berlubang itu.
"AKGHHH!"
Tubuh wanita itu seperti mengalami error. Perlahan seluruh kulitnya seperti balon yang kelebihan muatan.
Gelembung-gelembung yang ada di kulitnya semakin banyak dan besar sampa akhinya...
BAM!
Tubuhnya meledak, kulit-kulitnya terlepas dan cairan merah mengalir deras di sekitaran bekas tubuhnya.
Ketiga sandra dan pria itu terkena muncratan cairan merah dari bekas wanita itu.
Sophia, Camal, dan Julia menatap beku wanita itu. Dia seakan melihat sesuatu yang tidak seharusnya, moralnya dan emosinya terkuras setelah melihat itu.
Gemetar di tubuh mereka kini tidak bisa disembunyikan. Mereka benar-benar baru merasakan yang namanya melihat kematian.
"Dan kalian akan menjadi sepertinya!"
Tatap pria itu berbalik ke arah Camal.
TAK TAK TAK
Langkah cepat dari pria itu ke arah Camal.
SLAB! SLARSSS!
Tubuh Camal terhenti dan meledak layaknya wanita yang di depannya.
Sophia menatap ketakutan dengan apa yang terjadi pada temannya yang ada di sebelahnya.
"Paham?" Suara pria itu dengan intonasi datar.
TAK TAK TAK!
Pria itu kini berdiri di depan Julia.
"KUMOHON JANGAN AKU! AKU MASIH-"
__ADS_1
"Tutup mulutmu, orang itu meminta melakukan ini sebagai bayarannya!"
SLAB! SLARSSS!
Kini tubuh Julia juga bernasib sama seperti dua yang lainnya.
Sophia seperti kehilangan harapan. Cahaya di pupilnya menghilang. Kematian akan segera menjemputnya.
BRAK!!!
Namun saat waktunya akan datang, sebuah pintu keluar dari ruangaj itu terbuka paksa.
Di baliknya, terdapat seseorang yang Sophia kenal.
......................
Aku mendobrak pintu itu dan melihat apa yang terjadi.
Mataku melihat sebuah pesta setan di ruangan itu.
"Apa yang baru saja terjadi?" Ucapku pada pria yang tersenyum dengan bermandikan darah itu.
"Entahlah, me-menurutmu apa?"
Langkahku maju, dan menatap tepat di depan wajah orang itu.
"Apa yang baru saja terjadi?"
Entah kenapa, aku tidak merasakan adanya jiwaku lagi dalam dirku.
Hatiku sangat kosong setelah melihat ini.
"Emang kau bisa apa sekarang? Kau bahkan tidak bisa menggunakan sihirmu!"
Pria itu mengejekku, tapi air asin yang terjun di pori-porinya terlihat jelas.
"Matilah kau seperti yang lainnya!"
SLAB!
Tubuhku tertusuk oleh telapak yang diberi sihir angin.
"Hahaha, matilah kau, sang Champion!" dia pikir dia sudah menang.
Tangan kirinya melepas tusukannya dan mencoba menusukku lagi dengan tangan yang lainnya.
"Hihihi!" Ini menggelikan.
Ini menggelikan.
Ini menggelikan.
Aku tidak bisa menyelamatkannya?!
Kenapa?
Padahal aku kuat!
Seharusnya aku bisa menyelamatkan mereka!
Tapi apa?!
Sekarang yang tersisa hanyalah satu!
Aku gagal melindungi teman SMA-ku...
Aku gagal melindungi Salwa.
Aku gagal melindungi murid-muridku...
Aku gagal melindungi Camal dan Julia!
"HAHAHHAHAHHA!"
"Kenapa kau?! Apa kau menjadi gila karena melihat kematianmu sudah dekat?!" Pria itu melesatkan tusukannya ke arahku.
Tapi sebelum benda itu bisa mengenaiku.
"CODE NAME: GRNTWL, MAKE AN EFFECT: ULTRA ELECTRI CHARGE!"
SLARSSSS!
Mata Sophia tertutup dan menangis setelah melihat percikan listrik yang terakhir.
......................
Aku menatapi wajah pria yang tumbang dengan tanpa tangan dan kaki itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja!"
Ini aku?
Tapi kenapa, aku tidak merasakan kalau aku yang menggerakan ini semua?
Seperti, ini sedang bergerak mengikuti sebuah emosi.
"Pak Rasyid! Anda masih hidup!" Sophia lega bercampur tangis.
Tapi dia tidak bisa lega begitu saja, ada lagi yang harus ia lihat.
"Pak? Pak? PAK?!"
__ADS_1
Aku tidak bisa mendengar suara siapaun sekarang, yang kulihat hanyalah pria yang menderita dan ingin segera dilenyapkan dari dunia ini.