Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 85. Ratu Petarung yang Murung pt.7


__ADS_3

Keadaan di arena saat ini masih berjalan seimbang. Belum ada tanda-tanda bahwa salah satu dari mereka akan K.O dengan segera.


JLAS! JLAS! JLAS!


Suara busur yang melesatkan 3 anak panah ke arah pria kekar itu.


Namun...


PLANK! ZRRR!


Tesi menghadapkan chakram-nya yang terbakar ke depan dan membuatnya menjadi sebuah perisai raksasa.


Serangan Erika lagi-lagi sia-sia.


Tanpa tunggu lama, Tesi maju dan mengayunkan chakram-nya kembali seperti sedang menari dengan benda itu.


Api membara yang membakar chakram itu terus berputar dan membuat semacam tornado kecil di arena itu.


Di sisi lain, Erika yang semakin terpojok oleh serangan Tesi mencoba berlari mundur ke pagar arena.


Dan saat berada di sana, jarak Tesi dengan Erika sangatlah dekat. Tanpa pikir panjang, Tesi langsung mengayunkan chakramnya menggunakan kedua tangannya ke arah Erika yang terpojok itu.


Namun suatu hal tidak disangka terjadi, Erika langsung melompat ke pagar dan melakukan backflip melewati lingkaran sela-sela chakram.


Tubuhnya melewati chakram bak binatang yang ada di acara sirkus, pakaian pelayan yang ia pakai terlihat sedikit terbakar oleh bara api di chakram itu.


Saat tubuhnya dekat dengan perut pria itu, Erika mengeluarkan anak panah dari pageblug-nya dan langsung menancapkannya ke perut alot pria kekar itu.


Saat mendarat, Erika melakukan sedikit menggelinding untuk pendaratan yang mulus.


"Aughhh! Perutku! Berani-beraninya kau!" Tesi mengerang sambil mencoba melepas anak panah itu, namun kesialan terjadi padanya.


"Tidak akan kubiarkan!" Erika menembakkam bola listrik ke arah anak panah yang menancap itu.


ZRAHHH!


Anak panah itu menghantarkan listrik ke dalam perut pria itu dan membuat lawannya kesetrum hebat.


"Grahhh!" Tesi menjerit kesakitan.


Bagian yang tertusuk oleh anak panah adalah bagian perut, jadi kuanggap itu adalah hal yang boleh dilakukan.


Hal itu tidak akan membuat Tesi kehilangannya nyawa atau mengalami kelumpuhan lainnya.


Tak mau menyerah sampai situ saja. "Seperti yang diharapkan dari sang Queen of Fighter..." Tesi mencabut anak panah yang menancap di perutnya.


"Kau kuat dan cekatan seperti biasa..." (Tesi)


"Tapi... Ini baru permulaan," senyum pria itu terlihat senang dan bersemangat.


Setelah itu, badannya seperti mengambil kuda-kuda layaknya pesumo dan mengeratkan otot-ototnya.


"ARGHHHH!" Tubuhnya terbakar hebat dan kini dia seperti manusia api yang ada di film-film superhero ataupun fantasi.


CTANG!


Chakram raksasa yang ia kenakan dilempar ke ujung arena dan menghantam pagar, apinya seketika padam dan kembali ke wujud semula(pageblug).


"A-apa-apaan ini?!" Erika yang kebingungan langsung membidik lawannya yang sudah seperti setan itu.


Namun ada satu masalah saat ini, tangan yang digunakan Erika untuk membidik sedang bergetar dan tak bisa membidik dengan pas.


"Kenapa...?" Ucapku lirih dari balik pagar rantai itu.


Dia bergetar hebat?


Apakah dia ketakutan?


Tidak mungkin, itu seharusnya tidak pernah terjadi padanya, kan?


Tanpa sadar, diriku yang dibalik rantai itu menyuarakan sesuatu. "ERIKA BERJUANGLAH!" Kata-kata itu seakan refleks muncul dari dalam mulutku.


Tanpa disuruh, ataupun diminta... Mulutku bergerak sesuai naluriku.


Seperti ada sesuatu yang lain yang bangkit dalam diriku, sebuah perasaan lain yang kini berkecamuk dan tidak pernah kualami...


Perasaan ini, disebut perasaan takut akan kekalahan seseorang yang diidolakan!


......................


Point of View: Erika Rahmana.


Kembali ke arena, aku mendengar suara yang memberi semangat padaku dari balik pagar itu.

__ADS_1


Saat kulihat, dia adalah orang yang tidak kuduga, dia adalah orang yang kuanggap sebagai orang yang kubenci, sekaligus orang yang kucintai...


Dia sudah relal meneriakiku dan memberi semangat padaku.


Aku tidak akan membuat teriakannya menjadi sia-sia.


Dengan begitu, tanganku yang bergetar kini sudah kembali normal.


Cengkraman tanganku pada busur sudah sangat kuat dan tidak ada rasa ragu lagi.


Musuh di depanku berjalan semakin dekat, suara 'BAK!'-nya terdengar keras seperti seorang pegulat.


Sambil menunggu kedatangannya, aku memikirkan sebuah rencana...


Aku adalah sang ratu petarung, membuat rencana dalam waktu dekat adalah keahlianku, dan terlebih lagi, saat ini ada yang menyemamgati...


Kecepatanku dalam berpikir semakin cepat, dan...


"Dapat!" Mataku melotot dan melihati Tesi yang sudah ada di depanku.


"Jangan melamun bodoh!" Dia mengatakan itu sebelum melayangkan tinjunya.


BUK!


Tubuhku terbang ke ujung arena dan menatap keras pagar rantai itu.


Dan tidak sampai situ saja, dia langsung berlari ke arahku dan mau seperti menabrakku seperti pemain rugby. Sikutnya terus ditatapkan kearah disetiap detik dan langkahnya.


Bila aku gagal menghindarinya, maka aku akan penyet dan kalah.


"Tidak akan kubiarkan!" Mataku langsung terbuka dan menghindar kesamping.


DRUAK!


Tubuh kekar lawanku menabrak keras pagar itu dan membuat pagar itu sedikit miring.


Saat mundur, terlihat luka-luka di tubuhnya semakin banyak dan bercak darah semakin ramai ditubuhnya.


Motif dari rantai di pagar itu ngecap dikulitnya yang saat ini berdarah...


Terlihat bagus mungkin?


"Hebat juga kau!" Tesi menatapku dengan mata yang merah.


Badanku seperti menabraki angin dan menentang kuasanya.


Saat jarak sudah dekat, aku membuat diriku seperi ingin menusuk perutnya kembali.


Saat hal itu kulakukan, Tesi dengan segara menutup bagian perutnya dengan tangannya.


"Seperti rencana..." ucapku lirih dengan senang.


Anak panahk yang kubawa, kuarahkan ke lantai semen dan kutancapkan ke dalam.


Setelah menancapkan benda itu di dekatnya, aku terus berlari dan menancapkan para anak panah itu ke tiga titik lainnya di arena.


Arena yang berbentuk persegi itu kutancapkan anak panah di setiap sisinya.


"Apa yang akan kau lakukan?!" Tanya Tesi dengan bingung, tapi tetap menyerudukku.


Datang juga kau!


Tesi menyeruduk ke arahku, tapi persiapanku kurang satu.


Tapi itu tidak akan lama lagi.


Busurku ku arahkan ke atas, tepat di bagian bawaj jembatan layang itu.


CTAS!


Anak panah menancap di atas sana.


Serudukan pria itu semakin dekat, tapi semua rencanaku sudah selesai.


Maka saat ini tinggalah mengeksekusinya.


Jemari kananku kuangkat ke atas dan bersiap untuk dijentikkan.


Saat jarak kami berdua hanya dua meter, aku...


CTAK!


... Menjentikkan jariku dan membuat sebuah limas segi empat di arena itu.

__ADS_1


Limas itu membuat sebuah arena petir yang menyambar siapapun yang ada di dalamnya termasuk aku.


Tapi, ada satu hal yang perlu kugaris bawahi...


Aku sudah terbiasa dengan sihir ini, maka aku tidak akan merasakan setrumannya.


JDAR!


Tubuhku yang memakai baju pelayan dan tubuh kekar lawanku yang terbakar dengan bersama-sama tersetrum oleh ruangan penuh hamparan listrik itu.


"Gyah!!!" Suara teriakan Tesi yang tersetrum terdengar indah di kupingku.


Mungkin, aku sudah menjadi sedikit aneh karena belum pernah memgeluarkan sihir ini sejak pertarungan terakhir di-championship saat itu.


......................


Point of View: Rasyid Londerik


Di akhir pertandingan, yang berdiri terakhir di arena itu hanyalah seorang wanita cantik dan imut yang berpakaian pelayan itu.


Lawannya yang berotot dan terlihat kuat tadi hanya terbaling lemas di dinginnya semen malam.


Saat setelah itu, Erika berjalan pelan ke arah lawannya itu.


Dia menjongkokkan badannya dan meratapi tajam orang itu.


Tunggu, bila dia jongkok... Berarti, aku bergerak ke sisi lain di mana Erika menghadap ke arah pria itu.


A-aku hanya memastikan saja...


Namun, sebuah tangan mengenggam kuat pergelangan tanganku.


"Aduh...!" Aku melihat pemilik tangan itu, dan menyusuri dari pergelangan tangan sampai ke atas wajah.


Di bagian wajah, terlihat Moka sedang menatap curiga diriku...


"Pak, anda mau apa?" Ucapnya sambil memasang senyuman genit tapi mematikan.


Melihat senyumna itu lagi, aku dengan segera menurut dan diam di tempat, dan hanha bisa pasrah melewati kesempatan emas itu.


"Tidak kemana-mana, bapak hanya sedikit refleks..."


"Refleks anda hebat ya... Atau bisa saya bilang, anda semakin aktif menjadi normal!"


Mendengar kalimat itu, membuat diriku sedikit senang.


Kata normal, itu adalah tujuan hidupku selama ini. Bukan, lebih tepatnya tujuan yang ditetapkan seseorang padaku untuk dituntaskan.


"Bagian mana yang kau anggap normal?" Aku bertanya dengan semangat yang membuat diriku tertawa cengemgesan.


"Bagian di mana, sifat mesum anda keluar..." Dia memindahkan pandangannya kembali ke Erika yang sudah selesai bicara dengan lawannya.


Di arena tadi, aku melihat Erika sedang berbincang sesuatu pada lawannya yang pingsan, tapi sayangnya aku tidak sempat mendengar karena teralihkan oleh pujian Moka.


Kembali ke masalah kenormalanku, setelah mendengar itu...


Pikiranku kosong dan membeku dengan senyuman menjijikkan itu.


"Heh?!" Itu adalah satu-satunya kata yang bisa kukatakan.


"Ya mau bagaimana lagi, anda sudah sering dekat dengan wanita cantik, bahkan sampai dikerumuni gadis SMA sekalipun, tapi diri anda tidak terlihat bereaksi sama sekali..." (Moka)


"Jadi... saya sempat berpikir, kalau anda ini sebenarnya-(kupotong)" (Moka)


"Kuharap kau tidak melanjutkan kalimat itu..." ucapku datar menatapi Erika yang berjalan keluar dari arena.


"Hahaha..." Suara tawa Moka terdengar aneh di kupingku, pandanganku bahkan langsung teralihkan olehnya. "Anda ini, semakin lama semakin aneh...!" Tawanya dalam setiap kata membuatku sedikit lega.


Aku yang pernah membuat anak ini menderita awalnya sedikit bersalah, tapi saat ini... Melihat tawa darinya sedikit membuatku meregangkan ketegangan otot-otoku.


Aku harap, suatu hari aku bisa menyelesaikan permasalahan dengan anak ini dengan damai.


Tak lama setelah tersenyum, senyuman Moka menipis dan kembali murung.


"Tapi, aku masih sama... Tidak berubah sama sekali, bahkan setelah melihat pertarungan ini seperti yang bapak suruh, aku malah semakin merasa minder..."


Aku berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan, karena ini juga adalah bagian dari rencanaku.


......................


Tak lama setelah itu, Erika yang baru keluar dari arena langsung mendatangi kami berdua tanpa mengganti pakaian pelayannya dengan senyum layaknya pagi hari yang cerah


"Rasyid, aku berhasil!" (Erika)

__ADS_1


Dia sepertinya juga akan menyelesaikan masalahnya sendiri.


__ADS_2