
Jalannya pertarungan semakin mereda, Haran telah terjatuh dan Sophia terpojok. Tinggal menghancurkan mereka sampai jadi butiran.
Meskipun mereka tidak bisa mati, namun menyiksa mereka sampai lebur tetaplah tidak manusiawi.
Semoga saja mereka berdua tidak mengingat rasa sakit yang mereka rasakan saat ini! Harap Widodo pada taruhan berat ini.
*Dor! *Dor! *Dor!
Mengetahui Haran telah jatuh, Widodo mencoba kembali fokus pada targetnya dan menembaknya berkali-kali sampai tak berbentuk.
"Widodo, apa yang kau lakukan?!" Tasya bertanya dengan tegang dan terkejut.
Widodo sudah menduga mereka akan terkejut dengan yang dilakukannya, namun dia tidak boleh berhenti. Dia harus membuat Haran sampai pada titik K.O.
*Dor!
Tembakan terakhir bergemuruh dan mensunyikan kelompok orang yang baru saja sampai di pertempuran.
Mereka hanya bisa terdiam dan menganga bodoh setelah melihat kejadian yang tak terduga ini. Di sisi lain, para murid hanya bisa memalingkan wajahnya dari apa yang mereka lihat.
Itu terlalu keras buat mereka, mental mereka tidak sekuat para orang dewasa. Melihat orang yang dihancurkan menjadi berkeping-keping adalah sesuatu yang baru bagi mereka.
......................
Sementara itu, di bagian pertarungan lain.
"Gyah!" Tesi terus membakar dan menebas kulit mulus gadis itu.
Dia tidak peduli dengan rasa kemanusiaan bila itu bisa membawa kembali kesadaran gadis itu.
*SLASH! *SLASH! *SLASH!
Sampai pada titik dimana Sophia sudah terpojok dan serangab Tesi mulai merobek pakaiannya, gadis itu hanya bisa terdiam dan terbelah-belah tanpa berteriak.
Tubuhnya terbelah-belah menjadi beberapa bagian. Kesadarannya semakin lama semakin hilang. Sampai pada akhirnya dia pingsan dan tak bisa melanjutkan pertarungan lagi.
Tesi menghentikan putarannya dan mematikan api yang membakar seluruh tubuhnya.
Badannya terengah-engah sambil melihat sedih gadis malang itu.
"Ini pertarungan satu sisi, ini terlalu mudah buat di lawan." Meskipun begitu, Tesi tetap merasa kalau pertarungan ini cumanlah penghalang saja.
"Rasyid meminta mereka berdua menghalau saja, jadi perintahnya tidaklah begitu efektif. Mereka berdua bertarung dengan gagap, bahkan terlalu lemah."
Apa yang Tesi katakan pada dirinya sendiri adalah bagaimana pertarungan ini akan menjadi mimpi buruk bila kedua wanita itu bertarung dengan kesadaran asli mereka. Mungkin saja merka bisa tidak berkutik sama sekali.
Saat memikirkan itu, dia melihat lengan gadis itu yang sudah menjadi hitam karena gosong. Di bagian lengan kanannya terdapat beberapa bekas suntikan yang baru saja disuntikkan.
__ADS_1
Tesi berjalan mendekat dan berlutut di dekatnya sambil melihati lengan gosong itu. "Bekas suntikan ini, apakah ini ulah nenek yang dikeluh-keluhkan Widodo itu? Bila tidak salah namanya Barbeth, kah?"
Tesi tidak bisa melihat bekasnya, tapi sebagai petarung, dia bisa tahu mana musuh yang kuat karena pakai obat atau tidak. Itu juga berlaku untuk sebaliknya, musuh juga bisa melemah bila dia disabotase oleh lawannya sebelum pertandingan.
"Pantas saja mereka melemah..."
Dari bagaimana mereka bereaksi, sepertinya efek suntikan baru berefek saat mereka tiba di tempat ini.
*Tak! *Tak! *Tak!
Sebuah langkah kaki tiba-tiba terdengar cepat dan tergesa-gesa sedang menunu kemari.
"Gadis?"
Tesi bisa tahu hanya dari langkahnya.
"Hah?!" Moka yang baru sampai seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Dia menahan rasa ngeri dan tangis di saat yang bersamaan.
"Apa yang telah terjadi?"
"Tenanglah, aku menggunakan senjata biasa dan sihir api. Mustahil buat Anitya untuk tidak meregenerasinya."
Meskipun sudah diberi penjelasan, Moka yang shock masih tidak bisa merasakan lega sedikitpun. Seluruh badannya bergetar, kedua kakinya tidak mampu menopang berat badannya.
......................
Kembali di tempat Widodo bersembunyi.
Kini dia sudah tidak sendiri lagi. Grup yang baru datang itu mendekatinya sambil memasang wajah marah yang penuh akan pertanyaan.
"Bisa jelaskan kenapa kau melakukan itu?" Tasya mencoba bertanya dengan halus, namun karena sudah dibawa emosi, suaranya malah terdengar seperti pisau yang memotong perlahan namun sangat menyakitkan.
"Cuman taruhan kecil..." Widodo tersenyum tipis tanpa adanya rasa bersalah.
"Taruhan?!" Mereka semua kompat mengatakan itu dengan terkejut.
"Apa kau gila?!" (Tasya)
"Tidak, ini lebih ke 'coba-coba'."
"Apa maksudmu dengan coba-coba?" Kini giliran Samuel yang bertanya.
Mendengar pertanyaan itu, Widodo menjelaskan semua spekulasinya tentang Sophia dan Haran yang mungkin bisa disadarkan dengan membuat mereka K.O tanpa membunuhnya secara total.
Mereka semua memberikan tanggapan yang beragam, namun tak bisa membantah kalau yang Widodo lakukan sangat berguna bila dicoba.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong soal mereka berdua, dimana Dahlia? Aku tidak bisa menemukannya dari tadi." Gita menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidaj menemukannya.
Widodo seketika merengur setelah anak itu menanyakan itu. Dia hanya bisa merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan.
Meskipun ini hanyalah demi skenario yang dia buat, namun perasaan bersalah Widodo pada dua orang yang bukan menjadi incarannya cukup besar.
"..."
"Kenapa kau diam saja?" Tasya menggoyangkan tubuh Widodo yang terdiam bagaikan paku.
"Maafkan aku, tapi sepertinya... SANGKUNI berhasil membunuhnya saat tiba di sini." Widodo menarik nafas sambil melirik ke arah kiri.
Dia tidak mau mengatakan kalau dia yang membunuhnya. Mereka bisa saja langsung tidak percaya dengan 'coba-coba'-nya bila dia mengatakan yang sebenarnya.
"Sang-Sangkuni?!" Stevent dan Hakam berkeringat dingin saat mendengar nama itu. "Bukankah mereka adalah organisasi paling terkenal menakutkan di Nusantara ini?!"
"Ya, tapi beruntungnya Rasyid berhasil mengatasinya. Pemimpin SANGKUNI telah mampus di tangannya." Widodo membuat alasan yang paling memungkinkan untuk bisa mereka percaya.
Dengan memberikan beban yang seimbang di kebohongannya itu, dia bisa membuat mereka percaya dengan mudah bualannya.
"Begitu ya?" Mereka semua menjadi sedih dan berhasil tertipu oleh bualan pria aneh itu.
"Pak Widodo..." Seketika Stevent memasang wajah suram sambil melihat ke bawah. "Bagaimana perasaan Pak Rasyid?"
"Apa maksudmu dengan perasaannya?"
"Maksudku, bagaimana perasaanya saat tahu Dahlia mati?"
Widodo seketika terdiam.
Dia tidak bisa mengatakan kalau Rasyid tidak berekspresi sama sekali, bahkan tidak merasakan sedih saat gadis itu mati. Pria itu pergi dengan merasa bingung dan tidak tahu harus bagaimana berekspresi.
"Dia..."
Sesuatu mengalihkan mereka saat Widodo mau mengatakan kebohongan yang lainnya.
"Gyah! Apa yang terjadi padaku?!" Haran bangkut dari kuburnya dan melihati keadaan sekitar dengan mata yang menyipit penuh kebingungan. "Di mana ini? Kenapa semuanya menjadi putih?"
Ntah kenapa Haran yang sangat mengerikan dan terkenal karena kesadisannya sekarang malah terlihat seperti orang yang sudah pasrah hidup karena ditolak kerja sebanyak ratusan kali.
Di tempat lain,
"Ah..." Sophia kembali pulih dari tubuhnya yang menggosong. "Apa yang terjadi padaku?"
Dia bertanya pada orang yang berada di sekitarnya, namun ada yang janggal dari caranya bertanya.
Dia bertanya dengan nada Kuudere.
__ADS_1
Note: Cari aja Kuudere di internet.