Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 99. Pelayan yang Memimpin pt.5


__ADS_3

Kembali ke medan pertempuran.


Kelas 1 Fisik 1 sudah membuat mundur 10 murid yang kabur tadi.


Tapi dengan di bawah komando Hakam.


Mereka berhasil menjatuhkan 6 murid di antara mereka sebelum mereka membuat tembok dari tanah untuk menutup gerbang masuk istana.


Point of View: Hakam Surya.


Aku sudah memerintahkan beberapa murid yang bisa menyusup ke bagian balkon.


Aku melakukan itu bukan hanya demi mempercepat gerakan kami, namun juga karena ingin segera mengenyahkan wajahku yang sudah terlalu panas.


Ah...


Aku tadi hampir tidak bisa berpikir logis saat berada di dekat Moka!


Lupakan!


Kembali ke urusan!


Kuharap mereka bisa menyelinap dengan aman.


Jika kami langsung menyerang sekarang, maka kami akan masuk perangkap lawan. Jadi kami harus melakukan beberapa persiapan terlebih dahulu.


Mengirim mereka yang bisa menggunakan sihir es dan cahaya adalah pilihan yang tepat saat ini.


Di sisi kanan pintu masuk istana, regu yang dipimpin oleh Moka yang berjumlah 3 orang berjalan di atas tembok dan naik ke atas balkon dengan selamat dan tanpa kendala.


Namun...


Di sisi bagian kiri pintu masuk istana, regu yang dipimpin tuanku yang berjumlah 4 orang mengalami sedikit kendala.


Mereka disambut oleh beberapa tembakan sihir dari atas dan beberapa dari mereka dibuat jatuh oleh tembakan itu.


K.O dua hanya karena tembakan itu?!


Ini gawat, tuanku seharusnya bisa lebih cepat dari pada ini.


Bila tidak, maka akan banyak murid yang K.O tanpa memberikan kontribusi.


***


Stevent terlihat kesal, giginya dia gesek-gesekan satu sama lain, matanya membuka lebar sampai urat nadinya terlihat di sana.


"Sial! Aku tidak akan membiarkanmu membuat kelas kami semakin terdesak!"


Dengan emosi, tuanku berlari dengan kecepatan penuh dan naik ke atas balkon.


Di atas sana dia langsung disambut oleh 6 penjaga yang menghalangi mereka tadi.


"Itu Stevent!"


Mereka(musuh) berteriak sesaat melihat wajah tuanku.


Namun kenapa?


Apakah mereka sudah bersiap untuk menangkal?


Sepertinya apa yang kukatakan dalam hati tadi benar.


Dengan segera, ada satu murid dari kelas lawan memperlihatkan kemahiran dirinya di depan pangeran itu.

__ADS_1


Dengan sombong dan pamer, dia memperlihatkan bagaimana dirinya memainkan sihir listrik dan kegelapannya secara bersamaan seperti sedang menari.


"Oh, jadi kau mencoba melawanku dengan elemen yang berlawanan?" Stevent terlihat tertarik dengan strategi lawan, dia bahkan membenarkan kacamata yang ia pakai untuk menandakan kalau dia serius.


"Earl Stevent Xander, aku sudah menganalisismu sejak awal masuk sekolah, dan ini adalah saat dimana aku akan menunjukkan kebolehanku!" Sang lawan membuat sebuah tatapan lebar yang menantang.


"Nama...." (Stevent)


"Hah?"


"Siapa namamu? Tidak enak bila hanya kau yang tahu namaku."


"Oh... Namaku? Aku Rodrick! Rodrick Cevyat!"


"Baiklah, Rodrick! Kau akan melihat betapa sia-sianya yang kau lakukan selama ini!"


Dengan segera, Stevent maju dan menghunuskan pedangnya ke arah lawannya secepat kilat.


BRUSSS!


Namun seperti yang diharapkan, lawannya adalah elemen yang bisa menepis serangan pangeran itu. Gerombolan asap hitam muncul di sekitaran tubuh lawannya dan membuat kecepatan Stevent seketika melambat dan bisa terbaca dengan mudah oleh lawannya.


"Terlalu mudah!"


Cela terlah terlihat, Rodric mengarahkan tinjunua ke arah perut Stevent yang sudah berada di dekat dengannya.


GUBRAK!


Tubuh Stevent seketika terhempas oleh sebuah dorongan yang mengandalkan sebuah sengatan listrik.


Tapi, yang namanya pengguna elemen cahaya, Stevent dengan cepat kembali berdiri dan langsung berlari ke arah lawannya bagaikan sebuah bayangan kuning yang bergerak.


"Mau kesini lagi?! Gak bakal bisa!"


Rodrick membuat asap hitam muncul di sekitarnya, dan kali ini menyebar lebih banyak dari sebelumnya.


Namun...


Dia bagaikan hilang dan amblas begitu saja di pertarungan itu.


"Hah?!"


Baik Rodrick dan murid-murid yang berlindung di belakangnya menoleh kesana-kemari untuk mencari jejak Stevent yang hilang.


Sudah berputar-putar kepala mereka mencari jejak pangeran itu, namun tak ada satupun yang bisa menemukannya.


"Apakah dari atas?!" (Rodrick)


Namun tidak ada, tebakannya salah.


Aku yakin Stevent tidak akan berpikir seperti itu, dia pasti berpikir lebih dari strategi murahan.


JLAS! JLAS! JLAS!


Tiba-tiba, dari dinding tembok sebuah es berbentuk bunga mawar melilit dinding itu, mawar itu bagaikan mencakar-cakar setiap dinding kokoh di sana.


"Hah?! Mawar es? Mawar putih? Apa maksudnya?!"


Rodrick tidak mengerti maksud dari sihir itu.


Namun, aku sudah melihatnya....


Tepat di bawah sana, lebih tepatnya berada di bawah dinding yang Regu Stevent lalui.

__ADS_1


Sophia berdiri dan mendangak ke atas, tangan kanannya mengangkat ke atas seperti ingin menggapai sesuatu di atas sana.


"Hancurlah!"


Seketika, mawar es itu bermekaran dan memenuhi bagian dinding itu. Mawar-mawar itu menyusun diri mereka sendiri sampai membuat sebuah elevasi yang dapat dinaiki seperti tangga.


Rodrick menganga tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Apa maksudnya ini?! Apakah serangan Stevenr tadi cuman pengalihan saja?!"


Sayangnya, aku bisa meyakinkan. Kalau apa yang Rodrick katakan adalah kebalikannya.


Apa yang sebenarnya terjadi adalah...


CKRAS!


Stevent tiba-tiba muncul dari atas Rodrick dan murid-murid yang berlindung di belakangnya.


Pedang kerajaan yang dia cengkram saat ini sedang diselimuti oleh gabungan sihir air dan cahaya.


Tidak ada yang aneh, malah terlihat biasa saja.


Namun, jika kita menggunakan ilmu fisika, maka itu semua berbeda.


Air yang melesat cepat bisa menghancurkan sebuah baja. Itu adalah apa yang telah dipelajari dan jelas diketahui oleh kami para murid Sekolah Podoagung yang bergengsi.


"Rasakan ini!"


Di udara, Stevent menebaskan pedangnya dan melesatkan sebuah gelombang air dari pedang itu. Gelombang air itu melesat dengan sangat cepat bahkan perisai dari es dan tanah sekalipun tidak akan bisa menghentikannya.


SLASH!


"ARGH!"


"GYAH!"


"SIAL!"


Rodrick dan 6 lainnya tereliminasi dari pertarungan.


Sekarang kedua regu berhasil berada di atas, maka ini adalah tugasku.


Tugasku untuk memerintah dan memberikan arahan pada mereka.


"Kedua regu, cari jebakan yang dipasang di atas dan di dekat gerbang sana!" ucapku sambil meninggikan suaraku.


Dengan memberikan sebuah kode cahaya sebagai ucapan 'iya' mereka berangkat dan mencari jebakan-jebakan yang disiapkan untuk menyambut kedatangan kami.


Sekitar 2 menit, kedua regu berhasil menemukan semua jebakan dan mengamankannya.


Sisa regu, kelas 1 Fisik 1: 18


Sisa regu, kelas 1 Sihir 4: 20


......................


Point of View: Rasyid Londerik.


Tak kusangka, Stevent benar-benar sudah berubah. Mulai dari caranya berpikir dalam bertarung sampai cara dia memanfaatkan timnya untuk mengalihkan perhatian lawannya.


Sungguh, tidak sia-sia aku melatihnya waktu itu.


Astaga, jangan sombong diriku!

__ADS_1


Dari balik monitor itu, aku hanya bisa tersenyum sambil tertawa kecil layaknya orang bodoh.


"Eh..." Ryan yang duduk di sampingku menatap dengan jijik.


__ADS_2