Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 90. Prologue sebelum Ujian Siege Battle


__ADS_3

Di ruang guru saat ini, para guru sedang duduk di ruangan gelap itu dengan hanya diterangi oleh sebuah papan digital yang berada di depan mereka.


Apa yang mereka lakukan di sana adalah untuk menilai para murid yang akan bertarung di siege battle nanti.


Hampir di seluruh area pertarungan siege battle itu terdapat kamera. Mulai dari langit sampai disetiap sudut ruangan istana Tyas. Mereka akan mengawasi para murid dari segala tindakan kecurangan yang akan datang.


"Bagaimana situasi area pertarungan?" Bahar yang berada di depan ruangan itu berdiri di depan mereka sambil berbicara dengan partnernya.


"Aku bisa pastikan, mereka stabil. Semua kamera anti-gores dan sihir sudah terpasang di setiap sudut. Dengan begini, kita bisa mengawasi mereka secara penuh." Haran yang menjadi partner orang itu membicarakan situasi saat ini.


"Bagaimana kalau ada penculik yang mengacau?" Xander yang berada di bangku paling pojok dan sedang duduk di kursi nomor dua dari depan mengangkat tangannya.


"Anda tidak perlu khawatir, karena aku sudah meyakinkan kalau tim pengawal Putri Tyas Anjani masih berlaku sampai sekarang," senyuman licik Haran diterbangkan ke arah pangeran itu.


"Tapi, bukannya mereka sudah dinon-aktifkan karena ketua mereka sekarang sedang dibebas tugaskan?" Fredrica berganti angkat tangan untuk mempertanyakan ini. "Kemarin saja, saat ujian pengambilan bendera. Hawa keberadaan para pengawal itu tidak kurasakan sama sekali, dan malah. Aku melihat Xander taruhan uang dengan salah satu tamu," ucapnya menambahkan.


Tidak ada yang terkejut saat mendengar kata 'taruhan uang', atau lebih tepatnya mereka sudah tahu dan tidak peduli. Bagi para guru, hal seperti itu adalah urusan pribadi orang yang bersangkutan. Tidak boleh ada tangan yang mencampurinya.


Haran yang sedikit kesal dengan hinaan tak langsung wanita berambut pirang itu memperlihatkan senyum yang diiringi sebuah tanda '#' di keningnya.


"Oalah Fredrica, kenapa kau mempermasalahkan hal keci seperti itu? Bukannya itu adalah hal yang lumrah?!"


"Ti-tidak, a-aku hanya merasa kalau sebagai seorang pengawal. Hal itu tidak perlu dilakukan..." Hanya dengan senyuman itu, Fredrica yang tadi mencoba menghina secara tak langsung para pengawal putri itu langsung dibuat diam seribu bahasa.


Mata Haran menatap tipis wanita itu, senyumannya yang licik semakin meruncing akan kepuasan. "Jika kau sudah tidak ada yang ingin disampaikan, maka aku akan melanjutkan."


Para guru terdiam, ruangan yang gelap itu seakan kosong tidak ada orang sama sekali. Mereka semua takut oleh pernyataan skak mat dari mulut licin wanita itu.


"Oke, sepertinya kalian semua sudah tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Maka dengan begini, kalian yang masih terpilih sebagai pengawal Putri Tyas segera keluar dan ambil posisi! Buat para penculik itu ketakutan sampai tidak berani menampakkan sehelai rambutnya dari mata kita!" Haran membuat suara yang menggelegar sampai tidak meja-meja yang ada di sana berguncang.


"SIAP!" Tak lama setelah mendengar perintah wanita itu, 9 guru yang terpilih keluar dari ruangan itu dan siap ambil posisi.

__ADS_1


Kelas kini tersisa hanya tersisa 15 orang jika dihitung dengan mengabaikan Haran dan Bahar yang berdiri di depan mereka.


"Cuman 15, ya? Sepi sekali..." Bahar menatapi bangku-bangku yang kosong karena ditinggalkan oleh pemiliknya itu.


"Ya mau bagaimana lagi, ini sudah kewajiban mereka sebagai guru. Bila mereka melakukan kesalahan, maka hal yang terjadi pada guru baru itu akan terulang." (Haran)


"Meskipun begitu, aku hanya khawatir kalau para guru-guru yang menjadi pengawas tidak dapat memberi poin tambahan pada murid mereka..." Bahar mulai berbisik.


Apa yang sedang Bahar bicarakan saat ini adalah bagaimana para guru selalu memberi nilai lebih saat menilai kelas yang mereka ajar. Sedangkan bila saat ini ada beberapa guru yang absen karena menjadi pengawal, maka mustahil buat mereka untuk melakukan kecurangan itu.


"Tenanglah, meskipun ada guru yang melakukan itu. Nilai mereka tidak akan berubah..." Haran membalas bisikan pria berbadan besar itu.


Suara mereka terdengar keras meskipun berbisik sekalipun. Mereka berdua seperti melakukan ini dengan sengaja agar terdengar oleh oknum guru yang melakukan itu. Seakan, mereka sedang menghina mereka secara halus.


"Ehmmm(berdehem)..." Posis Bahar dan Haran kembali ke posisi semula.


Mata Bahar kembali memutar ke meja-meja para guru itu. Matanya menyadari sesuatu yang menyedihkan.


"Eh, anu, Samuel?" Dia memanggil pria itu.


"Apa kau cuman satu-satunya yang ada dibaris itu?" Sambil menunjuk ke barisan dari banjar kelas 1 Fisik. Di barisan sana hanya ada Samuel yang duduk sendiri tanpa ada yang lain.


Menjawab pertanyaan itu, Samuel berdiri dan mengatakan : "Seperti yang anda tahu, guru kelas 1 Fisik 1 sekarang sedang dibebas tugaskan, guru kelas 1 Fisik 2 dan 3 sedang menjadi pengawal Putri Tyas, sedangkan guru kelas 1 Fisik 5 sepertinya belum hadir..."


"Belum hadir katamu?!" Bahar berteriak dengan matanya yang terbuka lebar. "Bagaimana bisa? Apa yang wanita itu pikirkan, sampai mencoba telat saat waktu seperti ini?!"


BUK!


Tak lama setelah mencaci nama guru yang telat itu, sebuah injakan sepatu hak tinggi mendarat ke kaki besar pria itu.


"Akghh!" Bahar menoleh ke arah pelaku yang ada di sampingnya, tapi sang pelaku hanya tersenyum biasa sambil menyilangkan tangannya seperti tidak ada yang terjadi. "Apa yang kau lakukan...?" Suaranya lirih bertanya ke arah wanita itu.

__ADS_1


"Entah, aku juga tidak tahu. Mungkin itu refleks karena melihat kebodohanmu?" (Haran)


"Ha?"


"Kau bilang padaku pagi-pagi buta kalau guru itu sudah diterima kembali di sini. Dan sebagai sesama guru, dia pasti sedang menjemputnya!" Haran menegur guru tua itu.


Tapi itu tidak masuk akal, itulah apa yang Bahar pikirkan sekarang. "Apa hubungannya Erika dengan guru itu sampai dia harus menjemputnya?"


Mendengar pertanyaan Bahar, Haran mencoba menepisnya. Namun niatnya terhenti karena suatu alasan.


Dalam hatinya dia berpikir: 'Kenapa aku harus berpadu dengan orang yang tidak pernah peka ini?!' Sebuah penyesalan tertulis jelas di pikiran maupun wajahnya.


Tidak beberapa lama setelah dua orang yang di depan itu sedikit berdebat dengan menghiraukan para guru yang ada di depan mereka, sebuah ketukan pintu didengar oleh mereka.


TOK TOK TOK!


Pintu itu diketuk dan langsung dibuka oleh sang pengetuk.


"Maaf, kami telat!" Dia menempelkan kedua telapak tangannya dan diarahkan ke arah guru-guru yang masih ada di sana.


"Kami?" Zarbeth yang duduk di paling belakang dan dekat dengan pintu menekuk alis kanannya.


......................


Aku berjalan masuk ke ruangan itu setelah Erika mempersilahkannya.


"Permisi, maaf aku telat. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan dulu," ucapku sambil memegang dadaku dengan tangan kananku.


Meskipun cuman sehari, tapi aku merasa kalau aku sudah pergi dari ruangan ini lebih dari 1 tahun.


Bagiku, sekolah ini sudah seperti rumahku. Jika aku tidak sehari di sini, maka aku mungkin akan gelisah karenanya.

__ADS_1


Tapi untuk hari libur, aku akan mengabaikannya. Karena itu kuanggap sebagai pengecualian.


Akhirnya aku merasakan udara ini lagi.


__ADS_2