
Point of View: Saiful Baharuddin
Aku menonton jalannya pertandingan dengan duduk di samping presiden. Ini adalah sebuah kehormatan dan kebanggan bagiku, jarang sekali sekali ada kesempatan emas untuk mendapatkan bagian untuk duduk di samping orang nomor satu.
"Apakah pertarungan mereka tidak membuat anda tertarik, Pak Presiden?" Aku bertanya.
"Tidak, aku sangat menantikannya." Presiden itu menjawab dengan tangan kanannya yang menahan kepala.
Pak Presiden yang duduk di sebelahku dari tadi melihati jalannya pertarungan dengan wajah bosan, dia tidak kelihatan tertarik sama sekali.
Aku melihatnya sangat bersemangat hanya saat Rasyid masuk ke arena, itupun hanya berjalan sekitar beberapa detik. Tapi wajah presiden yang sangat serius selalu membuatku kepikiran. Sejauh apa Rasyid pergi, bahkan presiden saja ikut melirik kemampuannya.
Teettttt!
Bel pergantian waktu berbunyi, sekarang saatnya istirahat sebelum babak semi final.
"Ohhhh...Sudah waktunya istirahat! Pak Presiden, kalau boleh...Apakah anda mau pergi makan bersama?" Aku harus menjaga image sopanku.
Ini adalah kesempatanku untuk terlihat baik di depan presiden. Mungkin saja dia akan melirik kemampuan baseball-ku. Secara tidak sengaja aku tersenyum menjijikan saat memikirkannya.
"Ya...Bolehlah...Aku sekalian ingin melihat-lihat sekolah ini." Presiden menatapku dengan senyum palsunya.
Kami berdua berdiri dan keluar dari arena.
Sebelum pergi ke kafe guru, kami berputar-putar di sekeliling sekolah. Aku memperkenalkan setiap ruangan di sekolah ini. Ini juga bagian untuk menarik perhatian pemerintah agar mereka lebih mau mengeluarkan uang untuk pemeliharaan sekolah. Jadi aku tidak perlu menggunakan uang kas sekolah lagi. Lagi-lagi senyum itu tidak sengaja kukeluarkan.
"Sekolah ini benar-benar terawat sekali, bahkan murid-murid di sini terlihat seperti menikmati hari-hari mereka di sini. Senyum dan tawa terpampang di muka mereka." Pak presiden memuji.
'Mungkin ini kesempatan!' Ucapku dalam hati.
"Ngomong-ngomong pak, sekolah ini memang besar dan terawat, tapi dibutuhkan dana yang besar untuk melakukannya. Uang kas sekolah sering kali mengalami kekurangan, jadi(menggaruk pipi sambil tersenyum)...Apakah anda mau sedikit membiayai beberapa kebutuhan sekolah ini? Bukannya sekolah ini juga ada di bawah pengawasan anda? Setidaknya 10% biaya sekolah mau anda tanggung." Aku berbicara basa basi tapi tidak keluar tujuan.
"Jika aku lihat dari usaha anda. Anda sepertinya tidak bohong. Masa depan juga ada di tangan mereka(murid-murid), aku tidak akan setengah-setengah soal masa depan." Pak presiden tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu seluruh biaya keperluan sekolah akan aku tanggung!" Suara presiden keras dengan memamerkan kartu kreditnya.
"HAAAAAAH?!" Aku terkejut setengah mati.
Bukannya ini melebihi ekspetasi? Astaga senyumku keluar lagi. Sial, aku tidak bisa berhenti. Jujur! Dia baik sekali! Jika ada PEMILU periode depan, anda akan saya pilih.
__ADS_1
"Terima kasih pak, saya sangat berterima kasih pada anda." Aku memegang tangannya dengan penuh hormat.
"Ini bukan apa-apa, ini hanyalah uru-" Suaranya terhenti.
Duarrrrr!
Sebuah ledakan dekat ruangan UKS mengalihkan pembicaraan kami.
"Apa yang terjadi?!" Tanyaku.
"Sepertinya ada serangan *******." Presiden membenarkan kacamatanya dan mengaktifkan pageblug-nya.
Itu pemukul golf? Aku menatapi senjata miliknya.
"Kalau begitu..." Aku juga harus mengaktifkannya.
Aku melihat ke arah presiden. Wajahnya menjadi pucat, dia kaget setengah mati. Aku mencoba melihat apa yang ia lihat. Mataku juga tidak percaya dengan apa yang kulihat. Ada 8 makhluk elemental di sekolah ini?!
"Sepertinya bukan *******, tapi dari mana mereka berasal?" Presiden menganalisa.
"Entah dari mana mereka berasal. Kita harus menghabisnya!" Aku berdiri saling memunggungi dengan Pak presiden.
Dua makhluk elemental menghampiri kami. Phoenix es dan kuda air bertatapan dengan kami, sebuah kombinasi yang mengerikan. Aku tidak berharap hal terburuk akan terjadi, tapi es dan air...Ini sungguh menyusahkan saja.
Phoenix dan kuda mengeluarkan ice beam dan water pulse ke arah kami berdua. Berkat peringatan dari presiden kami berdua bisa menghindari serangan mereka. Tabrakan serangan mereka membentuk tiang es di bekas tempat kami berdiri.
"Hampir saja!" (Aku)
"Ayo serang bersamaan!" (Presiden)
Aku melemparkan bom ke phoenix itu, sedangakan presiden membelah tubuh phoenix dengan pemukul golfnya yang sudah diberi tanah. Gabungan antara ledakan besar dan tanah yang mengkilap menjadi keramik mengenai tubuh makhluk yang malang itu.
"Gwarre!"
Kuda yang bersamanya menembakkan air ke phoenix itu. Pak presiden yang berada di dekat phoenix menghindar dari serangan kuda itu.
"Apa?!"
Tubuh phoenix itu menyatu kembali seperti semula.
__ADS_1
"Caaawkk!"
Phoenix meraung dan membuat teras kelas menjadi dihujani salju. Kuda yang berada di atas kelas turun dan menyerang kami dengan membuat jarum dari air. Karena sekarang tempat ini menjadi beku, jarum itu juga berubah menjadi es.
"Kalau begini terus tidak ada habis! Bahar gunakan bom itu lagi, tapi kali ini lebih besar! Aku akan melambatkan mereka dengan elemen kegelapanku."
"Baik!"
Aku membuat bola api yang sangat besar dengan kedua tanganku yang kutahan di atas kepala. Selagi aku memperbesar bola, Pak Presiden memukul tanah dengan mengeluarkan asap hitam di sekelilingnya.
Kedua makhluk itu jadi bergerak lambat. Serangan cahaya atau kegelapan tidak akan mengenai teman, entah bagaimana cara kerjanya.
Kedua makhluk itu mau menenmbak dengan menyatukan serangan mereka lagi. Gerakan lambat mereka memberi kesempatan untuk presiden membuat sebuah rantai tahanan dari tanah.
Serangan kedua makhluk terhenti karena terkejut oleh tarikan dari rantai. Mereka berdua seperti hewan yang disiksa di kebun binatang yang sedang menarik-narik rantai itu.
Bola apiku sudah siap, aku memberi peringatan untuk Pak Presiden menyingkir.
"Bola sudah siap, menyingkirlah!"
Bola api yang berat kulemperkan ke arah dua makhluk itu. Sekitaran tempat yang dekat dengan bola itu hangus terbakar. Pohon-pohon rindang yang menemani kamis saat mengobrol menjadi gersang dan tak bersisa. Aku tidak terlalu mekirkannya, karena Presiden sudah berjanji akan menanggungnya.
"Gwahhhh!" Kedua makhluk itu menjerit kesakitan.
Panasnya bola melelehkan mereka berdua dan melenyapkan mereka berdua.
Aku duduk kelelahan setelah mengeluarkan serangan itu. Kenapa ini bisa tiba-tiba terjadi?
"Apakah anda tidak apa-apa?" Presiden berjalan ke arahku.
"Yah....Tidak...Apa-apa...." Suara tersendat-sendat.
Kami berdua duduk di tanah depan teras kelas. Kelelahan membuat kami tidak peduli dimana kami beristirahat. Aku melihati keadaan sekitar, sepertinya seluruh orang yang di sekolah berhasil melawan mereka semua.
"Syukurlah mereka semua berhasil." Aku memuji mereka sambil menutup mataku.
"Ya...Mereka sepertinya...Juga...mengalami hal...yang sama...seperti...kita..." Presiden terbata-bata.
Mataku yang kelelahan tidak sengaja melihat Xander dan Samuel yang membawa seseorang dalam karung menuju keluar sekolah. Apakah ada korban jiwa? Aku mencoba berdiri, namun tidak sanggup.
__ADS_1
"Jangan dipaksakan, kita atur nafas dulu di sini saja." Pak Presiden memghentikanku.
Aku melewatkan mereka. Aku hanya bisa menghela nafas dan berpikir kalau aku pasti nanti akan tahu dengan sendirinya. Aku kan kepala sekolah di sini, begitu pikirku...