Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 83. Ratu Petarung yang Murung pt.5


__ADS_3

Pertarungan antara Erika Rahmana dan Tesi Alamsyah akan segera dimulai, namun sebelum itu...


"Pak... Anda akan tanggung jawab soal warung saya, kan?" Moka menghadap ke arahku sambil berkacak pinggang dan memasang wajah jengkel.


"Eh...? Kenapa bapak?!"


Kenapa dia malah marahnya ke aku? Bukannya yang salah antara Erika atau Tesi?


"Saya tidak tahu apa bapak pura-pura bodoh, atau sedang menghasutku saat ini?!" (Moka)


"Tapi, yang kutahu saat ini adalah... Bapak pergi membawa Erika ke sini, dan berakhir ditendang oleh Tesi, maka ini adalah salah anda!" (Moka)


"Yah, bapak masih tidak paham maksudnya..."


"Maksudnya, bapakkan laki, terus ngebiarin ceweknya kejotos tanpa ngebantunya sama sekali, dan malah memperparah keadaan, jadi saat ini saya kasihan sama Bu Erika, jadi semua kesalahannya saya lempar ke anda semua!"


"Kenapa begitu?!" Dengan sendirinya, Aku mengambil langkah mundur secara pelan.


"Bapak gak mau saya laporin ke Dahlia ataupun Sophia, kan?"


"..."


Kalau Dahlia, menurutku dia akan tidak akan keberatan, dan kalau Sophia, dia tidak ada hubungannya dengan ini.


"Kenapa diam saja?!"


"Yah, habisnya caramu memeras kurang efektif!" Aku meneriakkan alasannya.


"Kurang efektif?" Moka langsung memiringkan kepalanya.


Saat dia memikir apa yang ingin dia lakukan padaku agar mau menurutinya, mataku sedikit melirik ke belakangnya di mana Erika sedang terbaring pingsan.


Sepertinya sebentar lagi dia akan siuman.


"Hehehehe!" Moka tiba-tiba membuat suara aneh, mulutnya melengkuk seperti bulan sabit dan matanya bersinar kejam.


Apa yang ada dalam pikiran anak ini? Kuharap dia tidak memikirkan hal yang buruk...


"Seorang guru, sedang dalam masa bebas kerja sementara... Dan saat ini malah ditemukan sedang berduaan dengan wanita lain!" Setelah mengatakan itu, Moka mendekatkan mulutnya ke kupingku. "Apakah itu... Tidak terdengar seperti skandal?"


Aku merasakannya, kengerian dari gadis ini. Meskipun luarnya terlihat polos dan baik hati, dalamnya dia bisa membuat orang berlutut padanya kapan saja.


"Baiklah(menundukkan kepala)... Apa yang kau inginkan?!"


Aku membiarkan dia mempermainkanku untuk saat ini, namun kupastikan kedepannya tidak akan bisa.


Dia bersiap mengatakannya, tapi entah kenapa dia malah tersenyum, tapi auranya mengerikan.


"Pertama, bahan-bahan kopiku terpental dan berhamburan, total kerugian 200 ribu!" (Moka)


"Kedua, meja dan kursi yang rusak, total kerugian 700 ribu!"


"Ketiga, tempat ini jadi berantakan... Jadi bersihkan!"


Aku sudah mendengar semua keluhannya, jadi totalnya 900 ribu, ya?


Tapi...


"Apakah aku harus membersihkan tempat ini sendiri?" Aku menatap melas ke arah gadis yang tersenyum mengerikan itu.


"Tentu saja!" Ucap Moka tanpa menghilangkan senyuman itu.


......................

__ADS_1


Aku berakhir membersihkan tempat ini sendirian, tapi untungnya dengan kekuatan sihirku, aku bisa dengan cepat membereskan benda-benda yang berserakan ini.


"Hah(menghela nafas)... Melelahkan sekali meskipum cuman pakai kekuatan sihir..." erangku secara lirih.


Moka masih tidak tahu dengan kekuatanku yang sebenarnya, jadi aku tidak boleh blak-blakan mengatakannya.


"Oh, bapak sudah selesai?" (Moka)


"Kerja bagus, sepertinya anda orang yang giat sekali..." (Erika)


Mereka berdua berjalan mendekat ke arahku sesaat setelah aku duduk untuk bersantai.


Tampilan wajah mereka memberi tanggapan yang berbeda, Moka tampak takjub dengan hasil kerja kerasku yang sebenarnya kulakukan dengan cara licik, sedangkan Erika memasang wajah miris padaku.


Dia pasti curiga kalau aku menggunakan sihirku untuk ini...


Tapi, biarkan saja... Ini sudah selesai.


Suasana warung sudah normal kembali, yang menjadi permasalahan saat ini hanyalah jumlah meja dan kursi yang berkurang karena kericuhan tadi.


Saat ini, kami bertiga duduk melingkar di meja yang sama untuk membicarakan sesuatu.


"Rasyid..." Erika sepertinya yang akan menjadi pembuka diskusi ini.


Tapi, kenapa dia pasang wajah senyum beraura buruk itu?


"A-apa?" Aku merasakan hal yang sama seperi Moka lakukan tadi.


Apakah aku akan jatuh ke lubang yang sama? Tapi itu mustahil, aku tidak mungkin melakukannya!


"Kau membuat taruhan seenaknya, dan sekarang aku disuruh bertarung melawan pria berotot itu dengan tanganku sendiri..." ucapnya sambil tersenyum.


"Ya, terus?"


Aku tidak boleh jatuh di lubang yang sama, kini aku harus melawan, bila tidak...


Dia ada benarnya, aku tidak menyadari hal itu...


Pertama, dia ke sini secara buru-buru...


Kedua, pakaian itu tidak cocok untuk bertarung, terutama kainnya yang mudah terbawa angin menyulitkan Erika untuk menendang ataupun menghindar.


Aku menggali kuburku sendiri.


"Tenanglah, Bu Erika tidak perlu khawatir soal itu..." Moka mencoba menenangkan amarah wanita itu.


"Apa kau punya?" Ucap Erika sambil menoleh ke arah gadis itu.


"Di warungku ada pageblug cadangan dan pakaian untuk bertarung..."


Entah kenapa, pas dia mengatakan soal pakaian untuk bertarung terdengar kurang meyakinkan.


Tapi tidak apalah, Moka sudah menyelamatkanku!


'Terima kasih, Moka!'


"Kalau begitu, aku akan ke sana!" Ucap Erika sambil berdiri dari bangkunya.


"Apakah perlu dibantu?" (Moka)


"Tidak, a-aku kurang suka dilihat oleh orang lain!"


"Baiklah kalau begitu, tempatnya ada di kamar kecil di dekat kipas!" Sambil memunjuk ke tempat yang dimaksud.

__ADS_1


"Terima kasih, tunggu di sini, ya!"


Dengan begitu, Erika pergi dan meninggalkan kami berdua lagi.


"Pak..." suara Moka sedikit murung.


"Apa?"


Ngomong-ngomong, kau belum bertanya padanya soal ujian minggu ini dan bagaimana dia bisa berakhir bekerja di tempat ini.


Mungkin, ini saat yang tepat untuk menanyainya.


"..." Dia terdia tak mengatakan apa-apa.


"Moka..." Aku balik tanya.


"E-eh iya?!"


"Soal ujian?! Bagaimana?"


Ini harus kutanyakan, meskipun aku sudah dengar dari sudut pandang Erika, tapi mendengar langsung dari muridnya adalah yang terbaik.


"Ujian..." Moka hanya menatapi kayu yang sudah dicat putih mengkilap itu dengan diam.


Sambil menatapi bayangan dirinya di meja, Moka terlihat sedih.


Apakah sebaiknya kuganti topik saja?


Namun sebelum aku melakukannya, bibir anak ini bergetar dan menghembuskan sebuah suara.


"Ujian saat ini baik-baik saja..."


Dia berbohong, kan?


Aku sudah dengar dari Erika apa yang terjadi, jadi bila dia bilang ujiannya baik-baik saja, itu pasti bukanlah kebenaran.


"..." Aku sebaiknya diam saja dan mendengarkan, ini bukan sesuatu di mana aku bisa masuk dan menjadi pahlawan seenaknya.


"Mereka semua sangat hebat..."


"Stevent yang dulunya sangatlah naif, kini bisa bertarung dengan baik, bahkan bisa bekerja sama dengan kelas lain, bahkan kelas sihir sekaligus..."


"Tanpa perlu usaha yang banyak, Gita dengan membuat strategi bersama timnya berhasil mengalahkan lawannya dan merampas bendera mereka secara sempurna tanpa ada dari timnya yang kecolongan..."


"Sophia, meskipun dalam kesedihan... Dia tetap maju dan menghadapi para lawannya dengan terampil..."


"Hakam yang dulunya lemah, kini dia juga sedikit berubah, dia kini lebih bisa memilih tindakannya sendiri dan menang sebagai orang yang dipercaya timnya..."


"Dan berakhir adalah aku, lemah dan tak berdaya seperti biasa..."


"Aku kalah dan dipermalukan oleh tim lawan dengan pertarungan yang hampir tidak terlihat seimbang sama sekali..."


Cangkir kesedihan di dalamnya hampir penuh dan bila ditambah, mungkin akan ambyar dan bablas...


Sepertinya diam lebih baik untuk saat ini, bila aku mengatakan menanyakan soal apa yang terjadi pada keluarganya saat ini... Maka, aku malah berakhir memenuhkan cangkir itu.


'Hah(menghela nafas)... Kenapa hidup itu rumit?'


......................


Tak lama setelah kesunyian kami berdua, Erika datang dengan wajah datar layaknya dua garis yang berjajar ke samping.


Saat kulihat, mataku sedikit terkejut dengan penampilannya.

__ADS_1


Ini adalah penampilan yang jarang kulihat...


Erika dengan pakaian pelayan!


__ADS_2