
Ini adalah hal langka, bahkan mataku yang sudah melihat berbagai hal aneh dibuat melebar hanya dengan fenomena ini.
Erika dengan pakaian pelayan, sungguh sesuatu yang tidak pernah kusangka akan kulihat dengan mata kepalaku sendiri.
"Ke-kenapa aku pakai pakaian ini?!" Erang Erika sambil menatapi pakaiannya yang berwarna hitam dan putih.
Para petarung liar berotot yang tadi menatap kasihan wanita itu, kini malah dibuat tersipu oleh penampilan cantik dan imut wanita itu.
"Maaf, itu hanya satu-satunya pakaian yang ada dalam pikiran saya..." Moka memukul kepalanya dengan lembut.
"Ta-tapi, baju ini malah sama sekali tidak cocok dibuat bertarung, kan?!" (Erika)
Mendengar komplain dari gurunya itu, Moka langsunh menatap rendah orang yang seharusnya dia hormati itu.
"Anda menilai rendah pakaian ini!" (Moka)
"Pakaian yang anda pakai saat ini sangatlah elastis, bahkan tidak mengganggu anda saat bergerak, kan?!" (Moka)
"Anda bahkan bisa jungkir balik, ataupun salto dengan pakaian ini!" (Moka)
"Belum lagi... Anda kan pemanah, jadi saya yakin anda butuh lebih banyak ruang untuk gerakan tangan ketimbang kaki!" (Moka)
Moka terus mencibir gurunya yang banyak maunya itu. Bahkan, wajah yang penuh keformalan khas Erika seketika hilang dan tak terlihat sepucuk-pun.
'Cewek memang mengerikan...' Aku mencatat baik-baik kalimat itu agar tidak salah bicara di kemudian hari.
Mungkin suatu hari, catatan memori ini akan berguna dan menyelamatkan nyawaku dari amarah wanita.
"Ah(membuang nafas)... Kalau kau sudah bilang sebanyak itu, apa boleh buat..." Erika sepertinya sudah pasrah dengan nasibnya.
Tak lama setelah itu, seseorang dengan tubuh kekar dan berotot menghampiri sang penantang imut itu.
Luka-luka di tubuhnya terlihat berbelok-belok setiap kali dia menganyunkan tangannya untuk berjalan.
"Apa kau sudah siap?!" Ucap Tesi sambil menunjuk wanita itu dengan memperlihatkan pupil matanya yang mengecil.
Tatapan orang itu cukup untuk membuat para pengunjung yang sama berototnya takut padanya.
Namun Erika yang sudah terbiasa dengan ini tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Dia malah mengibas-ngibaskan pakaiannya dan berkacak pinggang ke arah pria itu.
'Astaga, dia terlalu imut saat terlihat marah...' Entah kenapa, dalam diriku... Aku merasakan sesuatu yang jarang kualami.
Apakah ini, sesuatu yang disebut...
Fetis?
Apakah pakaian pelayan adalah fetisku?!
Tidak, ini tidak mungkin...
Aku sebelumnya sudah melihat hal seperti ini, tapi tidak ada reaksi sama sekali.
Tapi sekarang(sambil sedikit melirik Erika yang masih berkacak pinggang dengan pakaian pelayannya)... Astaga, aku benar-benar tidak tahan.
Saat melihatnya terus, tiba-tiba pikiranku melayang ke arah lain.
'Bagaimana bila Moka(Yang memakai pakaian pelayan)?' Pikirku sambil menghayal.
Saat hanyut dalam hayalan, aku berhasil merekontruksi wajah Moka dan kali ini sedang memakai pakaian pelayan.
"Tch...!" Aku masih merasakannya, rasa takjubku pada pakaian jenis ini(pakaian pelayan).
'Ternyata hal seperti ini adalah fetisku?!'
Aku bertarung dengan diriku dalam hayalm Kuharap hal ini tidak membuat kegaduhan di dunia luar.
Sambil dalam hayalan, aku berpikiran semakin liar.
Jika Sophia yang memakainya?
__ADS_1
Bagaimana jika Dahlia?
Pikiranku semakin liar, dan tak tertahankan.
Suhu tubuhku meningkat drastis, pikiranku semakin kacau. Sebaiknya aku menerima hal ini layaknya hal normal.
Bila kuterus lawan, maka akan berakhir ke kejiwaanku.
......................
BUK!
Suara tinjuan yang menghantam meja mengagetkanku.
"Woah!" Aku tersentak dan kembali melihat gelapnya suasana di bawah jembatan layang.
Merasa bahaya, mataku dengan pelan memandang ke atas ke arah dua orang yang sedang berdiri dan siap untuk bergelut itu.
"Rasyid, cengengesanmu menjijikkan sekali!" Erika menatapku tipis, tangannya disilangkan, kakinya dihentak-hentakkan ke tanah.
Dia benar-benar menatapku seperti orang aneh.
Sedangkan Tesi yang berdiri di sampingnya membiarkan angin masuk lewat mulutnya tanpa memberi tanggapan sama sekali.
"Lupakan sajalah..." Aku tidak tahu harus mengatakan apa saat ini.
Menyerah saja, aku ketahuan berfantasi aneh di saat genting seperti ini.
Sungguh, memalukan sekali...
......................
Saat ini, Erika dan Tesi sedang berdiri berhadapan di arena yang terbuat dari 100% semen.
Suara bising dari kendaraan yang melintasi jembatan layang yang ada di atas mereka membuat pendengaran mereka sedikit terganggu.
Tapi itu tidak mungkin, Anitya bisa mengobati hal seperti itu, jadi gagasanku soal gangguan pendengaran pastilah salah.
Kembali ke arena, baik Erika dan Tesi sudah mengeluarkan pageblug-nya.
Bentuk compound bow milik Erika sudah lama tidak kulihat, terakhir kali aku melihatnya saat latihan sebelum penilaian guru saat itu.
Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya bertanding saat penilaian guru saat itu. Tapi, berkat itu juga, aku mendapatkan emosi bahagiaku kembali.
Sedangkan, di seberang sana, tempat lawannya berdiri, Tesi membuat sebuah benda yang mirip hoolahoop yang besar dan tajam.
Apakah itu chakram?
Entahlah, tapi itu cukup untuk menebas lawan dan melukainya.
"Pertarungan antara Erika Rahmana sang Queen of Fighter melawan Tesi Alamsyah sang Singa Api akan segera dimulai...!" Sang wasit berdiri di antara mereka berdua dan memperlihatkan dominan-nya.
Di saat kedua petarung sudah mengambil kuda-kuda, sang wasit mulai memberi aba-aba. "Bersedia... Angkat senjata!"
Sesaat setelah aba-aba itu, kedua petarung itu memperlihatkan kemampuan mereka.
Di sisi Tesi, dia maju sembari membuat chakram raksasanya terbakar.
Sesaat jarak sudah dekat, pria berotot itu mengayunkan chakramnya dengan memutar tubuhnya 360°.
Erika yang melihat arah datangnya serangan membalas serangan yang akan datang itu dengan membuat fire barrier tepat di tempat lawannya akan berpijak.
DWASSS!
Api yang menyembur dari tanah mengenai tubuh berotot pria itu bersama chakramnya.
Namun...
Satu hal yang saat ini kupastikan, dan itu pasti terjadi.
__ADS_1
Tesi tidak merasakan sakit ataupun cidera dari api itu.
Malah...
"Segitu saja kemampuanmu?!" Ucapnya mengejek sambil memperlihatkan chakramnya.
Chakram raksasa yang ia pegang, kini telah berubah menjadi cincin api yang membara.
"Pageblug miliknya sedikit spesial..." Moka yang berdiri di sampingku menjelaskan situasi.
"Spesial?"
"Hmm(mengangguk)... Benda itu bisa menyerap sihir lawannya asalkan selaras dengan elemen yang dimasukkan ke senjatanya."
"Bila senjatanya saat ini menggunakan api sebagai elemen yang menyelimutinya, maka sebaiknya jangan menggunakan elemen api, angin, ataupun petir... Itu malah akak memperkuatnya."
Mendengar penjelasan dari Moka membuatku semakin paham dengan sifat lawan Erika saat ini.
"Singa api... Itu bukan hanya sebutan yang tak bersimbol... Chakram yang ia pakai dan mengitarinya terlihat seperti rambut yang ada di leher singa, dan dari apa yang kita lihat saat ini..."
"Dia benar-benar seperti singa yang dapat membakar mangsanya yang kabur!"
Erika saat ini tidak mungkin menang meskipun ia berjuang sekalipun. Elemen yang dia miliki jelas-jelas menjadi kerugiannya saat ini.
Mata Moka mengendur dan tangannya mencengkrami kuat tembok rantai yang memisahkan dalam dengan luar arena itu.
"Bila begini, Bu Erika pasti akan kalah..." Dia sudah down bahkan sebelum melihat hasil akhirnya.
Sepertinya ini saat ku untuk sedikit menghiburnya.
Mataku kukembalikan ke pertarungan itu, dan mendapatkan Erika dan Tesi sedang bertarung layaknya seorang prajurit yang melawan bandit.
Erika bermain sihir yang membuat lawannya mengalami kondisi immobilize, sedangkan Tesi terus membuat putaran-putaran menggunakan chakramnya seperti sedang menari.
Berkat tarian aneh pria berotot itu, seluruh tempat di bawah jembatan layang ini menjadi panas.
"Moka... Mau taruhan?"
"Heh? Taruhan?!"
"Hmm(mengangguk)... Kita prediksi siapa yang akan menang."
"Anu... Maaf kalau sedikit melenyapkan harapan bapak... Tapi saya masih anak sekolah lo!"
Dia ada benarnya, aku tidak seharusnya menyarankan anak ini melakukan hal seperti itu.
"Oh maaf, bapak lupa... Tapi, ada satu hal yang ingin bapak perlihatkan padamu!"
"Apa?!"
"Tidak semua yang kau lihat selalu benar, terkadang bahkan dengan mata kepalamu sendiri ataupun kupingmu sendiri, kau tidak boleh percaya pada mereka..."
Moka memiringkan kepalanya, dan keringat tidak paham turun dari kepalanya.
"Eh... Aku semakin tidak paham..." Dia hanya tersenyum sungkan.
Mataku melesu dan semakin tak kuasa menahan malu, mulutku tadi terlalu mengatakan sesuatu yang bodoh.
"Pokoknya, lihat sajalah! Pertarungan Erika dan Tesi..."
Moka membalikkan pandangannya ke arah pertarungan itu tanpa mengatakan sepeser katapun.
Mungkin melihat orang yang lebih berhasil akan membuat Moka tambah down, tapi itu memanglah hal yang kuincar saat ini.
Jika dia mau bertambah kuat, aku harus mengentalkan bagian yang lembek itu agar menjadi kuat dan tak mudah robek.
Operasi pengembalian mental Moka, beserta Operasi membangu ratu petarung.
Dimulai!
__ADS_1