
"Semuanya, ambil posisi masing-masing!" Ryan berteriak sambil mencobanmenghadapkan baling-balingnya ke depan seperti yang dia lakukan sebelumnya.
Aku dan yang lainnya bersiap untuk mengambil ancang-ancang untuk melompat dari sana.
Sebenarnya banyak yang ingin kukatakan padanya. Terlebih tentang kenapa dia mau melawan Doni seorang diri. Sebelumnya, dia bilang kalau dia punya urusan yang belum selesai dengannya, namun dia tidak memberitahu lebih lanjut selain itu.
Kami semua yang ada di dalam helikopter hanya bisa mengangguk pasrah dan mengiyakan permintaan sepupuku itu.
Sebenarnya Erika adalah yang paling tidak setuju dengan rencana ini, namun waktu yang mepet memaksanya untuk ambil resiko.
"Aku tidak suka rencana ini, tapi bagaimanapun waktu sedang memakan kita semua. Ayo semuanya, lompat dan menyerang secara bergantian! Dimulai darimu, Rasyid, lalu aku, Sophia, dan Stevent!"
Erika memimpin seperti layaknya jendral perang. Entah karena adrenalinnya terpacu, atau karena lawannya adalah pejabat tinggi sehingga dia sangat ingin segera memukulnya.
Helikopter mulai miring dan membuat tidak bisa diinjak tanpa berpegangan.
Di saat itu juga, aku melompat dan mengaktifkan pageblug-ku.
"CODE NAME: DNKSM, WEAK TO MAGIC! CONDITION: MAN WITH AXE, IF NOT: DO NOTHING!"
Aku mengaktifkan sihir KODE untuk membuatnya lemah terhadap serangan selanjutnya.
*Slash!
Pedangku mengayun dengan air yang dilapisi sihir cahaya sehingga membuat sebuah tebasan sempurna.
Namun, saat setelah aku mendarat sehabis menyerang, aku tidak merasakan adanya suara rintihan kesakitan.
Seperti yang diharapkan dari anak bupati.
Aku seketika berbalik dan mengambil posisi bertahan.
*Ctang!
Tepat seperti yang aku harapkan.
Sebuah mata kapak terbang ke arah kepalaku dengan cepat.
Beruntungnya aku berhasil menangkisnya dengan pedangku.
Tapi meskipun begitu, kapak melawan pedang membuat diriku kewalahan, belum lagi posisi kapak berada di atas pedangku sehingga membuatku berada dalam keadaan tidak diuntungkan.
"Kau mengerikan seperti biasa, Doni!"
"Tidak biasa buatmu yang memulai percakapan duluan! Tapi terima kasih!"
Saat tenagaku mulai melemas, sebuah tembakan melesat ke arahnya.
*Thrust!
Tentu saja hal seperti itu tidak akan membuatnya seketika kalah.
Dia dengan mudah mengambil anak panah itu dengan tangan satunya.
"Majulah! Aku tidak keberatan jika harus satu lawan dua atau empat sekaligus!"
Dia menantang kami semua.
Melihat dia ter-distrack, aku segera menendang lututnya.
*Buk!
"Heh?" Dia hanya tersenyum sinis.
Tidak sampai situ, aku segera mengayunkan pedangku ke arah lehernya.
__ADS_1
Namun sayang,
*Ctak!
Tangannya berubah menjadi batu yang cukup keras, mungkin sekeras berlian.
"Tidak semudah itu!"
Melawan pedangku, dia melempar pedangku yang kupegang dengan lengannya yang mengeras.
Saat aku sudah tak lagi bersenjata, aku mencoba mundur satu langkah dan saat itu juga aku melakukan salto kebelekang.
Di saat diriku berbalik, sebuah kipas melesat melewati diriku yang masih berada di udara karena melakukan salto.
Kipas itu terbang ke arah Doni yang tahu akan datangnya serangan.
Dia segera mencoba menangkisnya menggunakan tangannya yang membatu.
*Brak!
Namun saat tangannya bersentuhan dengan kipas, saat itulah dia terkejut.
"Hah?!"
Tangannya yang membatu lengket dan melekat di kipas.
Tak lama kemudian, sebuah balon es keluar dari kipas itu dan membekukan sebagian tubuh pria itu.
Saat mengatakan sebagian, aku tidak berbohong. Separuh tubuhnya, lebih tepatnya, seluruh tubuh bagian kanannya masuk ke dalam balok es itu.
"Trik murahan tidak akan bisa menghancurkanku begitu saja!"
Dengan sekuat tenaga dia menghancurkan balok es yang membekukannya itu.
Balok es hancur berkeping-keping, namun di momen itulah semua berjalan sesuai rencana.
Stevent dengan kecepatan cahaya membuat sebuah aliran air yang menyerupai sungai yang terus mengikutinya kemanapun dia pergi.
Membuat tempat di sekitar Doni menjadi lebih berair akan membuat pecahan balok es membekukan air yang dikeluarkan oleh Stevent.
Aliran air yang mengitari Doni dan membentuk motif abstrak seketika kian membeku dan tak bisa lagi mengikuti tuannya. Aliran itu seakan seperti tali yang mencoba mengikat seseorang.
Merasa bagiannya sudah selesai, Stevent mencoba melakukan serangan charge untuk menutupnya.
"Kena kau!" Dia mencoba menebas Doni yang masih dalam kondisi sempurna.
*Buk!
Seperti yang diharapkan, Doni segera menangkap Stevent dengan hanya mengangkat tangan kanan pemuda itu.
"Sial!"
"Jika ingin menyerang, setidaknya sadar dulu siapa musuhmu!" Sambil menceramahi bocah itu, Doni mengambil kacamata Stevent dan melemparnya ke tanah sampai pecah.
Sial, dia akan semakin tidak bisa melihat sekitar dengan itu!
Dengan tergesa-gesa, aku melewati benteng es yang baru saja dibuat dengan menggunakan sihir cahaya. Melaju seperti kilat, aku bergerak secara zig-zag dan mencoba menghajar Doni.
Aku mengarahkan ujung pedangku ke dadanya sehingga dia segera refleks mengambil pertahanan di bagian itu.
Saat dia sudah mengambil posisi itu, aku segera menghengikan gerakanku dan menggantinya dengan tendangan kaki.
Aku mencoba menendang lutut pria itu, namun dengan cepat dia membacanya.
Dia mundur beberapa langkah lalu tahu ke mana tujuan saat ini.
__ADS_1
Dia melihat ke arah Stevent yang dia angkat layaknya ikan tangkapan.
*Brak!
Tubuh Stevent terlempar jauh sampai keluar istana es.
Lawanku sudah tidak tertarik lagi dengan anak itu, ketertarikannya hanya ada padaku.
Dengan mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi, dia menantangku layaknya seorang boss terakhir di sebuah game ataupun film.
Menjawab gerakan tubuhnya, aku maju menggunkana kecepatan cahaya.
Dia segera mencoba menangkapku, namun aku berhasil melewatinya.
Seketika Doni mengambil posisi bertahan karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Namun, dia sedikit kecewa...
Karena aku tidak melakukannya.
Daripada menyerang balik, aku terus maju dan menjauh darinya, menuju ke arah Stevent yang terbaring lemas di tanah.
Dengan sekejab, aku berhasil membawa tubuh Stevent kabur bersamaku menuju ke dalam bangunan itu.
Erika dan Sophia saling mengangguk dan mengikuti ke mana arahku pergi.
"Kalian tidak bisa pergi!"
Melihat kami yang mencoba kabur, Doni seketika mengangkat kedua tangannya dan bersiap menggebrak tanah.
Tapi sebelum dia berhasil melakukannya...
Helikopter yang dikendarai Ryan menunjukkan baling-balingnya ke arah Doni. Baling-baling itu memberikan kekuatan angin yang cukup kuat sampai menerbangkan apapun yang ada di sekitarnya.
"Aku tidak akan kalah dari mesin!"
Doni menantang mesin itu dan menahan kakinya dengan tanah yang menjerat pergelangannya.
Jarak baling-baling kian mendekat dengannya.
Dia tahu apa yang akan terjadi bila benda itu sampai mengenainya.
Dia segera mengambil resiko dengan melepas jeratan tanah itu dan menghantam tanah secepatnya.
Sebuah dinding dari tanah muncul dan menahan angin dan baling-baling itu.
Tapi yang namanya mesin, benda itu terus menggerogoti dinding itu sampai hancur dan membuat Doni yang ada di baliknya terbelah-belah menjadi potongan kecil.
*Slash! *Slash! *Slash!
Tubuhnya terbang dan menghujani tanah itu.
Doni tidak dibiarkan untuk berteriak sebelum merasakan rasa sakit yang mengerikan itu.
*Duar!
Helikopter yang dikendarai Ryan meledak setelah kehilangan kendali dan menabrak gedung yang ada di dekatnya.
Tak lama kemudian, Ryan terbang keluar menggunakan sihir anginnya dan mendarat di dekat tubuh Doni yang menyatu kembali.
"Lama tidak berjumpa, Doni," Ryan memberi salam padanya. "Kira-kira kapan kita terakhir kali kita bertemu?" Ucapnya sambil tersenyum geli.
"Aku selalu mengingat wajahmu! Wajah yang membuatku gagal menerima sihir murni elemental! Agus Ryan Handoko, aku bersumpah sejak hari itu, jika aku bisa melihatmu, aku akan langsung melenyapkanmu dengan cara yang lebih mengerikan daripada kematian!" Doni mengintimidasi Ryan, namun kondisinya yang sekarang tidak membuat Ryan takut sama sekali padanya.
Ryan menoleh ke arah pintu depan gedung Bupati, dia tersenyum puas melihat hasilnya. "Sepertinya mereka berhasil masuk..."
__ADS_1