Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 52. Pangeran dalam Kurungan pt.6


__ADS_3

Sepulang sekolah, Stevent ingin bertemu denganku secara pribadi.


"Ada apa, Stevent?" Aku bertanya pada Stevent yang menyenden ke dinding.


Dia berdiri tegap setelah melihatku tiba.


"Aku... sudah melakukan apa yang anda minta!" Stevent memekik ke arahku.


"Lalu?" Tanyaku pura-pura bodoh.


"Apalagi yang harus kulakukan?" Stevent menatapku dengan kesal.


"Oh... entahlah..." Jawabku.


"Ha?"


"Aku bahkan tidak pernah punya banyak teman."


"Lalu kenapa kau menceramahiku saat itu?!"


"Ceramah? Aku tidak ingat?"


"Jangan bilang, saat itu kau cuman asal ngomong?!"


"Maaf... ehe..."


Aku tidak boleh membuatnya terlalu bergantung padaku. Sebaiknya aku segera membuatnya dibantu oleh orang selain aku juga. Setidaknya dia akan sadar betapa pentingnya orang lain.


"Mumpung lagi ujian, kenapa kau tidak memanggil yang lainnya?" Ucapku padanya sambil memegang daguku.


"Yang lainnya?" Stevent memiringkan kepalanya dengan bingung.


"Oh iya, aku lupa kalau kau tidak punya…" Aku sebaiknya tidak mengatakannya lebih jauh.


"Tidak punya apa?" Dia bertanya dengan bodoh.


"Lupakan saja, biar aku yang mengurusnya…" ucapku sambil mengeluark ponselku.


"Ponsel?"


Tak lama kemudian, hampir sekitar 8 orang datang ketempat ini setelah kupanggil untuk membantuku.


"Jadi, kenapa kami dipanggil?" Moka mengangkat kedua bahunya, tatapannya seperti bertanya-tanya.


"hmm(mengangguk), kalau untuk tuan, aku akan ikuti saja." Hakam menutup matanya dengan memasang wajah tegap.


"Oh, berlatih dengan Pak Rasyid, ya? Aku tidak sabar untuk mencobanya!" Gita memukul telapak tangannya dengan memansang ekspresi cengengesan.


"Pak Rasyid… Ingin berlatiha bersama kami?" Sophia penuh tanya dan tidak berani menatapku.


"Yosh, aku akan melawan anda lagi, tapi kali ini dengan serius, ya?!" Astra mengangkat kepalnya dengan wajah yang semangat membara.


"Pak Rasyid… aku akan berjuang sebisa mungkin." Dahlia menatapku dengan tersipu.


Selain mereka ada 2 orang lagi yang kupanggil.


"Hoi Rasyid, kenapa kau memanggilku? Apa yang saat itu masih kurang cukup buatmu?" Vicky menyilangkan tangannya sambil mengalihkan pandangannya dariku.


"Apakah anda meminta saya untuk menghajar para kelas fisik ini sendirian? Aku tidak masalah…" Maul menatap mereka semua dengan tatapan rendah.


Hanya untuk mengingatkan, Maul adalah siswa yang mengalahkan Hakam dengan mudah saat latihan. Dia mengalahkan Hakam bahkan tanpa bergerak satu langkahpun dari tempatnya berdiri.


Aku membawanya karena kuanggap dia juga cocok untuk ini.


Tak lama setelah mereka berkumpul, Stevent berjalan mendekat ke arahku dengan gugup.


"Pak Rasyid… Apa maksudnya ini?"


"Kau tidak akan bisa menggapai sesuatu sendirian, maka aku akan membawakan beberapa bala bantuan untukmu."


"Ha…?"


"Tenanglah, ini juga akan berhubungan dengan ujian hari ke-4."


"…Aku benci ini, tapi bila anda bilang begitu... Baiklah! Aku akan mengikutinya!"


Dengan begitu Stevent berjalan mundur dan kembali ke posisinya seperti semula.


POK POK POK


Aku menepuk-nepuk untuk mengambil perhatian.

__ADS_1


Mereka semua langsung menatapku setelah mendengarnya.


"Hari ini, aku mau kalian bertarung sebagai tim, dan kalian harus bekerja sama untuk mengambil bendera yang ada padaku dan Pak Vicky." Aku memutuskan ini tanpa mengatakan hal ini dengannya.


Dia jelas akan dengan refleks terkejut. "Hey, apa maksudmu kau dan aku?!"


"Bisa dibilang, kita akan menjadi satu tim dan melawan mereka semua," ujarku padanya dengan ekspresi tersenyum licik.


"Mana mau aku dengan-


Aku tiba-tiba berada dibelakangnya dan menyentuh bahunya dengan pelan.


"Ayolah Vicky, bukannya kau ingin menjadi Teacher of the Year?" Ucapku sambil mempengaruhinya dengan senyum licikku.


"Ba-baiklah, aku akan membantumu, tapi ingat! Hanya kali ini saja!" Dia menatapku dengan wajah terpaksa.


Dia sepertinya sadar, seberapapun usahaku saat ini. Aku tidak akan mendapat title itu karena aku datang saat semester ke-2.


"Pak, apakah tidak apa hanya dengan kalian berdua?" Moka menatap khawatir kami berdua.


"Bagaimana bilangnya, ya? Beberapa orang lebih merasakan bebas saat bertarung sendirian ketimbang bersama tim." Aku menjelaskannya pada Moka.


Itulah sebabnya aku memanggil Vicky ketimbang guru dari kelas yang sama denganku. Rata-rata mereka lebih mengandalkan pertarungan tim ketimbang solo.


"Kalau sudah tidak ada pertanyaan, maka ambillah ini!" Aku memberikan bendera pada mereka semua.


Bendera itu akan mereka bawa, tempatnya terserah mereka asalkan terlihat oleh mata.


"Vic!" Aku juga tidak lupa memberikan pada Vicky.


Tatapannya terlihat terpaksa, namun aku mengabaikannya.


Tak lupa juga aku memasangkannya pada diriku.


Dari tatapanku, Mereka memasang bendera mereka di tempat yang terlihat aman.


Sophia menaruhnya dibalik ikat pinggannya.


Moka menaruhnya di saku bajunya.


Gita menaruhnya tepat di pergelangan tangannya.


Hakam menaruhnya di kerah belakangnya.


Astra menaruhnya di busurnya.


Dahlia menaruhnya di bulatan rambutnya.


Maul menaruhnya di pinggangnya.


Sepertinya itu sudab dari mereka semua. Sekarang aku mengganti arah pandangku ke orang yang berdiri di sampingku.


Dia menatapku dengan tatapan risih. "Kenapa kau menatapku?!" Dia menegurku.


"Apa kau yakin mau menaruhnya di sana?!" Aku balik menegurnya.


Dia menaruhnya tepat di bagian belakangnya. Aku tidak perlu menjelaskan bagian mana. Kuharap kalian mengerti.


"Dengan begini, tidak akan ada yang mau mengambilnya, kan?" Dia tersenyum senang saat melakukannya.


Aku memegang keningku dengan penat. "Kumohon, kau tidak mau dipandang aneh tepat di depan muridmu sendiri, kan?" Aku mengingatkannya kalah saat ini dia bertarung melawan muridnya, bukan dengan orang yang setara dengannya.


"Eh, benar juga...!" Dia menatapi para murid yang menatapnya dengan tatapan menjijikkan.


"Mesum!"


"Stress!"


"Tak tahu malu!"


Para murid memberi komentar beragam.


Mendengar itu, Vicky langsung menaruh bendera itu disakunya dengan pipi yang memerah karena malu.


Aku yang melihat mereka sudah siap juga memasang benderaku. Aku menaruhnya di pinggang karena itu adalah bagian paling sulit untuk diambil oleh para murid.


"Baiklah, kalian semua, para murid! Rebutlah bendera dari kami, dan bawa kembali ke markas kalian!" Aku mengatakannya dengan tegas kepada mereka.


"Markas?" Stevent bertanya dengan bingung.


Aku menunjuk ke tempat paling belakang di belakang mereka. Mereka semua langsung menoleh ke arah itu.

__ADS_1


Sebuah kotak berada di sana. Kotak itu akan menjadi tempat mereka menaruh bendera milik lawan mereka.


"Tapi ingat, kami juga akan merebut milik kalian. Maka dari itu, saat bendera tim kalian direbut, cobalah untuk mendapatkannya kembali!" Vicky menambahkan penjelasannya.


Dia juga tidak akan sungkan-sungkan menyerang muridnya.


Mereka kembali menoleh ke arah kami. "Baik!"


Persiapan sudah selesai, untuk kotak dari timku juga berada jauh dibelakang kami.


"Pertarungan… Dimulai!" Vicky memberikan aba-aba.


Dengan cepat Vicky melompat mundur sejauh 5 meter dan mengaktifkan perisai air dan petir.


"Kenapa kau berdiam diri?!" Hentakku padanya.


"Ini pertarunga merebut bendera, selagi benderamu aman. Maka kau juga akan aman!" Ucapnya sambil memamerkan giginya.


"Sialan kau!" Aku menatapnya dengan kesal.


"Hey, hati-hati, para murid sudah menyerang!" Vicky memperingatiku.


Sophia dan Moka datang ke arahku dengan sudah mengaktifkan pageblug mereka.


Sophia melemparkan kipasnya yang sudah diberi sihir es ke arahku. Di waktu yang bersamaan, Moka membantunya dengan sihir angin agar membuat es dari Sophia membesar.


"Ini untuk sang guru tidak peka!" Moka mencoba menebasku dengan Dual Knife-nya sebelum es itu mengenaiku.


"Apa maksudmu tidak peka?!" Aku menghindari tebasan pisau itu dengan bergerak mundur dan dilanjutkan tendengan perut ke arah Moka.


Dia terpental jauh, namun tanpa diberi waktu untuk melihatnya. Sebuah kipas yang membawa badai es melesat ke arahku dengan cepat.


Aku dengan cepat mengeluarkan sihir air dan kubuat bagaikan sebuah barricade.


Dengan cepat, air yang kupanggil langsung berubah menjadi kristal es oleh kipasnya.


PRAKKK


Kipas itu menancap di dinding es itu.


Tanpa ada jeda waktu, Stevent dan Hakam tiba-tiba muncul di belakangku dan mengayunkan senjatanya bersamaan.


Kecepatan Hakam bertambah karena dia menggunakan sihir cahaya bersamaan dengan sihir cahaya milik Stevent.


Bahkan hanya dari ayunan mereka. Sebuah gelombang emas terbentuk dari ayunan mereka.


Aku mundur ke belekang dan melompat secara berputar untuk menghindari golden wave mereka.


Tapi saat aku sedang berputar, mataku menatap Astra yang siap menembakku dengan panahnya.


Aku dengan sigap mengeluarkan sihir tanah untuk membuat dinding pelindung.


DOK DOK DOK


Panahnya terhenti oleh dinding itu.


Aku mendarat dengan sempurna, dan saat aku melihati mereka. Perasaan agak kecewa ada pada diriku.


Sophia bersama dengan Moka.


Stevent bersama dengan Hakam.


Astra bersama dengan Dahlia.


Mereka semua belum bisa mencoba akrab dengan yang lainnya.


'Tidak seperti orang yang satu ini!'


Aku melakukan tendangan menengah di belakangku dan membuat sebuah gelombang air dari tendangan itu.


Seketika Gita dan Maul yang mencoba menyerang secara diam-diam terpental oleh water pulse-ku.


"Kalian semua? Apa kalian tidak bisa bertarung dengan orang selain mereka(yang menjadi partner mereka saat bertarung.). Akan repot nantinya, kalau kalian tidak bisa!" Aku menutup mataku di tengah-tengah ceramahku.


Mereka tidak mencoba menyerang, padahal ini adalah saat yang tepat untuk menyerangku.


'Mereka terlalu patuh!' Ujarku dalam hati.


"Kalian semua, LEMAH!" Aku melotot ke arah mereka semua kecuali Gita dan Maul.


Mereka hanya melotot dan tak berani menjawab. Kelemahan mereka memang kenyataan. Tapi mereka harus segera bisa mengatasinya. Ujian hari ke-4 akan berupa pengacakan tim. Jika mereka melewati ini saja tidak bisa, apalagi saat ujian.

__ADS_1


Aku menatap mereka dengan tatapan datarku.


"Apa yang akan kalian lakukan sekarang?!"


__ADS_2