
Erika menghampiriku dan Moka yanh sedang berbincang-bincang soal kenormalan dan sesuatu yang disebut fantasi pria.
Saat dia datang, kami dengan segera menutup rapat obrolan kami.
Obrolan tadi, tidak seharusnya atau bahkan tidak boleh di dengar olehnya... Bisa kacau aku bila dia mendengarnya.
"Kalian berdua..." Erika berjalan dengan cepat ke arah kami dan...
BUK!
Dia memeluk kami berdua secara bersamaan.
Rasa senangnya saat ini mungkin adalah yanh terbaik dalam dirinya, karena hal seperti ini tidak pernah kulihat.
Bahkan sampai lupa, kalau dadanya ditempelkan tepat di wajahku.
Sebaiknya aku diam saja, meskipun sesak sekalipun, aku akan menikmatinya.
"Aku berhasil... Semuanya, aku berhasil... Aku bisa menemui ibuku lagi..." Air mata terlihat turun dari matanya yang menutup bahagia.
"mhmmmmhhmm!" Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi pelukannya terlalu erat, sampai-sampai aku tidak bisa pernapasanku tidak teratur.
Tapi tak sampai lama, Moka melepas paksa pelukan itu dan tubuhnya seperti sudah tidak tahan.
"Hah... hah..." Moka kehabisan nafas.
'Tch! Sial, sudah selesai begitu saja...' Aku sedikit kecewa, tapi tidak bisa komplain soal ini.
Masalah akan tambah besar bila gadis itu mengatakan apa yang kami obrolkan tadi.
"Bu Erika, bisa tidak sedikit lebih pelan...?!" (Moka)
"Aku bahkan tidak bernapas dengan benar di dalam dadamu!" (Moka)
Perkataan Moka membuat Erika yang terbawa suasana akhirnya sadar...
"Tunggu?! Dada?!" Ucap wanita itu kaget sambil menoleh ke arahku.
Tusukan dari pandangan mereka berdua sungguh memberi firasat yang tidak baik. Sebaiknya aku pura-pura tidak lihat saja...
Tapi, bukannya malu, Erika malah tersenyum licik dan mendekatkan wajahnya ke kupingku.
"Hey, Rasyid... Apakah tadi kau menikmatinya?" Dia mengatakan itu seperti angin sepoi-sepoi yang pelan di musim dingin.
Kupingku bergetar geli hanya dengan ucapannya yang menggoda...
Ini tidak baik, tapi aku harus menjaga image-ku. Aku tidak boleh terkena masalah lebih dalam.
"Tentu saja!" Ucapku datar sambil memperlihatkan jempolku yang berdiri tegak tanpa bengkok.
Apakah dia akan menamparku dengan jawaban ini? Atau dia akan lari karena malu? Dua-duanya membuatku tersudut, tapi setidaknya aku sudah mengatakan yang sebenarnya.
"Eh...?" Dia memerah layaknya strawbery dan memucat seperti orang kekurangan darah.
Hal ini tidak hanya dirasakan oleh Erika, bahkan Moka yang berdiri di belakangnya ikut merasakan hal yang sama.
Saat melihat Moka yang bereaksi, aku menyadari satu hal yang membuatku mendapat sebuah dosa yang tak terampuni.
Saat berpelukan tadi, bukan hanya dada Erika yang menempel di wajahku, tapi juga milik Moka...
Tubuhku sedikit pucat, keinginanku untuk menjaga image-ku malah hancur gegara menyentuh dada muridku sendiri.
Saat merasakan itu, mata-mata dari pria berotot di sekitarnya menyala di gelapnya malam. Layaknya mati lampu, mata mereka menjadi sumber penerangan di gelapnya kegelapan yang luar biasa.
"Kau... Berani-beraninya menyentuh ratu kami!" Suara mereka terdengar pelan, tapi sangat berat dan bisa terdengar oleh seisi penghuni tempat bawah jembatan layang itu.
Aku merasakan bahaya, keringatku mulai turun dari pori-pori wajahku...
Aku bisa menghancurkan mereka, tapi mereka ini orang baik, jadi melawan bukanlah pilihan baik.
Kepalaku menoleh ke arah Moka dan Erika yang masih terdiam seperti kereta yang kehabisan batu bara di tengah jalan.
"Sial, mereka masih belum siuman!"
__ADS_1
Ini adalah kesalahan...
Dengan cepat, aku memutar badanku dan lari dari kejaran mereka.
"Woy jangan lari!"
"Hajar dia!"
"Berani-beraninya mengotori ratu kami!"
Para petarung liar itu terus mengejar diriku sampai ke ujunh dunia.
"Sial sekali diriku!"
......................
Kembali ke depan warung milik Moka, aku, Moka dan Erika kembali duduk bersama untuk mendiskusikan hasil dari petarungan ini.
Jangan tanya bagaimana aku bisa selamat dari keroyokan mereka...
Di balik kejadian tadi, aku terpaksa mengeluarkan kartu ajaib yang bisa menyelesaikan berbagai macam permasalahan.
"Jadi, apa yang ibu dapatkan dari Tesi setelah bertarung tadi?" (Moka)
"Alamat rumahnya, dia juga bilang, kalau dia akan memberi ruang bagiku dan ibuku untuk bicara empat mata..."
Mendengar itu, aku segera bertanya. "Berarti aku harus menunggu di luar?"
Erika menundukkan kepalanya sekali sebagai tanda 'iya".
Melihat aku yang bertanya, Moka langsung menggodaku, tangan kanannya langsung digunakan untuk menopang kepalanya yang berat.
"Kenapa, apakah Pak Rasyid sedih karena tidak bisa selalu bersamanya?" Ucapnya dekil.
"Ya, aku sebenarnya tidak masalah sama sekali... Hanya saja..." Aku sedikit mengerutkan mukaku, yang jadi permasalahan saat ini bukan itu. "Apakah aku harus menunggu dan melihati wajah berotot yang penuh luka itu di luar?!" Ucapku keberatan sambil bervolume tinggi.
"Mau bagaimana lagi, ini adalah urusan Ibu Erika dan Ibunya, dan bukan urusanmu, kan?" Moka mengatakan sesuatu yang masuk akal.
"Aku sebenarnya tidak masalah dengan itu, tapi... Masalah yang tadi(soal memegang dada sang ratu), apakah dia akan mempermasalahkannya juga?" Ucapku sambil mendekatkan wajahku ke telinga Moka.
Tapi, yang jadi masalah... Setelah melakukan tadi, jelas-jelas aku sudah bukan orang baik, dan dia akan segera menghancurkanku.
Terserahlah, aku pasrah saja.
Lagipula, sedikit mengobrol dengannya mungkin akan membawaku pada kebenaran yang disembunyikan nenek itu.
......................
Kami berbincang sekitar beberapa menit, lalu berdiri dan pamit pergi untuk segera menemui orang yang dicari-cari Erika selama ini.
"Ini sudah waktunya, maaf Moka, tapi kami harus segera pergi menemuinya..." Erika mengatakan itu saat berdiri.
Tangannya terlihat memberikan sedikit lembaran uang untuk membayar minuman yang dia dan aku beli.
'Wah, aku ditraktir...'
"Eh, malam ini?! Anda mau pergi malam ini?! Apa tidak kemalaman?!" Moka tersentak.
Namun, tangannya berkatakan lain, uang yang sudah diletakkan Erika di meja, langsung dengan cepat diambil oleh gadis itu.
Seakan dia bilang. 'Cepatlah pergi... Aku tidak bisa membiarkan si mesum ini terus ada di sini!' Kurang lebih seperti itu.
Kenapa aku bisa tahu dia mengatakan itu? Tentu saja, karena saat gadis itu mencoba mencegah Erika pulang, wajahnya sedikit mengarah padaku.
Saat mata kami saling bertemu, tatapannya berubah menjadi sinis...
Ya, kurang lebih seperti itu.
"Kalau gitu, selamat tinggal Moka, maaf sudah menganggu!" Erika mengatakan itu sambil melambai-lambaikan tangan padanya.
Aku juga melakukan hal yang sama, namun tidak mengucapkan apa-apa dan berharap dia kupa sesuatu.
Tapi...
__ADS_1
Moka yang sudah berjarak jauh dengan kami melingkari mulutnya dengan tangannya. "Pak Rasyid, jangan lupa... Ganti ruginya!" Setelah itu, dia tersenyum lebar padaku.
Dalam senyumnya, seperti mengisyaratkan sesuatu. 'Jangan sampai lupa, ya?!'
Sial, dia ingat...
......................
Saat di dalam mobil, posisi duduk kami sedikit berubah.
Aku merasa ada yang janggal.
"Erika, kenapa orang ini ikut?" Tanyaku heran.
Posisi dudukku saat ini ada di bagian penumpang bagian belakang, sementara Tesi duduk di sebelah wanita itu.
"Dia kan yang akan menunjukkan jalan, ya mau bagaimana lagi..."
Mendengar itu, pria kekar dan penuh luka itu menoleh ke arahku dan menatap kosong wajahku yang terlihat bodoh ini.
"Diamlah kau, dasar Champion mesum..." Suaranya datar tapi keras.
Aku terdiam hanya dengan ucapan tak bernada tapi nyelekit sampai hati itu.
Saat di perjalan, Tesi terus memberi intruksi kemana Erika harus pergi. Sampai akhirnya, ban mobil itu direm oleh dan berhenti sepenuhnya di depan perumahan Ningru City...
'Jadi ini rumahnya?'
Rumah-rumah di disini tersusun rapi layaknya sedang berbaris, bahkan bila ada orang yang memiliki OCD sekaligus, mereka akan sangat senang dan puas dengan kerapian rumah ini saat berbaris.
Bila kuingat, salah satu dari guru Sekoah Podoagung ada yang tinggal di sini, tapi siapa?
Entahlah, saat ini aku hanya mengikuti Erika dan Tesi saja.
Kami keluar dari mobil dan berjalan masuk ke salah satu rumah yang tersusun rapi itu.
"Permisi..." Tesi mengetuk pintu.
Tak lama kemudian, seorang anak berusia 3 tahunan membukakan pintunya.
Hebat sekali, 3 tahun sudah bisa seperti itu.
"Papa..." Anak itu memanggil Tesi 'papa' berarti dia adalah anaknya.
Anak itu seketika takut dengan dua wajah asing yang ada di belakang ayahnya.
"Siapa?!" Ucapnya takut dan langsung memeluk kaki ayahnya.
"Cuman teman ayah, mereka ingin bertemu dengan ibu..." Ucap ayah itu dengan mengelus-ngelus rambut putranya itu.
......................
Di dalam rumah, Tesi yang sambil menggendong putranya membawa kami berdua di depan sebuah kamar.
TOK TOK TOK!
"Sayang... Bisa bicara sebentar?" Tesi mengetuk pintu itu dan memanggil orang yang ada di dalam.
"Masuklah..." Suara lemah terdengar dari dalam kamar.
Apakah?!
Pikiranku langsung biyar saat mendengarnya.
KRAK!
Saat dibuka, kami berempat masuk dan melihat seorang wanita yang terbaring lemah di kasur.
Erika yang melihat itu langsung dengan refleks maju dan membelai kening ibunya.
"E-Erika?!"
"Ibu!" Erika membelai-belai ibunya sambil bermandikan air mata.
__ADS_1
Ini akan jadi reuni kecil anak dan ibu.