
Aku berjalan keluar rumahku untuk mencoba prototipe hover shoes buatan Haran yang diberikan kepadaku.
Namun...
Saat pintu depan kubuka,
Clak...
Seorang gadis pendek dengan rambut yang diikat seperti 2 bola berdiri di depan pintu itu. Dia terlihat seperti mau mengetuk pintu rumah, namun tidak jadi karena aku sudah membukanya duluan.
Ekspresi kagetnya menjadi hal pertama yang kulihat di wajahnya, bila harus kukatakan sekarang, mungkin ekspresi yang keluar dari wajahnya sekarang itu terlihat imut.
Ah, kenapa orang yang berstatus sebagai pacarku malah ada di depan rumahku dan terlihat seperti mengajakku kencan?
Tunggu, bukankah itu memang keharusan?
Sebaiknya aku segera menyapanya saja...
Habisnya dari tadi kami saling bertatapan bengong layaknya orang bodoh.
"Da-Dahlia--?! Kenapa kamu ada di sini?!" Tanyaku dengan kaget.
Dan ini bukanlah pura-pura, aku benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa ada di depan rumahku.
Lagipula, dia tahu rumahku dari mana?
Dahlia tersenyum ke arah dan berjalan mendekat tanpa memberi peringatan apapun.
*pluck
Dia menempelkan lengannya pada lenganku.
Dengan tersenyum, dia semakin mengencangkan rangkulan lengannya padaku.
"Rasyid... Dahlia sudah lama tidak bicara dengan anda... Jadi aku datang untuk mengobati rindu ini..." Ucapnya dengan menggoda.
Bukan hanya itu, dia kini mengelus-eluskan pipinya yang lembut dan empuk pada dadaku.
Jika harus di deskripsikan yang terjadi sekarang, mungkin akan menimbulkan banyak kesalahpahaman tetangga.
Bagaimana tidak, aku yang berdiri di pintu sedang ditempel oleh gadis muda yang masih duduk di bangku SMA.
Entah julukan apa yang akan diberikan padaku jika berita ini sampai tersebar di seluruh desa.
Lupakan saja, jika itu yang diminta anak ini, maka akan kulayani. Lagipula aku juga lagi luang, dan untuk masalah mencoba hover shoes ini bisa kuselesaikan bebarengan dengan masalah ini.
"Dahlia..." Aku mengelus-elus rambutnya yang lembut. "... Apa kamu mau memiliki waktu bersama?"
"Waktu bersama?"
"Iya, tadi sebenarnya aku mau mencoba sepatu terbang ini, tapi kurasa akan sangat membosankan jika melakukannya sendirian, jadi..." Aku mengangkat memperlihatkan sepatu itu padanya dengan membuat sebuah senyuman sebisaku. "... Apakah Dahlia mau mencobanya bersama-sama?"
Apakah senyumanku sudah benar?
Terkadang kalau bicara dengan orang yang terlalu dekat denganku, aku bisa menjadi salah tingkah.
__ADS_1
Sejak kapan aku jadi seperti ini?
Gadis yang menempel padaku itu itu mendangak ke wajahku yang lebih tinggi darinya, terpampang senyuman kecil yang disertai mata yang berbinar-binar bagaikan mentari pagi.
"Hmm(mengangguk)... Itu malah akan sangat menyenangkan." Kepalanya dimiringkan. "Asalkan ada anda, saya senang..."
......................
Dengan begitu, aku dan Dahlia pergi ke lapangan di desaku untuk mencoba sepatu prototipe itu.
"Hwah... Saya tidak menyangka kalau saya akan bisa melihat langit biru seperti ini sekarang..."
Mata Dahlia berbinar terang karena takjub dengan pemandangan dari atas awan.
"Hmm(mengangguk)... Penemuan ini benar-benar menakjubkan, bukan?"
Aku yang terbang di sampingnya hanya bisa mengiyakan, dan ikut merasa takjub dengan pemandangan ini.
Meskipun bagiku pemandangan seperti ini biasa kulihat saat sedang bertugas, namun menikmati pemandangan seperti ini saat selagi bersantai rupanya memberikan kesan yang berbeda.
Suasana hatiku yang kemarin dan tadi malam sedang kacau seketika hilang seperti terbawa oleh angin kencang.
"Penemuan? Apakah ini akan menjadi kejutan baru di tahun ini?"
"Bisa dibilang begitu, setiap dekade selalu ada kejutan-kejutan penemuan menakjubkan. Mulai dari terciptanya Anitya, Pageblug, dan saat ini adalah benda ini, Hover shoes..."
Aku menjelaskan apa yang sudah kudapat dari wanita sadis itu.
"Ngomong-ngomong, anda dapat ini dari mana?"
"Eh, sepatu ini? Aku da-"
Tunggu, bila aku menyebut 'aku dapat ini dari Haran.' Bukannya itu akan membuatnya cemburu dan masalah semakin ruyam?
Bila dari artikel yang pernah kubaca,
Jika pacarmu menanyakan hal yang berasal dan tentang wanita lain, maka siap-siap dia pasti akan memarahimu.
Berhati-hatilah, cemburunya wanita itu terkadang membuat kepalamu akan tambah puyeng. Sebaiknya segera hindari hal seperti itu.
Ingat itu!
Eh--- Sepertinya aku harus sedikit mengelak.
"Seorang guru memiliki eksperimen, dan dia memberikan ini sebagai barang percobaan padaku..."
Aku membuat sebuah senyuman lebar di wajahku.
Namun, dari bagaimana Dahlia menanggapi senyumanku, dia sepertinya tidak tertipu dengan itu.
Tipu dayaku gagal total...
"Ekh hehehe... Anda pintar dalam menyembunyikan fakta dalam sebuah kata, namun tidak dalam sebuah ekspresi wajah..."
Dahlia tersenyum kekeh saat melihat ekspresi bodohku itu, dia yang awalnya kukira mau marah-marah karena cemburu malah jadi tersenyum air mata dan terlihat menikmati pembicaraan ini.
__ADS_1
"Eh, benarkan? Emangnya senaas itu kah ekspresiku?!"
"Tanyakan saja pada orang-orang di bawah itu, mungkin jika mereka melihat ekspresi anda saat ini, maka jawaban mereka akan sama dengan saya, namun dengan jawaban yang lebih awam."
"Hah(menghela nafas)... Ternyata begitu, ya?"
Kemampuanku dalam berakting sepertinya sudah semakin berkurang, dengan begini, jika aku mendapat misi untuk menyelindap dari nenek itu, maka aku akan jelas-jelas gagal saat melakukannya.
"Oh ya, saya mendatangi anda sebenarnya bukan hanya untuk mengobati rindu..." Saat mengatakan itu, wajah gadis itu berubah serius ke arah depan, namun di sisi lain, tangannya berkata lain, tangannya yang dekat dengan tanganku malah mencengkram kuat jemari-jemariku seperti tidak ingin melepaskannya. "... Ini masih ada hubungannya dengan ujian kemarin."
Saat mengatakan itu, aku yang tadi berada di mode santai langsung berubah menjadi mode serius.
Dia pasti ingin membicarakan soal yang tadi malam.
"Apa kamu sudah mendengarnya?"
"Hmm..." Dia menatap kosong langit yang berada di depannya dengan hampa. "Bagaimana bisa? Dan bagaimana nasib kelas yang tiba-tiba jatuh ke posisi bawah itu?"
Rumor beredar sangat cepat, bahkan terlalu cepat.
Tunggu, seingatku tadi malam ada nomor yang tidak diketahui mengirim file itu di grup chat. Apakah hal yang sama juga berlaku di grup chat mereka(para murid)?
Jika iya, maka ini akan membahayakan privasi para guru.
Terlebih lagi orang itu...
Aku masih belum berani menyebut namanya untuk sekarang.
"Akupun juga tidak tahu..." Aku jujur soal ini, bahkan tidak ada sedikitpun rekayasa di dalam gerak-gerikku. "... Tiba-tiba saja tadi malam posisi kelas yang kuajar langsung berada di sana, dan menggantikan posisi kelas itu."
"Bukankah itu adalah perbuatan anda?"
Dia salah kira kalau aku yang sudah menyelesaikan masalah ini ada hubungannya dengan kejadian tadi malam.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menandakan kalau itu semua bukanlah aku yang melakukannya.
"Aku malah tidak tahu sama sekali apa yang terjadi, penyelesaianku yang kukatakan padamu tadi malam berbeda dengan yang peristiwa chat misterius itu..."
"Jika bukan anda, lalu siapa?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu... Tapi yang pasti, sesuatu yang besar dan melibatkan pangeran itu akan datang."
Itu pasti, pelaku dari peristiwa ini pasti berkaitan dengan pangeran itu, entah dia adalah lawan bisnis, keluarga, atau asmara.
Yang pasti, ada satu di antara semua kemungkinan yang bisa kupikirkan sekarang.
...****************...
Tepat saat meyakinkan itu, sebuah deringan telpon terdengar di saku celanaku.
Sial, aku lupa kalau aku bawah ponsel saat terbang.
Dengan ketinggian yang ekstrim, aku terpaksa mengangkat dan melihat nama dari sebuah pemilik nomor yang muncul di depan layar ponselku.
Stevent Xander, nama anak itu tertera jelas di sana.
__ADS_1
Kenapa anak ini? Habis kesambet apa kok mau menelponku?