
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah diriku pingsan, namun dari bagaimana mataku melihat saat ini, sepertinya banyak hal yang sudah terjadi.
Tiba-tiba saja di ruangan kelas yang sunyi dan berantakan ini menjadi cukup ramai. Ada banyak orang yang menempati ruangan ini, sampai-sampai aku merasa ini seperti kelas les.
Keberadaan kakakku yang berada di ujung puncak tumpukan meja dan kursi telah hilang dengan hanya meninggalkan petinya saja. Dari apa yang diberitahukan Ryan padaku saat bangun, dia menyuruh pacarnya, Linda untuk membawa tubuh kakakku pergi dari sini.
Apa yang sebenarnya Ryan pikirkan, aku masih belum tahu.
Tapi, dari raut wajahnya yang beraduk-aduk, dia ingin mengatakan sesuatu yang rumit.
"Jadi, apa yang terjadi? Aku bertanya pada maksud kedatangan mereka!"
Mereka yang kumaksud adalah wajah-wajah familiar yang tidak kusangka akan kutemui saat ini. Stevent, Erika, dan Sophia, mereka semua menatapku dengan tatapan yang penuh kekesalan dan pertanyaan dalam posisi mereka masing-masing.
Stevent sedang duduk di salah satu kursi kelas yang sudah termakan rayap, wajahnya terlihat sedih saat memandangiku. Sophia jongkok di depanku sambil memperlihatkan raut wajah kesal itu, tangannya terus memegangi dadaku sambil meremasku seperti ingin menghancurkannya namun tak kuasa karena gemetaran. Dan yang terakhir, Erika berdiri sambil berjalan mondar-mandir dengan menyilangkan tangannya, raut mukanya terlihat kesal ke arahku.
"Kami ingin bertemu denganmu... Ada banyak hal yang ingin kami tanyakan!" Erika menjawab dengan kesal.
Ya itu tidan terhindarkan. Aku sudah membunuh beberapa guru yang merupakan teman mereka, dan terlebih lagi, Dahlia mati karenaku.
Marah dan rasa ingin membunuh adalah hal yang wajar bila muncul dalam diri mereka.
Aku hanya bisa tersenyum menyengir mengetahui apa yang akan terjadi padaku.
"Apa yang ingin kalian tanyakan padaku? Masa laluku? Siapa aku sebenarnya?" Ucapkan secara menghina.
"Tidak usah karena kami sudah tahu." Stevent menjawabnya.
Aku sedikit terkejut karena yang seharusnya mengatakan itu adalah Erika.
"Pak Ryan sudah memberitahukannya pada kami," lanjutnya.
Aku seketika melihat ke arah Ryan yang sedang berdiri jauh di belakang mereka.
Dia menjawab tatapanku dengan lambaian tangan yang disertai senyuman bodoh khas miliknya.
"Si cupu... ahh(menghela nafas)."
"Jadi apa yang ingin kalian tanyakan sekarang?" Aku kembali menatap mereka.
Urusanku saat ini bukanlah dengan Ryan, namun dengan mereka. Dengan adanya mereka di sini, gol-ku akan menjadi terhambat.
Erika yang dari tadi mondar-mandir akhirnya mengubah jalannya ke arahku dengan masih memasang raut wajah judesnya. "Apa tujuanmu saat ini?" Tanyanya sambil menodongkan anak panah ke arahku.
Sepertinya tidak bisa berbohong, ya?
Matanya saja sudah seperti mengatakan, 'berbohong maka aku akan menusukkan anak panah ini ke lehermu. Ini berlaku di setiap kebohongan yang kau ucapkan.'
Sebaiknya aku mengatakan yang sebenarnya. Memperlihatkan diriku yang masokis malah akan membuatku lebih malu daripada ancamannya.
Dengab mengambil nafas dalam-dalam, aku bersiap mengatakan semua yang harus kukatakan.
Aku menceritakan pada mereka tentang tujuan utamaku, yaitu menemui kakak tertuaku, Nazrul.
Mereka seketika berubah raut wajah dan mulai memasnag kecurigaan pada tindakanku saat ini, namun aku berhasil menepisnya dengan mengatakan fakta lain.
Yaitu Projek Pangeran...
Sesaat menjelaskan apa itu Projek Pangeran, mereka semua terdiam sambil melongo dan bermandikan keringat dingin. Mereka seperti tidak menyangka kalau manusia akan menjadi setinggi itu, bahkan menganggap dirinya sendiri sebagai Tuhan.
__ADS_1
......................
"Jadi tujuan anda adalah untuk menghentikan Projek itu?" (Stevent)
Aku menggelengkan kepalaku lalu menatap ke luar jendela. "Tidak, Projek itu sudah selesai..."
Mereka semua terkejut dan mulai meraba-raba tubuh mereka sendiri.
"Bukankah itu artinya, kita semua sudah di awasi?" (Sophia)
"Tidak, menurutku projek itu tidak serumit itu. Projek itu hanya bagaikan Sihir KODE yang diperkuat. Hanya bedanya, jika Sihir KODE hanya bisa berlaku setelah diucapkan, maka Projek Pangeran bisa merealisasikannya hanya dengan kemauannya saja," jelasku.
"Contohnya saja, jika kalian melawanku secara hidup dan mati, maka aku akan menggunakan sihir KODE untuk langsung membunuh kalian atau malah menyiksa kalian dengan hanya mematahkan beberapa tulang atau merusak organ kalian. Sayangnya untuk nengaktifkannya, aku harus menyebut beberapa KODE layaknya sebuah trigger yang ada di pengembangan sebuah game, namun berbeda jika kalian melawan orang yang memiliki Pangeran. Dia akan menghancurkan kalian baik langsung dibunuh maupun disiksa terlebih dahulu hanya dengan tatapannya saja." Tambahku dengan pengandaian.
Mereka semua menjadi takut dan gelisah.
"Bukankanh itu artinya dia adalah eksistensi yang tidak bisa dikalahkan?!" Stevent berteriak ke arahku.
"Menurutmu apa artinya Projek Pangeran itu? Pangeran dalan Bahasa Jawa artinya Tuhan!"
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?! Bukankah itu sesuatu yang harus kita hentikan?" (Erika)
"Ntahlah, mungkin pintu yang ada di peti itu punya jawabannya." Aku melirik pelan-pelan ke arah peti yang ditinggalkan kakakku di sana.
"Aku mengerti sekarang, jadi kau ke sana untuk menanyakan kakak tertuamu bagaimana menghentikan Projek itu, bukan?" (Erika)
"Eh(tersenyum tipis), aku hanya ingin tahu, apakah eksistensi itu layak ada atau tidak. Jika iya, maka aku akan diam saja, dan jika tidak, maka aku..." Ada sela waktu saat aku mengatakannya. "... Mungkin aku akan memberontak pada eksistensi itu."
Saat mengatakan itu, aku berdiri dan berjalan ke arah pintu peti.
Sudah tidak ada waktu lagi, aku tidak mau mengulur lebih banyak waktu. Aku hanya ingin tahu dan menanyakannya padanya.
*Tak!
Erika berdiri di depan pintu peti itu. Dia menghalangi pintu itu dari tanganku. Raut wajah yang sedih terpasang di sana.
"Sebelum kau pergi, aku hanya ingin mengatakan... Dunia itu bobrok, dan meskipun kau bobrok sekalipun, kami ada di sini untukmu."
Kalimat tidak terduga terucap dari mulut wanita itu membuatku seketika melebarkan mata dan mulutku.
"Terima kasih, Erika..." Aku tersenyum setelah sekian lama. "...Dan semuanya." Aku memegang dadaku sambil memperlihatkan senyumku ke arah mereka yang ada di sini.
Erika membalas senyuman itu dengan senyuman yang lebih cerah. Dia beranjak dari sana dan membiarkan aku lewat.
Tapi sebelum itu, aku teringat sesuatu.
"Oh, Stevent! Bisa kesini sebentar?"
"Iya?" Stevent berjalan mendekat ke arahku.
"Maaf, aku melupakan ini." Aku memberikannya sebuah ponsel yang sedikit rusak.
Aku berharap benda itu masih berfungsi.
"Oh, ponselku! Terima kasih!"
Sebaiknya jangan berterima kasih, benda itu mungkin sudah rusak karena melewati banyak pertarungan.
Keringat dingin membasahi tubuhku, namun untuk kabur dari suasana itu, aku segera berbalik dan langsung masuk ke dalam peti itu.
__ADS_1
......................
Akhirnya, momen yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba.
Kebenaran yang kucari sedang kulihat saat ini.
Aku berjalan di sebuah anak tangga dari batu yang melayang di atas awan. Anak tanggai itu membawaku ke sebuah tempat luas yang menyerupai arena bertarung dari batu yang juga melayang di atas awan.
Di sekitarnya terdapat 6 pilar yang menunjukkan sifat-sifat manusia.
Pilar pertama, penuh dengan emosi marah.
Pilar kedua, penuh dengan emosi jijik.
Pilar ketiga, penuh dengan emosi takut.
Pilar keempat, penuh dengan emosi bahagia.
Pilar kelima, penuh dengan emosi sedih.
Pilar keenam, penuh dengan emosi terkejut
Semua pilar itu terbakar oleh api bagaikan obor yang membara di malam hari.
Di tengahnya, terdapat tubuh orang yang sedang di rantai dari tangan sampai kaki.
"Ini seperti yang ada di mimpiku." Aku takjub pada tempat ini.
Namun, itu semua seketika sirna setelah aku melihat orang yang terantai itu.
"Dan itu pasti kau kan? Nazrul Aji!" Wajahku mendatar dan suaraku terdengar keras di ruangan yang aneh ini.
"Akhirnya kau datang juga, Rasyid adikku!" Dia menanggapi pertanyaanku dengan suara yang terdengar serak dan kesakitan.
Tak kusangka rupanya dia sadar.
"Hebat juga kau bisa beradaptasi di tempat ini tanpa harus melakukan apa-apa selama beberapa tahun. Lupakan saja perkataanku tadi, ada yang ingin kutanyakan padamu!"
......................
Di sisi lain dari peti.
Ryan, Erika, Stevent, dan Sophia sedang berada di satu tempat. Namun tak ada satupun suara di sana. Ini semua adalah perasaan canggung. Mereka semua bukanlah orang yang sering berada di sekitar mereka. Bila menggunakan kata modern, hal seperti ini disebut 'beda circle'.
"A-anu..." Ryan mencoba mencairkan kecanggungan suasana. "...Ngomong-ngomong, apa hubungan kalian dengan Rasyid? Bahkan sampai rela datang ke sini meskipun bahayanya itu nyawa kalian."
Mereka semua terkejut dengan pertanyaan ini, namun dengan segera mereka tahu alasan dibalik pertanyaan itu.
"Aku hanya ingin tahu apa tujuannya, karena itu adalah apa yang kukakatan padanya dulu." (Erika)
"Aku ingin menanyai banyak hal... Namun, sepertinya tidak bisa. Apa yang telah bapak katakan tentangnya membuatku tidak bisa berkata lebih dari tadi." (Sophia)
"Aku hanya tidak mengerti... Kupikir orang itu hanya perlu kuhajar sampai habis, namun sama seperti yang Sophia katakan, semua niatku hilang setelah bapak menceritakan masa lalunya." Stevent menggigit bibirnya. "Ternyata dunia ini memang gila, ya?"
Stevent selalu berpikir kalau dia sudah tahu siapa orang itu, namun seperti yang Astra katakan pada Penilaian Guru saat itu, 'dia adalah orang yang berbahaya.'
Mereka semua memiliki alasan yang sama, ingin sebuah kejelasan. Namun, semua pertanyaan mereka terhentikan oleh cerita yang sudah diberitahuakan oleh Ryan tadi. Mereka semua mengurungkan niat mereka dan bertanya pada dunia, sebenarnya apa yang terjadi di dunia ini?
"Kenapa dunia seakan berputar di antara dirinya?"
__ADS_1
Stevent kebingungan karena setiap masalah selalu berhubungan dengan orang itu. Seakan, orang itu adalah porosnya dunia.