
Suara mobil yang melaju secepat kilat terdengar cukup keras. Mobil itu berjalan di tengah jalan yang gelap bagaikan tidak tahu aturan. Seluruh benda ringan yang ada di sekitar jalan langsung berhamburan dan berterbangan.
Ada sekitar 6 orang yang berada di mobil pick-up itu dengan satu orang duduk di bak belakang mobil.Widodo, Xander, Tasya, Samuel, Haran, dan Zarbeth duduk di dalam mobil sedangkan Bahar menjadi orang yang duduk di luar.
Mereka yang menaiki mobil itu memasang wajah gelisah dan panik. Bukan karena masalah guru itu, melainkan sesuatu yang besar yang baru saja terjadi.
"Tadi itu... Ledakannya cukup besar, bukan?" Haran bertanya pada seluruh kru mobil dengan wajah yang sudah bermandikan keringat.
"Bahkan tanpa penglihatanku sekalipun aku bisa tahu ledakan tadi cukup besar!" Samuel yang duduk di kursi tengah hanya bisa menjawab seadanya.
Ledakan yang baru saja mereka lihat cukuplah besar. Bahkan gedung yang dihantam itu sekalipun langsung rata menjadi tanah. Warna merah yang menggembung seperti balon menjadi seperti pertunjukan yang indah sekaligus mengerikan di kegelapan malam.
*Buk!
"Sial, kita sudah terlambat!" Bahar menghantam besi bak dengan kepalannya. "Ini karenamu, Haran! Meminta kita untuk ke rumahmu untuk mengambil barang anehmu!"
Sekarang pria besar itu menyalahkan wanita itu.
"Hey! Berani-beraninya kau bilang kalau aku adalah masalah!"
"Tidak salah, kan? Kau meminta kami membuang-buang waktu untuk mengambil beberapa peralatan anehmu! Memangnya itu buat apa?!"
Bahar mulai mempertanyakan kegunaan alat yang ingin dibawa Haran sampai dia rela mengambil waktu hanya demi barang itu.
Xander, Samuel, dan Tasya hanya bisa terdiam karena tak berani ambil pusing. Pembicaran mereka berdua diluar jangkauan pengetahuan mereka bertiga.
Di sisi lain, tidak seperti yang lainnya hanya diam karena tidak mau terlibat. Baik Widodo dan Zarbeth hanya terdiam dan fokus dengan jalanan karena sudah tahu.
Mereka berdua tahu kalau Haran sudah mengantisipasi pergerakan nenek itu.
"Haran, jika kita kembali... Kau akan kuhukum secara berat!"
"Hukum saja aku! Aku sudah tidak peduli... Lagipula belum pasti juga kita bisa kembali dengan selamat!" Ucapan Haran mengenai sasaran. Mereka yang berada di sini sudah menyatakan kalau mereka siap mati.
Pertikaian mereka akan semakin menjadi-jadi. Bila tidak ada yang segera merelainya, perpecahan bisa saja akan terjadi.
"Bisa kalian berdua diam?!!" Suara keras dari Widodo yang biasanya tenang seketika mengagetkan seluruh kru mobil.
Mereka semua menatap Widodo dengan mata yang lebar karena terkejut. Haran dan Bahar yang berseteru seketika diam dan menatap kaget pada Widodo.
"Widodo?" (Haran)
"Tuan Widodo?" (Xander dan Samuel)
"Kau..." (Bahar dan Zarbeth)
"Pak Widodo?" (Tasya)
Dari bagaimana mereka bereaksi, bisa dipastikan kalau ini adalah pertama kalinya mereka melihat orang itu sampai berteriak cukup keras. Bahkan untuk Bahar dan Zarbeth sekalipun, hal ini adalah hal yang baru buat mereka.
Widodo yang sehabis berteriak masih memegang stirnya meskipun masih berlumuran emosi. Kedua tangannya mencengkram stir itu seperti ingin menghancurkannya dengan cengkraman itu.
__ADS_1
"Kalian berdua... Bisa tidak diam?! Saat ini masalah kita bukanlah orang yang bersama kita... Namun orang itu, Rasyid Londerik... Dan Nova Sana!" Suara Widodo terdengar keras dan berdengung.
"Kita di sini seharusnya mengambil semua kemungkinan yang memungkinkan buat kita agar bisa melawan dua orang itu!"
"Aku tidak mau menyalahkan Haran karena kita terlambat... Kita semua kekurangan persiapan, dan lawan kita bahkan bisa melenyapkan nyawa seseorang dengan sangat mudah."
"Mengambil beberapa perlatan untuk bersiap menghadapi mereka adalah pilihan terbaik saat ini..."
"Jika saja ada guru yang gugur lagi, maka..." Dia tertahan, tubuhnya mengeras dan kaku. Mulutnya menebal dan menipis. Jemarinya yang mencengkram digerak-gerakkan di stir itu.
"... Biarkan saja mereka!"
Pernyataan itu membuat semua kru terkejut kecuali Haran dan Zarbeth. Mereka semua sudah mempersiapkan kemungkinan ini sejak awal.
"Mereka semua dengan bodohnya mengambil sebuah keputusan yang bodoh dengan mencoba kembali menyerang orang yang sudah tahu bisa membunuh 6 orang bagaikan semut."
"Sekarang Rasyid sedang bersama tuannya, hal itu malah akan membuat situasi 10 kali lebih buruk dari sebelumnya."
Semua kalimat yang dilontarkan Widodo membuat mereka terdiam. Tidak ada satupun yang berani bersuara dan menentang kalimat itu.
Semua yang diucapkannya tadi adalah fakta.
Menyerang dengan membabi buta malah hanya akan membawa lebih banyak jiwa kabur dari tubuhnya.
Terlambat atau tidak, pasti ada seseorang yang sudah gugur di sana.
Bahar yang memulai pertikaian kini hanya bisa melihati bulan yang menyabit. Dia mengingat bagaimana masa lalunya. Bulan yang dia lihat saat ini adalah bulan yang sama saat pertarungan pertamanya sebelum menjadi petarung.
Dia bisa berada di atas sini karena kemauan kuatnya. Persiapan dirinya akan masa depan. Dia ingat bagaimana konstannya hidup sebagai pekerja di pabrik roti. Dan bagaimana berbedanya kehidupan sekarang.
Kedua tangannya mengepal.
"Aku benci mengatakannya, namun... Maafkan aku.." Dia dengan berat hati meminta maaf.
Sebagai pemimpin di sekolah ini dia seharusnya bersikap seperti pemimpin, bukan malah menjadi boss.
"Aku mencoba menenangkan pikiranku, dan kini aku mencoba memahami situasi..." Bahar mencoba menikmati pemandangan dari bak mobil dengan tenang.
Di pikirannya, ada sesuatu yang menjanggal. "Haran, Zarbeth, dan Widodo... Sepertinya kalian sudah mengerti banyak dunia gelap Kota Ningru."
Kalimat tadi mengenai sasaran, baik Haran, Zarbeth, dan Widodo hanya bisa terdiam. Samuel, Xander, dan Tasya yang baru saja mendengar itu hanya bisa linglung. Mereka tahu sisi gelap kota ini, namun tidak dengan sisi tergelapnya. Tidak bisa disalahkan, mereka bertiga mengetahui sisi tergelap kota ini baru hari ini.
"Hah(mendercikkan bibir)! Sudah kuduga, kalau tidak... Tidak mungkin kalian setenang ini," ucap Bahar dengan sarkas.
"Lupakan saja, jika Haran sudah menyiapkan ini. Berarti dia sudah siap dengan semua ini." Bahar memutar badannya dan melihat ke dalam mobil. "Haran, untuk sekarang! Yang memimpin kru adalah dirmu!"
Haran hanya mengangguk tenang. Dia tahu semua arah pembicaraan. Dia tidak kaget hal ini akan terjadi.
......................
Mobil pick up berhenti di dekat pegunungan sebelah barat daya dari gedung yang sudah rata dengan tanah.
__ADS_1
Seluruh kru yang sudah turun hanya bisa melihat dengan wajah takjub dan ngeri di saat yang bersamaan.
Gedung sang bupati sudah rata dengan tanah. Bagaimana gedung itu rata adalah hal yang membuat mereka takjub. Saat mengatakan gedung itu rata, itu bukanlah kebohongan. Gedung itu bagaikan padang pasir kecil di tengah perkotaan.
Di seberang, lebih tepatnya di bagian tenggara gedung itu. Terdapat sebuah artilery raksasa yang mungkin bisa menembak jauh tepat di arah mereka berdiri saat ini.
"Benda apa itu?!" Samuel melotot ke arah artilery raksasa itu dengan kekuatan sihirnya berharap agar bisa melihat lebih jelas benda itu.
"Entahlah, yang pasti... Benda itu adalah senjata yang sudah meratakan gedung itu!" Ucap Widodo sambil membenarkan tipo koboinya yang miring.
Zarbeth berjalan mendekati mereka berdua, meskipun matanya sudah bermasalah. Namun benda sebesar itu masih bisa terlihat olehnya. Dia menyipitkan matanya dan mengangguk kecil.
Dia tahu siapa pemilik benda itu.
"Benda itu dibuat oleh sihir murni," ucapnya dengan meletakkan kedua tangannya di belakang punggung.
"Hah?!" Semua orang yang ada di sana terkejut dengan pernyataan nenek itu, namun perhatian mereka kembali teralihkan.
"Siapa kalian?!"
Seseorang memanggil mereka.
Saat dilihat, terdapat empat orang yang sedang mengangkat senjata mereka.
"Tunggu! Kalian..." Salah satu dari mereka seketika menahan senjatanya.
Dia mengenal kru yang baru datang itu.
Orang itu berjalan mendekat sampai akhirnya wajahnya terlihat.
Kru itu terkejut saat tahu siapa orang dibalik siluet hitam itu.
"Fredrica?!" (Tasya)
Itu adalah wajah yang mereka kenal.
Beberapa siluet hitam iku maju dan memperlihatkan wajah mereka.
Seorang pria dengan tombak maju.
"Rasputra?" (Widodo)
Pria berbadan kurus dan terlihat tua berjalan mengikuti langkahnya.
"Tuan Lodo?!" (Zarbeth)
Kini bayangan berbadan besar berjalan juga ikut mengikuti.
"Daniel?!" (Haran)
Sebuah reuni kembali terasa terburu-buru.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi, apakah kekacauan atau sebuah persekutuan?
Ini semua tergantung bagaimana hati mereka masing-masing.