
Di ruangan antah branta, tempat yang mungkin tidak ada ujungnya dan kosong. Hanya ada warna putih yang bisa mengganggu mental seseorang. Kini Ryan berada di sana, dan dia tidak sendirian. Seseorang yang merupakan paman dan bibinya berada di hadapannya saat ini. Mereka berdua adalah orang tua dari ketiga orang yang sedang bertengkar itu, Rizki, Rasyid, dan Nazrul.
Bertemu mereka di tempat seperti ini merupakan sesuatu yang tak terduga, bahkan oleh Ryan sekalipun. Nyatanya, Ryan sama sekali tidak tahu dengan fakta di balik peti yang Rizki gunakan, bagaimana dan dari apa benda itu terbuat.
"Bibi, Paman... Kenapa kalian ada di sini?" Tanya Ryan dengan bingung.
Dia sebenarnya sudah tahu apa yang akan terjadi di saat seperti ini. Bagaimanapun, hal seperti i ni sudah sering terjadi di banyak film.
"Kami ingin memberi tahumu beberapa hal... Jadi bisakah kamu mendengarkan permintaan terakhir kami?" Suara bibinya terdengar lemah sambil memegangi dadanya dan menahan air mata.
"Apa maksudnya permintaan terakhir?!"
Ryan menyadari kejanggalan di kalimat itu.
Namun, mereka berdua hanya tersenyum dan mengatakan, "kami sudah seharusnya mati cukup lama. Tapi... Anak kami Nazrul mengurung jiwa dan raga kami menjadi peti ini. Jadi-"
"Aku harus menghancurkan kalian berdua? Berarti aku harus menghancurkan petinya?" Potong Ryan.
"Hmm(menggelengkan kepala), kamu hanya perlu merusak inti peti itu tanpa merusaknya seutuhnya."
Mendengar pembicaraan terlalu singkat, paman mencoba berganti posisi dengan bibinya lalu mulai berbicara.
"Ada yang ingin kami bicarakan denganmu." Pria dengan keriput tua dan rambut lurus yang sudah memutih itu menghadap ke arah sambil sediki memohon.
"Ada apa, paman?"
"Langsung saja ke inti karena waktu kami tidak banyak, aku ingin kau menghentikan Rasyid dari membunuh kakaknya sendiri!" Paman memohon sambil membungkuk dan menepukkan kedua tangannya.
Permintaan yang sedikit rumit namun jelas tujuannya. Orang tua mana yang mau lihat anak-anaknya saling bunuh.
"Apakah ada alasan tertentu kenapa ingin menyuruh saya melakukan itu?" Tanyanya dengan sopan. "Bukankah, Rizki sudah pasrah akan hidupnya? Lalu kenapa saya harus menghentikannya?"
"Ini bukan masalah hidup atau mati, tapi lebih ke masalah mental."
Ryan mengkerutkan wajahnya sebagai tanda tidak mengerti dengan maksud dari perkataan itu.
"Rasyid, sejak awal aku melihatnya bertarung dari di mana teman-temannya menyerangnya, sampai saat beradu jurus dengan kakaknya, dia mengalami kebingungan pada diri sendiri." Paman menjelaskan dengan wajah yang suram dan tak berani melihat ke arah Ryan. "Dia seakan tidak tahu siapa dia, bagaimana dia harus bertarung, bagaimana dia harus menanggapi semua serangan lawannya. Seakan, jiwa Rasyid sudah bersatu dengan banyak hal sampai-sampai dia lupa siapa dia."
"Tidak bisa membedakan dirinya sendiri, ya?" Ucap Ryan sambil memegangi dagunya. "Jadi, aku bisa menyimpulkan... Rasyid kebingungan pada akting dirinya yang ada di sekolah dan di kenyataan."
"Kebiasaanya bertarung menggunakan kekuatan setengah-setengah saat di sekolah membuatnya tidak bisa bertarung dengan kekuatan penuh saat menghadapi lawan yang sepadan dengannya."
__ADS_1
"Jadi begitu, ya?" Paman akhirnya mengerti semua alasan itu.
Dia mungkin bisa melihat apa yang terjadi sejak awal pertarungan sampai sekarang, namun mereka tetap tidak dapat melihat apa yang anak mereka lakukan jika peti itu tidak bisa melihat.
"Menurutku, Rasyid lebih ke arah 'mengikuti suasana orang' jadi dia selalu menyesuaikan diri pada orang lain. Beda orang maka beda pula perlakuannya... Kenapa dia bisa seperti itu?" Kini bibi yang menjadi sedih.
Ryan ingin mengatakannya, namun sulit untuk keluar dan menceritakan apa yang sebenarnya Rasyid lakukan setelah mereka berdua meninggal.
"Seorang pembunuh harus bisa berakting dalam banyak hal agar targetnya tidak menyadarinya..." Suara pelan Ryan terdengar lembut tapi menusuk ke hati bibinya. "...Meskipun pada akhirnya dia melupakan siapa dia, apa yang sebenarnya dia lakukan, dia tetap harus menjalankan tugasnya."
Mendengar penjelasan itu, ruangan seketika hening tanpa suara. Mereka bukan tidak mengerti, namun hanya berat mengetahui kenyataan.
Kenyataan selalu menyakitkan seperti biasa.
"... Tidak ada yang asli dari dalam dirinya..." Bibi seketika berbisik.
Baik Ryan dan paman menoleh ke arah bibi dengan terkejut.
"Tidak ada yang asli dari dalam dirinya!" Dia berteriak keras sampai paman yang berdiri di sampingnya refleks menutup kupingnya.
"Apa maksudnya, bi?!"
"Kau harus tenangkan dia! Buat dia menghentikan niatnya. Katakan padanya, 'kami selalu melihatmu, jadi jangan putus asa.'!" Dia mengatakan itu dengan tergesa-gesa.
"...Dan juga, katakan kalimatku yang tadi kukatakan." Bibi menangis dalam kalimat itu.
"Tidak ada yang asli dalam dirimu?" Ryan mengatakannya.
"Ya, katakanlah! Dia pasti akan berhenti dan menyadari itu. Meskipun kami sudah lama tidak melihatnya, dan kemungkinan kami tidak mengenal sifatnya yang sekarang, namun kami tahu... Sifatnya saat melihat kenyataan pastilah akan menghancurkan semua kesadaran palsunya."
Setelah mengatakan itu, seketika tubuh paman dan bibi mulai transparan.
"Sepertinya waktunya mau habis?" Paman tersenyum sambil menahan air mata. "Sampai jumpa, semoga kau berhasil, Ryan. Orang tua-mu sangat bangga pada prestasimu bila mereka mengetahuinya."
Saat mengatakan itu, mereka berdua menghilang tanpa jejak.
Bibi yang tadi menangis tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Tapi dia sudah lega karena tahu semua yang dia ingin katakan sudah dia keluarkan, maka hilangpun saat ini juga tidak masalah.
Ryan melihat ke atas, namun hanya ada warna putih. Dia hanya ingin tahu satu hal dari kalimat tadi...
Apakah orang tuaku bangga? Mereka bahkan tidak terlihat senang dengan keberadaanku.
__ADS_1
Ryan yang dulunya takut akan kesalahan sering dibenci oleh orang tuanya karena ketidakbergunaannya. Dan dari apa yang sudah diketahui, semua ketakutan dan minder dari pria itu datang karena Rasyid yang suka membully-nya sejak kecil.
"Tidak, aku tidak boleh melempar kemarahanku..." Menepuk dadanya, Ryan mencoba optimis.
Bagaimapun juga, dia sudah membuat Rasyid bonyok saat itu untuk mengeluarkan semua amarahnya. Melihat kepala dari mantan pembully-nya sampai tidak berbentuk sudah membuatnya tenang.
Jadi, tidak ada lagi dendam di antara kami berdua. Kami berdua telah dewasa, tahu mana yang benar dan salah.
Seketika ruangan begitu menyilaukan dan membawanya kembali ke dunia nyata.
Di dekatnya, Linda sedang melihatnya dengan kebingungan.
"Tidak ada masalah, semua baik-baik saja," ucap Ryan dengan tersenyum.
Linda pasti khawatir pada Ryan yang tiba-tiba terdiam secara aneh.
....
Sesuai keinginan paman dan bibinya, Ryan menghancurkan inti dari peti itu dan mengistirahatkan mereka dari keabadian yang mengutuk mereka selama ini.
Kini hanya ada satu masalah...
......................
Kembali ke waktu saat ini.
Ryan mengoceh banyak hal padaku. Banyak dari perkataannya yang tidak aku mengerti, namun dari bagaimana dia menyampaikannya. Itu semua adalah kebenaran. Orang tuaku mengatakan yang sebenarnya.
"Tidak ada yang asli dari dalam diriku..."
Aku seketika merenungkan kalimat itu.
Namun tidam begitu lama, sesuatu yang aneh terjadi padaku. Pusing di kepala melanda sampai membuatku kehilangan keseimbanganku. Tubuhku seketika lemah dan berakhir roboh.
Dalam hatiku, aku berpikir, 'Apakah ini karena aku sedang dihancurkan oleh jutaan kebohongabku sendiri?'
Seketika semua menjadi hitam, dan aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Suara dari Ryan yang khawatir padaku adalah satu-satunya yang terdengar saat iu.
Hasratku untuk membunuh kakakku menghilang, semua keinginanku yang kuciptakan kubuang.
__ADS_1
Karena aku tahu...
Semua itu bukanlah keinginanku yang sebenarnya. Aku hanyalah bingung pada diriku sendiri.