
Kami berdua berhasil terjerumus ke dalam perangkap musuh. Mereka mengitari kami dan tak memberi kami celah untuk kabur sedikitpun. Terlebih lagi, aku sekarang bersama Haran, jadi aku tidak bisa memperlihatkan kekuatan asliku dengan leluasa.
Ini merupakan sesuatu yang memalukan buat wanita yang saat ini sedang menempelkan punggungnya ke punggungku, bagaimana tidak, dia adalah guru dengan jabatan tertinggi nomor 1 dari seluruh guru, namun dia malah dengan mudah masuk dalam perangkap musuh.
Ya, ini bukan sesuatu yang memalukan bagiku, karena siapapun pasti pernah masuk dalam lubang perangkap karena kurang dengan yang namanya informasi.
Ini membuktikan betapa pentingnya sesuatu yang disebut informasi itu, kurang saja sedikit informasi yang kita dapat, maka hasilnya akan sangat fatal.
Dari apa yang kudengar dari Haran, sepertinya perusahaan SANGKUNI benar-benar bisa melempar dua buah dengan satu batu. Mereka mendapatkan uang baik dari menjual informasi setengah-setengah ke Haran, dan memberi perlindungan pada kliennya.
Seperti yang diharapkan dari mereka.
Kembali ke saat ini.
5 orang yang seharusnya mereka mata-matai kini malah berdiri mengitari mereka sambil memasang wajah senyum puas karena mangsa mereka masuk jebakan dengan mudah.
"Tch, sial, meskipun sihirku kuat sekalipun, melawan sebanyak ini tetaplah bukan kehebatanku," keluh-kesah Haran sambil menatapi puluhan bahkan ratusan manusia yang mengitarinya.
"Menyerah sajalah, Haran... Kau, bahkan dengan si Champion itu sekalipun tidak akan bisa mengalahkan kami semua!"
Pria berjas itu memperlihatkan wajah aslinya setelah dia mengatakan itu.
Haran memberikan ekspresi yang biasa. Dia bisa dibilang sudah mengetahuinya sejak awal siapa orang itu. "Sudah kuduga, ternyata itu kau, Candra Emi... Guru kelas 2 Fisik 2. Kau sepertinya pandai sekali memalsukan wajahmu." Haran menyilangkan kedua tangannya sambil tersenyum tipis dengan menutup matanya.
Namun...
"...Atau.." Dia belum selesai bicara.
Bola matanya yang merah melirik ke arah lain, lebih tepatnya ke arah wanita yang berdandan layaknya Putri Tyas Anjani.
"... Mungkin ada orang yang sudah cukup berpengalaman di bidangnya sampai bisa membuat make up dan dandanan yang bisa menipu siapapun yang melihat." Haran menyeringai dengan mata yang bagaikan menusuk ke arah wajah si perias.
"Ah~, sepertinya aku tidak perlu berakting mengikuti karakter yang kuperankan. Ya, itu bukan masalah, lagipula toh aku juga sudah ketahuan sejak awal..."
Wanita itu mengubah wajahnya yang tadi tersenyum polos menjadi tertawa menyeringai, rambutnya dia kibaskan sehingga angin dari bawah flyover bisa meniupnya.
Haran yang sudah membongkar topeng wanita itu kini menoleh ke tiga laki-laki yang lainnya. Bagaikan kilat, dia langsung tahu siapa mereka.
__ADS_1
Kedua matanya menatapi bagian bawah fly over yang berguncang setiap saat, kedua tangannya bergerak ke belakang kepalanya untuk mengikat rambutnya yang panjang menjadi seperti ekor kuda, senyuman di wajahnya yang tadi menyeringai kini berubah menjadi serius dan datar.
"Candra Emi dari Kelas 2 Fisik 2, Ami Salahudin dari Kelas 2 Fisik 3, Matthew Kunto dari Kelas 2 Sihir 1, Malik Abimanyu Sang Pencakar Langit dari kelas 2 Sihir 2, dan yang terakhir Nurdin Jiminten dari kelas 2 Sihir 3." Haran menyebut seluruh nama orang yang bersembunyi dibalik make up.
"Tak kusangka, kalau kalian bisa membuat pemberontakan yang sebesar ini, bahkan kalian juga ingin melenyapkanku? Hihi..." Haran kembali menyeringai. "Meskipun dengan SANGKUNI sebagai tebengan kalian sekalipun..." Dia mulai menarik nafasnya dan bersiap berteriak. "... Tidak akan bisa melawan kekuatan hukum yang diciptakak Nenek itu!"
Mendengar Haran yang menyinggung seseorang yang memiliki kekuasaan tertinggi di Kota Ningru ini, mereka berlima langsung terkejut, namun tak butuh waktu lama, mereka kembali menyeringai bagaikan sudah siap untuk itu.
"Ha? Kau pikir kami tidak siap?" Malik yang notabenenya seorang pangeran, tiba-tiba berbicara dan menperlihatkan senyum hinanya.
Dia meraba sesuatu dari sakunya dan memperlihatkannya pada kami berdua.
Itu adalah...
Melihat benda yang dipegang oleh Malik, Haran langsung terbelalak dan terbujur kaku.
Apa yang pangeran itu pegang adalah batu akik panca warna yang digadang-gadang bisa melampaui kekuatan pendeteksi Anitya.
Satu-persatu dari mereka memperlihatkan batu itu lalu menggabungkannya ke dalam pageblug mereka.
Ini artinya, setiap tebasan yang mengenai kulit akan menjadi permanen dan tidak bisa disembuhkan dengan Anitya dalam kurun waktu yang lama.
Aku tidak mau pingsan ataupuj mati di sini, ini terlalu konyol. Aku juga masih belum menyelesaikan tugasku sebagai diriku sendiri.
Aku harus melumpuhkan mereka semua, namun dengan apa? Menggunakan sihir asliku bukanlah jawaban yang tepat. Selain itu, aku juga butuh informasi dari salah mereka di sini. Jadinya membunuh mereka akan menjadi jawaban yang salah di sini.
Aku harus memikirkannya...
Tapi, sesuatu tiba-tiba mengetuk-ngetuk bagian belakang kepalaku.
"Juniorku- bukan... Tapi, Rasyid... Aku memintamu untuk menghabisi semua cecunguk-cecunguk itu dengan hanya menyisakan mereka berlima, apa kau bisa?"
Haran tiba-tiba memerintahkan, dia sepertinya penasaran bagaimana aku bekerja saat menjadi babu dari nenek itu. Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk memperlihatkannya padanya, begitulah apa yang dalam pikirannya bila kupikir.
"Maaf-- tapi, aku tidak bisa..."
"Kenapa?!"
__ADS_1
Aku masih tahu betapa bahayanya mengekspos kekuatanku pada orang lain.
Erika saja sudah kubawa dalam ke bahaya itu, aku tidak mau orang lain akan masuk ke dalam sisi berbahaya itu sekali lagi.
"Kau pasti punya alasan untuk itu!" Haran membalik kembali kepalanya ke arah musuh-musuh yang ada di depannya. "Tapi kalau kau berbohong soal alasanmu, aku tidak akan mengampunimu!"
Tangannya mengeluarkan pageblug dari saku yang ada di roknya, dan langsung diaktifkan sampai membentuk sebuah chakram.
Jangan tanya bagaimana rok pendek itu bisa menyimpan pageblug itu.
"Aku akan menjaga ucapan itu, kali ini aku benar-benar sudah tidak boleh memperlihatkannya," ucapku sambil mengaktifkaj pageblugku.
Sebuah pedang mata satu yang melengkung terbentuk dan kupegang dengan erat pegangannya.
"Lo lo lo... Ternyata kalian lebih suka jadi daging cincang, ketimbang jadi budak? Baiklah, kami akan mengabulkannya!"
Sebuah senapan riffle membidik ke arah kami.
Pedang ganda yang dipegang erat oleh pemiliknya menunjukkan kehausan mereka pada darah.
Sebuah hoverboard diinjak oleh seorang sang mudin peristiwa kelam.
Sebuah Cakar di kedua tangannya terlihat panjang dan siap mencakar siapa saja yang melawan perintahnya.
Sebuah seruling yang bisa mempermainkan elemen siap ditiup untuk menghantam lawan-lawannya.
Kalau boleh jujur, aku paling tidak menyangka kalau Nurdin juga akan menjadi dalang di balik ini, kupikir dia adalah orang yang adil karena pernah memberi hormat pada Tasya yang sudah menjadi lawannya di Penilaian Guru saat itu.
Ternyata istilah, kalau kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja adalah benar dan valid.
Maka dari itu...
Pedangku ke angkat dan kucengkram dengan kuat.
Aku akan menghancurkan siapa saja yang ada di depanku, atapun menghalangi jalanku!
Secara bergantian, kelima guru itu maju dan diikuti dengan kacung-kacungnya.
__ADS_1
Ini akan menjadi pertarungan yang cukup...
Menyebalkan!