Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 122.


__ADS_3

Diikat disebuah tiang, Xander duduk lesehan di lantai kayu dan menatapi apa yang ada di depannya dengan diam. Di belakangnya, aku sedang melakukan hal yang sama dengan saling memunggung satu sama lain.


Sejuknya malam di gunung dengan disertai obor-obor tinggi membuat suasana sekarang sedikit mencengkam.


Di suasana seperti ini, Xander menceritakan semua permasalahannya di masa lalu, mulai dari bagaimana sifat ayahnya sampai akhir dimana dia harus terpaksa berpisah dengan kekasihnya.


Note: Ceritanya hampir sama kayak yang diceritakan Stevent di Chapter Pangeran dalam Kurungan part 8. Gak mau mengulang cerita yang sama, jadi kalau lupa bisa balik ke chapter itu.


Hanya saja, ada perdebaan sedikit di versi cerita milik Xander.


Aku merasakan kekuatan manipulasi yang cukup kuat darinya.


Dia bilang dalam ceritanya tadi:


"Sesaat setelah tahu kekasihku diancam oleh ayahku, aku menjadi sangat marah..."


"Tentu saja, adikku belum tahu soal itu, jadi aku tidak boleh langsung membabi buta."


"Aku langsung dengan membawa perasaan marah berakting untuk melakukan apa yang ayahku mau..." Saat mengatakan itu, mulutnya melengkuk membentuk senyuman. "Dan saat dia sudah tidak mencurigaiku dan menganggapku sebagai peliharan setianya, aku mulai melakukan rencanaku."


"Aku membuat ayahku merencanakan surat dari sang pembunuh legendaris, Cike Nuwang"


"Dengan memberikan sedikit hormat dan junjungan padanya, dia dengan bodohnya melakukan itu."


"Sesaat setelah kejadian itu, aku langsung membuat skenario dimana aku pergi meninggalkan rumah untuk mencari mantan kekasihku. Dan seperti yang sudah kau tahu, tujuanku sebenarnya bukan untuk mencarinya, melainkan agar bisa selamat dari serangan Cike Nuwang."


"Adikku masih belia jadi sang assassin tidak mungkin akan macam-macam dengannya, sedangkan ibuku... Dia sudah tahu bahaya dari rencana ayah, jadi dia pura-pura ada tugas bisnis."


"Ibuku saat itu sudah sangatlah pasrah, dikasih tahupun dia(ayah) tidak akan mendengarkan dan menganggap yang dikatan ibu hanyalah omongan sok tahu."


Perasaan berat, gembira, senang, puas, dan sedikit awsih terbentuk dari kalimat demi kalimatnya.


Tapi meskipun begitu, dari semua perasaan yang menemani kalimatnya, hanya perasaan puaslah yang memayoritaskan semua kalimat-kalimat itu.


Saat melihat ekspresi wajah Xander, aku sedikit memikirkan hal kedepan. Apakah raut muka itu adalah raut muka yang akan kubuat saat menghabiskannya?


Ngomong-ngomong soal wanita, dia bilang dia punya kekasih, dan wanita itu jelas-jelas bukan sang putri.


Dari bagaimana ayahnya menolak keras hubungan mereka berdua, kelihatannya wanita itu adalah rakyat biasa.


......................


Dari awal sampai akhir cerita, aku tidak mendapatkan nama dari mantan kekasihnya. Apakah itu hanya cerita fiktif?


Tidak, mulutnya yang menyeringai menjadi tanda itu semua asli.


"Apa yang terjadi dengannya..." Aku mencoba bertanya padanya, namun suaraku seperti sangatlah berat untuk melanjutkannya. "...Pada mantan kekasihmu."

__ADS_1


Saat menanyakan itu, Xander tidak memperlihatkan tanda-tanda kalau bibirnya akan bergerak. Dia hanya diam dan bengong menatap kosong hutan belantara itu.


"Hmm..." Aku menyerah, masuk dalam situasi seperti ini bukanlah hal yang baik.


"Apa hubungannya dengan yang terjadi dengan sekarang?" Aku melempar pertanyaanku dan menggantinya ke pertanyaan baru.


Dia menunduk dan menatapi lantai kayu kusam yang menjadi latar tiang itu.


"Dia..." Suaranya terhenti, tapi ada tanda-tanda dia mau melanjutkannya. "...Dia datang kembali, tepat di hadapanku." Dia mengulang kata awalnya.


Dari susunan kalimatnya, aku bisa menyimpulkan orang itu adalah...


"Mantan kekasihmu?" Aku memastikan dengan nada dingin kebingungan.


Anggukan ke atas dan ke bawah menjadi jawaban yang sunyi dari dirinya. Dia seperti boneka yang digerakkan oleh mesin.


"Bisa jelas-" Seketika aku refleks hampir menanyakan siapa dia.


Aku tidak boleh terlalu melebihi batasanku, saat ini aku hanyalah kuping buat dirinya yang sedang depresi.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Tidak, tidak jadi..."


"Kalau begitu, aku hanya bisa mengatakan beberapa hal padamu."


Aku sedikit tersentak dengan pernyataannya.


Apa yang ingin dia katakan? Terlebih lagi ini terkhususkan padaku.


"Aku minta maaf." Perasaan yang penuh rasa bersalah menyertai kalimat itu. "Karena aku, dia jadi begini, dan karena aku juga, semua ini terjadi."


"..."


Aku hanya bisa terdiam karena masih belum mengeri situasi.


"Jika saja aku saat itu benar-benar mencarinya, mungkin ini semua tidak akan terjadi, mungkin juga dia tidak akan jatuh ke jurang itu."


Dia menyinggung mantan pacarnya, mungkin... Tapi dari perkataannya, jelas-jelas itu adalah mantan pacarnya.


Jatuh ke jurang? Apa maksudnya? Apakah dia menjadi penjahat atau sesuatu?


"..." Aku masih belum paham sama sekali, bahkan gak nyambung sama sekali.


"Dari caramu diam dengan memasang raut muka itu, sepertinya kau masih belum paham." Dia kecewa dengan pengamatanku. "Kujelaskan secara langsung saja. Widya, mantan kekasihku adalah dalang dibalik semua insiden sesaat sebelum sampai sesudah ujian kemarin."


Mendengar itu, tubuhku sedikit menegang dan merasakan hawa dingin yang menusuki seluruh kulitku, bulu kudukku yang tadinya hanya berdiri karena dingin kini semakin berdiri karena pernyataan itu.

__ADS_1


"Hah? Dia? Bagaimana bisa?"


Bagaimanapun juga, aku tetap tidak bisa memperlihatkan raut kaget ini. Aku harus tetap dalam kondisi santai.


Belum lagi informasi ini adalah informasi yang sedikit mengejutkanku. Bila aku bisa mengoleknya sampai habis, mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu yang bagus.


"Kau tahu perusahaan SANGKUNI?" Xander tanpa basa-basi langsung menjelaskan siapa Widya itu sebenarnya.


Mendengar nama itu, aku langsung terbelalak dan sedikit lega. Bukan karena masalah sudah selesai, namun karena semua sudah semakin jelas.


"Dia adalah pemimpinnya..."


Saat mengatakan itu, semua kesadaranku seperti terenggut oleh sesuatu. Hawa panas dan dingin menyatu seperti ingin meledakkanku dari dalam.


"Dia... Adalah pemimpinnya?" Jawabku dengan tergagap-gagap.


Ini bukan lagi kegilaan saja, namun di luar nalar pikiranku. Aku bahkan tidak menyangka kalau sang Sangkuni adalah seorang wanita. Terlebih lagi dia adalah orang yang pernah di cintai Xander.


Lalu, siapa orang misterius pada saat aku berada di gedung tanah itu?


Tanpa adanya kalimat baru dari Xander, kami berdua hanya bisa saling terdiam sambil melihati bintang-bintang di malam yang indah nan sunyi.


Beberapa kemudian, Stevent dan Dahlia muncul dan mengkhawatirkan kondisi kami berdua.


Tidak ada hal baru yang terjadi setelahnya, aku membawa Dahlia, bersama kedua Xander pulang dengan menuntun mereka. Bagaimanapun, Xander besar tidak bisa berjalan dengan normal dan hal itu harus kami lakukan.


Malam berakhir dengan keletihan karena kami harus menuruni bukit yang penuh dengan kekuatan mistis dan tinggi.


Saat berada di dasar, kaki kami merasakan sensasi pegal yang pernah belum dirasakan.


......................


Hari baru...


Sekarang seharusnya aku pergi ke sekolah pagi ini, namun...


Taruhan tetaplah taruhan, maka aku akan menepatinya, meskipun itu taruhan pada diri sendiri.


Saat ini di depanku ada sebuah meja kayu yang lebar khas meja para petinggi perusahaan, sebuah dinding kaca menghiasi samping ruangan itu, seluruh isi Kota Ningru terlihat hanya dari dinding kaca itu.


Seorang nenek tua duduk di balik meja dan menatapku dengan tatapan yang membawa rasa curiga padaku. Kerutan di wajahnya yang tua terlihat jelas dari tangkapan mataku.


"Rasyid Londerik, apa yang kau inginkan? Berani-beraninya kau langsung menghadap ke arahku dengan tatapan seperti itu." Dia bersiap menghabisiku kapan saja.


Tidak terlihat menakutkan, namun anggapan dia adalah Tuhan dari Anitya tidak bisa dielakkan. Meleset sedikit saja mulutku, maka aku akan berakhir menjadi debu.


"Aku harap kau punya sesuatu yang cukup untuk ditukar dengan sikap tidak pantasmu saat ini."

__ADS_1


__ADS_2