
Aku dan Sophia berjalan bersebelahan menuju tempat tujuan. Sophia bilang dia disuruh menjemputku karena aku tiba-tiba menghilang.
"Kenapa tidak telepon saja?" Tanyaku.
"Ha? Telepon? Aku sudah melakukannya berkali-kali tapi anda tidak mengangkatnya!" Sophia mengomeliku.
Saat gadis itu mengatakannya, aku langsung refleks memeriksa ponselku. Aku meraba-raba celanaku tapi tidak ketemu.
Keringat dingin membasahi kepalaku. Ponselku tertinggal di kapal bodoh milik presiden itu.
'Bodoh sekali, bagaimana diriku bisa melupakan hal penting seperti ini?!' Ucapku dalam hati.
"Kenapa, Pak? Apakah anda meninggalkan ponselmu?"
"Tidak, ponselku rusak saat bertarung melawan Haran. hihihihi." Aku tersenyum kecut sambil membohonginya.
Tidak mungkin aku bilang kalau ponselku ketinggalan di kapal, kan? Beruntungnya, tidak ada hal penting di ponselku selain nomor yang kusimpan.
Aku beruntu..., sesuatu teringat.
Kartu kreditku, data murid, dan soal ujian ada di sana.
Aku tersujud memelas. 'Tuhan datangkanlah keajaibanmu pada pendosa sepertiku.' Meskipun aku tahu itu tidak akan berguna padaku, setidaknya aku sudah mencoba.
"Apa yang terjadi, Pak Rasyid?!" Sophia terkejut.
Air mataku turun sambil mengiklaskan segalanya.
"Hmm(mengangguk), tidak ada apa-apa." Aku membuka senyum kesamping sambil mengangkat tubuhku kembali ke posisi semula.
"Hahaha, anda aneh sekali. Terkadang aku bahkan lupa betapa dinginnya diri anda dulu, ya meskipun dingin anda dulu lebih terlihat seperti orang bodoh." Sophia tertawa terbahak-bahak.
"Apa kau menghinaku?" Wajahku datar.
Sophia berjalan ke depanku dan menghadapku. "Tidak, tapi sifat anda yang sekarang benar-benar lebih cocok. Siapa yang membuat anda berubah dengan cepat? Oh, apakah itu Ibu Erika?!" Dia tersenyum untuk menjahiliku.
"Ehmm..." Aku menggaruk pipiku.
"Sepertinya tepat sasaran, jadi apakah anda menyukainya?!"
"Tidak."
"He?"
Raut muka Sophia yang tadinya menyeringai seketika menjadi bingung dan terkejut. Tapi aku merasakan ada sedikit kesenangan dalam dirinya setelah mendengar ucapan itu.
"Tidak? Tapi kalian terlihat begitu dekat!" Sophia mengangkat bahunya didalam kebingungannya.
Raut muka konyolku langsung berubah menjadi serius.
"Ada hal dalam dunia dewasa dimana kita hanya melihat lawan jenis sebagai teman atau partner. Kau tidak bisa langsung menyimpulkan seseorang saling menyukai hanya karena mereka terlihat dekat. Contohnya seperti Moka, dia terlihat dekat dengan semua orang dan itu berarti dekat dengannya adalah hal yang lumrah. Begitu juga dengan Erika, dia dulu adalah yang menjadi pengawasku saat aku baru masuk. Aku dekat dengannya karena dia adalah yang pertama kali kuajak bicara di sekolah ini."
Suaraku yang datar dan dingin terlihat menakutkan ditambah dengan sore yang menggelapkan bagian wajahku. Angin meniup-niup rambutku. Mataku bersinar sambil menatap Sophia yang kebingungan dan kaku. Wajah konyolku seketika hilang tanpa jejak.
"E hehehe, begitu ya? hehehehe, maaf aku tidak mengerti soal begituan." Sophia menggaruk pipinya dan memberiku senyuman kecut ke arahku.
Jika tidak segera kualihkan malah akan menjadi runyam. Aku mengembalikan raut mukaku.
Sepertinya setelah mendengar topik ini aku sudah tidak muntah lagi, tapi malah menjadi seperti ini.
"Sebaiknya kita bergegas, mereka akan menunggu." Aku tersenyum malu ke arahnya.
"Eh... benar juga. Me-mereka pa-pasti sedang menunggu." Sophia tersenyum kecut dengan terbata-bata.
Sophia melanjutkan untuk menuntunku ke tempat pesta.
Sebuah restoran kelas atas berada di pandanganku. Aku mendangak tidak percaya.
'Orang kaya gila mana yang menyewa restoran hanya untuk selebrasi?' Begitulah yang ada dalam pikirku.
"Apa ini benar-benar tempatnya?" Tanyaku.
"Saya sebenarnya juga tidak percaya, tapi karena yang menyewa tempat ini adalah Pak Xander maka ini bukan sesuatu yang mengherankan."
Sophia menuntunku masuk ke dalam restoran itu. Di dalamnya terdapat banyak meja-meja yang sudah dihiasi dengan ornamen-ornamen mahal.
Para guru kelas 1 fisik dan murid-muridnya berada di dalam untuk merayakan ini. Raut senang terpancar di setiap wajah mereka.
'Kuat sekali anda bisa membayar ini semua, Xander.'
"Oh, halo Sang Champion!" (Samuel)
"Hayo... dari mana saja anda, Pak Rasyid?!" (Tasya)
"Senang melihat anda sudah kembali." (Erika)
__ADS_1
"Aku merasa tidak enak karena harus menggantikanmu, Syid." (Xander)
Para guru menyambut kedatanganku dengan senyum yang cerah.
"Maaf, aku tadi buru-buru. Aku harus menormalkan sikapku setelah masuk mode tadi." Aku bohong soal alasanku.
Tapi kelihatannya semua percaya, mungkin karena pas di arena aku benar-benar terlihat mengerikan.
"Sudahlah lupakan saja, ayo masuk dan bergabung dengan kami, Syid." Erika tersenyum manis.
Sophia yang masih berada di pinggirku melihat senyum manis Erika dengan sedih. Dia masih kepikiran soal yang tadi.
"Hey Sophia, mau sampai kapan kau di pinggir Pak Rasyid terus?!" Moka memanggil Sophia dengan tatapan jahil.
"E-eh iya, aku datang!"
Sophia berjalan menuju kumpulan teman-temannya. Dari sini aku bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Apa yang kau bicarakan dengannya?"
"Bukan apa-apa kok."
Tapi tidak ada yang menarik di pembicaraan mereka.
Aku berjalan ke arah para guru dan duduk di dekat mereka.
"Hebat sekali, anda. Bagaimana kau bisa mengalahkan guru itu?" Tasya kelihatannya mabuk karena minum.
"Hey, Tasya jangan minum terlalu banyak. Lihat! Kau sudah seperti ini!" Erika menggoyang-goyang tubuh Tasya yang sudah tak tertolong.
"Lupakan soal dia, apa yang terjadi saat di arena? Kau terlihat seperti menikmati rasa sakitmu." Xander bertanya dengan nada serius.
Aku ingin cepat pulang. Aku sudah tidak sanggup melanjutkannya. Keringat dingin mulai membasahi wajahku, aku mencoba memalingkan tatapanku.
"Oh, apakah kau seperti yang dibilang-bilang orang. Masokis, mereka adalah orang yang sangat suka ketika mendapat rasa sakit. Mereka menganggap rasa sakit adalah sumber kenikmatan." Samuel dengan tersenyum lebar tanpa rasa bersalah berbicara dengan gamblang.
"PUHHHH!"
Erika yang baru menyeduh kopinya langsung memuncratkannya.
Wajahku menatap dengan malu disertai rasa tidak percaya. "Ah hahaha, anda suka hal yang seperti itu ya?" Mukanya terpaksa.
"Hey-hey, hormati privasi orang. Meskipun itu masokis sekalipun. Semua orang punya penderitaan mereka masing-masing."
Xander mencoba tetap tegas, tapi wajahnya tidak bisa berbohong. Dia saat ini sedang menahan ketawanya.
"Sudah-sudah, jangan sebut soal begini lagi. Kita di penilaian guru ini adalah pemain utamanya tapi murid-murid ditetapkan wajib datang. Ayo kita hibur mereka!" Tasya yang mabuk memberika sebuah ide yang cerdas.
"Kau pintar juga saat mabuk!" Samuel menyentuh dagunya sambil memuji kejeniusan Tasya.
"Kalo begitu, ini aku berikan undian(mengangkat sebuah toples berisi kertas yang sudah dilipat dan ditaruh di atas meja). Di dalamnya terdapat banyak pilihan, kalian harus mengambil satu lipat kertas. Kalian harus tampil sesuai isi kertas itu." Tasya mengatakan itu dengan ekspresi mabuk yang terlihat bodoh.
"Bahkan kau sudah menyiapkan ini?!" Erika terkejut.
"Kalo gitu, dimulai dari Pak Rasyid. Karena anda adalah guru fisik 1." Xander menatapku dengan gugup.
'Kenapa harus aku duluan? Biarlah, paling isinya cuman hal-hal yang normal. Inikan Tasya.' Ucapku dalam hati sambil mengambil satu lipat kertas yang ada ditoples.
Aku membukanya, seperti ada cahaya putih menyinari kertas itu saat aku membukanya.
"Heh?" Mataku menjadi sayu setelah membacanya.
COSPLAY JADI ANIME GIRL DAN BERGAYA MINIMAL 10 GAYA DAN HARUS DICETAK.
itu yang tertulis di sana. Wajahku berkeringat dingin. Aku saat ini benar-benar ingin pulang.
"Apa yang kau da-(Suara Xander terputus setelah melihat isi tulisan kertas itu.)
"Yang sabar." Dia sungkem padaku.
"APA-APAAN INI?!" KENAPA AKU HARUS BER-COSPLAY?! TERLEBIH LAGI HARUS CEWEK!" Aku menaikkan nadaku sambil memperlihatkan isi kertas.
"Ya memang, di dalam lipatan itu terdapat banyak jenis. Ada yang khusus pria dan ada juga yang khusus wanita. Sepertinya anda mengambil yang khusus untuk wanita, tapi karena ini permainannya. Maka kau harus mengikuti." Senyum mabuk Tasya terlihat masih belum hilang.
Aku menatap guru yang lain.
Mereka hanya menepuk tangannya sekali.
"Terima kasih karena sudah jadi tumbal kami." Samuel dan Erika mengatakan itu dengan wajah yang berkeringat.
"Sudahlah, ayo Pak Rasyid. Ayo cepat, aku juga sudah membawakan bajunya." Tasya membawaku ke ruang ganti.
"Hey tunggu, aku ikut!" Erika terkejut setelah menyadari kalau aku pergi ke ruang ganti bersama Tasya.
"Jangan melakukan hal-hal yang tidak-tidak!" Erika berteriak sambil mengejar kami.
__ADS_1
Di dalam ruang ganti.
SLARP
"Sudah selesai!"
Tasya dan Erika mendandani diriku. Pakaian wanita ala-apa jepang dan make up dipakaikan padaku. Tidak lupa juga dengan wig panjang.
Secara refleks aku mengikat wig yang sudah dipasangkan.
Mereka berdua sontak terkejut.
"Pak Rasyid, apakah anda sering melakukannya?"
"Apa karena kau sudah tidak percaya dengan wanita, kau menjadi seperti ini?!"
Tubuh mereka bergetar, meskipun mabuk Tasya masih punya sedikit naluri wanita. Di sisi lain, Erika yang sudah tahu masa laluku mencurigai kewarasanku.
"Tidak-tidak, aku dulu sebelum sekolah di sini memiliki rambut yang panjang tapi karena kebijakan sekolah, aku harus memotongnya." Aku mengelak dengan cepat.
"Oh iya, dulukan kau adalah petarung liar. Rambut mereka biasanya panjang-panjang." Tasya memukul kepalanya dengan lembut.
Tapi di sisi lain, Erika tidak percaya dan masih takut.
"Tenanglah, aku masih normal!" Aku memekik pada Erika.
"Hehehe... ya aku percaya kok." Erika gugup.
"Sudahlah, ayo Pak Rasyid. Keluarlah dan tunjukan kehebatanmu!" Tasya mendorongku.
Di bagian utara restoran terdapat sebuah panggunh. Pak Xander berdiri di sana.
"Baiklah kepada murid-murid, yang pertama aku ingin mengucapkan terima kasih sudah datang padahal ini bukan acara kalian tapi malah diwajibkan datang. Yang kedua, kami merasa bersalah soal ini. Maka kami ada acara untuk menghibur kalian. Terlebih lagi ini untuk merayakan kemenangan pertama kita..." Suara Xander terhenti.
"MARI KITA MULAIKAN ACARANYA. YANG PERTAMA KALI TAMPIL ADALAH SANG CHAMPION KITA! RASYID LONDERIKKKK!" Xander memekik keras di dalam restoran
Suara tepuk tangan mengikutinya.
"AKU INGIN TAHU BAGAIMANA PAK RASYID ITU!"
"PAK RASYID KAMI MENUNGGUMU!"
Para siswi menyoraki nama guru itu, sedangkan para siswa hanya bertepuk tangan dengan datar karena iri.
Kalau sudah begini maka aku harus profesional. Tidak boleh ada rasa malu. Majulah Rasyid!
Tirai terbuka dan aku sudah berpose dengan menutup mulutku.
"Eh?!"
Para siswi terdiam dan para siswa gugup karena malu.
Jika begini, maka aku harus melanjutkannya.
Tanganku yang menutup mulutku perlahan kuayunkan kedepan.
"Cup(mencium)"
Aku memberikan ciuman dengan malu-malu kepada para penonton.
Para pria langsung bersorak dan mimisan.
"RASYID-CHAN!"
"DANDERE!"
"CANTIK SEKALI!!!"
Para siswa terlihat senang.
"NEW WAIFU! BUAT AKU JADI MILIKMU!" Astra berteriak keras di tengah-tengah restoran.
Sementara itu dibalik panggung.
"Wah..., Rasyid benar-benar profesional. Bahkan dalam hal seperti ini!" Xander terbelalak tidak percaya.
"Apa urat malunya sudah putus?!" Samuel melihat dengan ketakutan.
"Dia hanya menikmati acara, lihatlah mukanya. Dia seperti orang yang pertama kali melakukan hal seperi ini. Kelihatannya selama menjadi petarung dia selalu sendirian sehingga tidak pernah merasakan sesuatu seperti ini." Tasya sudah sembuh dari mabuknya.
"Ternyata kau bisa diandalkan juga ya, Sya." Xander memuji guru baru itu.
"Jika dari yang kulihat, Tasya memang benar. Dia benar-benar menikmatinya. Senyum di raut muka itu, belum pernah kulihat. Sebuah senyuman tulus." Erika menatapku dengan bahagia dari belakang panggung.
Tanpa disadari, air mata kebahagiaan turun dari mata wanita itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bahar tidak sengaja masuk ke restoran itu dan melihat kecantikanku. Dia langsung refleks menyawerku.