Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 164.


__ADS_3

Duar!


Artilery raksasa itu sekali lagi ditembakan ke arah gedung yang sudah runtuh itu. Benda itu berjarak cukup jauh dari gedung itu, bahkan mereka seperti berada di ketinggian hanya agar artilery itu bisa mengenai lantai teratas gedung itu.


Ledakannya cukup besar, sampai-sampai siapapun yang ada di sana bisa langsung lenyap tanpa sisa.


Bangunan yang menjadi sasaran artilery itu kini telah rata sepenuhnya menjadi debu. Tak ada lagi yang tersisa di sana. Semuanya jelas akan sirna tanpa jejak.


Seorang pria tua berjas rapi berdiri di sampingnya sambil memasukkan tangannya dalam saku. Dia menatap bekas ledakan itu dengan rokok yang dihisapnya seperti sedang melihat sebuah pertunjukan.


"Ini masih kurang cukup untuk membunuhnya!" Meskipun begitu, pria itu tidak merasakan adanya kesenangan dalam 'pertunjukan' itu.


Dia tahu apa yang dia lakukan tidak akan berefek pada nenek itu, namun, jika formula yang dia dapat dari orang itu benar. Maka, dia perlu membuat lubang lalu meledakkan atau membekukan sisanya.


"Hey! Apa kau gila?! Bisa-bisanya kau menembak selagi teman kami masih ada di sana!" Seorang pria berjalan mendekat dengan memegang tongkat sihirnya.


Dia memaki pria itu dan memarahinya atas apa yang dia lakukan.


"Bukankah aku sudah bilang? Mereka yang kesana sudah pasti akan mati." Pria berjas itu memutar badannya dan menatap pria dengan tongkat sihir itu.


"Ta-tapi..."


"Berani kesana, berani mati!" Pria berjas itu mengeraskan suaranya. Liurnya bahkan muncrat ke wajah pria bertongkat sihir itu.


"Apakah dirimu bisa disebut gubernur saat kau membunuh pendudukmu sendiri, Halim Perdana Kusuma?!" Balasnya.


"Kita punya kesepakatan di sini, bukan? Aku ke sini untuk melenyapkan sang bupati, dan kau ke sini untuk membalaskan dendam adikmu. Kita punya tujuan yang berbeda tetapi satu tempat." Tegas sang gubernur. "Dan... sebenarnya kalian tidak akan bisa menginjakkan kaki di sana tanpa bantuanku."


"Apa kau bilang?!"


"Tempat itu dilindungi oleh kukuatan Sihir KODE yang sangat kuat, bahkan serangan terkuat kalian sekalipun tidak akan bisa menembusnya!"


"Hah?! Apa maksudmu?!"


"Artinya, jika hanya 'bondo nekat,' kalian tidak akan bisa ke sana..." Suaranya memelan tapi tetap tajam dan menikam.


*Tulut!


Sebuah notifikasi dari sebuah ponsel masuk di tengah-tengah pertikaian mereka.


Saat melihat isi notifikasi itu, pria yang mencoba membalaskan dendam bernama Vrandy itu seketika terkejut dengan isinya.


[Seluruh radar dari guru kelas 3 Fisik telah lenyap, bisa dipastikan mereka sudah mati]


Tangan Vrandy tidak kuat menahan beban dari ponselnya sampai berakhir menjatuhkannya. Matanya berbinar air mata dan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Lagi-lagi ada yang gugur..." Dia melihat Halim dengan mata yang tajam penuh kemarahan dan bertebaran air mata.

__ADS_1


Kedua tangannya mencengkram kuat jas pria itu seperti ingin mendorongnya jatuh dari sana. Dia ingin melakukannya, namun tenaganya tidak ada.


Vrandy tersadar, semakin dia ingin membalaskan dendam, maka semakin banyak pula orang yang mati sia-sia karena itu.


Cengkramannya pada jas Halim meregang. Kedua tangannya melepas jas itu dan mencoba mundur dengan pelan.


*Tulut!


Suara notifikasi sekali lagi berbunyi.


Vrandy mengangkat ponselnya yang sudah terjatuh di tanah.


[Sosok misterius bersayap muncul dan membunuh setiap orang yang ada di sana]


Vrandy terdiam, dia hanya bisa tercengang dengan apa yang dia baca.


"Sosok misterius bersayap? Apakah itu Rasyid?"


"Tidak, ada satu orang lagi..." Halim menepis pernyataan itu.


"Hah?!"


"Bukankah aku sudah bilang? Aku ke sini untuk membasmi sang bupati!"


Mata Vrandy melebar dan seluruh sarafnya langsung tegang. "Apa maksudmu dengan membasmi?"


"Aku dapat informasi dari bawahanku yang mendapat informasi dari orang yang sedang pergi bersama orang yang kau incar saat ini."


Awalnya Gita tidak mengerti dengan apa yang Stevent maksud, namun setelah bocah itu membicarakannya dengan Halim. Dia menjadi mengerti kalau semua itu adalah nyata.


Setelah mendengar penjelasan itu, Halim meminta Gita segera ke sini tanpa terlihat(Buat temannya pingsan bila perlu). Namun, sampai sekarang batang hidungnya saja belum kelihatan. Pageblug yang dia berikan pada anak itu masih aktif, menandakan kalau dia masih dalam perjalanan ke sini dan belum mendapatkan masalah sama sekali.


Kembali ke waktu sekarang, Halim menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Vrandy. Dia menjelaskan kalau dunia sebentar lagi akan dalam penjara yang luas. Dunia dimana kejahatan akan langsung dibalas dengan hukuman yang setimpal.


"Apakah itu benar...?" Vrandy semakin tidaj percaya dan tak kuat menahan kenyataan mengerikan ini.


Dia tidak bisa menangkap apa yang terjadi sekarang, namun dia tahu bahwa mereka semua akan dalam nasalah bila mereka gagal saat ini.


Hidup atau mati tidak ada bedanya saat ini bila mereka gagal. Hidup di kedepannya hanya akan membuat mereka menjadi makhluk penuh dengab ketakutan, sedangkan mati hanya akan membuat mereka menjadi orang yang terlupakan. Keduanya sama-sama tidak menguntungkan.


......................


Di dunia dalam peti...


Rasyid duduk menyilangkan kaki di atas batu. Kedua tangannya ditaruh di atas lututnya, matanya tertutup untuk bersiap merasakan rasa sakit, tubuhnya telanjang dada agar Anitya bisa keluar melewati kulitnya.


"Aku datang!" Ucap Nazrul sambil menutup matanya perlahan.

__ADS_1


Dia seperti sedang bersemedi, tubuhnya diam bagaikan patung dan sangat tenang. Dia seperti sedang mengumpulkan seluruh energi yang ada di sekitarnya.


"Hak!"


Matanya terbuka, dan mulutnya terbuka lebar.


Aku merasakannya...


"Arghhhh!"


Sesuatu seperti terserap dariku. Rasa sakit saat terserap kurasakan di aliran darahku. Rasa sakit ini seperti tubuh yang terus dikapak berkali-kali tanpa henti. Kulitku yang merasa sakit tidak merasakan adanya adaptasi pada rasa sakit ini. Rasa sakitnya konstan dan terus menyiksa diriku dan otakku.


Beruntungnya... Setelah semua itu selesai.


Tubuhku merasakan sebuah perbedaan yang signifikan. Tidak ada lagi rasa berat dalam aliran darahku. Otakku bisa bekerja lebih ringan, gerakan tubuhku bergerak seperti tidak ada beban dan menjadi sangatlah ringan. Kedua tanganku yang sudah tak berfungsi seketika beregenerasi dan muncul kembali.


Seluruh tubuhku terasa ringan.


Perasaan dalam tubuhku, ini adalah rasa nostalgia. Aku bisa merasakan bagaimana tubuh tanpa Anitya itu. Tidak ada beban, tidak ada aliran darah yang menganggu. Yang ada hanyalah ketakutan akan pecah belahnya tubuh ini.


Aku mengangkat kedua tanganku dan melihati setiap sisinya. Mataku seperti tidak percaya dengan apa yang sedang kulihat.


"Jadi ini kekuatanmu, Kak Nazrul?"


"Bukan, Anitya adalah sebuah sistem yang mirip jaringan internet, dan hanya beberapa orang saja yang bisa mengotak-atiknya. Aku adalam termasuk orang itu."


Jika itu seperti apa yang dia katakan, lalu kenapa...?


"Kenapa Nova tidak mencabutnya?"


"Apa kau lupa? Aku adalah keabadian itu sendiri. Dia tidak bisa melepas otoritas itu jika keabadian itu tidak juga dicabut."


"Jadi itulah kenapa dia hanya mengurungmu di sini?"


"Hmm(mengangguk)... Lagipula, aku dan nenek itu tidak berpikir kalau ada seseorang yang datang kesini hanya untuk mau Anitya-nya dicabut."


Dia punya alasan yang kuat. Anitya sudah bagaikan kebutuhan pokok manusia saat ini. Mencabut Anitya berarti melepas keabadian, selain itu di dalam Anitya juga ada kekuatan Elemental. Itu artinya mereka yang melepas Anitya akan menjadi makhluk paling terbelakang di dunia ini.


"Sekarang kau sudah tidak abadi, namun dengan sihir murnimu. Aku yakin sekarang kau bisa mengalahkan nenek itu."


Dia tersenyum gila seperti sudah menanti momen ini.


"Kenapa kau tersenyum?" Tanyaku curiga.


Setidaknya dia pasti menginginkan sesuatu sehingga dia mau menolongku saat ini.


"Hahahahaha! Ahahahahahaha!" Dia tersenyum mengerikan, aku yang melihatnya langsung mengambil posisi bersiap untuk sesuatu yang buruk.

__ADS_1


Namun, sepertinya itu tidak butuh karena... "Tentu saja aku tersenyum karena... Momen kematian nenek itu akan segera tiba!"


Aku seharusnya sudah menyadari hal ini, seingatku Nova menghianatinya karena merasa terhianati. Dan akibat ulahnya sendiri, kini kakakku berada di dalam sini tanpa bisa melakukan apa-apa. Diam di sini selama bertahun-tahun pasti akan membuatnya gila, maka aku tidak terkejut bila dia ingin membalas nenek itu saat ini.


__ADS_2