
Point of View: Earl Stevent Xander
Aku terseret ke dalam sihir badai pasir milik guru sialan itu.
Aku seharusnya sadar, dia tidak mungkin akan membantu dengan benar. Pemaksaan pasti adalah jalan yang dia pilih untuk ini.
Dan sialnya, aku sekarang tidak bisa melihat apa-apa selain pasir yang berada di sekitarku.
'Aneh sekali, kenapa pasir ini tidak bisa menyakiti mata?' Ucapku sambil mencoba melepas kacamataku.
Tidak ada rasa pedih saat aku melepasnya. Apakah guru itu sudah mengantisipasinya?
"Kalau begitu, seharusnya ini bisa menetralkannya!" Ucapku sambil mengeluarkan sebuah perisai air berbentuk bola.
Kemana aku harus berjalan?
Aku terus maju ke depan tanpa tahu arah. Jika saja dia memberi tahu cara lebih mudah untuk membantuku, mungkin saja ini tidak terjadi.
GEDEBUK!
Aku menabrak seseorang. Untungnya aku tidak sampai terjatuh dan menindihnya.
Saat ku lihat, orang yang ada di depanku saat ini, tak lain adalah orang yang tiba-tiba menang dalam peperangan cinta, Dahlia.
"Dahlia?" Ucapku sambil menatapnya yang sedang kebingungan.
"Oh Stevent, ya?" Dahlia menatapku dengan tatapan melas khasnya.
Bulu kudukku tiba-tiba berdiri saat melihatnya dari dekat. Aku mengingat dia pernah menusuk bagian belakang leherku. Tapi kapan, aku sulit untuk mengingatnya.
"Ka-kau... juga terpisah?" Aku menanyakan kondisinya.
"Apa matamu buta?!" Dia menatapku dengan perasaan risih tapi dengan segera dia mengembalikan posisinya pada medan pertarungan ini. "Kelihatannya, Ras- maksudku Pak Rasyid benar-benar ingin kita semua bisa akur dengan orang yang jarang kita ajak bicara."
Dia kelihatannya sudah sangat dekat dengan guru itu. Bahkan hanya dalam beberapa hari, hubungan mereka berjalan terlalu cepat. Kuharap mereka berdua tidak terlalu berlebihan.
"Kenapa dia sangat ngotot, ya?!" Aku menatap tajam ke arah kosong badai pasir.
"Mungkin itu ada hubungannya dengan masa lalunya?" (Dahlia)
"Masa lalu?" (Aku)
"Tidak punya masa bahagia..." (Dahlia)
"Yah kalau hal itu, aku juga mengalaminya...!"
Dahlia terdiam tanpa mengatakan apapun setelah itu.
Kalau masalah masa lalu kurang enak, semua orang mengalaminya. Bahkan, kupikir akulah yang paling menderita saat ini.
Guru itu memangnya tahu apa soal penderitaan? Uang melimpah, kekuatan sangat kuat, dan popularitasnya tinggi. Orang seperti itu mana mungkin tahu arti rasa sakit.
"Stevent, ada baiknya kita mulai bergerak. Bila ini sesuai dengan yang Rasyi-, maksudku Pak Rasyid katakan, maka kita harus bertarung bersama dengan orang yang tidak terlalu kita pahami." Dahlia mulai melihati kedepan.
"Baiklah, jika itu yang guru itu mau..." Mataku mencoba melihat apa yang dia lihat.
"Oh ya... Kau tidak perlu mengkoreksi panggilanmu ke guru itu. Cukup panggil Rasyid saja... Semua orang di sekolah ini sudah banyak yang tahu hubunganmu!" Aku menatapnya dengan risih.
Dia tidak menjawab perkataanku, mungkin karena malu. Wajahnya sudah sangat merah hanya dengan mendegar itu.
Tanpa mendengarkanku lebih jauh, Dahlia mulai berjalan ke tempat yang dia percayai sebagai arah depan.
Aku yang sudah terbiasa jadi NPC hanya mengikutinya tanpa bertanya.
'Tunggu?! Jika aku mengikuti orang tanpa bertanya, bukankah aku tidak ada bedanya dengan orang bodoh?' Aku menyadarinya.
Aku yakin, guru itu akan menertawakanku bila aku bersembunyi dibalik perempuan. Setelah menyadari hal itu, aku mencoba berlari sampai bisa berjalan di sampingnya.
Perisai air yang sudah kukeluarkan ikut melindunginya tepat sesaat aku berjalan di sampingnya.
Ngomong-ngomong, elemen apa yang dimiliki gadis ini? Dia terlihat kalem dan misterius.
'Kalem berarti es, dan misterius berarti kegelapan.' Aku harap tebakanku benar.
Terkadang Anitya tidak sesuai dengan orangnya. Contoh terbesarnya adalah guru itu.
Aku tidak mau menyebutnya, tapi sayangnya, aku harus melakukannya.
Elemen air dan tanah dalam Anitya-nya selalu mengangguku. Elemen itu tidak cocok dengan sifatnya. Bahkan bila dilogika, elemen aslinya seharusnya lebih ke es dan listrik.
Note: Untuk orang dewasa, suntik Anitya dilakukan pada umur 20-an. Hanya untuk mengingat, Anitya baru ada saat tahun 2042 dan sempurna pada 2046.
Kami berdua terus berjalan berdampingan sampai sesuatu menghentikan langkah kami.
__ADS_1
"UWAHHHH!"
Seseorang terlempar ke arah kami berdua.
"Dahlia awas!" Aku menangkap Dahlia dan melompat kesamping untuk menghindari orang itu.
BRUAKK!
Orang itu mendarat di belakang kami. Siswi yang terlihat biasa dengan rambut hitam terurai telah terlempar ke arah kami. Senjata kipasnya tertancap tepat di depan wajahnya.
"So-sophia?!" Dahlia melepas peganganku dan berlari ke arah siswi itu.
"Ahh...!" Dahlia mengerang sambil memegangi punggungnya yang jadi penahan saat mendarat.
"Kau tidak apa-apa?!" Dahlia mencoba mengecek kondisi gadis itu.
Namun tiba-tiba.
PRAK!!
Suara tepisan terdengar.
Sophia menepis tangan Dahlia yang mencoba menolong.
Dia sepertinya terbawa perasaannya. Perasaan yang biasa mereka sebut cinta. Sepertinya benda itu masih belum hilang dalam dirinya.
Mata Dahlia melebar tidak percaya. "Kenapa...?" Ucapnya lirih.
Sophia mencoba bangun dengan sendirinya. Raut sedih terlihat di mukanya. Dia merasa bersalah karena reflek tubuhnya tadi.
"Maaf..." erang Sophia dengan pelan.
Dahlia tidak kelihatan keberatan dengan yang tadi. Dia malah membalasnya dengan senyuman hangat khas cewek kalem.
"Tidak apa-apa, emosi saat pertarungan itu adalah hal biasa. Tapi jangan terlalu terbawa, oke?!" Dahlia ikut berdiri dan mulai melihat ke arah sumber tempat Sophia terlempar.
Dahlia tidak menyadari perasaan Sophia. Jadi dia tidak tahu kalau Sophia marah karena cintanya belum tersampaikan dan Dahlia tidak sadar kalau dialah yang mencurinya.
"A-apa itu?!" Aku melihat ke arah yang sama.
"Rasyid?!" Dahlia dengan cepat sadar.
Sebuah makhluk seperti ksatria berzirah datang ke arah kami.
Sebuah kata lemah tidak cocok untuk dia yang terlihat saat ini.
Melihat hal itu, aku langsung berdiri di depan dua gadis itu. Pedangku kuhadapkan ke guruku.
Seakan mengingat kejadian kemarin, aku mengingat betapa bodohnya aku yang tidak bisa menolong Hakam kemarin saat terjadi penyerangan.
Kembali ke hari sebelumnya.
"Sudah sore, sebaiknya kita pulang!" Hakam mengatakan itu sambil menatap matahari yang mulai terbenam.
"Ya... aku tahu. Tapi sebelum itu, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu!" Ucapku sambil menyentuh dinding pagar di dekat kami.
"Apa itu?" Dia yang tadi sudah mau berjalan pulang kini terhenti dan membalikkan badannya.
"Menurutmu, bagaimana perasaanmu saat bertemu dengan orang yang selalu menganggap dirinya benar?" Aku menatap ke tanah.
Pertanyaan ini terdengar tiba-tiba. Tapi karena Hakam yang memulainya, jadi aku ingin sekalian mengeluarkannya saja.
"Aku jelas akan merasa; dia bukanlah orang yang seharusnya kuajak bicara." Hakam mengatakannya tanpa rasa berbohong.
"Sudah kuduga, pasti begitu. Dulu... saat ayahku masih hidup, dia selalu merasa kalau dirinya adalah yang paling benar. Dia seenaknya saja menyuruh ini-itu tanpa melihat konsekuensinya.
Dia bahkan dengan bodohnya percaya dengan aplikasi bodong. Menghabiskan puluhan juta hanya untuk sesuatu yang tidak jelas.
Ibuku sudah berulang kali mengingatkannya, tapi yang dia dapat hanyalah cacian yang merendahkannya. Dan saat kesalahan terjadi karena ulahnya, dia malah melempar itu ke arah kami.
'Aku ini sudah hidup lebih lama daripada kalian. Mana ngerti kalian soal ini!' Kata-kata itu selalu bergema di ingatanku setiap kali aku mengingat namanya.
Statusku sebagai anak yang kurang diperhatikan selalu dijadikan samsak olehnya. Semua kesalahannya dilemparkan kepadaku..." Aku bercerita pada pelayanku dengan tatapan sedih.
Tak ada jawaban darinya. Dia mengisyaratkan padaku untuk terus.
"Bulan lalu, dia tiba-tiba mengumumkan sebuah pertunangan politik antara kakakku dengan putri kerajaan Tyas.
Kakakku jelas menolaknya karena dia sekarang sedang berpacaran dengan orang lain.
Parahnya lagi, ayah kami tidak sadar kalau dia sedang ditipu oleh kepala keluarga Tyas.
Orang itu hanya perlu menjanjikan bantuan finansial bila dia menerima tawarannya. Padahal kelihatan jelas, bahwa itu semua hanyalah kebohongannya.
__ADS_1
Ayah kami tidak pernah mau belajar. Kepedeannya sebagai orang bijak malah membuatnya melupakan makna hidup lebih jauh.
Ayahku yang tidak senang dengan jawaban kakakku, dengan diam-diam mengancam orang yang kakakku pacari. Dia terus memberinya surat kematian dari Cìkè Nǚwáng kepadanya.
Sampai suatu saat, pacarnya kakakku tiba-tiba menghilang tanpa kabar...
Kakakku yang mendengarnya awalnya ingin mencarinya, tapi ayah kami menghentikannya dan mengatakan.
"Sebaiknya kau tinggalkan saja, kepergiannya menandakan kalau dia tidak mencintaimu seutuhnya!" Mulutnya dengan gampangnya menipu kakakku.
Kakakku jelas tidak tahu soal surat ancaman itu. Tapi sayangnya, aku tahu itu. Keberadaanku saat itu masih tidak begitu terlihat oleh mereka, dan oleh karena itu, aku dapat dengan mudah menguping apa yang dilakukan ayahku.
Kakakku hanya terdiam sambil mengepal kuat tangannya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, tapi untungnya, keinginannya untuk mencarinya masih belum hilang.
Di hari yang sama setelah kepergian kakakku yang pergi mencarinya kekasihnya.
Sebuah malam petaka mendatangi ayahku. Di kantor ayahku, seorang wanita berambut panjang dan berpakaian jubah yang menutupi seluruh tubuhnya datang tiba tepat di depan orang tua itu. Dia yang datang tidak lain dan tidak bukan adalah Cìkè Nǚwáng. Orang yang ayahku gunakan sebagai kambing hitam untuk menyingkirkan pacarnya kakakku.
Para prajurit mencoba melindungi ayahku, namun naas. Mereka malah ikut terbunuh oleh keganasannya. Bahkan mereka tidak meninggalkan sisa mayat sama sekali, dan yang tertinggal hanyalah tubuh tak bernyawa ayahku.
Saat mendengar itu, kakakku yang dalam perjalanan mencari kekasihnya, langsung pulang seketika setelah mendengar kabar itu.
Kejadian itu membuat kakakku harus menjadi kepala Xander dan memaksanya harus segera memiliki istri. Itu artinya dia terpaksa untuk mengiyakan pertunangannnya dengan Putri Tyas.
Saat pemakaman, aku tertawa kecil di depan jenazahnya. Aku mulai ingin merasakan yang disebut memberontak. Perasaan ingin melihat orang-orang sepertinya mengalami nasib seburuknya.
Itu sebabnya, setiap kali aku melihat orang seperti itu, aku selalu mengejeknya. Orang yang merasa dirinya selalu benar hanyalah sampah yang akan merusak."
Aku mengakhiri ceritaku sampai sini.
Hakam yang terdiam hanya menganggukkan kepalanya. Dia sepertinya sudah merasa cukup paham kenapa alasanku menjadi orang yang menyebalkan seperti ini.
"Aku paham untuk kasusmu, tapi aku tidak tahu bagaimana menjawabnya." Hakam menutup matanya sambil memegang keningnya.
"Tidak apa bila kau tidak menjawabnya. Lagipula, ini kan hanya sebuah cerita..." Aku tersenyum ke arahnya.
Tawaku menyinari sore menjelang malam itu. Sayangnya itu semua tidak berjalan lama.
Tak lama kemudian, sekitar 4 orang bule tinggi berotot mengitari kami berdua.
"Hakam!"
"Stevent!"
Kami saling berdiri berlawanan. Punggung kami saling bersentuhan.
Singkatnya, aku bisa melawan 2 dari mereka. Tapi sayangnya, 2-nya lagi berhasil menangkap Hakam dan membawanya kabur.
Aku yang melihat itu langsung lari ke arah mobil jemputanku yang sudah datang.
"Ikuti mobil itu!" Aku memerintah supirku untuk bergegas.
Dia mengerti maksud dari kegelisahanku, dan mulai mengejar mobil itu.
"Apa yang terjadi?!" Tanya supirku.
"Entahlah, tiba-tiba kami diserang!" Aku tak tahu harus berkata apa.
"Tch! Tenanglah tuan muda, serahkan padaku! Aku ahlinya!" Dia khawatir tapi menjaga fokusnya pada jalan.
Sialnya, di tengah perjalanan, ban mobil depan kami terbakar dan tidak bisa melanjutkan perjalan.
Saat ingin berlari keluar dari mobil untuk melanjutkan perjalanan, seorang guru datang dengan mobilnya dan menghampiriku bersama temannya. Badan pendek, rambut pirang dan twintail, tidak salah lagi, itu Ibu Tasya.
Di sampingnya, ada wanita berjas ungu dan rambut coklat dikepang dan di taruh ke depan bahunya. Dia adalah Ibu Erika.
"Stevent! Apa kau mengejar mobil itu?!" Tanya Tasya.
Aku mengangguk dengan gugup. Ini adalah sesuatu yang aneh saat bertemu guru di luar jam perlajaran. Aku tidak terlalu terbiasa dengan situasi ini.
"Biar kami yang mengurusnya! Mereka lebih dari yang kau kira! Mereka ada banyak!" Ibu Erika yang duduk disampingnya melarangku.
Saat itu, mataku melebar dan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Namun dalam diriku aku menyadari, aku tidak bisa melawannya.
Kembali ke waktu saat ini.
Aku tidak ingin hal ini terulang, tapi mengingat ini adalah pelajaran yang diberikan Pak Rasyid padaku. Maka untuk sekarang, aku harus mengikutinya.
"Sophia! Dahlia! Ayo kita melawannya bersama!" Aku menatap mereka dengan raut muka serius.
Aku tidak boleh terlihat sok jagoan ataupun yang lainnya. Aku benci orang yang selalu benar, maka aku tidak boleh menjadi mereka.
Kekompakan adalah yang kau inginkan, bukan?!
__ADS_1
Pak Rasyid Londerik!