Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 162.


__ADS_3

Gedung yang berdiri kokoh dan tinggi seketika roboh dan terbakar menjadi reruntuhan. Semua yang berada di dalamnya terjun bebas dan berserakan kemana-mana. Itu juga termasuk diriku.


"Ghhh!" Aku mencoba bangkit dengan hanya mengandalkan tangan kananku yang patah.


"Tak kusangka mereka akan menyerang..." 'Mereka' yang kumaksud adalah kumpulan para guru yang sudah kubuat kabur terbirit-birit sebelumnya.


Tak kusangka mereka dengan nekatnya berani kembali padaku tanpa perlu pikir panjang dengan nyawa mereka saat ini, dan terlebih... Sepertinya mereka tidak tahu sama sekali soal ini. Mereka menyerang dengan membabi buta berharap kalau aku (dan mungkin Nova) terbunuh di dalamnya.


"Ngomong-ngomong soal artilery, tadi itu jelas serangan dari senjata besar."


Aku tidak ingat ada guru yang memiliki hubungan militer di sekolah itu. Bahkan seorang keluarga kerajaan sekalipun tidak mungkin memiliki senjata artilery semengerikan itu. Bila di uangkan maka akan membutuhkan biaya yang besar hanya untuk membeli senjata itu, dan itu tidak termasuk pelurunya.


Sambil menyelam dalam lautan pikiran, aku mencoba berjalan menelusuri reruntuhan gedung ini. Untung saja masih ada fondasi yang berdiri sehingga aku bisa bersembunyi dibaliknya.


Jika ditanya kenapa aku bersembunyi? Maka hanya ada dua jawaban.


Pertama, mereka(Para guru) jelas akan segera datang. Mereka tidak mau menunggu apakah di sini sudah aman atau belum. Kebencian mereka padaku sudah membara bagaikan wajan yang sudah panas.


Kedua, kondisiku saat ini tidak memungkinkanku untuk bertarung. Meskipun bisa menggunakan sihir KODE, tapi apabila lawanku menyerang duluan sebelum aku selesai melafalkannya maka itu sama aja dengan bohong.


*Tak...


*Tak......


*Tak.........


Suara langkah kakiku bergerak pelan melewati tiang fondasi demi tiang fondasi.


Keberadaan musuh masihlah misterius saat ini. Kondisiku juga semakin memburuk. Jika aku tidak segera menemukan cara agar Anityaku aktif kembali, maka aku tamat.


Tunggu...


Aku seketika mengingat sesuatu.


Aku merogoh sesuatu dari sakuku dan mengeluarkannya.


Sebuah benda silinder panjang keluar dari sana. Benda itu adalah Pageblug milik kakakku.


"Apakah dia punya jawaban?" Ucapku sambil melototi pageblug itu.


Jika saja bertemu dengannya memberiku jalan keluar, maka aku tidak akan segan-segan melakukannya. Hanya saja, bila dia malah melakukan yang sebaliknya, itu adalah masalah buatku.


Apakah aku harus percaya padanya?


"Sudah tidak ada waktu berpikir lagi!" Aku seketika nekat mengaktifkan pageblug itu.


Peti itu seketika berdiri dan senden di salah satu tiang fondasi yang berada di dekatku.


Tanganku mulai bergerak menuju pintu peti itu... Bergemetar, penuh dengan taruhan, dan juga ketidakpastian.


Namun...


"Cek disekitar!" Suara seorang pria berteriak sambil menggerak-gerakkan senternya.

__ADS_1


Pria itu berdiri di puncak reruntuhan agar mendapar akses mudah untuk memerintah sekitarnya, dan juga mempermudah pencariannya padaku.


"Astaga... Mereka guru kelas 3, aku tidak yakin bisa sembunyi dari mereka," ucapku dengan nada pelan dan penuh kepasrahan.


Guru-guru itu mulai bergerak dan berpencar sambil menghidupkan senter mereka sebagai sumber pencahayaan.


Ada satu orang yang mengarah kemari, dan dia sepertinya bukanlah orang yang suka dengan kesabaran. Dia adalah orang yang agresif dan brutal. Meri Andika, dia adalah orang yang ingin sekali kujauhi saat ini. Kebrutalannya pasti akan langsung dilampiaskan bila dia segera melihat wajahku.


*Tak! *Tak! *Tak!


Gawat, dia semakin mendekat.


Semoga saja dia tidak melihatku.


Jika dia melihatku, maka pilihanku hanyalah menembak mati dirinya. Melumpuhkannya mungkin terdengar manusiawi, namun itu mustahil untuk saat ini. Menggunakam sihir itu artinya membuat suara, dan itu artinya membuat guru lainnya terpanggil.


Lampu senternya mulai menjelajah ke sana ke mari untuk mencari kemungkinan ada seseorang yang bersembunyi.


Mulutku mulai melafalkan sihir KODE, mataku mulai menutup sambil berharap agar tidak perlu melakukannya. Jemariku sudah membentuk tembak dan bersiap mengeluarkannya.


"Gyah!!!!" Namun, seketika ada suara seseorang yang berteriak dari jauh.


Suara itu pasti milik dari guru lainnya.


Meri seketika berlari meninggalkan tempat ini dan berlari ke arah sumber suara.


Aku yang sudah memasang posisi seketika melepaskan semuanya dan bernafas lega. Mataku tak bisa lepas dari tubuh yang menjauh itu. Parnoku masih tinggi.


Namun, setelah beberapa saat, sepertinya dia memang sudah pergi. Keberuntungan hari ini berpihak kepadaku.


......................


Sementara itu, di luar sana.


Meri berlari keluar dari reruntuhan menuju tempat mereka berkumpul sebelumnya. Suara yang dia dengar tadi pasti dari guru itu. Tidak ada yang berteriak seperti itu selain Gus Natesh.


"Hah?! Si-siapa kau?!" Dia hanya bisa ketakutan sesaat sampai ke sumber suara itu.


Sesosok wanita berambut putih sedang berdiri di puncak reruntuhan. Di tangannya, dia memegang leher Natesh sampai korbannya merasa kesakitan dan kesulitan bernapas. Di punggung wanita itu, Meri melihat ada 4 pasang sayap yang menghiasinya. Setiap sayapnya terbuat dari elemen yang dihasilkan oleh Anitya.


Api, es, angin, listrik, air, tanah, cahaya, dan kegelapan, semua elemen itu menjadi sayap dari wanita itu.


Meri hanya bisa melongo sambil menatap sosok itu dalam diam. Dia seperti sedang melihat sosok malaikat. Bukan, dia malah melihat sesuatu yang lebih dari malaikat.


"Kalian...!" Sosok itu melirik ke arah Meri dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh kemarahan. "Berani sekali kalian datang padaku! Sepertinya hukuman mati saja tidak cukup buat kalian!"


Sosok itu marah. Mungkin saja dia marah karena gedung ini hancur dan mengenainya. Kurang lebih begitu yang dipikirkan Meri saat ini.


"Masa Bodoh!" Hermawan, sang Pangeran kerajaan mengangkat kerisnya ke arah sosok itu sambil menatapnya rendah.


"Jangan berani menantang kami! Kami ini lebih menakutkan dari yang kau pikirkan!" Keberanian pangeran itu diikuti oleh putri kerajaan, Raden Ayu Kamila.


Dia dengan optimisnya menarik busur kerajaannya dan siap dia tembakkan tepat ke kepalanya.

__ADS_1


"Meskipun kau sosok yang mengerikan sekalipun, tapi kami tetaplah lebih banyak darimu!" Leo ikut mengambil ancang-ancang dengan mencengkram dua buah pedang di setiap tangannya.


Dari bagaimana mereka memandang, mereka memberikan petunjuk bahwa mereka tidak tahu siapa yang sedang mereka hadapi saat ini.


Dia adalah sosok yang melebih Rasyid, bahkan dalam kondisi normalnya. Dia tetaplah monster yang lebih menakutkan dari pria itu. Dan saat ini dia ada dalam mode yang lebih menakutkan, nyawa mereka sepertinya hanya tinggal menghitung jari.


*Jdar!


Tepat sebelum mereka membuat pergerakan, Nova langsung meledakkan kepala korban yang dia cekik tanpa melakukan apapun.


Dia hanya menatapnya dengan senyuman menyeringai dan penuh kehinaan.


Tubuh tanpa kepala milik Natesh dibuang ke bawah dan dibiarkan tergeletak di tanah.


Beberapa detik berlalu, namun Anitya tidak segera meregenerasi tubuh pria malang itu.


Mereka bertiga yang tadi penuh kesombongan dan kepercayaan diri seketika terdiam dan bergemetar saat melihat tubuh tak berkepala itu. Kepercayaan diri mereka seperti dicincang setelah melihat itu.


*Jdar!


Tubuh Hermawan meledak tanpa menyisahkan satu bagian yang selamat.


*Krak!


Tubuh Leo langsung terkilir dan semua tulangnya seperti bengkok ke arah yang salah(Dislocated).


"Arghh!" Kamila mencoba lari, namun tidak berhasil.


*Burn!


Tubuhnya terbakar hebat diiringi dengan percikan listrik yang dahsyat.


"ARGHHHH!"


Dia merasakan setruman dan bakaran yang sangat mengerikan sebelum ajal menjemputnya.


Tubuhnya berguling-guling dan kejang-kejang sampai tidak bisa membedakan apakah dia sedang mencoba menghentikan api yang membakarnya atau sedang menahan listrik yang menyetrumnya.


Tapi tak perlu waktu lama, dia sudah tidak bergerak lagi menandakan kalau dia sudah tidak ada.


Di sisi lain, Meri yang dari tadi terdiam takjub hanya bisa melihat kematian teman-temannya dengan perasaan hampa. Dirinya merasa aneh, dia yang biasanya brutal dan agresif saat melihat lawannya kini malah diam dan mengamati sosok itu.


"Inikah yang disebut takluk oleh keadaan?" Ucapnya dalam kehampaan.


Dia tidak tahu apa yang dia katakan barusan, namun mulutnya seakan bergerak sendiri seperti sudah tahu kalau melawannya hanya akan membawa kekalahan.


Sosok itu melihat ke arahnya dan tersenyum, "Kau cukup paham dengan situasi. Maka, sebaiknya sebagai Pangeran aku memberimu hadiah."


Nova mengangkat tangannya sedada dan memasang wajah tersenyum layaknya bidadari. "Hadiahmu... Adalah kematiaj yang damai!" Namun, dengan seketika dia mengepalkan tangannya.


Meri seketika tumbang secara perlahan dengab lutut mendului menyentuh tanah lalu diikuti dengan seluruh badannya.


Semua guru kelas 3 Fisik terbantai di sana. Tidak ada satupun yang berhasil selamat dan memberitahukan informasi tentang sosok itu. Tak lama lagi, yang lainnya pasti akan datang. Dan akan berakhir sama seperti mereka semua.

__ADS_1


"Kemana kau Rasyid? Kenapa aku kehilangan auramu?" Sambil menatap ke langit malam, Nova tersenyum bangga seakan tahu kalau Rasyid tidak akan bisa lolos meskipun dia sembunyi di tempat teraman sekalipun.


__ADS_2