
*Brak!
Aku membanting pintu peti dan berlari ke dalamnya. Semakin masuk dengan menuruni tangga, aku mengarah ke tengah arena tempat di mana kakakku terkerangkeng.
Tubuhku dipenuhi keringat yang berhamburan di mana-mana. Darah yang mengalir dari tangan kiriku masih mengalir seperti tidak memperlihatkan akhirnya.
Nazrul yang sedang tertidur lelap di sana tersenyum menyeringai saat melihat kondisiku yang seperti ini.
"Kenapa kau kembali ke sini? Apa kau mau bersembunyi? Tapi sayang sekali... Dia pasti akan segera masuk dan menemukanmu."
Sepertinya kakakku tahu apa yang terjadi dengan hanya melihat kondisiku. Dia bukan peka ya! Orang bodoh mana yang tidak sadar situasi saat melihat seseorang datang dengan tangan putus dan patah sampai mengira situasi sedang baik-baik saja.
"Aku tahu! Aku hanya panik!" Aku mengeluarkan suara yang keras kepadanya.
"Panik? Apa kau takut?! Hahaha!"
"Diamlah! Ini bukan urusanmu!"
"Kalau ini bukan urusanku, lalu kenapa kau datang kemari?" Dia membuat tawa hina yang mengejek.
"Aku hanya di sini untuk sementara..."
Aku benci sekali saat direndahkan oleh saudaraku, terutama dirinya. Dia adalah orang terakhir yang ingin kubuat bungkam.
"Intinya kau saat ini berada dalam kondisi terendah, bukan?"
Aku terdiam.
Ini pertama kalinya aku tidak berkutik sama sekali. Semua caraku sudah kulakukan, namun tak ada satupun yang manjur untuk bisa mengalahkan nenek itu. Bahkan untuk memberi sedikit rasa sakit padanya saja aku tidak bisa.
Aku mengingat-ingat bagaimana dia menerima tombak yang kulempar ke badannya. Dia hanya menerimanya dengan merentangkan kedua tangannya seperti sedang memperlihatkan padaku, bahwa aku tidak bisa melukai Pangeran.
Kakakku benar, aku saat ini berada dalam posisi terendah. Semua orang mencariku untuk dibunuh, dan sekarang harus melawan Pangeran tanpa boleh membawa jasa. Orang yang menemaniku sejak awal perjalanan sudah tiada, dan kini tinggal diriku seorang.
"Hahahahahaha! AHAHAHAHA!" Tiba-tiba kakakku tertawa kencang bagaikan sosok antagonis yang berhasil mencapai tujuannya. "Sekarang kau tahu, bukan? Ini adalah akibat dari kau mencoba melawan Nova. Kau padahal punya kesempatan untuk lari dan pergi jauh dari sini!"
"Kabur? Maaf itu bukan aku yang dulu..."
Benar, jika aku memilih kabur. Maka itu artinya aku tidak ada perkembangan sama sekali. Maka keinginan Jauhari dan seluruh orang yang percaya padaku seketika hangus.
"Aku tidak mau membuat orang lain mati dalam keadaan kecewa padaku." Ungkapan hatiku seketika keluar.
Sama seperti permintaan Jauhari, permintaan semua orang yang ada di dekatku sebenarnya sama. Yaitu memintaku kembali seperti manusia normal.
"Aku tidak tahu mana diriku yang asli."
"Aku hanya bersikap menyesuaikan orang lain."
"Dan terlambat buatku sadar, kalau semua itu adalah akting dari diriku saat menjadi pembunuh."
"Aku ingat bagaimana aku beberapa kali berpura-pura menjadi orang baik, orang naif,orang tegas, bahkan aku juga pernah berpura-pura menjadi pembela kebenaran. Semua akting itu kulakukan demi mendekati mangsaku dan membunuhnya tanpa jejak."
Berapa kali aku mengingat, aku sadar betapa mengerikannya diriku saat itu, dan betapa lemahnya diriku yang saat ini.
Ntah kenapa, aku merasa nyaman saat ini saat bersama mereka. Perasaan yang tak pernah ada dulu, tiba-tiba muncul dan membuatku nostalgia saat sebelum kejadian mengerikan itu. Namun dengan bodohnya, aku malah membuang semua ini karena keinginanku untuk balas dendam.
"Karena apa yang kulakukan saat ini, banyak orang yang mati sia-sia."
Ntah kenapa, air mataku terasa berat padahal ingin mengalir deras.
__ADS_1
Kakakku hanya terdiam mendengarkan ceritaku dengan seksama. Dia seperti tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Atau memang dia sudah terbiasa mendengarkan cerita dari orang lain? Ntahlah itu bukan urusanku.
Dahlia...
Orang pertama yang menyatakan cintanya padaku, namun tak kuanggap.
Vicky...
Orang yang menganggapku sebagai rivalnya.
Putri Tyas...
Tak sengaja kubunuh karena mengira dadu itu adalah Widya yang bersembunyi.
Kelima penghianat, Matthew Kunto, Ami Salahudin, Candra Emi, Malik Abimanyu Sang Pencakar Langit, dan Nurdin Jiminten...
Mereka semua tewas akibat ketiga wanita yang kukendalikan.
Widya(meskipun jahat)...
Terbunuh oleh Widodo saat dirinya mencoba menyerangku secara tiba-tiba.
Erika... Sophia... dan Stevent...
Mereka mati sesaat sebelum nenek itu memperlihatkan wajahnya pada mereka.
Jika kuingat-ingat kembali, sudah ada banyak orang di dekatku yang mati karena keberadaanku saat ini.
Salwa...
Teman Rosa yang masih peduli soal masalah itu. Dia berakhir mengenaskan karena aku yang lambatnya bukan main.
Julia...
Kedua muridku itu juga mati di saat yang bersamaan dan alasan yang sama.
......................
Beberapa menit telah berlalu setelah aku memikirkan orang-orang yang harus menderita karenaku.
Di sisi lain, kakakku masih mendengarkan seperti memang tidak punya pilihan lain.
"Kau mau terus berada di dalam penyesalan ini?" Kakakku bertanya, kepalanya yang menunduk langsung diangkat menghadapku yang terduduk di atas lantai keras dari bebatuan.
"Ha, apa maumu? Apakah kau mau membantuku seperti figuran yang mencoba memberikan kekuatan terakhirnya pada sang protagonis?"
Aku mengatakan candaan itu karena itu terdengar cukup klise, dan tidak yakin dia mau melakukannya.
"Tentu saja tidak, lagi pula aku tidak suka sesuatu yang klise." Dia tertawa kecil, namun dengan segera dia lepaskan.
Wajahnya menatapku dengan serius seperti dia memang mau melakukannya. "Kau tahu... Ada satu cara manjur yang bisa membuatmu setidaknya seimbang saat melawan Nova, meskipun tidak dalam segi kekuatan, setidaknya kau bisa melawannya dalam segi pertahanan."
"Apa itu?"
Aku menoleh ke arahnya, mataku terbuka lebar karena terkejut. Ini bukanlah sesuatu yang mungkin dia katakan dengan semudah itu.
"Kau ingat... Sihir murniku adalah keabadian... Jadi-"
Aku tahu kemana ini akan mengarah sehingga aku langsung memotongnya. "Cukup, aku tak perlu..."
__ADS_1
Dia pasti ingin aku untuk mengakhiri hidupnya dan membiarkan diriku mengambil kekuatannya. Meskipun, sebenarnya aku tidak tahu bagaimana caranya dia melakukannya.
"Hei, aku tidak sedang ingin mati tahu, lagipula siapa yang mau mati demi orang yang tidak menginginkanku?"
Dia menjawab apa yang kupikirkan bagaikan seorang pembaca pikiran.
"Oh, maaf. Kukira kau mau..."
Sepertinya semua yang kupikirkan berbeda dengan apa yang sebenarnya dia inginkan. Lalu apa yang sebenarnya dia pikirkan?
"Lalu, apa yang sebenarnya kau pikirkan?" Tanyaku.
"Mudah saja, biarkan aku menghancurkan Anitya-mu!"
Seketika aku berkeringat dingin dan terdiam karena terkejut. Apa yang dia sarankan jauh dari apa yang bisa kupikirkan.
"Apa maksudmu dengan menghancurkan Anitya?!"
"Apakah aku harus menjelaskanmu sekali lagi? Projek Pangeran adalah projek yang membuat semua orang tunduk padanya. Lalu, bagaimana mereka bisa tunduk? Apakah dikendalikan melalui hukum, atau seusatu yang lain?"
Aku terdiam dan berpikir.
"Aku... Tidak mengerti!"
"Apa?!"
Sejujurnya aku sama sekali tidak menangkap kalimatnya sedikitpun.
"Katakan secara sederhana!"
"Dasar... Ya sudahlah, begini saja... Pangeran adalah Sihir KODE yang ditingkatkan."
"Ehem(mengangguk)."
"Sihir KODE hanya bisa menyerang orang yang menggunakan Anitya..."
"Ehem(mengangguk)..."
"Jadi, jika kau tidak memiliki Anitya, maka kau akan kebal dari serangannya!"
Aku seketika melebarkan kedua mataku, mulutku terbuka seperti mengatakan 'oh' dalam sendirinya, kepalaku mendangak ke atas sebagai jawaban mengerti dengan maksudnya.
"Maksudmu, kau memintaku bertarung melawannya tanpa perlindungan Anitya?"
"Tepat sekali, itu artinya kau harus siap mati untuk pertarungan seterusnya. Lagipula, menggunakan Anitya atau tidak, tidak akan berpengaruh pada kekebalan nyawamu saat ini. Justru menggunakannyalah yang malah akan membuatmu dalam bahaya."
Aku menatap ke bawah seperti mencoba mengambil sebuah pilihan. Mataku menangkap ke arah kedua bahuku yang sudah tidak lagi bisa menggerakkan anaknya.
"Lalu, bagaimana dengan kedua tanganku?"
"Biarkan aku yang urus! Itu hanya jika kau mau melakukannya," ucapnya sambil terkekeh.
Aku menatap ke bawah lantai batu itu sambil menutup mataku perlahan. Sembari memilih pilihanku, aku menghirup nafasku dalam-dalam.
Ini adalah sebuah penentu pertarunganku selanjutnya.
Tapi sepertinya aku tidak punya banyak pilihan, ini hanyalah satu-satunya pilihanku saat ini. Keraguanku padang harus kusingkirkan terlebih dahulu.
Aku membuka mataku dengan penuh keyakinan, "Lakukanlah, Kak Nazrul!"
__ADS_1