
Pukul 12 siang, waktu sekolah masih sedang dalam ujian tulis.
Di menara itu, Ryan mengawasi seluruh sekolah dari para penculik.
Point or View: AGUS RYAN HANDOKO
Aku khawatir akan kondisi itu orang.
Daritadi sejak jam 8 pagi dia pergi, namun sampai sekarang dia masih belum juga kembali.
Meskipun saat kecil aku punya pengalaman tidak mengenakkan dengannya, namun aku bisa berteman baik dengan pria itu.
Ya mau bagaimana lagi, dia adalah sepupuku. Ayahnya adalah adik dari ibuku, jadi wajar kalau kami saling bertemu dan bersahabat.
Namun, setelah dia SMA, lebih tepatnya setelah kejadian mengerikan itu. Dia tidak pernah kembali.
Aku merasakan ada sesuatu yang aneh...
Aneh darimana?
Tentu saja sifatnya, semenjak kejadian itu, tidak ada satupun dari 3 bersaudara itu yang bersifat normal.
Rasyid yang naif menjadi pemurung.
Rizki yang punya optimisme tinggi tiba-tiba menjadi orang parnoan.
Dan Nazrul yang entah kenapa dia seperti... Gila.
Kembali ke tempat menara sekolah.
Aku masih belum mendapatkan kabar sama sekali darinya.
Dia memang boleh melupakanku, tapi setidaknya aku yakin, dia tidak akan melupakan kataku sebelum pergi tadi.
"Hey, Ryan..." Linda yang bosan duduk di menara itu akhirnya mencoba mencairkan keheningan.
"Apa? Apa kau butuh sesuatu?"
"Tidak, aku hanya kepikiran saja, orang itu belum kembali."
"Maksudmu Rasyid?"
"Hmm(mengangguk)... Dia pergi dan sekarang belum kembali. Aku merasakan kalau ada firasat tidak meng enakkan yang terjadi padanya." Dia mengatakan itu sambil menunjukkan bulu kuduknya.
"Itu cuman perasaanmu saja, kau kan memang begitu!"
"Oh iya, aku lupa aku seperti itu, terima kasih sudah mengingatkan tuan orang dalam..."
Linda menghinaku dengan menyebut hal itu.
Jika diingat-ingat, aku pernah memasukkan orang itu melalui hal seperti itu.
Aku ingat betul bagaimana kakaknya membayar mahal hanya untuk hal seperti itu.
"Tapi kan saat itu aku menolaknya..." Aku menatap ke luar menara.
Angin meniup kulit-kulit kami yang mulai memanas.
"Apa?! Kau menolaknya?! Kau bohongkan?" Linda terkejut dengan pernyataanku.
"Tidak, Rasyid masuk karena sesuatu yang disebut prestasi. Tidak ada hal yang disebut orang dalam..."
"Ha?! Prestasi? Apakah kita punya cara masuk yang seperti itu?"
"Tidak... Tapi karna saat itu mendadak, jadi presentasi juga dibutuhkan." Aku memasang senyum masam yang beraura garam.
Jika kuingat-ingat, sekolah saat itu butuh guru pengganti dengan cepat karena ada kekacauan yang disebabkan oleh guru kelas 1 fisik 1 itu.
"Sesuatu mendadak? Ah, aku sebaiknya tidak membicarakannya lebih jauh... Dia pasti akan membuatku mengunyah baut lagi."
__ADS_1
"Heh... Lucu..." Aku tertawa layaknya orang bodoh saat menanggapi guyonan itu.
TOK TOK TOK
Suara pinti menara itu diketuk oleh seseorang.
"Masuklah, tidak dikunci!" (Linda)
KRAKK!
Pintu itu terbuka, sesosok garang terlihat di balik pintu yang terbuka itu.
"Apa Rasyid ada?" Bahar mengucapkan itu sambil mengelilingkan matanya di ruangan berbentuk persegi ini.
"Sepertinya tidak..." Wanita tua yang di sampingnya langsung memutuskan sesaat setelah matanya tidak melihat orang itu.
Wanita tua itu adalah Zarbeth Paniati, dia adalah petarung tipe sihir terkuat di sekolah ini. Tak ada satupun guru yang bisa menandinginya, apalagi saat ditandingkan dengan kekuatan elemen.
Nenek tua ini bahkan bisa menggunakan segala jenis sihir dari api sampai tanah, sayangnya untuk cahaya dan kegelapan, dia tidak bisa melakukannya.
"Hey, kami belum bilang kau boleh bicara, Zarbeth!" Orang yang di sebelahnya lagi menceramahi nenek itu.
Topi koboi putih dan pakaian putih, tapi dia berkulit hitam. Ditambah dengan kacamata hitam, dia terlihat sangatlah mencolok bahkan hampir semua guru dan murid mengenali figur itu.
Dia adalah Widodo Surya, sayangnya tak ada yang tahu pasti siapa dia.
Yang kami ketahui, dia adalah seorang petarung legendaris yang bisa menghancurkan baja hanya dengan jari tengahnya.
"A-anu... Sebenarnya, apa yang terjadi?" Aku bertanya.
"Sepertinya tidak ada untungnya menyembunyikan dari kalian... Begini, Rasyid pergi mencari muridnya, namun sampai saat ini dia belum kembali. Dan saat kami deteksi menggunakan sihir milik Widodo, dia mendapatkan pria itu ada di tengah hutan." (Bahar)
"Tengah hutan?!" Aku dan Linda serempak terkejut.
"Bagaimana bisa?!" Aku menambah tanyaku padanya.
Meskipun dengan orang sekuat Rasyid sekalipun, dia tetap butuh waktu yang lama hanya untuk sampai sana.
"Dan terlebih lagi, Widodo merasakan... Anitya-nya mengecil bahkan bisa dibilang menghilang." Bahar menambahkan.
"Heh?!"
Aku melebarkan mataku, pupilku mengecil sambil bergetar.
Dia...
"Ada dua kemungkinan, dia terkena sihir listrik/es saat jantungnya berlubang, atau...-"
Bahar ingin mengatakan sesuatu, namun aku menghentikannya.
"Itu pasti-"
"Tidak ada data yang tidak benar, kau seharusnya tahu itu, kan? Ryan..." (Bahar)
Aku tertegun dan merasa gagal, bibirku kugigit kuat-kuat karena perasaan bersalah ini.
......................
Keheningan terlihat di menara pengawas itu. Putri Tyas yang awalnya menjadi target, kini malah berubah menjadi guru baru itu.
Tak ada satupun yang paham akan mangsud dari kejadian ini, namun bila benar tujuan awal mereka untuk mencuri batu akik panca warna, seharusnya saat genting ini, dimana semua sedang kocar-kacir adalah waktu yang tepat.
Tapi tak ada satupun yang dari mereka yang menampakkan batang hidungnya untuk melakukan penyerangan pada putri itu.
"Jika benar bila orang itu mati, maka itu menunjukkan kalau aku benar-benar tidak bersalah, bukan?" Zarbeth mengerang oleh kunci tangan oleh Widodo.
"Tch!" Dengan berat hati, Widodo melepas ikatan dari nenek tua itu.
Tapi bukannya langsung pergi, nenek itu tetap tinggal dan ikut dalam kesunyian.
__ADS_1
"Jadi... Apa yang akan kita lakukan?! Yang hilang tidak hanya orang itu, melainkan 3 muridnya juga tidak masuk hari ini!" Zarbeth memecah kesunyian.
"A-aku tidak tahu... Yang kutahu, aku harus mengatakan sesuatu pada kakaknya kalau adiknya sudah mat-"
Suara bahar terputus oleh teriak siswi.
"Tunggu!" Seoramg siswi berambut layaknya 2 bola di belakang, tiba-tiba mencampuri pembicaraan orang dewasa itu.
"Apa... Kenapa kau menganggu kami? Bukannya ini saatnya pulang, ujian kalian sudah berakhir, kan?" Bahar memberi tatapan sayu pada gadis itu.
Aku seperti pernah tahu anak itu, tapi siapa? Jarang sekali aku mengingat nama siswi putri terlebih lagi anak kelas 2.
Padahal akupun juga tidak di sana.
"Eh tunggu, aku ingat kau!" Linda yang ada di sampingku berkacak pinggang dan menatap sipit gadis itu.
"Kau adalah pacarnya, kan?!" (Linda)
"Heh?" Aku tiba-tiba membatu.
"Heh?" 3 orang bau tanah yang di depanku juga mengambil ekspresi yang sama.
"HEH?!" Kini kami berempat mengeluarkan teriakan yang sama.
"Tunggu, apakah Rasyid adalah yang orang-orang sebut dengan bolicon?" Bahar menatap lebar ke arah siswi itu.
"Itu lolicon, pak!" (Linda)
"Ya, kurang lebih seperti itu!" (Bahar)
Aku akhirnya ingat, dia adalah siswi yang sedang dirumorkan saat itu.
Banyak yang bilang kalau dia sedang berjalan dengan seorang guru dari sekolah ini saat sedang liburan.
Tapi aku tidak menyangka, kalau guru yang dimaksud adalah sepupuku sendiri.
Pantas saja aku mengingat gadis ini.
"Sudahlah, lupakan pembicaraan itu!" Zarbeth menegur dua orang yang membicarakan soal lolicon itu. "Biarkan kita mendengar apa yang gadis ini ingin katakan!"
Dia memberi saran yang bagus, pasti ada yang gadis ini katakan memiliki kelogisan yang bagus.
"Rasyid... Belum mati, karena... Kutukan sihir itu, belum hilang!" (Dahlia)
Apa maksudnya, kutukan sihir?
Tapi tak lama setelah gadis itu mengatakan itu...
"Bila ada apa-apa, aku akan membantu!" Siswa berkacamata muncul dari balik pintu.
Dia tidak sendiri.
"Dia punya hutang denganku, jadi tidak akan kubiarkan orang itu mati!" Seorang siswa berambut panjang ikut masuk ke ruangan sempit itu.
"Aku hanya mengikuti tuanku!" Seorang siswa biasa-biasa saja ikut masuk, kali ini dia bilang dia adalah 'tuan', berarti dia adalah pelayan.
"Aku tidak sedang mau membantu orang itu, tapi aku ingin membantu Sophia!" Kini siswi berambut hijau datang dan masuk.
"Kami juga!" (Erika)
"Kami juga" (Tasya)
"Mataku jelas akan dibutuhkan di hutan itu!" (Samuel)
Mereka semua datang berkumpul untuk membantu guru itu.
Sepertinya anda sudah membuat kesan bagus pada mereka.
Ya meskipun, mereka masih melakukan ini setengah hati. Namun aku yakin, suatu saat mereka akan benar-benar melakukan ini dengan keteguhan hati yang kuat.
__ADS_1