Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 88. Ratu Petarung yang Murung END


__ADS_3

Berjalan di tengah jalan perumahan yang sepi di malam hari terasa berbeda dari pada yang kuingat. Tak pernah kurasakan kalau berjalan di waktu saat ini sangatlah membuat bulu kuduk berdiri.


Itu bukan karena aku ketakutan ya, tapi itu karena aku terasa ditusuk dinginnya angin malam yang kudengar-dengar katanya tidak baik.


Meskipun aku sudah terbiasa berada di antara angin-angin ini, tapi untuk menikmatinya. Ini adalah yang pertama kalinya.


"Gwagh(menguap)..."


Sambil melihati perumahan sekitar, aku berjalan menemani Tesi yang berada di sampingku.


"Kau ngantuk?" (Tesi)


"Kurang lebih seperti itu..." Bagaimana tidak mengantuk, aku tadi pagi sedang melawan Jainal, dan langsung ditarik oleh Erika untuk mencari ibunya setelahnya.


Di bawa ke rumahnya, dan aku jadi santapan mata tetangganya. Lalu di bawa ke bawah jalan layang di tengah kota untuk melihatnya melawan orang yang saat ini ada di sampingku.


Kepadatan waktu seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ya, meskipun aku dulu bekerja di bawah perintah Nova, tapi aku tidak pernah bekerja sampai 24 jam penuh.


"Pasti ini menjadi hari yang berat buatmu," entah kenapa orang yang berjalan di sampingku bisa melihat ekspresi wajahku padahal sudah kusembunyikan dengan baik.


"Jadi kau melihatnya, ya?"


"Kau mungkin bisa berakting di depan wanita itu, tapi tidak di depanku. Aku bisa melihatnya dengan baik, kesedihan di wajahmu... Apa kau habis berduka?"


Bibirku melepas udara yang berada di dalam mulutku dan membuat sebuah uap dari dalamnya.


"Kurang lebih seperti itu," tatapanku melihat ke bulan dan tidak takut akan kemungkinan ditabrak mobil.


"Kau mungkin bisa cerita padaku, meskipun mendengarkan cerita orang lain terdengar seperti menjaga aib mereka, tapi sebenarnya aku bahkan tidak peduli dengan cerita itu."


Ocehannya tiba-tiba mengingatkanku pada omonganku pada wanita itu saat itu. Apa yang kukatakan kurang lebih sama.


"Tidak... Masalah ini sebaiknya kusimpan sendiri, karena..." Aku mengembalikan pandanganku ke jalan yang gelap dan tidak ada tanda-tanda kendaraan yang akan lewat.


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja, ini terjadi karena kesalahanku dan yang harus menerima hukumannya adalah aku seorang."


"Bila kau tidak mau, ya sudah. Tapi setidaknya aku bisa mengingatkanmu sekali lagi, kau punya orang yang bisa kau jadikan sandaran hidupmu."


Mendengar saran orang kekar dan penuh luka itu, aku seketika langsung menghentikan langkahku. Kaki kiriku yang mau menyentuh aspal jalan seakan ter-pause oleh sesuatu.


"Aku ingin tahu, apakah kau mengatakan kata-kata manis itu pada ibunya Erika apa tidak?"


Mendengar pertanyaanku, dia langsung ikut berhenti dan menoleh ke salah satu rumah di dekatnya.


"Ya, emangnya kenapa? Ini semua demi..." Kalimatnya belum sempurna.


Seakan dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, tapi bagiku itu merupakan informasi yanh cukup.


Alasan pria itu sudah kucatat, kurang lebih dia melakukan ini karena cinta. Sama seperti prediksiku sore tadi.


Tesi mencintai ibunya Erika, tapi dia berakhir direbut oleh orang lain. Saat melihat wanita itu sudah menjadi janda, Tesi seketika datang untuk menjadi ksatria penyelamat wanita itu. Dia tidak peduli, apakah wanita itu bahagia apa tidak. Asalkan dia bersamanya itu sudah cukup. Dia membuat wanita itu terus bersender padanya.


"Seperti tiang rusak yang terus berdiri karena disangga oleh tiang sebelahnya..." ucapku dengan lirih.


Aku tidak bisa mengatakannya dengan gamblang, aku jelas akan berakhir terkena bogem mentahnya.


"Demi..." Dia masih memaksakan untuk mengatakannya.


"Tidak, kau tidak perlu menjelaskan lebih lanjut! Aku sudah paham..." Aku yang dingin tiba-tiba kembali terlihat di wajahku.


"Syukurlah kalau kau sudah mengerti tanpa harus kukasih tahu..."


"Seperti yang kau tahu, aku ini champion yang licik. Membaca suasana adalah keahlianku..." Mungkin.

__ADS_1


"Wah sepertinya ada yang menyombongkan diri di sini, hahahaha!"


Tawanya membuat punggungnya bergetar, anaknya yang dia gendong dari tadi bersamanya langsung bersuara ~Ugh...~ karena tidurnya yang lelap terganggu.


Saat ini kami sudah sampai di ujung jalan perumahan.


"Sepertinya kita sudah sampai ujung, ayo balik!"


"Hmm(mengangguk)..."


Ini cuman jalan-jalan untuk memanaskan badan di tengah dinginnya malam. Jadi apa alasanku ingin bicara dengannya?


Saat melihati perumahan yang berdiri berjajar dan rapi, ingatanku seakan memberiku peringatan akan sesuatu.


"Oh iya, bila aku boleh tanya? Apakah ada guru dari Sekolah Podoagung yang tinggal di sini?"


Saat mendengar pertanyaanku, wajah seran pria itu berubah menjadi wajah pengecut. Dia yang tadi terlihat bisa diandalkan dalam pertarungan kini seperti orang yang akan lari terbirit-birit seperti wanita.


Kenapa dengannya?


Apakah semenakutkan itu?


"Kenapa kau diam?"


"Bu-bukan apa-apa?!"


"Kalau kau tidak mau mengatakannya juga tidak apa-apa..."


"Lalu kenapa kau menanyakannya?!"


"Hanya mengisi kesunyian."


"Woyah-woyah, apa Rasyid adalah orang yang takut gelap?"


"Ya, aku takut sekali... Bahkan aku tidak bisa tidur bila tidak ada lampu penerangan."


"Kau bisa-bisa saja."


"Hihihi..."


Tapi ucapanku tadi tidak sepenuhnya bercanda.


......................


Kami berdua sampai di depan rumah pria itu. Erika yang sedang duduk di depan teras menyambut kami dengan tatapan sayu.


"Apakah tidak berjalan dengan baik?" Tanya Tesi.


"Tidak, itu berjalan dengan baik... Hanya saja..." Erika menatapku dengan tatapan itu.


"-Bukan apa-apa," suaranya seperti dialihkan ke sesuatu yang lain.


Ada sesuatu yang aneh, tapi aku tidak bisa menebaknya. Hubungan keluarga adalah sesuatu yang rumit, aku tidak bisa menganalisisnya dengan benar.


"Kalau begitu, sebaiknya kalian istirahat dulu di sini..." Ini sudah tengah malam.


"Tidak, kami akan langsung jalan saja!"


"Kalau begitu, apa boleh buat. Tapi kalau kalian mengantuk sebaiknya langsung istirahat jangan memaksa menyetir! Kalian mungkin tidak bisa mati, tapi harga mobil tetaplah mahal!"


"Tenanglah paman, atau yang harus kupanggil ayah. Aku bisa menangani ini!" Giginya yang putih itu dia pamerkan pada orang yang awalnya dia anggap sebagai lawan.


Mendengar perkataan 'ayah' dari Erika membuat pipi pria berotot itu memerah dan memperlihatkan aura yang berbeda dari sebelumnya.


Aku sebaiknya tidak melihatnya. Melihat orang kekar tersipu membuatku jijik...

__ADS_1


Bukan merendahkan, hanya saja tidak sedap dipandang.


"Kalau gitu, selamat jalan!"


"Ya, dan terima kasih!" Lambaian tangan wanita itu diarahkan ke ayah tirinya.


Aku juga ikut memberi salam perpisahan sebelum pergi, tapi sepertinya tidak gubris sama sekali olehnya.


Kami yang berada di dalam mobil kini kian menjauh dari rumah itu. Siluet bapak dan anaknya yang dia gendong di punggung itu terlihat mengecil dan sampai tidak terlihat lagi karena kami berbelok di pertigaan.


......................


Sesaat setelah mereka berdua pergi, seseorang dengan pakaian serba putih dan bertopi koboi datang mendekati pria itu dan anaknya.


"Anak tirimu tumbuh dengan baik," ucapnya sambil tersenyum dan menyilangkan tangannya ke arah mobil itu berbelok.


"Hmm(tertunduk dengan tersenyum)... Aku bukanlah yang mendewasakan sikapnya, tapi dia sendiri yang melakukannya!"


"Tapi tetap saja, kau sebagai ayah yang meskipun tidak terhubung dengan darah malah terlihat sangat senang..."


Tesi cuman bisa terdiam sambil tersenyum, dia lalu mengangkat kepalanya dan mengatakan: "Terima kasih, karena sudah mau memenuhi permintaan istriku!"


Pria bertopi koboi itu hanya berkacak pinggang sambil sedikit tersenyum. "Itu bukan apa-apa, lagipula..." Suaranya mengecil. "Aku punya misi lain dari itu..."


......................


Aku yang saat ini duduk di sebelah Erika merasa kepo dengan apa yang ia obrolkan pada ibunya, tapi privasi tetaplah privasi.


"Apa kau sudah lega?" Tanyaku mencairkan suasana malam.


"Mungkin, setidaknya saat ini aku tahu... Kalau dia masihlah seorang ibu yang normal."


"Apa kau menyayanginya, sekarang?"


"Aku tidak bisa, sakit masa lalu itu... Masih belum hilang."


Aku terdiam dan tak berani mengambil resiko salah ngomong. Biarkan saja hubungan mereka seperti ini, tidak ada hubungan yang kembali dengan instan. Terlebih lagi hubungan yang sudah retak.


"Erika tentang bayarannya..." Aku mencoba ganti topik.


"Jadi, apa yang kau inginkan?" Tanpa memindahkan fokusnya pada jalan.


"Kita ke sini(Sambil menampilkan sebuah peta yang terpampang di layar ponselku)!"


"Mengerti!"


Saat di perjalanan, aku mencoba mengisi kosongnya suasana.


"Apa yang terjadi pada pamanmu?"


Itu masalah yang terlupakan, padahal baru saja terjadi tadi pagi.


"Aku tidak tahu, kuharap dia saat ini tidak dalam masalah."


......................


Di gedung bupati Kota Ningru.


GUBRAK!


Seseorang dengan badan yang membeku dilempar ke lantai tepat di depan pria itu.


"Tuan Doni, apakah kita langsung melemparnya ke sana tanpa mencairkannya?"


"Tentu saja, malah akan merepotkan bila dia berteriak saat dimasukkan kesana!"

__ADS_1


"Baiklah!" Orang dengan grapling hook itu pergi sambil membawa badan beku itu ke tempat yang dimaksud sang pria.


"Projek Pangeran, sudah berjalan 50%..."


__ADS_2