
*Wush!
Angin melesat dan memotong lantai bagaikan sebuah acara pemotongan kue ulang tahun. Tebasan-tebasan itu muncul hanya dengan satu kipasan tangannya saja dan hasilnya sudah sedahsyat ini, lalu bagaimana bila kedua tangannya bergerak?
Mungkin saja aku akan langsung menjadi dua.
Jadi dia masih mengasihaniku, ya?
Aku yang menjadi targetnya dibuat seperti sedang menari ke kanan dan ke kiri tanpa henti. Sampai pada air keringat mulai turun, di saat itulah aku mulai harus memikirkan caranya melakukan serangan balik kepadanya.
Apa-apaan serangannya ini?! Bagaimana aku harus melawannya?!
Sayangnya tidak ada yang terbesit di pikiranku. Semua pikiranku termakan oleh paniknya posisiku saat ini.
Saat ini mustahil untuk menggunakan serangan biasa, dia terlalu kuat dari yang lain. Segala macam serangan yang berasal dari Anitya tidak akan membuatnya tergores sedikitpun.
Satu-satunya cara hanyalah melawannya secara jarak dekat.
Tapi dari posisi ini, mustahil untuk mendekat sekarang.
Serangannya melebihi kecepatan cahaya, bahkan juga melawan hukum dari sihir kegelapan.
Berpikir! Ayolah! Aku buntu saat ini!
......................
Saat otakku sedang kuperas, aku mendengar suara aneh yang mendekat.
Baik aku dan kakakku terpancing oleh suara itu.
Suara baling-baling?
Sesuatu mencoba terbang ke arah ini, tapi apa?
"Helikopter." Kakakku hanya dengan menggunakan indra pendengarannya menjelaskan kepadaku.
Dia ternyata teralihkan juga, ya?
Mungkin ini adalah kesempatanku.
Seketika aku melaju dengan kecepatan cahaya dan mencoba mendekatinya.
*Flash!
Dalam waktu singkat, aku sudah berada di sampingnya dan bersiap melakukan tendangan dada di udara.
*Brak!
Tapi ini tidak mungkin menjadi terlalu mudah.
Seperti dugaanku, dia bisa menangkisnya hanya dengan menggunakan lengannya.
"Tidak sampai sini saja!"
Aku melanjutkan tendangan kedua dengan kaki kiriku secara memutar.
Dan hasilnya, Kakakku lagi-lagi menangkisnya.
"Ini semua cuman masalah waktu!"
Sekali lagi aku menendang dengan kaki kananku, namun hasilnya masih sama.
Aku mencobanya lagi dan lagi meskipun hasilnya sama. Berharap dia akan kelelahan dan membukakan celah untukku menyerang dan mengakhirinya.
Tapi...
*Bak! *Buk! *Bak! *Buk!
Ini tidak ada habisnya.
Aku terus menendang-nendang, namun dia tidaj kunjung kelelahan, malah gerakan tangannya yang digunakan untuk menahan malah semakin cepat seakan mulai terbiasa dengan tendanganku.
__ADS_1
Tunggu, bukannya itu malah kesempatan?
Melihat kakakku yang sudah mulai terbiasa dengan algoritma seranganku, aku seketika mencoba sesuatu yang baru.
Aku menendang dengan kaki kiri, namun saat tendangan itu selesai kulayangkan.
Aku tinggal menendang dengan kaki yang sama!
Kaki kiriku kembali bergerak dan sasarannya juga ikut kuubah.
*Buk!
Aku menendang lututnya.
Berhasil!
Dia terkecoh dengan algoritmanya sendiri.
Tak mau melewati kesempatan, aku kembali mengaktifkan senjataku dan mencoba menusuk bagian lehernya sampai kedalam perut.
"Rasakan ini!"
*Thrust!
Tusukan pedang pemberian menusuk sang pemberi. Situasi ini bagaikan puisi orang terkenal.
"Arghhh!" (Rizki)
"Kau sudah kalah, kak!"
Aku membuat pedang yang kugunakan menjadi terbakat sehingga bagian dalam tubuh kakakku terbakar dari dalam.
"Aku minta kau mengatakannya! Apa ada hal lain yang kau tahu?!" Ucapku berteriak sambil menggerak-gerakkan pedangku yang bersarang ditubuhnya.
Pasti masih ada informasi lain yang bisa kudapatkan darinya.
"Semua yang kau inginkan ada di dokumen itu!" Kakakku akhirnya mengatakannya.
"Dokumen?"
"Dokumen yang pernah kau dapat dari hadiah Penilaian Guru saai itu. Itu sudah mencakup semua yang kau butuhkan!" Darah mulai menyembur dari mulutnya yang berasap.
Aku seketika meregangkan pegangan di pedangku, dan memikirkan apa yang dia katakan.
Aku hampir lupa soal dokumen itu, namun bisa kupastikan aku sudah membaca separuhnya, dan Hasilnya masih kurang memuaskan buatku.
Aku tahu tentang penghianatan kakakku pada atasannya, Nova. Namun, aku tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa ini semua dilakukannya.
Bila dia mengincar Projek Pangeran, maka dia tidak seharusnya tergiur dengan ajakan Gubernur.
Lalu kenapa dia menyetujui itu?
Apakah ada alasan buatnya untuk mengikuti orang yang padahal sudah tahu lebih lemah ketinbang atasannya itu?
Dan juga, kenapa dia dikurung ketimbang dihabisi?
Bukannya itu lebih efektif?
Atau memang Nova masih membutuhkan pengetahuannya?
Tapi menurutku, Nazrul tidak mungkin mau dimintai oleh nenek itu meskipun disiksa sekalipun.
*Gujuk! *Gujuk! *Gujuk!
Saat aku terbenam dalam pemikiran, suara helikopter yang tadi memberiku celah agar bisa menyerang kakakku terdengar kembali. Dan kini suaranya semakin lama semakin dekat.
"Darimana?!"
Aku melihat ke kanan dan ke kiri, namun aku tidan melihat adanya sebuah helikopter.
*Buk!
__ADS_1
Mengetahui aku panik, kakakku mengambil kesempatan untuk memukulku dan membuatku mundur beberapa langkah.
*Ctang!
Pedang yang menusuk ke dalam tubuhnya ditarik keluar tanpa memperlihatkan rasa sakit sedikipun.
Ini bukanlah karena dia kuat sampai tidak bisa merasakan sakit saat melepas pedang itu, namun merupakan efek dasar Anitya yang meredakan efek sakit saat merasakan trauma fisik.
Tangannya kembali diangkat dan bersiap kembali untuk dikibaskan.
Sial, dia akan membuatku mundur lagi!
Saat berada di ambang kepasrahan, helikopter yang dari tadi tidak terlihat dan hanya berupa suara seketika muncul dan melaju begitu cepat ke arah kami berdua.
Baling-baling yang digunakan untuk helikopter itu terbang dihadapkan ke arah kami seakan bersiap mencincang kami berdua secara brutal.
"Apa yang pengemudi helikopter itu pikirkan?!" Ucapku berteriak sampai melupakan pertarungan.
"Penganggu lainnya, ya?" Di sisi lain, kakakku berpikir lain sambil membuka matanya secara tajam dan penuh kehati-hatian.
Sihir cahaya kuaktifkan untuk menghindari baling-baling itu, namun angin dari benda itu menarikku tanpa ampun sehingga kecepatanku saat ini bukanlah masalah.
Sihir kegelapan kuaktifkan, namun hasilnya masih nihil. Asap yang kukeluarkan langsung terhempas dan pergi begitu saja.
Sihir tanah kuaktifkan, dan membentuk sebuah barikade, namun sepertinya sang pengemudi menembakkan sebuah bola air raksasa dan menghancurkan perisaiku dengan cepat.
Semua sihir yang mungkin bisa kugunakan sudah kukeluarkan, namun semuanya berakhir gagal. Aku tidak bisa mencoba menggunakan sihir api, air, es, dan listrik karena ada kemungkinan sihirku malah berbalik tepat ke wajahku.
Helikopter semakin mendekat dan membuatku tidak memiliki pilihan lain selain...
"Kalau begitu, maka selamat tinggal!" Ucapku sambil menghantam tanah dengan kepalan tanganku
Lantai yang tadi masih bagus seketika berlubang dan membuatku yang menginjak di atasnya terjatuh ke bawah.
*Slash! *Slash! *Slash!
Helikopter itu mencabik-cabik siapapun yang ada di atasnya tanpa ampun.
"Si bodoh itu tidak mungkin mati hanya karena tercabik-cabik oleh baling-baling." Aku menenangkan diriku sambil melihat ke atas lubang yang kubuat.
*Duar!
Suara hancur dari helikopter terdengar jelas dari sini. Asap tebal terlihat berkobar dari luar lubang itu. Jago merah mulai membakar helikopter itu pastinya.
Ya, itu tidak bisa dihindari. Lagipula siapa pula yang menggunakan helikoper untuk menghantam bangunan ini?
Apa yang terjadi di atas sana, aku ingin tahu.
Aku melompat dengan memanfaatkan sihir tanah yang melempar seperti ketapel.
Saat aku berada di atas, aku melihat pemandangan yang tidak biasa menurutku, atau mungkin memang hanya aku yang menganggapnya ini tidak biasa.
Seseorang berdiri di depan Kakakku yang sedang berlutut karena kelelahan itu. Dia tersenyum bagaikan komedian yang baru saja memenangkan audisi.
Di sampingnya, terdapat seorang wanita yang masih kurang familiar di ingatanku.
"Lama tidak berjumpa, Rasyid." Pria itu melambaikan tangannya ke arahku.
Aku melambaikan balik, namun tidak memasang sedikipun kesenangan di hatiku.
Aku berjalan mendekat ke arah pria itu dan mulai bertanya-tanya alasan kedatangannya ke sini. Apakah ini adalah alasan kenapa dia tidak terlihat di pertarungan sebelumnya.
"Sepertinya aku datang tepat waktu..." Pria itu menatap Kakakku yang sedang kelelahan, lalu menoleh lagi ke arahku sambil memperlihatkan senyumannya yang bodoh. "...Apakah ini benar-benar yang kau inginkan, Rasyid?" Dia bertanya kepadaku.
Senyuman bodohnya seketika hilang dan berubah menjadi kecemasan. "Apakah perjalananmu selama ini hanya membawamu kembali ke dirimu yang dulu. Dirimu yang penuh kenaifan!" Pria itu meninggikan suaranya dan melotot ke arahku.
"I-ini..." Mulutku seketika melemas.
Dari semua orang, aku hanya tidak sanggup untuk menghadapinya. Bukan dalam artian adu kekuatan, namun lebih ke arah kalau dia adalah orang yang kuanggap seperti keluargaku yang sebenarnya. Bahkan jika saja fia berada di pertarungan para guru-guru tadi, mungkin saja aku akan membuatnya terlempar jauh sehingga dia tidak terkena amukanku.
"... Lupakan saja, ini tidak ada kaitannya denganmu..." Tanpa berani menatap matanya, aku mencoba mengatakan itu. "...Ryan."
__ADS_1