Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 155.


__ADS_3

"Apakah bapak ibu semua lupa tentang acara setelah Penilaian Guru?"


Hakam menoleh ke semua guru dari yang berada di paling kanan sampai yang paling kiri.


"Ya, emangnya kenapa?" Samuel menjawab.


"Saat itu dia hilang, bukan? Bahkan harus sampai dijemput oleh Sophia dulu baru datang... Dia pasti habis bertemu dengan Nenek itu saat itu." Xander menambahkan dengan curiga.


"Lupakan soal sebelum dia datang ke acara! Ingatlah saat dia tampil di atas panggung!" (Hakam)


"Ah!" Tasya seketika berteriak karena mengingatnya.


Baik Samuel dan Xander seketika memerah dan mengingat sesuatu yang sudah mereka coba lupakan.


Sebuah penampakan mengerikan itu kembali teringat di kepala mereka. Di mana seorang wanita cantik dengan pakaian minim berada di atas panggung sambil menyapai para murid kelas satu.


"Penampakan itu... Ingin kulupakan!" Samuel menggeleng-gelengkan sambil memeramkan matanya secara kuat.


"A-apa hubungannya itu dengan masalah sekarang?" Ucap Xander sambil memerah merasa salah mengingat hal itu.


"Saat itu, senyumannya..." Tasya seketika buka suara. Matanya seperti melihat tabung pemanas itu bagaikan bintang cerah di malam hari. "... Dia bahagia, bahkan tersenyum ceria."


"Hmm(mengangguk), senyuman itu, meskipun memalukan bila diingat, namun bila diteliti lagi... Itu adalah dirinya yang asli!" (Hakam)


"A-aku tidak mau mengingatnya, namun saat itu... dia benar-benar membawa suasana yang berbeda Dari dirinya yang biasanya. Aku bahkan ingat betul senyuman itu." Moka menambahkan.


Semua yang ada di sana kecuali Tesi, Widodo, dan Linda seketika memegangi dagu mereka dan seperti berkata, 'benar juga' namun tak bisa bersuara. Mereka semua ingat betul kejadian itu, bahkan Astra yang saat ini membencinya sekalipun masih mengingat hal itu.


"Jadi, apakah dengan bukti itu kita masih harus memaafkannya?" Xander mengubah subjeknya.


Pembicaraan yang tadi berawal dari apakah dia manusia berjiwa atau tidak berubah menjadi apakah dia layak untuk diadili apa tidak.


"Apa maksudmu?" Tanya Linda dengan bingung.


"Meskipun dia memiliki jiwa sekalipun, tapi dia telah membunuh banyak manusia itu tetaplah fakta!"


Suasana semakin keruh dengan argumen itu.


Mereka semua bereaksi secara berbeda setelah mendengarnya. Seakan sekarang di kelompok itu telah terpecah menjadi dua bagian. Bagian yang ingin membantu Rasyid dan bagian yang ingin tetap membunuhnya.


Hanya dari melihat ekspresi mereka saja bisa dilihat mana yang mau menolongnya dan mana yang mau membunuhnya.

__ADS_1


Samuel, Haran, Xander, Astra, dan Tesi ada di pihak yang ingin menghabisinya, sedangkan Hakam, Gita, Moka, Tasya ada di pihak yang ingin menolongnya.


Linda dan Widodo tidak terlihat mau mengambil sisi. Mereka berdua tahu sebenarnya apa yang salah di sini.


"Anu..." Widodo mengangkat tangan kanannya, dia terlihay seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting agar suasana mereda.


"A-apa yang ingin kau katakqn, Widodo?" (Xander)


"Apakah kalian yang tidak setuju untuk menganggap kalau Rasyid layak untuk hidup menginginkan dia mati?" Pertanyaan itu begitu mengejutkan.


Baik Tesi, Xander, dan bahkan Widodo tahu kalau dia jika dimasukkan dalam hukum, maka dia adalah terdakwa hukuman mati.


Namun masalahnya...


Menjawab pertanyaan itu, Xander mengangguk pelan dengan tekad. Meskipun Rasyid dulunya adalah temannya, namun kini semua telah berbeda. Dia telah membunuh banyak orang bahkan telah membuat Widya mati meskipun dia adalah SANGKUNI sekalipun.


Dalam hati Xander, dia hanya tidak bisa menganggap kalau dia harus melakukan ini. Bagaimanapun dia adalah anggota keluarga kerjaan. Hukum tetap harus ditegakkan meskipun dia adalah orang yang dia kenal sekalipun.


"Yang jadi masalah utama adalah... Bagaimana cara membunuhnya?" Pertanyaan Widodo kembali membuat sisi itu terdiam.


Tesi yang tahu bagaimana mengerikannya situasi pertarungan saja tidak berani mengingatnya kembali. Semua yang terjadi di sana dianggap sebagai mimpi buruknya saja.


Suaranya yang seperti sedang menggoda seseorang seketika membuat semua orang terkejut.


"Apa maksudmu?" (Linda)


"Mudah saja, buat dia paham situasinya sendiri... Lalu kita buat dia membuat pilihan." Haran mengangkat kedua jari telunjuknnya. "Yang pertama, katakan padanya, 'hiduplah! Meskipun kau penuh dosa sekalipun, namun kau tetap bisa dimaafkan.' atau 'kau sudah membuat banyak kekacauan, sebaiknya kau korbankan dirimu dan selamatkan kota ini dari peristiwa musim dingin mengerikan ini.'"


Sebuah pilihan yang diberikan Haran membuat semua orang yang ada di dalam lingkaran itu bergemidik ngeri. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan saran yang cukup mengerikan dan penuh manipulasi di dalamnya.


"Aku benci untuk mengatakannya, namun... apa yang dikatakan Haran ada benarnya." Widodo berdiri dan mengepalkan tangannya. "Bila itu hanyalah satu-satu jalan yang bisa kita pilih. Maka lakukan saja, pikirkan saja soal perbedaan pilihan kita nanti!"


"Kau mau kemana?" Tanya Haran.


"Pemikiran kita di sini tidaklah valid, maka voting untuk seluruh orang di sekolah harus dilakukan!"


Jika hanya menggunakan apa yang ada di sini, voting untuk melindungi Rasyid akan menang, dan itu akan terdengar seperti hanyalah dilakukan demi ego. Tapi jika disekolah, maka semua akan dapat memilih pilihan mereka, dan yang terpenting adalah semua mendapat bagian untuk mengajukan takdir itu.


"Jangan bilang kau menggunakan voting seluruh sekolah untuk itu?!" Haran menahan tangan pria itu.


Meskipun Haran ingin Rasyid segera mati, namun membunuhnya dengan cara jahat seperti ini agak kurang ajar.

__ADS_1


Entah dia melakukan ini karena terpengaruh sihir itu atau tidak, namun bila skema buruk yang sama seperti yang dia lakukan seperti waktu itu terulang. Maka kini yang bergerak bukan hanya Rasyid saja, namun nenek itu juga.


"Matamu menunjukkan rasa takut, Haran. Sepertinya kau tahu seberapa bahaya hal itu." Widodo membaca dengan jelas bagaimana wajah takut yang terpasang di muka Haran yang suka tersenyum sinis. "Baiklah, aku tidak mau ambil resiko kalau begitu... Jika sampai kau saja ketakutan, apalagi kami yang tidak tahu apa-apa."


Semua orang terkejut dengan Widodo yang seketika berubah haluan.


"Jadi, apa kau ingin menyelamatkan-" Xander mencoba memakinya, namun segera dipotong oleh Widodo.


"Aku hanya membatalkan keinginanku untuk menggunakan voting sekolah saja. Keinginanku untuk membunuhnya masihlah besar seperti biasa."


Merasa suasana semakin canggung, Linda seketika berdiri dan berjalan ke arah tubuh Rizki yang terbaring lemah.


"Aku mau pergi, masih banyak hal yang harus kulakukan saat ini!"


Dengan begitu, Linda pergi tanpa menunggu yang lainnya.


Masih banyak pertanyaan sebenarnya untuk ditanyakan, namun suasana sedang terpecah belah. Mengakibatkan tidak mungkin untuk melakukannya.


......................


Barisan melingkar itu kini telah rusak dengan adanya beberapa orang yang pergi. Tabung penghangat yang menengahi mereka semua kini telah hilang karena diambil kembali oleh pemiliknya.


Suasana menjadi bagaikan air yang tenang tapi menghanyutkan. Cukup berbahaya untuk saat ini, dan tidak ada yang berani bicara. Salah bicara maka sesuatu yang buruk akan menimpa mereka.


"Semuanya, ayo naik mobil... Kita kembali ke sekolah." Suara pelan milik Tasya menjadi satu-satunya yang menggerakkan murid-murid itu.


Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya bisa mereka lakukaj saat ini. Mereka bukanlah orang dewasa yang bisa menggerakkan dunia. Mereka hanyalah murid yang harusnya belajar.


......................


Di sekolah, seseorang berdiri di depan gerbang dan menghalangi jalan mobil yang mereka gunakan.


*Jdak!


Widodo turun dari mobil dan berjalan mendekati orang itu. Dari bagaimana Widodo berekspresi, dia sepertinya juga tidak tahu dengan maksud orang itu.


"Nyonya Zarbeth, apa yang kau lakukan?"


Zarbeth yang berdiri di sana, mengangkat kepalanya pelan-pelan dan melihat ke arah Widodo secara hati-hati.


"Mereka, para guru yang tadi mundur dari pertarungan, kembali mengejar Rasyid! Dan kali ini mereka siap dengan senjata dari akik panca warna yang disembunyikan Bahar!"

__ADS_1


__ADS_2