
Aku berjalan keluar dari pabrik itu. Terlihat para kumpulan penjaga di pabrik yang tadi kulumpuhkan masih terbaring di sana.
'Ini sudah bukan urusanku.' Aku terus berlari menggunakan elemen cahaya sampai berakhir di sebuah jalan yang luas dan sepi.
Bila kuingat, ini adalah jalan yang sama dimana mobil Stevent kuberhentikan paksa.
'Apakah mereka masih ada?' Pikirku dalam hati.
Masih menyusuri jalan yang panjang dengan badan yang belepotan cairan merah. Aku masih belum bisa menemukan mereka.
'Sepertinya mereka sudah pergi, cepat sekali mereka?' Pikirku sambil terus berlari.
Sampai di ujung jalan, dan tidak ada tanda-tanda dari mereka sama sekali. Berarti mereka sudah aman, semoga saja.
Saat berada di ujung jalan itu, aku melihat sebuah toilet yang sudah tua berdiri di samping jalan. Suasana yang dikelilingi persawahan membuat kesan angker pada toilet itu.
Bagaimanapun juga, cairan merah yang ada hampir di seluruh tubuhku ini harus kubersihkan. Mau tidak mau, aku harus masuk ke sana.
Di dalamnya toilet itu hanya ada 3 kamar dan 2 cermin di depannya. Ternyata toilet ini meskipun tua tapi masih terurus.
Kurang dari 10 menit, aku sudah mencoba untuk membersihkan semua cairan merah itu. Sayangnya untuk yang menempel di pakaian terasa agak mustahil untuk kubersihkan.
'Sial, aku terlalu terbawa suasana...' kesalku dalam hati sambil bercermin dengan menggunakan cermin yang disediakan di depan toilet.
Saat melihat pantulan diriku, aku hanya bisa menatapi diriku dengan datar. Aku mencoba menyentuh pantulan diriku di cermin itu menggunakan tanganku. Sesuatu telah sadar dalam diriku, meskipun aku mendapatkan emosiku kembali. Namun, sifatku yang ini masih belum menandakan adanya tanda-tanda berkurang. Itu dibuktikan dengan aku yang masih tidak merasakan apa-apa setelah menghancurkan mereka semua.
'Apakah kesempatan kedua itu memang ada?'
Aku terus memandangi cermin dengan tatapan yang sayu, sampai tiba-tiba. Sebuah wajah seseorang muncul bersebelahan denganku.
Wajah dari Rosa, Farhan, Fajri, dan orang-orang yang sudah kubuat lenyap. Mereka semua seperti menungguku dibelakang. Menunggu untuk segera menghabisi orang yang sedang bercermin ini.
Mataku membelalak lebar, namun kedataran masih terlihat di raut mukaku. Jika seperti ini terjadi, maka satu-satunya cara adalah...
Aku membuat sebuah pisau dari sihir es dan kutusukkan pada telapak tanganku. Halusinasi ini mungkin terjadi karena aku lelah.
CRATTT!
Pisau tajam dan dingin menusuk telapak tanganku.
SESHHH
Para imajinasiku hilang bersamaan dengan darah yang menetes di telapak tanganku.
Aku sebaiknya segera pulang dan tidur untuk istirahat. Ini akan menjadi-jadi bila aku biarkan lebih lama. Aku harap cara ini benar-benar berhasil.
Aku melanjutkan langkahku dari toilet itu pulang ke rumah dengan berjalan karena terlalu lelah untuk mengeluarkan sihir sekalipun.
TIT TIT TIT TIT!
Suara alarm berbunyi dari ponselku yang kuletakkan disampingku.
Aku mematikannya dan mencoba bagun dari tidurku. Saat keluar, satu porsi set sarapan sudah disiapkan olehnya sebelum pergi.
Aku segera berjalan ke meja itu dan mencobanya. Tidak kelupaan aku membuka televisi untuk melihat berita terkini.
KLIK
Sebuah televisi dari kejauhan kuhidupkan. Gambar dari televisi itu bukanlah yang ingin kucari, melainkan isinya. Aku hanya mengecek, apakah mereka sudah berhasil?
"PEMIRSA, UNTUK BREAKING NEWS HARI INI, SEBUAH BANGUNAN BEKAS PABRIK ROTI, DI DALAMNYA DITEMUKAN BANYAK MAYAT DAN DALAM KONDISI MENGENASKAN.
SAAT INI PARA POLISI LANGSUNG MENDUGA KALAU INI ADALAH PERBUATAN NOVA, SAYANGNYA SAAT DIPERIKSA, NOVA BAHKAN TIDAK SAMA SEKALI TERLIHAT KALAU DIA YANG MELAKUKANNYA.
YANG MENJADI PERTANYAAN BESARNYA ADALAH, APAKAH ADA ORANG LAIN YANG BISA MELAKUKAN INI SELAIN DIA, JIKA BENAR... MAKA NUSANTARA INI SEKARANG DALAM MASALAH!" Sang pembawa berita membawakan beritanya dengan nada khasnya, dia juga memperingati seberapa bahayanya bila ada orang lain selain Nova yang bisa melakukan itu.
Televisi terus menyiarkan berita selagi aku makan. Tidak ada hal yang begitu penting lagi buatku dengar selain berita awal, dan sepertinya mereka berhasil menyembunyikan soal para siswa yang disandra itu. Lalu bagaimana dengan para penculik yang menjaga diluar?
Entahlah, aku tidak peduli. Melanjutkan makan lebih baik daripada memikirkan mereka.
__ADS_1
'Aku benar-benar masuk perangkap nenek itu...' Aku merenung sambil mengunyah makanan itu.
Alasan saat itu dia membuatku marah adalah agar aku bertindak sendiri. Dia hanya memberiku informasi soal mereka, dan saat aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Maka aku jelas akan mengejar mereka.
'Sial, aku melakukan pekerjaan kotor tanpa upah sedikitpun...!' Tanganku menahan keningku yang berat.
Aku terlalu mudah terpancing seperti biasa.
......................
Pagi di ruang guru, untuk pertama kalinya aku berangkat sangat kesiangan. Ini semua terjadi karena aku terlalu menyesali kejadian malam tadi. Sayangnya aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengepalkan tanganku.
Di ruangan itu, para guru sudah mau bersiap untuk menyiapkan materi-materi mereka. Materi itu akan digunakan untuk persiapan ujian mereka.
'Ada hawa yang agak aneh terasa di sini, tapi hawa apa itu?' Aku merasakannya sejak pertama kali masuk.
"Oh, Pak Rasyid… anda barus saja datang?" Tasya menyapaku yang masih ada di depan pintu.
"hmm(mengangguk), aku agak kesiangan gara-gara lupa setting alarm, hahaha." Aku bercanda dengannya.
"Hayooo, habis ngapa anda? Tunggu, kenapa setting alarm? Kenapa bisa anda kehilangan settingan itu? Itu tidak akan hilang kecuali anda yang menghapusnya…" Tasya semakin curiga.
Bodohnya aku, kali ini kebohonganku agak kendor.
"Ah ha hahahaha..." Aku tertawa sembari memikirkan cara agar bisa megganti topik.
"A-anu, soal semalam… apa kau mengalami hal yang sama?" Aku mencoba mengganti topik.
"Maksudmu…" Mendekat dan membisiki kupingku. "Para penculik kemarin?" Dia menatap serius.
"Ya, seperti itu…"
"Jadi anda juga kena ya, kupikir mereka hanya mengincar para murid…" (Tasya)
"Soal kemarin, aku sebenarnya bersama muridku juga…" Aku mengalihkan pandanganku karena tak sanggup mengatakan hal memalukan ini.
"Apa?" Aku menatapnya dengan datar.
Entah kenapa, setiap kali masuk topik ini, tiba-tiba aku merasakan tekanan yang menyakitkan.
"Oh?" Tasya kaget dengan raut mukaku yang tiba-tiba berubah datar.
Di saat bersamaan, Erika sudah hendak keluar dari ruang itu menuju kelasnya. Dia pasti akan melewati kami.
"Ah… sepertinya tidak jadi saja, hehe he he." Tasya membuang rasa penasarannya.
Agak kurang sopan bila dia malah ngepoin orang. Di saat ada orang yang menyukainya. Mungkin itu yang dia pikirkan saat Erika berjalan melewati kami.
TING TONG
Bel masuk sekolah sudah berbunyi, aku juga harus bergegas bersiap.
"Sial, sudah masuk saja, kalo gitu! Sampai nanti ya, Pak Rasyid!" Tasya berjalan menjauh ke arah kelasnya.
......................
Di kelas, aku tidak mengajar saat ini, melainkan memberi materi apa saja yang akan diujikan. Entah kenapa aku harus melakukan ini, tapi kata mereka(para guru), test yang diujikan berbeda-beda setiap semesternya.
"Hari pertama ujian, akan dimulai dari hari senin. Tes yang diadakan adalah tes tulis. Terdiri dari sains umum, sosial umum, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan kewarganegaraan.
Hari kedua ujian, Tes fisik, terdiri dari kecepatan, kepekaan, ketahahan, dan kekuatan.
Hari ketiga, tes duel solo, tes ini antar siswa jadi ada kemungkinan kalian akan melawan teman kelas kalian sendiri.
Hari keempat, tes kekompakan, tim kalian akan dipilih secara acak dengan seluruh angkatan kelas satu. Yang akan ditandingkan merupakan permainan perebutan bendera. Setiap siswa yang bertanding nantinya akan diberi satu bendera dan mereka harus menjaganya, bila bendera kalian terambil, ambil kembali jangan sampai bendera itu berada sampai di markas lawan kalian. Kalian juga harus mencuri bendera mereka dan memasukkannya di markas kalian sendiri.
__ADS_1
Hari terakhir, Tes ini sifatnya antar kelas. Kalian akan bertarung secara bergerombol, ini yang biasanya disebut siege battle. Nantinya akan ada satu kelas yang akan menempati sebuah kastil mereka, di dalam kastil itu terdapat satu orang yang harus dijadikan raja, tugas kelas itu adalah melindungi raja mereka dari para musuh. Musuh mereka adalah kelas yang melakukan penyerangan. Kemenangan akan tergantung apakah raja dari pihak pelindung bisa bertahan sampai waktu habis apa tidak.
Sampai sini, ada yang ditanyakan?"
Aku menjelaskan di depan murid-muridku tentang apa saja yang akan diujikan. Ujian akan berlangsung 5 hari, itu artinya seminggu penuh karena sabtu dan minggu itu hari libur.
"Pak, apa aku boleh bertanya?" Seperti biasa, selalu saja Moka duluan yang bertanya.
"Tanya apa, Moka?"
"Soal hari terakhir, apa maksudnya dengan kastil? Di sini tidak pernah ada kastil." Moka bertanya sesuatu yang memang harus ditanyakan.
"Saya juga pak!" Stevent mengikuti untuk bertanya. "Apakah hanya regu yang bertahan saja yang punya raja?" Tanyanya.
Sudah kuduga bagian terakhir akan jadi yang paling sering ditanyakan.
"Saya ikut tanya!" Sekarang siswa gemuk itu yang bertanya. "Apakah para peserta yang kalah saat bertarung di siege battle harus keluar dari area? Bukankah itu malah kelihatan memberikan kesan sepi?"
Para murid mulai bertanya.
"Apakah tidak ada lagi pertanyaan?" Aku menoleh ke arah mereka semua secara perlahan.
Tak kusangka, ada satu siswi berkacamata mengangkat tangannya untuk bertanya.
Aku dengan refleks menatap ke arahnya. Dia memiliki aura yang kuat, tapi sayangnya penampilan culunnya menutupinya. Bahkan akupun tidak menyadari aura itu.
"Kapan penilaian moralnya?" Dia menanyakan sesuatu yang bahkan para muridku lupa tanyakan.
Padahal mereka sudah dapat petunjuk utama ujian, tapi mereka malah melupakannya. Untung saja siswi ini mengingatkannya.
Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku.
"Aku akan jawab satu-satu.
Soal kastil, para siswa akan menggunakan rumah kerajaan dari Keluarga Tyas."
Para murid tiba-tiba terdiam, mereka menatapku dengan tidak percaya.
"Bohongkan?! Maksudmu kastil yang itu?!" Stevent berdiri dengan terkejut.
"A-anu apakah tidak apa bila kita tidak sengaja menghancurkan beberapa propertinya?!" Gita mengangkata kedua bahunya.
"Tenanglah, kastil iku akan dalam keadaan kosong. Jadi hanya ada dinding dan tirai yang ada di sana!" Aku menjawab pertanyaan Gita.
"Apa sudah paham?!" Aku menatap mereka semua.
Namun tak ada jawaban selain keterkejutan. Ini akan kuanggap untuk 'Silahkan teruskan.'
"Kalo begitu, untuk pertanyaan Stevent, ya hanya tim yang bertahan yang punya raja. Tim penyerang memiliki yang namanya komandan namun bila mereka gugur sekalipun, itu tidak akan bermasalah buat jalannya pertarungan." Pertanyaan Stevent sudah kujawab.
"Dan untuk pertanyaan dari…" Aku membuka daftar namaku untuk mencari nama anak itu. "Ah, untuk pertanyaan dari Camal. Ya, kastil akan terlihat sangat sepi bila petarung semakin banyak yang gugur. Tapi bukannya itu akan membuat pertarungan menjadi leluasa?!" Aku menatap Camal dengan senyum semangat.
"Leluasa, maksudnya?" Dia balik tanya.
"Pertarungan bila kalian semua satu kelas dalam satu tim, maka kalian akan semakin kacau. Jalannya pertarungan akan agak sulit karena kalian harus meminimalkan yang namanya friendly fire. Tapi semakin lama pertarungan, maka akan semakin sedikit yang bertarung dan kesulitan kalian akan semakin longgar karena tidak perlu takut mengenai teman sendiri." Aku sudah menjelaskannya.
Camal hanya mengangguk mengerti dan duduk kembali.
"Dan soal pertanyaan terakhir, apa kalian kira moral kalian akan diuji saat waktu ujian...? Tentu saja tidak, ujian moral sudah berlangsung sejak awal semester. Dan kalian seharusnya sudah mengubah sikap kalian sejak awal aku memberi tahunya!" Aku menatap mereka dengan kecewa.
Aku tidak akan menyangka kalau mereka tidak tahu yang disebut penilaian moral.
Para murid kembali kaget dan menatapku dengan ketakutan.
Sudahlah, ini sudah terjadi, bagaimanapun juga aku sudah mengingatkan mereka meskipun terlambat.
...----------------...
Saat sepulang sekolah, salah satu muridku ingin bertemu denganku.
__ADS_1
"Ada apa, Stevent?" Tanyaku padanya yang sedang senden di tembok.