
Hari ini aku tidak berangkat ke sekolah, melainkan ke kantor bupati. Dengan menaiki bis, aku sampai di sana tepat waktu.
Saat berjalan melewati lorong, ada orang berpakaian formal dan berambut panjang. Kami berpapasan tanpa saling menyapa.
Sampai akhirnya, aku tiba di depan pintu ruangan bupati.
Tok tok tok
Suara pintu yang kuketuk.
"Masuklah!" Nova mengijinkanku masuk.
Aku tampak muak setelah dapa panggilan darinya. Bahkan sebenarnya aku tidak mau datang karena baru tidur setelah melanjutkan mendengar dokumen darinya. Sekitar pukul 3 pagi aku baru tidur. Tapi dia dengan pintar membuatku ke sini dengan inisiatifku sendiri. Sayangnya mataku sekarang sedang sangat mengantuk.
Dia bilang kalau pertemuan ini akan ada hubungannya dengan sekolahku. Nyawa murid menjadi taruhannya bila aku abai dengan peringatan nenek itu. Dia merupakan sumber informasi yang mutlak.
"Jadi, ada masalah apa?" Aku berjalan maju melewati pintu sampai berhenti di depan meja nenek itu.
Seperti biasa, Nova lebih suka menatap pemandangan kota Ningru dari balik curtain wall itu. Aku mengabaikannya yang tidak menatapku sama sekali, saat dimana dia adalah orang yang seharusnya menerima tamu.
"Mereka sudah bergerak..." ucapnya pelan sambil menatapi pemandangan.
Dia tidak pernah memberi informasi yang jelas. Aku selalu disuruh untuk cepat paham maksud dari perkataannya. Ini dulu juga merupakan bagian latihanku saat bekerja di bawah komandonya.
Aku meluruskan pandanganku ke kursi kosong itu dan memasang wajah serius. Dia memberikan sebuah informasi yang kubutuhkan meskipun samar.
'Mereka sudah bergerak' itu sudah menjelaskan semua hal yang terjadi saat aku pulang malam dari sekolah tadi malam.
"Jadi, apa maumu?" Tanyaku.
Dia pasti menginginkan sesuatu dari mereka. Tidak mungkin dia tiba-tiba mau menolongku menjaga reputasi sekolah itu.
"Batu akik panca warna." Nova mengucapkannya dengan perlahan menutupkan matanya.
Aku pernah dengar kata-kata itu dari Haran kemarin. Jika tidak salah, batu itu punya kekuatan yang kuat sehingga Haran ingin menelitinya.
Namun, ada juga satu hal yang sangat berbahaya dengan batu itu. Aku bahkan terpaksa menolak permintaan Haran untuk mencurinya.
Batu itu tersimpan di dalam penjagaan keluarga Tyas. Tidak usah tanya bagaimana penjagaannya? Benda itu pasti dijaga dengan penjagaan super ketat bahkan pengguna Anitya dan Pageblug terkuat sekalipun tidak bisa menembusnya.
Kalau aku mencoba menembusnya sebenarnya bisa saja, tapi jika membantai mereka semua hanya untuk mengambil batu itu. Jelas aku akan jadi buronan seluruh Nusantara setelah melakukannya.
"Jadi, kau mau rahasia Anitya tidak terbongkar, kan?" Aku mengatakan tepat pada poin utama pembicaraan.
Nova yang sudah terbiasa dengan kelakukanku hanya mengangguk pelan.
Keberadaan mereka yang mengetahui kekuatan batu itu selain Keluarga Tyas akanlah menjadi sangat berbahaya. Bahkan pemerintah tidak akan segan-segan membuat mereka tutup mulut dengan berbagai cara.
"Apakah aku harus menuntaskan sampai akarnya?" Tanyaku sambil melihat rendah nenek itu.
Namun bukan sebuah teguran yang kudapat setelah mengatakannya. Melainkan senyuman iblis dari nenek itu.
Dia akhirnya menatapku dengan menggunakan tatapan itu.
"Lakukanlah, bantai mereka! Jika mereka mati sekalipun, para warga malah akan senang karena para konglomerat serakah mulai berkurang!" Ucapnya dengan nada yang menakutkan.
Dia selalu menggunakan sifat warga yang bodoh untuk mengelabuhi para petinggi. Kepintarannya dalam memanipulasi orang-orang Ningru sangatlah mengerikan. Bila ada satu saja orang yang mencoba menghianatinya, maka satu Kota Ningru akan dibuat melawan sang penghianat itu.
"Kau tahu, kan, aku sekarang bukanlah bawahanmu?" Aku menghelan nafas dan menatap risih nenek itu.
__ADS_1
"Tentu... tapi saat ini sekolahmu dan muridmu dalam bahaya. Apa kau mau membiarkannya?" Nova memojokkanku.
"Kau tidak pernah berubah sama sekali. Sekali lagi aku jelaskan, aku... tidak... akan... membunuh... lagi...!" Ucapku kesal sambil mengangkat jariku ke arahnya.
"Baiklah, bila itu pilihanmu. Maka aku akan diam saja, melenyapkanmu saat ini tidak akan membuatku merasa senang!" Nova menyetujuinya dengan santai.
Dia mengangkat tangan kanannya dan ditunjukkan ke arahku. Dia mencoba memberikan sebuah dorongan kuat ke arahku.
"Aku bisa keluar sendiri!" Aku memotong sihirnya dan pergi dengan sendirinya.
Dia kesal karena aku memotong sihirnya, tapi sayangnya Nova tidak bisa berbuat banyak.
Aku merasakan hal aneh darinya. Bukannya dia seharusnya punya kekuatan yang melebihiku? Kenapa dia diam saja kalau begitu? Dia sangat terlihat tidak berkutik setelah mendengar pilihanku.
Tapi aku sepertinya hanya menari di atas telapak tangannya. Mau bagaimanapun, minggu depan mereka(orang-orang yang ingin mencuri batu akik panca warna) akan datang ke sekolah dan mencoba memaksa Putri Tyas untuk mengeluarkannya.
Aku hanya bisa mendecikkan mulutku saat menyadarinya.
Karena perkataan Nova, aku yang tadi minta ijin ke sekolah untuk tidak mengajar di minggu ini karena ada urusan penting malah membatalkannya.
'Dan aku berakhir ke sekolah ini lagi.' Aku menatap gerbang sekolah dengan wajah yang mengantuk.
'Tunggu, bukannya aku bilang besok, ya?' Aku memegangi daguku sambil mengingat-ingat.
'Pergi ke kota sebentar saja.' Aku memaksa diriku untuk meninggalkan sekolah itu.
Sebuah suara dari balik pagar tiba-tiba terdengar dan mengalihkan pandanganku.
"Kau, kau dasar tidak becus! Masa begini saja tidak bisa?" Suara Stevent terdengar dari pagar itu.
Dia terlihat memarahi pelayan itu.
Entah kenapa, minat dalam diriku untuk campur semakin meninggi. Aku mencoba menguping pembicaraan mereka.
Dia benar-benar yang disebut orang-orang dengan mental batu. Meskipun sudah di caci berapa kalipun, mentalnya tetap normal. Bahkan masih bisa tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ingat ya, meskipun kau menjadi pembantuku karena kakakku! Tapi akulah yang tetap memegang nasibmu saat ini!" Stevent mengatakan itu dengan nada atasan yang mencaci maki.
Hakam tidak terkihat merespon sama sekali. Apakah dia sudah sampai batasnya? Aku mencoba mengintipnya, dan mendapati sebuah pemandangan di mana Hakam benar-benar terdiam oleh sebuah cacian.
Tidak ada yang aneh dari kejadian itu, tapi dilihat dari raut muka Hakam. Dia terlihat sudah merasa muak dengan sikap Stevent.
"Ingatlah, ini akan menjadi permintaanmu yang terakhir! Setelah itu, aku akan keluar dari sini! Aku bisa kerja dalam tekanan bukan mati untukmu!" Hakam memaki balik atasannya lalu pergi.
Mereka berdua belumlah dewasa dan masih labil. Tapi menurutku, Stevent memang sudah kelewatan.
Apa yang dia katakan atau perintah sehingga membuat Hakam sangatlah marah?
Stevent yang melihat amarah Hakam hanya bisa terdiam membeku. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Matanya yang berkaca-kaca terlihat di balik kacamatanya.
Merasa kalau ini adalah tugasku, aku mencoba melompati pagar sekolah dan mendekati pangeran itu.
"Kenapa?" Tanyaku yang perlahan mendekatinya.
Stevent menatap kaget kedatanganku. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan kedatanganku yang tiba-tiba.
"Kau selalu datang tiba-tiba... Apakah kau seorang malaikat?" Stevent mencoba bercanda dalam sedihnya.
"Kau lemah..." ucapku mengejeknya dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Stevent yang masih memegang ego-nya langsung mengaktifkan pageblugnya. Sebuah pedang kerajaan yang bersinar terang diayunkan ke arahku.
Ting!
Aku menahannya dengan tanganku yang sudah menjadi keras bagaikan batu.
"Seseorang yang peduli denganmu malah kau buat meninggalkanmu..." Aku semakin membuatnya emosi.
Dia memberiku ayunan pedangnya lagi.
TANG!
Masih seperti sebelumnya, aku menahannya dengan cara yang sama.
"Tau apa kau dengan kepedulian?!" Stevent menatapku dengan raut muka yang kesal.
TRANG!
Ayunan pedang kembali ditebaskan ke arahku.
"Orang yang bahkan bisa mengalahkan lawannya dengan senyum psikopat! Mana bisa paham?!" Stevent mengaktifkan elemen cahaya ke pedangnya dan bersiap menusukkan pedangnya.
Melihat hal itu, aku bersiap membuat dinding tebal dari tanah.
BRUKKK!
Pedang itu menusuk dinding tebal itu dan tersangkut.
"Apa yang kau mengerti tentang rasa peduli setelah kau mencampakkan dua orang yang menyayangimu demi orang yang tiba-tiba datang dalam hidupmu!" Stevent mencabut pedangnya yang tersangkut dengan menggunakan emosi sebagai kekuatannya.
SLASH SLASH SLASH!
"Kau bahkan tidak bisa berekspresi dengan benar! Wajahmu yang aneh sungguh membuatku muak!" Dia menebaskan pedangnya dari kejauhan dan membentuk 3 gelombang cahaya yang berbaris melesat ke arahku.
Kali ini aku membiarkannya mengenaiku. Serangan tadi hanyalah sehelai kertas bagiku.
Stevent menatapku dengan tidak percaya. Keringat mulai turun di mukanya. Langkah mundur mulai dia lakukan.
"Aku memang orang seperti yang kau katakan!" Aku mengakui semua yang dia katakan.
Semua itu benar, aku tidak pernah berekspresi dengan baik, berdarah dingin, berhati batu, dan mengejar segala hal demi uang yang bahkan tidak tahu mau kupakai untuk apa.
Aku mengeluarkan pedang dari sihir tanah dan ku arahkan ke Stevent. "Tapi orang-orang masih bisa berkumpul di sekitarku!" Aku mengungkapkan sebuah fakta ke arahnya.
"Mereka masih menganggapku ada, dan bukan hanya sebuah NPC yang tidak berguna dalam sebuah game!" Ekspresi datar tapi bernada nyaring kulontarkan padanya.
Saat itu juga, Stevent melihati sekitarannya dan membayangkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Namun kenyataan tidak bisa ditutupi. Meskipun dibayangkan sekalipun, tidak ada orang yang bersamanya.
Dia mulai berkeringat dan menatap tajam diriku. Sebuah bayangan dari orang-orang yang dekat denganku mulai terbayang di matanya.
Merasa tidak bisa melawan, Stevent tertunduk dan menangis. "Lalu apa yang bisa kulakukan? Aku harus seperti ini! Jika tidak, mereka malah tidak menganggapku ada dan hawa keberadaanku tertutup oleh kehebatan kakakku!" Dia menangis sambil mengatakan alasannya.
Aku perlahan mendekatinya yang masih berlumuran air mata. Kedua bahunya kupegang rapat.
"Pertama-tama, mintalah maaf terlebih dahulu..." Aku mengatakn itu dengan datar.
Stevent menatapku dengan penuh harap.
Mengisi waktu luang sebelum ujian dengan ini, mungkin akan membantuku.
__ADS_1
"Aku akan membantumu, menjadi bintang!" Sebuah harapan besar kuberikan padanya.
Semoga saja tidak terganggu oleh para sisi gelap yang akan datang ke sekolah ini.