
"Rasyid?! Kenapa melamun terus, ayo makan... Nanti dingin lo~." Suara seorang wanita membangunkanku dari melamunku.
Dunia di sekitarnya terasa putih, ini seperti mimpi, kan?
Aku melihat 2 orang siswi di depanku yang sedang duduk bersamaku.
"Kalau Rasyid gak mau, buat gue aja!" Dengan cepat, wanita satunya lagi mengambil makanan yang seharusnya diberikan kepadaku.
"Hey Salwa, itu seharusnya untuk Rasyid! Kenapa malah kau yang makan?!"
"Sori-sori... Habisnya udah gak tahan sih," ucap wanita itu sambil memggaruk rambutnya.
"Ya sudahlah, ini ada yang lain buatmu, Syid!"
Wanita itu memberiku sebuah makanan lain yang berbeda dari yang tadi. Sebuah wajah dan senyum yang manis menemani makanan itu.
"Rasyid?! Kenapa hari ini elu kayak aneh banget!"
"..." Aku tidak mengerti maksud 'aneh' dari perkataan Salwa.
"Tuh, kan! Apa elu kena masalah?!"
"Sudahlah, Wa! Rasyid mungkin agak bingung sekarang~."
"Hmm(menunduk)... Benar juga. Dia yang biasanya seperti DUWA BWA AOWKAOWKOK, tapi yang sekarang seperti gurita yang selalu melempar bintang laut dan spons keluar rumah."
"Tenanglah, aku sudah paham betul bagaimana Rasyid ini... Mungkin saat ini dia sedang-"
Suara wanita itu tiba-tiba terhenti dan memerah.
"Bukan apa-apa." Wanita itu menghentikan kalimatnya.
"Dasar 12054, selalu kayak gitu, Gaje-an orangnya!"
"Kenapa? Mau ngajak gelut?! Heh!" Wanita itu berkacak pinggang pada Salwa.
Aku yang duduk di antara mereka berdua merasa terganggu.
"Kalian berdua, apakah bisa tidak mempersalahkan masalah kecil?"
"Masalah kecil?!"
"Masalah kecil?!"
Ucap mereka bersama-sama.
Teriakan tadi benar-benar membuatku langsung takluk dan tak berdaya.
'Tak berdaya?'
Aku menyadari sesuatu, ini adalah keanehan.
Saat kulihati telapak tanganku, tak ada satupun luka maupun kekasaran terbekas di sana.
'Ini salah!'
'Ini bukan tempatku!'
'Aku seharusnya bukan di sini!'
Tiba-tiba, baik Salwa maupun wanita yang satunya lagi yang sedang berkelahi di antaraku menjadi bewarna putih dan...
PYARRR!
Bagaikan kaca yang pecah, mereka semua hancur berkeping-keping.
Dengan melihat itu saja sudah mengingatkanku pada siapa aku sebenarnya.
"Aku tidak bisa menyelematkan mereka berdua..." Kata-kataku terdengar konstan dan terbawa angin lebat yang meniup kuat rambut beserta seragam sekolahku.
"Aku ke sini bukan karena ingin melihat mereka, namun kabur dari kenyataan!"
"Tapi seseorang pernah bilang padaku, aku tidak sendiri! Bila aku gagal, setidaknya aku tidak sendirian mengalami sedih itu! Seseorang akan datang..."
Sesaat setelah itu, mataku menajam ke arah dunia yang semakin menyusut ini.
"Selamat tinggal! Diriku yang pengecut, suatu hari... Aku akan kembali, dan berbicara dengan mereka secara benar, bukan untuk kabur dari kenyataan!"
......................
Mataku terbuka, dan sebuah lampu cerah terlihat di mataku.
Saat kurasakan menggunakan indra perabahku, aku terbaring di sebuah kasur yang berbau khas.
__ADS_1
Ini, bau rumah sakit.
'Lagi-lagi aku melihat langit-langit ini.'
"Cupu! Kau akhirnya bangun!" Seseorang yang asing memanggilku di sebelah kasur itu.
Bila tidak salah dia adalah...
"Ryan?"
"Hmm... Aku pikir kau akan mati, ternyata tidak! Kau kuat seperti biasa, Rasyid Londerik!"
Itu senyum memberi selamat? Atau mengejek?
Oh ternyata begitu, sekarang semua jelas.
Kata 'cupu' adalah panggilan orang ini padaku saat itu.
"Dasar payah, kenapa kau bilang hal yang sangat kejam padaku?" Aku bergurau.
Di tertawa kecil seperti sedang tersedak.
"Heh, anggap saja ini adalah hadiah atas kembalinya dirimu ke dunia."
"Dunia?" Aku mencoba bangkit dari kasurku.
"Ya, kau perlahan mulai mengingat dunia layaknya dulu!"
"Aku tidak paham maksudmu..."
Aku menatapi selimut kasur yang menutupi tubuhku.
"Itu tidak penting, yang terpenting saat ini adalah... Selamat datang kembali, Rasyid!"
Aku merasa berat.
Aku belum boleh menerima itu.
Tanpa kusadari, air mataku mengalir ke bawah.
Tak selang lama setelah melihat itu, Ryan yang ada di sampingku mengangkat badannya dan berdiri dari tempat duduknya.
"Aku dengar... Kegilaan yang kau lakukan saat di hutan." Matanya menatap ke arah luar jendela.
"Kedua muridmu, Camal dan Julia..." (Ryan)
"Dan wanita itu... Bawahan dari Gubernu Dawa Timur, Pak Halim." (Ryan)
Aku merasa terkejut saat mendengar nama pak tua itu.
"Hah? Dia bawahannya Pak Halim?"
Aku merasa nadiku mengencang dan panas.
"Sebaiknya kau tahan itu!"
"Kenapa?!"
Aku mencari alasan dari pria yang ada di depanku. Pasti ada alasan kenapa dia tiba-tiba menahanku.
"Karena aku ada di sini!"
Tiba-tiba suara dari pak tua itu terdengar di pintu ruangan itu.
Taik lalat di wajahnya membuatku merasakan kejahatan dalam dirinya.
"Maafkan aku, tapi itu adalah keinginannya," ucapnya sambil berjalan ke depan kasurku.
Saat ini kami saling menatap satu sama lain, layaknya rival yang ingin saling membunuh. Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kapan saja.
"Salwa melakukan ini atas kemauannya sendiri!"
"Kau pasti bohong!" Ucapku memekik orang itu.
"Aku tahu anda pasti tidak akan percaya, namun bila aku memberimu satu bukti ini pasti kau akan percaya!" Dia memperlihatkan sebuah kotak rekorder di genggamannya.
"Dengarkanlah!" (Halim)
CTAK
Suara rekorder dimulai.
"Aku membencimu, Syid!"
__ADS_1
"Karenamu, Rosa menjadi seperti itu!"
"Karenamu, Rosa jatuh kejurang kegelapan!"
"Dia bisa saja diselamatkan bila kau peka!"
"Namun apa kenyataannya?! Kau malah kabur, orang itu terus meminumkan Rosa dengan obat perangsang setiap harinya!"
"Aku ingin menolongnya, namun aku tidak punya kekuatan!"
"Orang yang ada dibaliknya punya kekuatan, dan bila aku menyerangnya, maka aku mungkin akan bernasib sepertinya!"
"Tapi... Tapi kenapa?! Kenapa kau diam saja?!"
"Orang dibaliknya adalah orang yang dekat dengamu! Kenapa kau tidak menyadarinya?!"
"Seandainya kau dengan cepat membuka kedoknya, maka Rosa(Salwa mulai menangis)... Maka Rosa seharusnya bisa selamat!"
Recorder terhenti, namun Pak Halim memberikan tekanan lain pada benda itu.
CTAK!
"Ini sudah beberapa tahun sejak kejadian Musim Panas Api, seharusnya aku bisa bertemu dengannya!"
"Orang itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak..."
"Aku ingin cepat-cepat memberi tahunya..."
"Bahwa... Sebaiknya, kau cepat-cepat melupakan kejadian itu."
"Saat kudengar dari kakaknya, kudengar katanya orang itu sangatlah menderita saat ini..."
"Penderitaan dari akibat kenaifannya saat itu..."
"Penderitaan yang memulai ini semua!"
"Kuharap, orang itu tidak terbawa ke dalam jurang yang sangat gelap yang bahkan tak ada yang bisa menyelamatkannya..."
"Jika saja... Jika saja, aku diberi kesempatan untuk bertemu dengannya... Aku ingin cepat-cepat membelainya, memeluknya dan membisikinya... Bahwa semua sudah tidak apa-apa... Maka keluarlah dari palung itu!"
Recorder terhenti.
Tak ada recorder lain yang diberikan pada Pak Halim.
"Dia bekerja di bawah perintahku selama beberapa tahun hanya untuk mencarimu! Dan saat aku bilang 'Aku tahu dimana dia.' Anak itu langsung memaksaku memberitahunya."
"Meskipun aku sudah bilang, kalau saat ini adalah saat yang berbahaya untuk menemuinya, tapi dia bersikeras untuk itu..."
"Maka aku mengiyakan keinginannya."
"Aku hanya ingin memastikan saja, apakah suratnya tersampaikan?"
Kata-kata Pak Halim membuatku tersadar maksud dari setiap perkataan wanita itu saat bertemu denganku.
~"Kau masih parnoan seperti biasa, ya?" (Salwa)~
Kata-katanya saat itu sebenarnya memberi tahukan padaku, kalau aku kembali ke dunia ini tanpa perlu bantuannya.
"Kau tidak perlu berpura-pura menangis, aku tahu kau saat ini masih belum bisa membuat tangisan yang benar." Pak Halim membalikkan badannya setelah mengatakan itu
Tapi sebelum pergi, dia menatapku untuk terakhir kalinya di ruangan ini.
"Sebaiknya saat ini kau beri salam pada mereka yang khawatir padamu!"
Dengan begitu, suara langkah kaki orang itu terdengar menjauh sampai lenyap dari ruangan ini.
Ryan yang dari tadi berpura-pura tidak mendengar di ruangan itu akhirnya bergerak.
"Kau tahu, tadi saat kau hilang, semua orang dari perkumpulan guru kelas 1 fisik bersatu untuk mencarimu!"
"Tapi sayangnya, hal itu sepertinya tidak butuhkan lagi. Kau ditemukan tepat sebelum masuk ke dalam hutan itu."
"Dan soal pesawat yang jatuh di hutan itu, aku akan tutup mulut!"
Ryan menatap ke pintu tempat Pak Halim keluar tadi.
Dia sepertinya tahu atau sudah diberitahu soal kekuatan itu.
"Besok, jangan lupa... Kau punya murid dan teman yang harus kau beri ucapkan selamat tinggal, bukan?"
Suara itu, memberiku rasa takut padaku.
Namun sebagai pelaku, aku harus bertanggung jawab atas ini semua.
__ADS_1
"Hmm(mengangguk)... Aku akan menemui mereka semua!"