Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 81. Ratu Petarung yang Murung pt.3


__ADS_3

Di tempat di mana meja berada di tengah-tengah kursi dan sofa.


Aku duduk berdampingan di samping Erika untuk melihat data yang dicari wanita itu selama ini.


Jika informasi yang dia cari berasal dari SANGKUNI, maka aku bisa pastikan, informasinya pasti valid.


KLIK


Erika menekan tombol on di laptopnya.


"Apa kau yakin?"


Sambil menunggu laptop yang lambat itu booting, aku mencoba mencairkan suasana canggung ini.


"Tentu saja, bila tidak, kenapa aku repot-repot sampai minta SANGKUNI melakukannya?!" Dia nyolot ke arahku.


"Euh..." Mendengar pekikannya membuatku terdiam 1000 bahasa.


DELED DELING!


Laptop selesai booting dan menampakkan gambar kucing yang dijadikan wallpaper.


"Selera yang bagus..." Aku tersenyum untuk mengejeknya.


"Bu-bukan apa-apa..." Dia mengibaskan tatapannya dariku sambil tersipu.


"Sudah, lupakan soal itu... Sebaiknya, aku segera mencarinya!" (Erika)


KLIK!


Flashdisk itu menancap hanya dalam satu kali coba.


Saat dilihat, ada sekitar 2 file berjenis dokumen dan video.


"Mana dulu yang kau mau lihat?" Ucapku padanya.


Hal ini mengingatkanku pada diriku yang mencari soal itu.


Mungkin setelah selesai berurusan dengannya, aku akan melanjutkan berkas-berkas itu.


"Aku lihat dokumen saja, lagipula bila aku melihat video, dan ada gambar yang aneh pasti aku akan dalam bahaya!"


"Kenapa kau berpikir aku akan melakukannya?"


"..."


"Kau ini..."


Lagi-lagi dia membuat suasana semakin aneh.


......................


KLIK!


Dengan menekan file dokumen itu, kami melihat sebuah data diri dari seseorang yang tak ku kenal.


Mungkin, dia ibunya Erika yang ia cari?


Aku sedikit melirik ke arah wajah Erika, tatapan yang dia berikan pada layar laptop itu seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Kenapa?" Tanyaku bingung.


"Ini... Ibuku, tapi ada yang aneh..."


Aneh? Apanya? Bagiku ini adalah data diri yang normal dan tidak ada kesalahan sama sekali.


"Apa yang aneh?"


"Di sini tertulis, kalau ibu sudah menikah lagi..." Dia mengatakan itu dengan nada hampa.


Bukankah itu hal yang normal? Suaminya sudah meninggal, dan anak-anaknya sudah tidak ada, maka wanita itu pasti sudah kehilangan arah.

__ADS_1


"Dia berjalan di hamparan savanna yang kosong..." ucapku lirih sambil melamun.


Mendengar itu, Erika langsung menatap aneh diriku. "Apa maksudmu, berjalan di hamparan savanna?"


Artinya agak rumit, tapi mungkin aku bisa sedikit menjelaskannya.


"Artinya, dia sudah tidak punya tujuan hidup."


"Kemungkinan, saat kabur di jalan, dia bertemu dengan seseorang yang mencintainya saat sebelum menikah, lalu pria itu memanjakannya dan membuat ibumu ketergantungan kepada pria itu..."


"Kalau dipersingkat, ibumu sudah tidak peduli lagi dengan hidup, asalkan dia bisa selamat dan membuat sebuah senyuman mentari..."


"Itu sudah cukup buatnya untuk merasa hidup!"


"Dan dari data ini..." Aku menunjuk ke bagian yang berisi data jumlah anak.


"Di bagian ini, dia dikatakan punya 2 orang anak, itu artinya dia sudah membuat keluarga baru dan melupakan keluarga lamanya..."


"Dan di sini..." Aku menunjuk ke bagian nama suaminya.


"Meskipun pekerjaan sebagai petarung liarku adalah fiktif, tapi aku tahu betul kalau nama pria ini adalah orang itu..."


Mendengar itu, Erika menatap kembali layar laptopnya dengan seksama.


"Orang itu...? Tesi Alamsyah, apakah kau mengenal nama itu?" (Erika)


"Hmm(mengangguk)... Kurang lebih, dia adalah petarung liar yang terkenal di Kota Ningru ini, dia biasa disebut sebagai Singa Api..."


"Elemen api ditambah dengan angin, dia sudah bagaikan sebuah bencana yang mengerikan bila dihadapi oleh orang amatir..."


"Singa api yang membakar siapapun di depannya." Erika mengikuti apa yang kukatan sebelumnya.


"Apakah kau mau bertemu dengannya?" Tanyaku sambil menatap wajah murung wanita itu.


Kepalanya menghadap ke keyboard laptop itu dan tak berani menatap layar ataupun wajahku.


"Jika kau mau, aku bisa membawamu ke sana."


Ada sedikit gang waktu sebelum dia benar-benar mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Apa kau yakin, dan bisa?" Tanyanya dengan penuh harap.


"Tentu saja..."


Bagiku untuk mengenal nama-nama orang yang seperti itu adalah hal yang lumrah. Orang-orang seperti Tesi Alamsyah adalah sebuah harta karun para pebisnis untuk melakukan trik-trik kotor mereka.


......................


Dalam beberapa menit, kami dengan segera meninggalkan rumah dan pergi tempat yang kuberi tahu itu tanpa memeriksa apa isi video yang ada di file itu.


Aku harap tidak ada yang terlupakan...


Suasana kembali tegang, Erika menatap jalan dengan tangan yang seperti mesin diesel yang tak mau diam.


"Erika..." Aku mencoba menenangkannya.


"Apa?"


"Bagaimana... Para murid-muridku?"


Ini adalah pertanyaan penting, meskipun saat ini tidak bertugas, tapi sebagai guru, aku akan tetap mengawasi tumbuh kembang mereka.


Mendengar pertanyaanku, Erika yang tegang kini berubah tenang, namun tenangnya itu bukanlah tenang santai melainkan tenang karena sedih.


"Mereka... agak tertekan..."


"Tapi... Saat menghampiri kami, mereka tetap mencoba sopan dan tersenyum..."


"Mereka seperti memalsukan jati diri mereka untuk mendapatkan sesuatu."


"Memang, bersikap sopan adalah sesuatu yang terpuji, tapi bila mereka malah berakting agar rasa sakit mereka hilang..."

__ADS_1


"... Entah kenapa, itu merasa menyakitkan buatku!" Erika berteriak ke arah kaca mobil.


Mendengar teriakan itu, aku hanya bisa diam melihat jalanan yang kosong dan tak berpenghuni itu.


Sepertinya, muridku salah mengartikan maksud dari kata-kataku saat itu, dan malah membuat hal aneh seperti itu.


"..."


"Jika kau bertanya bagaimana mereka bertarung di ujian duel saat itu, mereka masihlah normal... Lemah seperti biasa, bahkan Sophia yang kuat sekalipun malah kalah bertarung melawan kelas fisik lainnya..."


Erika memijit-mijit dengan kuat stir mobil itu, wajahnya seperti sedang mendung yang akan diguyur hujan lebat.


"Apakah karena kejadian itu..."


"... Mereka melemah lagi?"


"Saat itu, mereka sudah menunjukkan adanya pertumbuhan dari biasanya."


"Belum lagi, saat setelah kemenanganmu bertarung di Penilaian Guru saat itu, mereka malah makin semangat seakan tidak ada lawan yang kuat untuk menghantam mereka..."


"Tapi kini, semua itu hilang, mereka putus asa dan kehilangan niat mereka untuk bertarung..."


"Mereka seperti takut..."


"Takut mati..."


Aku terus mendengar ocehan Erika yang tak henti-henti.


Tapi ini semua terjadi karena kesalahanku, aku tidak boleh diam saja.


Meskipun di luar sekalipun, pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan saat ini.


......................


Mobil berhenti tepat di bawah jalan layang, di sana terdapat kerumunan orang-orang yang berkumpul untuk melihat pertarungan liar.


Selain menonton, mereka juga ingin mendapatkan uang dengan hasil taruhan mereka.


Jika tebakan mereka benar, maka mereka akan untung besar namun bila kalah...


Tidak usah ditanyakan.


"Ayo turun..." (Erika)


Aku mengangguk dan ikut keluar dengannya.


Saat di jalan, aku melihat sebuah warung yang menarik perhatianku.


Warung yang dipenuhi dengan warnah hijau itu seakan menarik kakiku agar ke sana.


"Kau mau ngopi dulu?" Erika memperhatikan gerak gerikku.


Aku menoleh ke arahnya dan menatap ngantuk wanita itu.


"Ya..."


"Ha(menghela nafas)... Apa boleh buat, kau sudah bekerja sejak pagi dan langsung kutarik ke masalahku..."


Dengan begitu, kami berdua berjalan ke arah warung di dekat kerumunan orang itu.


Terlihat ada banyak orang-orang kekar yang sedang duduk di sana sambil menyantap kopi mereka.


"Permisi... Aku pesan kopi hitam 2!" Aku memesan dengan mengetuk-ngetuk pelan meja pelayan itu.


Saat mendengar pesananku, pelayan itu berbalik dan menampakkan wajahnya.


Mataku dan Erika yang mengantuk kini tebuka lebar seakan jadi kopi alami saat melihat wajah itu.


"Moka?"


"Pak Rasyid... Dan... Bu Erika" Dia tersenyum kecut pada kami berdua.

__ADS_1


Bodohnya, kami saling menatap curiga satu sama lain, meskipun kami berdua melakukan hal yang salah saat ini.


__ADS_2