
Mereka semua menatapku dengan wajah yang bertanya-tanya. Sebenarnya mereka sudah paham apa kataku, tapi sepertinya mereka masih tidak mau mengakuinya.
"Sekali lagi aku tegaskan, ini adalah pertarungan antar tim! Kalian harus membantu satu sama lain, buka hanya dengan teman yang sudah dekat dengan kalian. Melainkan juga yang belum atau asing dengan kalian!" Mataku di mulai menoleh dari Sophia ke Stevent ke Astra, dan diakhiri ke Maul.
Kesunyian masih mendatangi tempat itu.
"Lalu apa yang harus kami lakukan?!" Stevent bertanya padaku.
Aku menatap tajam ke arahnya. Dia seperti serius ingin menyelesaikan ini.
"Bukannya kalian yang harus mengetahuinya sendiri?" Aku menatap mereka dengan rendah.
Kegelapan ada pada mereka. Mereka saat ini masih belum mengerti apa yang kumaksud.
'Apakah aku harus membuat mereka semakin ke menghitam?' Erangku dalam hati.
Membuat hati yang redam menjadi berkobar memang sebuah jalan yang bagus. Namun bila orang yang membakarnya tidak dengan cerdas melakukannya. Maka api itu juga akan mengenai sang pembakar.
Tapi bila aku tidak melakukannya, maka mereka akan ada dalam dasar dunia dan tidak akan pernah mencoba mendaki.
Seperti yang pernah kakakku lakukan padaku. Aku harus memaksa mereka untuk mendaki dari dalam jurang itu untuk naik ke atas.
"Diamlah saja terus! Dan tetaplah menjadi orang melarat! Yang kesulitan nantinya juga hanya kalian!" Aku mengatakan sesuatu yang tak pantas sebagai guru.
"Hey Rasyid! Jaga mulutmu!" Bahkan Vicky yang dari tadi bersembunyi sampai keluar dari perisainya dan menegurku.
Ini hanya bagaikan provokasi. Jelas akan ada yang kena dan tidak, dan bisa juga malah salah sasaran.
'Menyusahkan saja...' Aku mengepal tanganku.
Hanya bisa menghela nafas, aku mencoba menatap Vicky dengan tatapan rendah.
Aku harus mengubah karakterku. Diriku yang biasanya akan kuubah menjadi layaknya tokoh-tokoh dalam serial superhero. Raut mukaku harus terlihat meyakinkan.
Aku memulainya dengan mencoba membuat senyum yang agak licik. Mataku kusipitkan dan tanganku menunjuk ke arah guru itu.
"Ha...?! Kenapa?! Apakah aku salah?! Bukannya kau sudah paham itu, Vic?! Orang yang tidak bisa bekerja sama dengan orang yang selain dia temani adalah kegagalan. Dan kegagalan hanya akan jatuh kejurang hukum Nusantara!" Aku menatap tajam Vicky.
Meskipun begitu, aku masih tidak terbiasa dengan ini. Tanganku yang kubuat menunjuk terlihat bergetar. Tapi beruntungnya, para murid dan Vicky sekaligus tidak bisa melihat getaran itu.
Melihat sikapku yang tiba-tiba berubah membuat Vicky terlihat marah. "Apa yang saat ini kau rencanakan, Syid?!" Dia berteriak ke arahku.
Bukannya takut, aku malah mencoba melebar mataku dan membuatnya semakin seram.
"Apa kau tahu...? Ini seperti membuat sebuah telur... Ah... Lupakan saja...!" Aku tidak boleh memberi tahu rencanaku.
Tapi sebagai guru Podoagung yang sangat cerdas dan bijak. Vicky menyadari maksudku dan melangkah mundur.
"Apapun yang kau lakukan, Syid... Berhati-hatilah, jika kau selalu melakukan itu... Maka kau akan berakhir sendiri." Langkah mundur Vicky terdengar bersamaan dengan ucapannya.
"Tenanglah..." Aku menutup mataku dengan perlahan.
Aku tidak takut sendirian, karena itu sudah makananku selama 6 tahun ini. Meskipun sendirian sekalipun, aku tidak keberatan.
KRAKKKK!
Tiba-tiba dalam diriku aku merasakan sesuatu.
__ADS_1
Aku menyadari sesuatu saat merasakan perasaan ini. Ini adalah perasaan yang sama seperti saat itu.
'Apakah aku kembali ke angka 0? Padahal saat itu, aku sudah merasa tidak ingin kesepian. Namun sekarang aku kembali tidak merasa takut saat kesepian.' Aku memegangi keningku.
Aku ingin berteriak, namun ini bukan saatnya. Ada beberapa siswa yang minta diajar. Setidaknya aku harus menyelesaikan ini terlebih dahulu.
Aku mengambil nafas panjang. Waktu seakan berjalan lambat di sekitarku. Aku mencoba menganalisa setiap murid yang ada di pertarungan ini.
Dari mereka yang gagap akan perintah, sampai yang sulit mencari teman. Semua jenis itu terkumpul dalam satu tempat.
Saat sudah kurasa cukup, aku melepaskannya dan waktu berjalan kembali normal.
Mataku tertuju pada Moka dan Hakam.
"Ayolah, apakah kalian hanya terdiam saja setelah mendengar itu?!" Aku menatap mereka dengan wajah yang mengejek.
Mereka masih tidak bergerak. Apakah ini juga termasuk dari bawaan tempat asal mereka?
Tapi bukannya Hakam sudah pindah, sedangkan untuk Moka aku masih tidak tahu. Mungkin ini yang disebut, kebiasaan lama sulit dihilangkan.
Maka bila begitu, aku juga harus menghancurkannya.
"Mau sampai kapan kalian berdua mengikuti aturan desa bodoh kalian?! Bukannya kalian tahu? Jika kalian terus mengikutinya maka kalian hanya akan menghancurkan diri kalian sendiri! Terkadang di Nusantara ini kalian harus pintar-pintar melawan hukum, bukan menjadi tahanan hukum!" Aku mengatakan sesuatu yang membuat mereka semua panas.
Namun yang paling tersinggung adalah mereka berdua. Karena memang asalnya ini kulakukan untuk membuat api di dalam diri mereka terbakar dan membara.
"Ayo?! Diam saja?! Kalian berdua tidak lebih dari budak yang setia bila begitu terus!" Aku terus membakar mereka.
Mereka masih belum bergerak. Saatnya menabur minyak.
TING!!!
Sebuah halberd dengan cepat mengarah ke arahku.
Beruntungnya aku dengan cepat membuat sebuah perisai dari sihir tanah.
Tatapan Hakam sangat mengerikan namun juga ingin menangis. Dia seperti terlihat menderita karena kalimatku.
Sial, aku terlalu berlebihan.
Tak lama kemudian, ada serangan susulan yang mendatangiku dari samping kiri.
Matanya tajam dan niat membunuhnya sangat terasa.
Moka menebaskan salah satu pisaunya ke arahku.
SLEB!
Benda itu berhasil menusukku, namun seperti yang biasanya terjadi.
Hal ini malah membuatku senang. Jarang sekali ada benda tumpul yang dapat menebasku sampai dalam.
Tapi aku dengan cepat tersadar dan menahan serangan kedua dari Moka dengan menggunakan tanganku yang satunya.
PRAKK!
Tanganku dan pisaunya saling bertabrakan dan terpental.
__ADS_1
"Keparat Kau!" Moka mencoba menarik kembali pisaunya yang tertusuk di perutku dan melepaskan sihir angin di pisaunya.
"Sudah kubilang. Kalian semua tidak akan bisa menang, jika kalian hanya mengandalkan orang yang sama atau diri sendiri!" Aku menatap Moka dan Hakam yang dekat denganku.
Dari mereka semua, lagi-lagi hanya Gita dan Maul yang memiliki inisiatif menyerang.
WUSHH!
Dua buah fireball melesat ke arahku secara berdampingan.
Aku yang melihat datangnya serangan hanya perlu menggeser kepalaku sedikit dan kedua bola api itu melewatiku tepat di antara kepalaku.
"Kalian semua! Cobalah sekali lagi, cobalah melakukan seperti yang Gita dan Maul lakukan!" Aku mengatakan itu sambil mengangkat kedua tanganku ke atas.
Sebuah sihir tanah yang sangat tebal sedang akan kukeluarkan.
"A-apa itu?!" Sophia menatap bingung.
'Aku harus bisa menghadapi ini, bila tidak, nanti usaha dari guruku akan sia-sia!' Stevent yang menyadari ini semua karena dirinya.
Dia akan membuat dirinya berhasil melewati ini. Ini adalah ujiannnya, bukan ujian yang lain. Tapi kelihatannya dia mengira kalau aku melakukannya juga untuk murid yang lain.
"Bersiaplah! Ini semua akan mengacaukan formasi yang kalian buat!" Gita dengan cepat berteriak karena melihat sebuah pasir yang mulai mengumpul di tanganku.
Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia tahu apa niatanku.
Sebuah sihir badai pasir kulepaskan dan mengenai seisi tempat. Setidaknya sihir ini tidak akan mengenai orang-orang lain yang ada di sekolah.
Sihir ini akan memisahkan mereka semua, dan mereka akan dipaksa bertarung bersama orang yang kurang begitu akrab dengan mereka.
Pertarungan ini, akan kusebut Unknown Sandstorm Battle!
Marilah murid-muridku, berdansalah di dalamnya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Syid!" Vicky berjalan ke arahku dengan menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
"Tenanglah, ini tidak akan berbahaya." Aku mengucapkannya dengan tersenyum.
Sementara itu, di dalam badai pasar.
"Di mana ini?!" Stevent berjalan ke sekitaran.
Badai pasir menutupi pandangannya.
"Oh?" Suara seorang perempuan terdengar di dekatnya.
"Kau! Siapa?!" Stevent mencoba mendekat ke sumber suara.
Saat siluet itu semakin dekat, seorang siswi berambut dengan ikatan dua buah bola mendatanginya.
"Dahlia?!"
"Stevent?"
Pertarungan untuk merebut bendera dariku baru akan dimulai.
Mereka harus bisa kompak, bahkan dengan orang yang tidak begitu mereka kenal.
__ADS_1