
Suara mobil terdengar keras sedang melaju di tengah-tengah jalan tanpa menghiraukan lalu lintas. Mobil itu melaju kencang di sunyinya jalanan. Bagaikan tanpa teman, mobil itu berjalan sendirian sambil berlarian mengejar sesuatu.
"Kenapa mereka semua melakukan hal gila?!" Widodo memukuli stir mobil yang dia stir.
Suara 'buk!' terdengar sangat keras sampai membuat suasana tegang di dalam mobil semakin memanas.
"Tenangkan pikiranmu, Widodo! Kita sedang di dalam mobil! Bila kau tidak tenang, kau mungkin akan berakhir mencelakai kami semua!" Tesi yang berdiri di sampingnya mencoba untuk menenangkan pria besar itu sambil mengelusi punggungnya.
"Bagaimana suasana tidak jadi panik, kalau mereka malah mencoba membangunkan sesuatu yang lebih mengerikan dari Rasyid?!" Haran yang berada di kursi belakang hanya bisa memegangi kedua lengannya sambil bergemetaran.
Wanita itu tahu apa yang akan terjadi bila mencoba menganggu orang itu secara gemeruduk. Bisa dipastikan, kalau nenek itu pasti akan terlibat.
"Sekarang bahkan Kak Haran pun ikut ketakutan?! Apakah apa yang akan terjadi di depan sana sangatlah mengerikan?!" Tasya yang duduk dengan dihimpit oleh Xander dan Samuel di kursi tengah hanya bisa mengamati.
Dia tidak tahu apakah yang di depan ini ada hubungannya dengan politik atau tidak. Yang Tasya tahu hanyalah kalau Rasyid adalah mantan anak buah Nova, sang executor. Jika melawannya lagi dan sekarang pasti akan membuat nenek itu ikut campur.
Kurang lebih begitu yang wanita pendek itu bisa baca. Melihat Haran yang berada dalam kondisi seperti ini merupakan hal yang baru baginya.
"Ini gawat, aku tidak mau bertemu nenek itu..." Xander mengeluh.
"Lawan yang cukup berbahaya, ya? Apakah ini adalah akhir dari perjalananku?" Keluhan itu diikuti oleh Samuel.
Meskipun dia punya mimpi untuk meneruskan apa yang gurunya ajarkan, namun bila dia sampai membiarkan hal ini terjadi, maka tidak akan ada murid buatnya.
Bukan karena dia muridnya, bukan karena dia penerus kekuatannya, bukan juga karena dia dendam pada temannya. Ini adalah tantangan buatnya. Selama ini dia belum pernah berada di situasi hidup dan mati, dan selagi dia tidak pernah ada di dalam situasi itu, maka mengajarkan semua hal yang ditinggalkan gurunya dalam keadaan seperti mengerti semuanya hanyalah akan jadi omong kosong dan kesombongan saja.
"Semuanya, mungkin ini kasar buatku untuk mengatakannya, namun kita hanya ada dua kemungkinan saat berada di sana! Yaitu terbunuh, atau mundur! Ini adalah kesempatan kalian untuk memilih!" Bahar yang sudah siuman duduk di bagian bak mobil sambil melihati apa yang ada di belakang.
Mereka semua melihat satu sama lain, ini adalah kesempatan emas buat mereka. Karena maju ke sini itu artinya mati.
Itulah sebabnya kenapa tidak ada murid yang diajak saat ini. Mereka semua ditinggal di sekolah untuk menjaga keselamatan mereka. Di depan ada sesuatu yang berbahaya sedang menunggu mereka.
Widodo seketika menginjak rem dan mulai memelankan mobil sampai pada titik nol. Mobil berhenti dan menunggu siapapun yang tidak berani maju untuk mundur.
"Karena ini adalah perintah, jadi... Siapa yang mau turun?" Tanya Widodo pada mereka semua yang ada di dalam mobil.
__ADS_1
Tak ada yang berani turun...
Bukan berarti mereka mau melakukannya, namun hanya sungkan pada yang lain.
Melihat mereka hal itu, Tesi yang berada di dekat pintu langsung membukanya dan keluar dari mobil.
Para guru yang ada di dalam seketika menatap ke arahnya sambil mempertanyakan tindakannya.
"Aku punya istri yang sedang sakit dan anak yang masih belia... Jika aku mati, maka aku akan menyusahkan mereka." Tesi memberikan alasannya sambil melihati kru yang ada di dalam mobil.
Mereka semua terdiam sambil sedikit merasa sedih.
Tesi memiliki alasan yang jelas kenapa dia tidak bisa melanjutkan perjalanan. Jika saja dia mati, keluarganya mungkin akan hancur atau jadi budak konglomerat.
Dengan alasan itu, semua guru yang ada di dalam menjadi mengerti. Jika mereka merasa tidak mau, maka ini mereka tidak harus ikut. Ini adalah masalah hidup dan mati. Mati itu artinya game over, dan tidak ada lagi kata resume game.
......
...
.
Mungkin karena sebutan 'pengecut' itulah yang membuat mereka tinggal.
"Apakah sudah tidak ada lagi yang mau keluar?" Tanya Widodo melihati isi kru dalam mobilnya.
Mereka semua diam saat ditanya olehnya, kesunyian melanda isi mobil itu.
Tesi yang berada di luar hanya bisa tersenyum sinis melihati semua tingkah mereka. Dia tahu bila mereka semua yang ada di dalam mobil ini takut akan itu, dan makanya itu, dia menjadi sukarelawan untuk kabur duluan. Namun, hasilnya tetap sama.
Dengan membawa senyuman sinis itu, Tesi menutup pintu kabur mereka dan menatap ke mobil itu sambil memberikan lambaiaj tangan.
Mobil perlahan menjauh dari pria itu dan segera melaju ke arah tujuan. Semua yang sudah mereka pilih saat ini harus mereka tanggung sendiri. Dengan membawa pilihan ini, itu artinya mereka sudah harus siap mati di tengah-tengah pemikiran abadi mereka.
"Oke, kita semua yang ada di sini sudah harus siap mati," ucap Widodo sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Dalam senyuman itu terdapat banyak rasa takut, senang, dan kecewa yang bercampur aduk.
"Jadi hasilnya begini, ya?" Bahar menatap ke arah nenek tua yang ada di sebelahnya. "Zarbeth, apakah kau bisa sedikit membuat Nova sibuk? Aku tidak yakin dia akan senang dengan kehadiran kami."
Zarbeth hanya menatap bodoh pria itu, dia sudah menyangka kalau Bahar akan memohon. Bagaimanapun, ini sudah menjadi kebiasaan pria itu. Hal itu bahkan sudah seperti menjadi motonya, 'Hemat Uang!' Kurang lebih begitu. Semakin sedikit uang yang dia bisa keluarkan dari dompetnya semakin baik. Ini juga berlaku untuk hal lain selain uang. Seperti yang terjadi saat ini contohnya.
"Hmm(menggelengkan kepalanya), dia pasti akan segera menghancurkanku bila aku bertemu dengannya." Harapan Bahar seketika hancur setelah mendengarnya, wajahnya yang senyum-senyum seperti orang bodoh seketika berubah menjadi keterkejutan yang bercampur kekecewaan. "Tapi, kalau soal menahan kekuatan nenek itu, hanya ada satu orang yang mungkin kuanggap mampu."
Kekecewaan Bahar seketika kembali berubah menjadi harapan lagi. "Siapa itu? Apakah Haran?" Ucapnya sambil menoleh ke belakang.
Memang dia terlihat mampu, namun dengan kondisinya yang seperti ini. Itu menjadi sesuatu yang mustahil sekarang.
"Bukan, tapi kakek itu!"
Mendengar jawaban itu, Bahar langsung tahu siapa kakek yang dimaksud.
"Maksumu dia?!"
"Hmm(mengangguk)."
Pria yang hidup lebih dari 100 tahun itu pasti bisa kalau hanya untuk menahan Nova untuk beberapa saat.
......................
Di dalam mobil, kursi bagian belakang.
Haran yang sedang gelisah sambil memegangi lengannya sendiri seketika mengeluarkan suara 'Tch!' dari mulutnya.
Tangannya yang tadi lunak dan bergemetar berubah menjadi kaku dan mengepal kuat. Kedua kepalannya dipukulkan satu sama lain. Kegelisahannya berubah menjadi kepanikan.
Aku sepertinya harus menggunakannya, meskipun itu masih prototype sekalipun... Sudah tidak ada waktu untuk mencobanya lebih jauh, aku harus bertaruh apakah benda itu bisa atau tidak. Ucap Haran dari dalam hatinya.
"Widodo!" Dia seketika meneriakkan nama supir itu.
"Hmm?" Widodo melihat Haran dari spion yang berada di atas stir.
__ADS_1
"Bisa kita ke rumahku sebentar?!"