
Gerbang istana telah dibuka.
Pasukan dari kelas 1 Fisik 1 menyerbu masuk istana kerajaan kelas 1 Sihir 4.
Teriakan dan sorakan dari sisi penyerang terdengar keras dan berdengung sesaat mereka masuk.
Teriakan kesengsaraan dan ketakutan terdengar dari mereka yang berlindung di dalam istana itu.
Kelas kami akan segera mengakhiri ini, itu pasti.
Aku dan 11 teman kelasku maju dan menyerbu kastil itu. Suara-suara hentakan kaki kami terdengar jelas dan keras di dalam istana itu.
Mereka yang berlindung di istana ini tidak akan bisa kabur dari sini lagi.
Karena...
Di sisi lain, 6 siswa lainnya yang berada di balkon kusuruh untuk tetap berjaga di sana.
Aku akan menggunakan mereka untuk memasang penyergapan saat mereka kabur.
"Semuanya, maju!" ucapku sambil memberi mereka motivasi.
Aku memajukan mereka dan menyuruh mereka bentrok melawan 10 siswa dari kelas lawan.
Tanah, air, es, api, angin, listrik, cahaya, dan kegelapan. Semua elemen itu muncul dan menghiasi pertarungan yang sangat sengit itu. Setiap elemen saling bertemu dan bertubrukan satu sama lain sehingga membuat sebuah reaksi yang sangat beragam.
Rizal dan Yama.
Aku melihat mereka sedang berjuang dan kesulitan melawan musuhnya.
Rizal, sang pengguna elemen api dan listrik sedang berjuang melawan musuh yang memiliki elemen tanah dan kegelapan.
Senjata Rizal yang merupakan dua pedang mata satu yang melengkung terus diayunkan secara bergantian untuk melukai musuhnya, namun karena dia kalah dengan sesuatu yang disebut type advantage. Maka, tebasan laki-laki itu terus mengalami kegagalan saat mau mengenai lawannya.
Sebuah tanah dan batu terus keluar dan naik ke atas bagaikan lift selalu menghalangi Rizal dan terus menginduksi petirnya dan memadamkan apinya.
Sementara itu, Yama yang merupakan pengguna elemen air dan tanah terus dihadang oleh sebuah elemen es yang merupakan type advantage dari dua elemen gadis itu.
Dia sama sekali tidak berkutik saat melawan musuh-musuhnya saat ini.
Mungkin ini...
Adalah saatku untuk maju.
Aku dengan percaya diri maju dan masuk ke dalam pertempuran.
Halberd yang biasa kupakai bertarung kuangkat ke atas dan melompat.
Dengan meloncat dari ketinggian, aku membuat diriku yang masuk ke tengah pertarungan dengan sangat keren.
Itu mungkin yang kurasakan, tapi jika tidak... Maka ya sudah.
DUAR!
Halberdku mengayun ke bawah dan membuat pertempuran antara dua sisi itu berhenti. Kastil seketika bergoyang karena hantaman keras dari halberdku. Baik teman ataupun lawan, mereka tidak bisa menahan posisi berdiri mereka karena guncangan itu.
"Woah!" (Rizal)
"Hakam?" (Yama)
Jangan banyak buang-buang waktu, itu apa yang ingin kukatakan, namun aku tidak berani.
Lagipula, ada sesuatu yang ingin kulakukan ketimbang mengatakan itu.
Dengan segera, aku memutar badanku dan menatap musuh-musuhku.
Halberdku mulai kugerakaan, kedua tanganku mencengkram kuat senjataku, mataku mengunci ke setiap dari mereka, entah kenapa aku memberikan tatapan yang mengintimidasi pada mereka.
Tapi biarkan saja.
Aku harus segera melakukannya.
Mumpung musuh masih berkumpul di satu tempat yang sama.
__ADS_1
Dengan pemikiran itu, aku perlahan memutarkan halberdku dan seperti akan mengayunkannya ke samping.
Musuh-musuh terdiam,
kenapa mereka?
Apa mereka terintimidasi?
Olehku?
Itu tidak mungkin, kan?
Aku ini cuman pelayan lagian, mana bisa aku membuat mereka ketakutan seperti itu. Pasti ada dari teman-temanku yang memberi tatapan itu sehingga mereka terdiam seperti patung.
Sudahlah, lupakan saja... Yang penting, aku harus melakukannya.
Point of View: Kanda Sophia.
Aku melihat di depanku saat ini, Hakam yang terlihat seperti punya dendam kesumat pada mereka.
Matanya menyipit, otot-otot di wajahnya terlihat, setiap urat nadi di dahinya mengencang kuat, gigi-giginya menggusar dan terlihat seperti sangat marah.
Dia kenapa?
Apakah ini teknik baru yang ia pelajari?
Sepertinya...
Dari pandanganku, dia menatap dingin musuh-musuhnya.
Dan dalam sekejab.
JLAS!
Halberd itu diayunkan menyamping dengan memutar. 8 dari mereka langsung tumbang oleh tebasan mematikan itu.
Saat melihat itu,
Tebasan dari Halberdnya yang lambat, dipercepat menggunakan sihir cahaya dan menambah kecepatannya.
Hasilnya, bisa dilihat dengan jelas. Halberd yang sangat lamban tapi mematikan seketika menjadi sangat cepat bahkan bisa menumbangkan mereka yang hanya terkena oleh hembusan anginnya.
Seperti yang diduga, dia telah berkembang.
Apakah Pak Rasyid ada dibalik perubahannya itu?
Dia selalu membuat kejutan bahkan pada mereka yang menentangnya.
Saat melihat kejadian itu, Hakam seketika terkaget dan terkagum oleh serangannya.
Dia melihati telapaknya sendiri yang habis dia pakai untuk menumbangkan musuh-musuhnya. Tangan itu dilihati sambil bergidik tidak percaya, dan melongo.
"Tadi itu, seranganku? Kukira ada yang membantu..." ucap Hakam dari sana.
Sepertinya ada kepala yang akan membesar.
Kuharap dia tidak terlalu cepat membesar saja.
...
"Di-dia... Pemimpin dari pihak lawan?!"
"Kuat sekali!"
Para murid dari kelas lawan yang tersisa mulai melangkah mundur, kaki mereka yang bergetar tidak bisa membohongi apa yang terjadi pada mereka saat ini.
"Mu-mundur!"
"Tunggu, mau mundur kemana? Ini sudah bagian paling belakang!"
"Ke ruang istana!" Murid itu kabur dan masuk ke tempat yang lebih dalam dari istana.
"Hey, ki-kita harus menunggu di sini, bukan malah menyusahkan komanda kita!"
__ADS_1
Sayangnya ucapan murid itu tidak digubris oleh teman-temannya. Mereka lebih memilih kabur daripada mendengarkan orang yang berpikir rasional itu.
Jelasnya, apa yang mereka lakukan saat ini hanyalah mempersulit mereka yang sedang melindungi sang komandan.
Dengan datangnya pasukan yang lari terbirit-birit dari pertempuran pasti akan menurunkan moral mereka yang berada di istana, dan membuat mereka kehilangan kepercayaan diri mereka kalau mereka bisa memenangkan pertarungan ini.
Dengan begitu, orang yang berdiri sendirian di sana memilih mengikuti jalan yang dipilih temannya dan mundur dari tempat itu.
Melihat itu, Hakam yang baru saja menjatuhkan 6 dari mereka langsung mengangkat halberdnya dan diarahkan ke depan, ke tempat para lawannya melarikan diri.
"Maju!"
Dengan segera, mereka semua maju dan menyerbu ke ruang singgasana.
Pertarungan akhir akan segera datang, namun tepat saat itu juga.
Aku merasakan sesuatu yang kurang nyaman.
Apa itu?
Ketidaknyamanan itu membuatku tidak bisa tenang!
Perlahan tapi pasti, mataku melihati sekeliling is ruangan istana ini.
Tidak ada yang aneh, hanya sebuah ruangan kosong tanpa furniture.
Bisa dibilang...
Ini tempat yang sangat bagus untuk memasang jebakan!
Di saat aku menyadari itu, aku mencoba menghentikan mereka.
Namun...
Aku kembali teringat, keberadaanku disini masih dilupakan oleh mereka(teman-teman kelasku).
Aku juga yakin, Hakam bahkan juga lupa kalau aku saat ini bersamanya bukan bersama regu Stevent.
Di saat itu juga, tubuhku yang refleks mau memperingati mereka malah berakhir mematung dan diam tanpa mengatakan apapun.
Saat mereka mau masuk ke ruang singgasana.
SLING! SLING! SLING! SLING!
Puluhan lingkaran sihir yang tepat berada di bawah kaki mereka seketika aktif dan menghentikan langkah mereka.
"Lingkaran sihir?!" (Yama)
"Sial, Hakam, bisa-bisanya kau membuat kita termakan oleh perangkap musuh!" (Rizal)
"Belum lagi perangkap ini serupa dengan perangkap yang ada di gerbang istana!" (Yama)
Mereka lebih memilih menggerutu ketimbanh segera menghindar dari sana.
Dadar bodoh! Kenapa tidak malah bertindak dan menyingkir?!
Lupakan!
Aku harus bertindak cepat, bila tidak, maka mereka akan K.O dalam sekejab. Namun, tubuhku terus berkata lain, tubuhku terus mengeras dan enggan untuk menyelamatkan mereka.
Ayolah!
Diriku!
Setidaknya aku bisa menyelamatkan satu dari mereka!
CKRAS!
Seketika aku berhasil bergerak dan melangkah maju.
Di saat yang bersamaan pula, perangkap-perangkap lingkaran sihir itu meledak dan membuat sebuah ledakan api dan listrik yang menjadi satu.
Apakah aku berhasil?
__ADS_1