Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 141. Ikatan Keluarga


__ADS_3

*Jdar!


Suara gemuruh petir menghantami teras gedung lantai 2 itu. Kilat yang dipanggil oleh Rizki itu terus menyambar lantai-lantai di tempatku berpijak.


Aku mencoba menghindar dan menghindar, namun aku segera menyadari kalau lawanku saat ini adalah dia.


Ini tidak akan ada hentinya jika aku terus menghindar, aku harus menyerang balik.


Dengan segera, aku menjentikkan jariku dan membuat beberapa jarum tanah raksasa.


Jarum-jarum itu kulemparkan ke arahnya dengan sihir angin dan membuat mereka terlempar secara tidak beraturan ke arahnya.


*BRAK! *GUBRAK! *GUBRAK!


Batu-batu itu menghantam lantai dan membuat sebuah lubang di tempat berpijak kakakku


Sayangnya, dengan kekuatan cahaya, orang itu berhasil menghindari seranganku bahkan tanpa memperlihatkan kalau dia habis bergerak, seakan dia baru saja melakukan teleportasi.


Meskipun membawa peti yang berat, dia sepertinya tidak kerepotan untuk menghindari serangan itu.


Melihat aku yang sedang berpikir, kakakku mengangkat tangannya sedada lalu menggerakkan jari telunjuk ke depan dan ke belakang.


Dia mengejekku?


Dia terlihat melakukan taunt, tapi aku tidak merasakan kalau dia melakukan hal itu. Biasanya senyuman sinisnya selalu bersamanya setiap kali dia mencoba memprovokasi diriku.


Kali ini, semuanya terlihat seperti mengatakan...


*Se***gini** saja kemampuanmu?


Meskipun tidak bersuara, hinaan itu tetap terasa di kepalaku.


Tch, apa-apaan dia ini?!


"CODE NAME: SPIRIT, ATTACK! CONDITION: MAN WITH COFFIN, IF NOT: DO NOTHING!"


Aku langsung mengubah strategiku, dan menggantinya dengan menggunakan sihir KODE.


Memanfaatkan roh-roh buatan yang bertebaran di sekolah ini, aku membuat perintah baru kepada mereka untuk menyerang lawanku.


Tak butuh waktu lama, ratusan cahaya putih bergerak memutar kakakku yang menggunakan peti mati itu.


Namun semuanya sepertinya tidak berjalan sesuai keinginannku. Meskipun dalam keadaan terdesak, dia tidak memperlihatkan rasa ketakutan sama sekali. Dia bahkan tidak terlihat sedang tergores.


Aku merasakan firasat buruk yang akan datang.


Rizki seketika menundukkan kepalanya sambil menutup matanya perlahan, hal itu juga diikuti dengan helaan nafas kecil yang terlihat samar di wajahnya.


Padahal aku menunggu sesuatu yang spesial darimu. Tapi cuman segini, ya?


Lagi-lagi, tanpa bersuara, aku bisa mendengar kalau dia mengatakan itu hanya dari melihat raut wajahnya.


Dia seketika mengangkat peti itu dengan kedua tangannya ke atas kepala.


Berjalan mundur, dia memasang ancang-ancang lalu...


*Tak! *Tak! *Tak!


Dia berlari seperti atlet lempar lembing dan melemparkan peti itu ke arahku.

__ADS_1


Jangan-jangan!


Perintah yang kuberikan pada roh-roh itu adalah untuk menyerang mereka yang menggunakan peti, dan jika orang yang menggunakan peti itu berganti, maka mereka akan menyerang tanpa pandang bulu, meskipun itu adalah yang memerintahkan mereka sekalipun.


*Gubrak!


Peti mendarat di dekatku, dan seketika roh-roh yang memutari kakakku bergerak ke arah lain, mereka semua menuju ke arahku.


"Tch! CODE NAME: SPIRIT, STOP!"


Aku harus menghentikan sihir yang kubuat sendiri.


Sungguh memalukan.


Aku mencoba mengambil nafas karena terkaget dengan serangan balik tadi, kedua nafasku terengah-engah sampai aku tidak menyadari kalau keberadaan dia telah hilang dari depanku.


Hilang?!


Di saat itu juga, aku mengeluarkan sihir kegelapan dan menyemburkannya ke sekitar tempatku berdiri.


Dia seharusnya ada dalam kecepatan normal sekarang


Saat semua sudah kuanggap normal, aku bisa merasakan langkah kaki yang berada di belakangku.


Maka, seketika itu juga aku berbalik dan membuat sebuah perisai dari es.


*Krak!


Sebuah pukulan keras mencoba mengarah ke arah kepalaku namun gagal. Dinding es yang kupakai untuk berlindung seketika hancur oleh tinjuannya.


Tidak bisa didebatkan lagi, bila saja pukulan tadi mengenai kepalaku, aku mungkin akan langsung masuk dalam kondisi bertarung tanpa kepala untuk sementara.


Aku mencoba menangkis dan mengelak beberapa serangannya sambil perlahan melangkah mundur.


Sekarang pertarungan bela diri, ya? Dan terlebih, dia hanya mengincar kepalaku.


Ini terlalu mudah untukku, selagi musuhku bukan petarung pengguna senjata tajam, hal seperti ini bukanlah masalah.


Namun, hal seperti ini akan malah aneh bila dilakukan kakkaku.


Oh!


Seketika aku sadar, dan saat melihat kakinya yang tiba-tiba mengangkat, aku melompat tinggi ke udara.


Menjadi kesempatan untuk plunging attack, aku mengaktifkan senjataku dan mencoba menusuk lantai.


*Brrrrssss!


Api seketika tersebar di sekitar tempat pedangku menusuk membakar siapapun yang ada di sekitarnya.


Tapi, hasilnya tetap sama.


Aku mengerutkan wajahku ke arah lawanku, dia bagaikan sesuatu yang tidak pernah kuhadapi. Seakan pertarungan latihan yang waktu itu hanyalah fiksi darinya, cara bertarungnya bahkan tidak mengingatkanku padanya.


Inikah yang disebut perkembangan?


Dia seketika mengibaskan tangannya dan membuat sebuah gelombang api dan angin secara bersamaan. Gelombang api itu membentuk seperti sebuah burung phoenix yang terbang ke arahku.


Burung itu terlalu lebar untuk kuhindari dan terlalu panas untuk kutahan. Elemen es akan langsung meleleh bila terkena, dan elemen tanah akan langsung mengeras bila terlalu lama.

__ADS_1


Tapi lebih baik kepanasan dari pada terpanggang!


Aku seketika menghantam lantai dan membuat perisai yang terbuat dari sihir gabungan es dan tanah.


Meskipun es lemah terhadap api, namun bila digabungkan oleh tanah, maka kedua sihir itu bagaikan tembok baja yang kokoh.


*Dar!


Burung api dan tembok bertubrukan satu sama lain memperlihatkan siapa yang lebih kuat.


*Grak!


Tembok memperlihatkan tanda-tanda akan hancur.


Apakah sekuat itu?!


Tak kusangka serangannya akan sekuat ini.


Semakin lama tembok semakin mengecil dan membuatku tidak memiliki pilihan selain memikirkan rencana lain.


Lompat ke atas? Tidak, aku malah akan jadi sasaran empuk buatnya.


Inikah yang disebut kepasrahan di pertarungan?


Sungguh mengerikan di saat terdesak dan kau tidak bisa melakukan apa-apa selagi panik menyerangmu.


Tembok sudah hancur, namun aku tidak mau menyerah begitu saja.


Aku sudah berada di sini dengan perjalanan yang jauh, aku tidak akan kalah di titik akhir begitu saja.


Sekali lagi aku membuat dinding dari sihir es dan tanah, dan sekali lagi pula dinding itu hancur.


Hah?! Burung itu semakin menguat?!


Saat melihat burung itu menguat setiap kali memakan sihir yang lemah terhadapnya, aku seketika kepikiran.


Bodoh! Kenapa aku baru ingat!


Sekali lagi aku membuat dinding tanah, dan kali ini tidak diikuti dengan sihir es, namun dengan sihir air.


Dinding yang terbuat dari lumpur seharusnya bisa menahan segala jenis serangan api.


Aku tidak kepikiran untuk menggunakan sihir air sama sekali karena ada kemungkinan kalau air yang kugunakan hanya akan menguap tanpa memperlambat arah laju burung itu.


*Jdar! *Wush! *Gubrak!


Burung Phoenix itu menabrak dinding air yang kubuat dan membuat dirinya hancur karena tidak bisa terbang melewati rintangan yang berada di depannya.


"Hah... Hah... Hah..." Nafasku mulai terengah-engah, aku mulai merasakan kelelahan.


Di lain sisi, kakakku terlihat bergemetar, tangannya yang tadi dikibaskan terlihat tidak bisa diam dan terus melototi diriku yang kelelahan.


"Mengerikan!" Tanpa mengubah ekspresinya dia mengatakan itu.


"Apa maksudmu?"


Kenapa dia?


Aku tidak tahu, tapi yang pasti jalannya pertarungan belum akan berakhir dalam segera.

__ADS_1


__ADS_2