
Mereka semua terdiam setelah mendengar pernyataan pangeran itu.
Mereka tidak bisa menang.
Kalimat itu terus mengalir dalam kuping mereka seakan terus dihantui oleh fakta itu.
Meskipun dengan menggabungkan kekuatan mereka berlima sekalipun, mereka tetap akan kalah dan berakhir mengenaskan.
Bukti?
Bukankah tumpukan orang bayaran yang pingsan di sekitar mereka menjadi bukti yang valid?
Hanya dalam hitungan kurang dari 1 menit, mereka semua sudah tepar dan tak dapat melanjutkan pertarungan lagi.
"Ayo mundur...!" Dengan suara yang kalem dan tegas, Malik berbalik badan dan berjalan ke arah mobilnya.
Guru-guru lainnya, kecuali Matthew tetap terdiam dia tempat mereka berpijak. Keringat yang berceceran di wajah mereka menjadi bukti kalau mereka ragu dengan perintah pangeran itu dan masih tetap ingin berada di sini.
Berbeda dengan guru-guru lainnya, Matthew dengan tanpa banyak alasan langsung ikut berjalan di belakang pangeran itu.
Jadi begitu, ya? Pantas saja saat aku mengecek data dirinya saat itu terlihat sama. Apa yang kumaksud adalah nama Anitya mereka.
Guardian of Society's Sorrow dan Prince of Sorrow bila dibaca memang terdengar sama, dalam gelarnya. Bisa disimpulkan kalau mereka berdua adalah pangeran dan pelayannya.
Tunggu, mereka berdua mencoba lari?!
"Tuggu?!" Mulutku seketika berteriak dengan sendirinya.
Langkah pangeran dan pelayannya itu terhenti.
Tanpa membalikkan badannya, pangeran itu berkata: "Ada apa? Kami di sini hanya ingin menghancurkanmu, namun dengan adanya wanita itu(melirik tajam ke Haran tanpa berbalik melihatnya)... Itu mustahil buat kami menangkan."
Setelah mengatakaj itu, Malik kembali berjalan tanpa mengurus sisanya dan membiarkan guru-guru yang masih ragu itu memilih pilihan mereka sendiri.
Hoy, hoy, bisa-bisanya kau menganggap ini adalah hal yang sepele? Nasib masa depan murid-muridku berada di ujung tanduk karena kalian semua, lo...
Kok bisa-bisanya kalian semua pergi dan menganggap hal ini seperti tidak pernah ada.
Tanpa sadar, kedua tanganku mengepal, urat nadi yang berada di kelapaku mengencang dan menebal sampai memperlihatkan betapa mengerikannya wajahku saat ini. Tubuhku memanas, bukan karena nafsu tapi karena marah.
"Hoy, hoy, hoy...." Mulutku bergerak dengan sendirinya atas kemauan naluriku.
Baik Haran maupun semua musuhku yang ada di sana tiba-tiba tersontak dan menatapku dengan mulut yang menganga.
"Rasyid?! Kau kenapa?!" Haran bertanya dengan volume yang keras.
Dia terlihat sangat khawatir padaku, dia seperti ingin aku tidak mengeluarkan sifat asliku pada mereka.
Tapi...
Sekali-sekali tidak apa, kan?
"Hihihi..."
Haran merasakan adanya bahaya di dalam diriku, dia perlahan mengambil langkah mundur dan mendekat ke arah musuh-musuhku yang masih berdiri kaku di sana.
"Semuanya, ini berbahaya! Kita harus menghentikannya!" (Haran)
"Apa maksudmu 'kita harus menghentikannya?!' Kita pasti akan menghancurkannya bila kau tidak di sisinya!" (Ami)
"Persetan dengan ucapanmu, kita sekarang sedang menghadapi masalah yang berbeda!" (Haran)
"Ha?! Berbeda?!" (Ami)
"Haran, apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?!" (Candra)
Keringat keraguan mulai turun dan membasahi wanita dengan mata merah itu, dia mulai menyilangkan tangannya karena harus disuruh cepat mencari alasan.
"Tentu saja tidak, aku saja tidak tahu kekuatan seperti apa yang sekarang dia sedang coba keluarkan!"
__ADS_1
Haran menghianatiku...?
Tapi, apakah itu sungguhan, ah sudahlah... Itu juga bukanlah hal yang perlu kupedulikan sekarang.
Yang terpenting sekarang adalah aku harus membuat mereka tahu rasa jika mereka berani-berani menantangku.
JLASS!
Sebuah hamparan listrik muncul dan membentuk sebuah kotak yang bisa mengunci mereka semua di dalamnya.
Nurdin yang melihati fenomena mengerikan ini mulai melihat-lihat sekitar dan bertanya-tanya soal diriku. "A-apa-apaan ini?! Kekuatan elemen listrik?! Tapi bukankah elemen Rasyid adalah air dan tanah?! Lalu kenapa dia-"
Namun tepat saat dia bertanya, aku sudah melesat sambil mengayunkan pedangku.
Slash!
Tepat di siku tangan kanan orang itu, pedangku menebas dengan semupurna dan memotong tangan orang itu dengan memperlihatkan potongan yang sangat lurus dan rapi.
"Gyahhh!!!!"
Nurdin terjatuh ke tanah, wajahnya melihati tangannya yang putus sambil dimandikan oleh keringat di wajahnya.
"Mo-monster...!"
Dia terus merangkak mundur dan mencoba me jauh dari diriku, tapi hal itu tidak akan kubiarkan.
SLASH!
Sekarang tepat di bagian lutut kanannya, aku menebas kaki malang orang itu sampai terbelah menjadi dua.
"Gyah!!!"
Dia berteriak sekali lagi untuk berharap asa pertolongan yang datang...
Namun sayangnya hal itu tak kunjung datang.
Tapi semua itu sepertinya tidak sepenuhnya benar...
Ctank!
Sebuah anak panah menusuk dan menembus ke telapak tanganku.
"Rasyid!" (Haran)
Tapi sepertinya Haran adalah menjadi yang satu-satunya berani melepas lem di kakinya dan menyerang ke arahku.
Busurnya yang dia pegang masih dalam keadaan siap kapan saja bila aku bergerak sedikitpun.
"Aku tahu apa yang membuatmu begitu marah, tapi jika kau berlebihan menanggapinya, maka aku tidak punya pilihan lain selain ikut menghancurkanmu!" Haran memperingatkanku.
Apa yang dikatakan wanita itu benar, aku tidak seharusnya berubah menjadi iblis seperti ini hanya karena masalah seperti ini.
Namun...
Mereka yang menghiraukan perbuatan salah yang mereka buat adalah hal yang tidak bisa kumaafkan.
Aku sangat benci dengan itu!
Aku bahkan ingin langsung menghabisi mereka tanpa tak tersisa, terkhususnya orang itu.
Mataku melirik ke arah Malik dan Matthew yang masih berdiri di depan pintu mobil mereka sambil menatapiku. Matthew menatapiku dengan wajah yang ketakutan, sedangkan Malik...
Matanya dipenuhi dendan dan kehancuran, dia seperti ingin segera memborbardir diriku dengan 100 hantaman kematian dari neraka.
"Tidak bicara apa-apa..." Haran tersenyum lirih dan menyeringai. "Jadi begitu, ya? Cara kerjamu, dalam dunia gelap..."
Di antara orang-orang yang ketakutan, Haran menjadi satu-satunya yang tidak memperlihatkan wajah takutnya. Dia sekarang terlihat lebih optimis dan sudah tahu kelemahanku.
Dia merogoh sakunya yang berada dari dalam roknya.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan, Haran?!" Aku bertanya.
Namun aku sudah mengetahui, kalau pertanyaanku jelas tidak akan mendapatkan jawaban.
Karena...
Aku sekarang adalah penjahatnya di sini.
Peran seketika berganti.
Haran memperlihatkan layar ponselnya.
Meskipun dari jauh, aku tetap bisa melihat isi ponselnya. "Bacalah ini, Rasyid... Aku yakin kau pasti suka dengan isinya." Bila kubaca secara perlahan, aku bisa melihat sebuah nomor yang tidak kusukai sedang dipanggil melalui video call.
"Tch, jadi kau sudah bertukar nomor telepon dengannya, ya?!" Aku menggeramkan rahangku.
"Bisa dibilang begit, apa kau cemburu?"
"..."
"Oh, diam berarti kau memang merasakan itu-"
DOR!
Tanpa pikir panjang, aku menembak ponselnya dengan batu yang melesat sangat cepat.
"..." Haran terdiam, matanya menusukku dengan tatapannya yang merah dan sangat menyala. "Aku akan menahan kesabaranku untuk sekarang, tapi untuk besoknya aku mungkin tidak akan... Kau pasti sudah tahu kan, apa yang terjadi bila aku sudah menelpon nomor orang yang sangat kau benci itu."
Sekarang aku tersudut, aku tak berdaya, dan bahkan tak kuasa lagi.
Nurdin yang masih dalam posisi ketakutan dan setengah sadar di lantai kulepas dan berjalan menjauh dari mereka.
"Baiklah, baiklah, aku tahu itu... Aku sepertinya teledor soal ini..." Kedua tanganku kuangkat seperti orang yang menyerah.
"Tidak, itu bukan terjadi karena keteledoranmu, melainkan terjadi karena memang kau jarang berbicara dengan banyak orang..."
Fakta itu membuat hatiku sakit, dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Semuanya, kita buat kesepakatan begini saja..." Haran tiba-tiba berpidato di tengah-tengah mereka.
Semua orang mendengarkannya dengan seksama dan serius, bahkan Malik dan Matthew yang tadi berada di dekat mobil sampai berjalan kembali mendekati kerumunan itu.
"Kesepakatan apa yang akan kau buat, Haran?" Malik bertanya dengan nada yang kalem seperti tidak terusik sama sekali dengan kejadian tadi.
Padahal tadi dia melihatku dengan penuh dendam.
"Kita anggap saja kejadian yang berada di sini tidak pernah terjadi..."
"Apa?! Bagaimana bisa?! Apakah kau minta kami menyembunyikan fakta bahwa Rasyid adalah monster berdarah dingin?!" Ami sepertinya tidak setuju dengan ini.
"Diamlah, Ami! Biarkan Haran menyelesaikan kalimatnya." Malik yang kalem berteriak, hanya dengan satu kali teriakan, hawa menakutkan langsung muncul di sekitarnya, sampai-sampai Ami langsung terdiam.
"Ba-baik..." Wanita itu ketakutan bukan main, dia hanya bisa melototi tanah dengan ketakutan.
"Apakah aku bisa melanjutkan?" (Haran)
"Ya, lanjutkanlah..." (Malik)
"Kesepakatan ini bersifat mutualisme, jadi tidak ada di antara dua pihak merugi... Jadi begini, kesepakatannya adalah, Rasyid akan menganggap hal ini tidak pernah terjadi dan membiarkan kalian semua pergi tanpa adanya yang perlu merasakan sakit yang lebih jauh, dan kalian semua(menatapi satu persatu mereka berlima)... Menganggap tidak pernah melihat kekuatan mengerikan yang dimiliki Rasyid saat ini. Bagaimana, apakah kalian keberatan?" (Haran)
"Bagaimana bila ada yang mencoba membeberkannya secara sembunyi-sembunyi?!" (Candra)
Haran tersenyum kekeh pada pertanyaan itu, dia seakan tahu hal itu pasti akan terjadi dan dipertanyakan.
Wanita itu langsung menoleh ke arahku dengan senyum mengerikannya. "Tentu saja, aku yakin dia bisa merasakannya, setiao mulut yang berbicara tentang dirinya..."
Dia mengetahuinya, ya?
Sekilas, semua guru yang ada di sana terbelalak dan menganga, kecuali Malik yang kalem.
__ADS_1