Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 41. Kunci Jawaban yang Sebenarnya


__ADS_3

Hari libur 2 hari setelah penilaian guru telah usai. Sekarang saatnya kembali sekolah untuk mempersiapkan para siswa untuk ujian.


Saat ini aku berdiri di depan kelas menjelaskan beberapa hal tentang sihir.


"Seperti yang kalian tahu, semua orang hanya memiliki 2 elemen sihir setelah disuntikkan Anitya."


"Bagaimana elemen-elemen itu terjadi bukanlah secara acak, namun faktor sifat juga berpengaruh."


"Karena rata-rata orang disuntikkan Anitya saat umur diatas 5 tahun, maka kebanyakan dari mereka punya elemen api karena semangat akan mencari arti hidup mereka masih sangat tinggi."


"Keterbalikan dengan elemen api, elemen es di dapat ketika sifat calon yang akan disuntik Anitya adalah pendiam. Itulah kenapa elemen itu jarang ada yang memiliki."


"Beberapa guru yang memiliki elemen es, mendapatkannya karena mereka saat itu sudah beranjak dewasa dan sudah merasakan jengkel akan hidup, bahkan setelah kejadian Musim Panas Api. Banyak dari mereka sudah kehilangan tujuan hidup mereka saat itu."


"Meskipun biasanya setiap orang hanya punya 2 elemen, tapi ada kondisi khusus di mana orang punya 3 elemen sekaligus."


"Madu Haran adalah salah satunya, dia punya 3 elemen bukan karena spesial. Melainkan karena elemen air padanya merupakan gabungan antara es yang mencair karena panasnya api. Sayangnya, Haran tetap butuh waktu untuk melakukannya sebelum benar-benar melepaskan elemen air itu."


"Ada juga kondisi khusus di mana para Petarung tidak bisa menggunakan elemen mereke secara bersamaan."


"Itu terjadi pada elemen air dan api. Kedua elemen yang saling bertentangan akan menguap setelah dikeluarkan secara bersamaan. Begitu juga dengan api dan tanah, elemen tanah akan mematikan elemen api saat dikeluarkan secara bersamaan. Dan untuk elemen listrik dan tanah memiliki kondisi khusus tersendiri, elemen listrik tidak akan keluar jika dikeluarkan bersamaan dengan tanah, tapi tetap bisa digunakan bersamaan dengan tanah bila sihir tanah telah dikeluarkan terlebih dahulu. Jika kuingat orang yang menggunakan konsep itu adalah guru kelas 1 fisik 3, Marika Tasya. Dia membuat pedang dari tanah dan diselimuti elemen petir. Bila diingat-ingat saat itu aku melihatnya membuat terlebih dahulu pedang itu baru dia menggabungkannya dengan elemennya yang satunya."


"Ada lagi elemen angin yang bisa menyatu ke seluruh elemen kecuali kegelapan dan cahaya. Karena kegunaannya yang memperkuat kekuatan elemen lain, elemen angin kerap kali hanya digunakan sebagai elemen support. Sayangnya bagi pengguna elemen angin yang bersatu dengan elemen cahaya atau kegelapan harus pintar-pintar menggunakan elemen angin sebagai elemen utama mereka. Serangan mereka harus lebih kuat daripada serangan lawan mereka, bila tidak maka serangan mereka malah akan memperkuat serangan musuh mereka."


"Kalau mau tahu lebih gampangnya bagaimana 2 elemen bekerja, kurang lebih seperti ini,


Air × Api : hancur


Air × Tanah : Jadi lumpur(Ketahanan api: +4×, ketahanan es: -4×, dan kehilangan ketahanan absolut terhadap elemen listrik.)


Air × Es : Air akan memperkuat Es(Bisa membeku)


Air × Listrik : Air akan membantu menyebarkan sihir listrik.


Air × Angin : Angin bisa membantu membuat tornado air seperti yang pernah kulakukan saat melawan Kasuarta Lodo.


Air × Kegelapan/Cahaya : Tidak berimbas apapun.


Api × Tanah : Tanah akan mematikan sihir api bila dikeluarkan bersamaan, jika dikeluarkan secara bergantian maka tidak ada hal spesial terjadi.


Api × Es : Akan membentuk elemen lain(Air)


Api × Listrik : Listrik akan memperkuat serangan api.


Api × Angin : Angin bisa membantu penyebaran api bahkan bisa membuat badai api yang mengerikan bila penggunanya mahir.


Api × Kegelapan/Cahaya : Sama seperti air, tidak berefek apapun.


Tanah × Es : Karena sama-sama elemen pertahanan, maka jika mereka berdua digabungkan akan membentuk pertahanan yang sangat keras.


Tanah × Listrik : Tanah akan mematikan listrik bila dikeluarkan secara bersamaan, dan tidak ada hal spesial terjadi bila dikeluarkan bergantian.


Tanah × Angin : Akan membuat badai pasir yang merusak mata. (Sebaiknya jangan digunakan di saat duel.)

__ADS_1


Tanah × Kegelapan : Menebalkan asap hitam yang keluar.


Tanah × Cahaya : Tidak ada yang terjadi.


Es × Listrik : Sama seperti air, maka es akan menyebarkan listrik. Tapi efek dari 2 elemen ini akan sangat fatal bila terkena lawan, sebaiknya kalian harus hati-hati saat menggunakannya.


Es × Angin : Meninggikan suhu dingin es.


Es × Kegelapan : Asap hitam yang keluar akan menjadi dingin.


Es × Cahaya : Membuat cahaya menjadi mengkilap dan menyulitkan kecepatan tetap pengguna.


Listrik × Angin : Akan membuat guntur sekecil apapun gabungannya.


Listrik × Kegelapan : Bertabrakan dan menghancurkan pelambatan sihir kegelapan.


Listrik × Cahaya : Memperkuat penambahan kecepatan pada sihir Cahaya.


Angin × Kegelapan : Memperlebar asap hitam yang keluar.


Angin × Cahaya : Tidak ada yang terjadi.


Kegelapan × Cahaya : Tidak bisa dikeluarkan secara bersamaan, bila cahaya dikeluarkan terlebih dahulu maka elemen kegelapan akan menghancurkan efek elemen cahaya, tapi bila kegelapan dulu baru cahaya maka musuh akan melambat dan dirimu akan bertambah cepat."


"Ada juga kondisi khusus yang baru-baru ini ditemukan, seperti


Cahaya × Cahaya : Maka akan membuat lempengan-lempengan emas yang bisa digunakan untuk merobek lawan."


Aku telah menjelaskan panjang lebar pada murid-muridku. Mereka semua terlihat mendengarkan, tapi aku tidak yakin itu semua masuk dalam otak mereka.


Saat aku kembali duduk ke kursiku, mataku menatapi satu persatu dari mereka.


Dari seluruh siswa yang kulirik, ada sekitar 15 siswa yang pikirannya kemana-mana termasuk, Sophia dan Stevent. Itu setengah dari jumlah kelas ini.


'Hah... Tidak berhasil, ya?' Aku duduk sambil menghela nafas.


Pelajaran yang kuberikan masih sulit dimengerti oleh mereka. Sebaiknya aku mengalihkan perhatian mereka dengan sesuatu yang sangat mereka sukai.


"Dengarkan semua, ujian sudah akan berlangsung minggu depan. Aku harap kalian belajar dengan giat. Jangan mempermalukan sekolah ini, ini sekolah paling bergengsi di Nusantara lo..." Aku mengetuk-ngetuk meja dan menatap serius ke arah para murid.


Mereka malah semakin menjadi takut, tapi itu sudah seperti yang kupikirkan. Maka itu saat yang tepat buatku untuk.


"Apa kalian tahu, 10 besar dari seluruh kelas 1-3 akan mendapatkan update Anitya," ucapku dengan senyum licik.


Para siswa yang ketakutan tiba-tiba menatapku dengan tidak percaya. Rencanaku berhasil, mereka semua yang tidak bersemangat kembali menegakkan dirinya.


"Update Anitya?!"


"Kekuatan baru?!"


"Tapi, tadi anda bilang hanya untuk 10 besar dari seluruh kelas 1-3. Apakah itu artinya, kami juga bersaing dengan kelas 2 dan 3?" Hakam menanyaiku dengan cermat.


Para siswa yang tadi bersemangat kembali putus asa setelah mendengar pertanyaan Hakam.

__ADS_1


"Kami tidak mungkin bisa beradu kepintaran ataupun kekuatan pada kelas 3." Salah satu siswa menundukkan kepalanya sambil bersedih.


Semua sudah kurencanakan, mulutku melengkuk dan menatap mereka dengan bangga. "Di ujian ini, yang dinilai bukan hanya kepintaran dan kekuatan kalian, tapi juga moral kalian..." Aku menunjuk ke arah kelas dengan senyum yang membagongkan.


Kelas terasa diam, tapi setelah itu para siswa yang putus asa kembali menatapku dengan bertanya-tanya.


"Moral, maksud anda?"


Aku menutup mataku dengan pede. "Jika semua nilai tes soal dan tes kekuatan yang sempurna disatukan, maka akan didapat skor 50%. Jadi, untuk skor dari tes moral kalian, maka akan berjumlah...." Mataku terbuka dengan tatapan yang tajam dan senyum yang menantang.


"Nilai tes moral 50%? Bagaimana bisa? Bukankah ini sekolah bergengsi yang hanya mencari orang-orang berbakat?!" Stevent berdiri karena terkejut sambil menggebrakkan mejanya.


Aku menatap Stevent dengan masih menggunakan tatapan yang sama.


Ternyata begitu ya rahasia sekolah ini, para murid sama sekali tidak menyadarinya. Akupun awalnya juga sama sekali tidak menyadarinya, para guru lain sepertinya juga tidak diberi tahu soal ini.


Nilai ulangan semester kemarin selalu membuatku bingung, nilai-nilai mereka anjlok semua. Bahkan untuk orang sepintar Sophia, Moka, dan Stevent sekaligus mendapat nilai yang mengenaskan.


Sesuatu yang selama ini disembunyikan sekolah ini, hal yang bahkan para guru juga tidak tahu. Mungkin hanya orang itu saja yang tahu, mataku mengingat bayangan Bahar.


"Ini adalah sekolah bergengsi dan memiliki murid paling pintar, lalu buat apa kita para guru mengajar kalian yang sudah memiliki akademis dan fisik yang diatas rata-rata dari murid normal pada umumnya. Buat apa semua itu, toh kalian juga dapat semua nilai kalian dari hasil belajar sendiri ketimbang mendengarkan guru kalian, bukan?" Aku berdiri sambil menggebrak papan digital itu.


Para murid di kelas itu terbelalak. Mata penuh harap mereka tertuju padaku. Mereka akhirnya sadar apa yang kumaksud.


"Sekolah ini sebenarnya bukan bertujuan untuk memperkuat pemahaman sains maupun fisik kalian. Melainkan bertujuan untuk memperkuat pemahaman kalian tentang etika! Buat apa murid pintar tapi sombong?! Buat apa murid pintar tapi bergerak secara pasif?! Buat apa murid pintar tapi mereka diam saat ada orang yang kesusahan karena terkekang dengan yang namanya aturan dari diri mereka?!" Aku memberi ceramah pada mereka.


"10 besar bukanlah hal yang sulit bila kalian mengerti apa itu moral, etika, dan sopan santun." Aku menggebrak kembali papan itu sambil menarik nafasku. "Maka saat ujian nanti berjuanglah, kalian pasti bisa, para muridku!" Aku membuka suaraku dan berkata secara gamblang.


Kepercayaan dan semangat para muridku telah kembali, mereka mengepal tangan mereka dengan tujuan yang pasti. Kemenangan di ujian akan menjadi milik mereka semester ini.


"Aku pasti bisa!" Salah satu murid gemuk mengangkat tangannya yang mengepal ke atas.


Siswa lain juga mulai mengikutinya satu persatu, sampai seisi kelas mengangkat semua kepalan mereka. Kelas itu menjadi sangat ramai, mungkin juga menganggu kelas lain.


Aku yang sudah puas langsung menatap mereka dengan mata yang penuh harap. Senyum banggaku tidak bisa kutahankan, ini adalah awal kalian bersinar.


DENG DENG DENG!


Suara bel kelas menandakan kelas telah berakhir.


"Kalau begitu, sampai bertemu lagi... Di minggu depan." Aku mengatakan itu sambil pamit keluar.


Para murid yang terlalu bersemangat tidak menyadari maksud kata-kataku. Aku hanya bisa mengekspresikannya dengan muka datar dan pergi ke kantor kepala sekolah.


Sementara itu di kelas 1 fisik 2, kelas yang diajar Xander.


"HRAGGGH!"


Suara dari kelas Rasyid terdengar sangat meriah sampai membuat Xander kebingungan dan terganggu.


"Apa yang dilakukan oleh guru itu?!" Xander menyilangkan tangannya dan kembali menjelaskan rencana ujiannya.


Tentu saja, yang dia rencanakan adalah bagaimana cara meningkatkan kekuatan fisik dan kemampuan akademis, tanpa menyinggung soal moral sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2