Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 103. Pelayan yang Memimpin pt.9


__ADS_3

Point of View: Kanda Sophia


Aku berdiri di depan 11 murid yang akan menjadi santapanku.


Mereka semua berdiri tanpa mengambil posisi untuk melindungi komandannya, mungkin karena di sini tinggal aku dan Rizal, jadinya mereka menurunkan pengawasan mereka.


Tidak, apa yang kutebak salah


Ada dua siswi yang bolak-balik melirik ke atas. Mereka tahu bahkan menyadari keberadaan enam temanku yang siap menyergap mereka dari atas.


Sebaiknya....


Aku melebarkan kipasku dan kubuat kipas itu menutupi mulut dan hidungku.


"... Memusnahkan mereka yang tahu sebuah informasi adalah dasar dari sebuah perang!"


JLASSS!


Dengan segera, aku mengibaskan kipasku ke depan dan membuat tiupan angin yang sangat kencang.


"Tidak akan kubiarkan!"


Salah satu murid berbadan besar membuat sebuah dinding tanah dan menghalangi tiupan angin itu.


Oh, dia cekatan sekali.


Kalau begitu...


"Biar kutambahkan!"


JLASS!


Sekali lagi aku mengibaskan kipasku, namun kini bukan hanya tiupan angin saja, melainkan ditambah dengan es yang menyertainya.


BAG BAG BAG!


Dinding tanah itu perlahan mulai retak.


"Kami tidak akan membiarkan monster sepertimu bisa menghancurkan kami seorang diri!"


Kini ada dua gadis kecil yang membantu murid berbadan besar itu. Mereka memperbaiki dinding yang retak itu dan membuatnya kokoh kembali, bukan hanya itu saja, ketebalan dinding kini menjadi lebih tebal dari sebelumnya.


Mereka seperti mau menantangku dalam adu ketahanan tembok mereka.


"Mau ditambah?! Okeh, kalau begitu aku akan-"


Tapi sepertinya aku sudah salah menilai mereka, karena tepat saat aku mau menebas mereka dengan tebasan es...


Ada tiga murid laki-laki melompat ke atas dinding tanah yang dibuat sebelumnya, dan membuat tombak api, tanah, dan listrik di setiap tangan mereka.


"Rasakan ini!"


"Kami tidak berjuang sendiri!"


"Kami ini satu!"


Ke tiga laki-laki itu melemparkan tombak itu ke arahku.


"Sial!"


Aku mengurungkan niatku yang tadi ingin menebas mereka dengan sihir es-ku dan secepatnya aku harus membuat sebuah dinding dari es.


Kepanikan melanda dalam diriku, aku harus segera membuat gerakan cepat, seketika tangan kanan kukibaskan tepat di saat ke tiga tombak itu meluncur ke arahku.


JLAS! JLAS! JLAS!


Bodohnya aku... Mencoba menahan 3 tombak yang terbuat dari elemen yang dapat menghancurkan es.


Sungguh tidak berguna...


CKRAS!


Perisai itu pecah tepat setelah 3 tombak melesat ke arahku.


Dengan begini, aku hanya bisa pasrah sambil merentangkan kedua tanganku. Mataku perlahan menutup dan mencoba menahan rasanya tertusuk tiga tombak itu.

__ADS_1


Tapi...


Tertahan?


Aku seharusnya Knock Out sekarang!


"Huh?! Kenapa? Bukankah seharusnya aku tertembus..."


Saat mataku perlahan kubuka, aku terkejut oleh sebuah pemandangan yang tak biasa.


Seorang gadis menahan ke tiga tombak itu dengan Dual Knife-nya. Rambut hijaunya bergoyang-goyang karena efek dari tepisannya. Gadis itu berdiri dengan gagak di depanku.


Perlahan, dia menoleh ke arahku yang ada di belakangnya.


"Maaf Sophia, sepertinya semua berakhir tidak seperti yang kita inginkan..."


Moka memberikan senyumannya padaku, senyuman itu diiringi oleh sebuah nafas yang terengah-engah.


"Terima kasih, Moka," ucapku berterima kasih.


Dia sepertinya habis melompat dari atas lalu berlari ke depanku dengan sangatlah cepat.


Aku tidak percaya dia akan melakukan sejauh ini demiku.


Lalu, bagaimana dengan murid yang lainnya?


"Bagaimana dengan yang di atas?" Aku bertanya tentang kondisi sekarang.


"Tidak perlu ditanya, karena..." Saat itu juga, Moka mendangak ke atas dan melihat ada 4 bola cahaya sedang beterbangan di atas lawan-lawannya. "Kita sudah kupastikan menang!"


Dengan begitu, 4 bola cahaya itu berubah dan memperlihatkan wujud asli mereka.


Di sana ada Stevent dan regu-regunya yang sedang melayang di udara. Dengan segera, mereka berlima terjun ke bawah dengan mempersiapkan senjata mereka.


Keberadaan mereka yang tiba-tiba muncul langsung merusak kesigapan seluruh murid kelas sihir.


Kelas sihir yang tadi sudah yakin dan optimis akan menang malah berakhir kehilangan keyakinan mereka.


"Kami bukanlah murid yang hanya bisa bersinar karena keberadaan guru kami saja!"


Dengan mengatakan itu, Stevent melesat ke bawah dengan mengayunkan pedangnya. Cahaya dari pedangnya bagaikan sebuah gelombang indah saat pedang itu terjun ke bawah.


Aku sampai bingung, dia itu tsundere atau apa?


JDAM!


Stevent dan 3 regunya menghantam lantai ruang tahta itu dengan sangat kuat. Bahkan hanya dengan mengandalkan hantaman dari serangan mereka, seketika semua yang tidak memiliki kekuatan tanah ataupun es akan langsung binasah.


Kini hanya empat tersisa di tambah dengan pemimpin mereka.


"Hah?! Bagaimana bisa?! Kupikir mereka hanya berdua!" (Gadis kecil 1)


"Sepertinya regu kita yang berjaga di atas juga sudah di kalahkan." (Gadis kecil 2)


"Tenanglah, kita masih bisa!" (Murid berbadan besar)


Aku mencoba mendengarkan apa yang mereka coba rencanakan. Namjn sepertinya jarak kami terlalu jauh.


"Jangan lama-lama! Langsung habisi mereka!"


Moka yang tadi berdiri di depanku langsung maju dan berlari secepat kilat ke arah lawan yang tersisa.


"Jangan lupakan aku juga ada di sini!" Stevent yang baru saja dilewati Moka juga ikut berlari dan mencoba mengayunkan pedangnya dengan sangat kuat ke arah mereka.


"Aku juga tidak akan menjadi pagar ayu di sini!" Rizal yang dari tadi berdiri di belakangku juga ikut maju.


Semua murid yang tersisa di kelasku menyerang lawan mereka yang tersisa itu.


Tapi...


Semua pasti tidak semudah itu.


Mereka(musuh) sedang merencanakan sesuatu. Aku melihatnya dengan jelas. Setiap mimik tubuh mereka.


Di saat semua menyerang lawan yang tersisa, di sini, aku berdiri dan mematung. Menunggu sesuatu yang tidak pasti, tapi aku merasa dengan jelas.

__ADS_1


Sesuatu yang tidak terduga akan datang kesini.


......................


Tepat saat jarak di antara setiap teman-temanku cukup dekat, bisa dibilang hanya kurang dari 1 meter.


BLAST!


Sebuah api melesat ke arah lampu gantung yang berada di atas mereka. Lampu gantung itu langsung jatuh ke bawah dan bersiap menghantam mereka semua.


JDAM!


Disaat yang sama juga, sebuah tembok muncul dan mengitari mereka berempat.


GUBRAK!


Lampu gantung yang terjun ke bawah itu menghantam tembok yang melingkar itu dan membakar semua yang ada di sekitarnya.


Bila yang dimaksud sekitarnya, itu artinya...


"GYAH!"


"ARGH!"


"KYAH!"


"PANAS!"


"MEREKA GILA UNTUK BERANI MELAKUKAN INI!"


Suara teman-temanku yang terbakar terdengar dari sana dan langsung masuk ke kupingku bagaikan tertusuk dengan benda yang sangat tajam dan dalam.


Aku yang tertinggal di belakang hanya bisa melihati kegilaan ini dalam diam. Mataku dengan jelas merefleksikan setiap lawan dan kawan yang terbakar.


Ruang istana seketika terbakar oleh insiden ini. Jika aku tidak segera keluar, maka aku juga akan tereliminasi dari sini.


"Jadi ini, ya?"


"Musuh-musuhku menunggu saat-saat ini untuk melakukan Last Resornya dan membakar mereka semua bersama."


Tunggu, bukankah itu artinya komandan mereka seharusnya ikut Knock Out?!


Di saat itu juga, sebuah bayangan berjubah melompat keluar bagaikan sebuah bola yang ditendang dan berbelok.


"Tak kusangka... Ternyata masih ada yang bisa selamat." Bayangan berjubah itu membukan jubahnya dan memperlihatkan wajah aslinya.


Senyuman dan tawa yang terpampang di wajahnya membuat siapapun yang melihatnya ingin memukul pipi laki-laki itu dengan kuat.


"Tenanglah, tidak perlu waktu lama. Kau akan mengikuti seperti teman-temanmu!"


DAK! DAK! DAK!


Laki-laki itu berjalan dengan melompat-lompat ke sampinh dengan membuat sebuah es yang melayang sebagai pijakannya.


Jarak kami sudah semakin dekat, laki-laki itu melompat ke arahku dan melesatkan tangan es-nya yang lancip ke arah leherku.


Dia mencoba menggorok leherku.


"Tamatlah su-!" (Dipotong oleh serangan lain)


DOR!


Sebuah peluru tiba-tiba melesat ke arah laki-laki yang sudah bersiap menghabisiku.


Dia seketika tepar di tanah dan melihat arah sumber tembakan dengan mata yang bergetar-getar.


"Ka-kau..."


Sayangnya sistem dengan cepat menganggapnya sebagai Knock Out dan mengeluarkannha dari istana.


Aku mencoba menoleh dalam kebekuanku. Bagaiakan sebuah robot, aku berbalik dan melihat arah datangnya tembakan.


Saat mataku bertemu dengan penembak jitu itu, mataku tiba-tiba melebar dan ternganga tanpa bisa berkomentar.


"Gita?!"

__ADS_1


Aku menyebut namanya, namun dia tidak menjawab. Dia hanya memberi jempol padaku dan tersenyum layaknya idiot.


Tapi, kenapa aku bisa sampai lupa keberadaanya?


__ADS_2