Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 26. Insiden Ledakan Sekolah End, Doni Kusuma


__ADS_3

Aku berjalan di samping ibuku menuju keluar sekolah, sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Penilaian guru bukanlah urusan kami, tapi kemenangan Rasyid yang kami cari. Meskipun tanpa melihat jalannya pertarungan, kami yakin dia akan menang.


Kami menuju parkir tamu sekolah, di sana terparkir mobil jeep hitam milikku. Sambil membukakan pintu buat ibuku, aku bertanya. "Kenapa kita tidak lihat sampai akhir saja, daripada ibu melototi kerjaan di kantor?" Aku bertanya sambil menahan pintu mobil.


"Jika kau sudah yakin Rasyid menang, maka ada berkas yang harus disiapkan." Ibuku berhenti di depan pintu mobil dan menatapku dengan tatapan dingin.


"Jangan-jangan ibu akan memberi tahu kejadian yang sebenarnya secara detil?!" Mataku meleber mengetahuinya.


"Ini sudah jadi keharusan..., janji adalah janji." Ibuku menundukkan kepalanya.


Aku memalingkan wajahku darinya dengan melas.


"Tapi aku masih tidak yakin dia akan kuat. Jika emosi mempengaruhi kekuatannya, bukannya sebaiknya kita memberi tahunya sedikit demi sedikit?" Aku melepas peganganku pada pintu dan mengangkat kedua bahuku.


"Aku tidak tahu apa itu emosi, begitu juga anak itu. Pria itu benar-benar menghancurkan bukan hanya emosinya, tapi jiwanya juga." Ibuku menatap langit sambil menyinggung seseorang.


"Tapi bukankah Pak Wakil Bupati mencoba mengembalikan emosi adiknya dengan menempatkannya di sini?" Aku mengelak gagasan ibuku.


"Mungkin itu benar, tapi... apakah anak itu benar bisa mencintai seseorang kembali?" Ibuku sekarang menyinggung kejadian itu.


"Aku ya-(terpotong oleh suara ledakan besar)


"Apa yang terjadi?!" Aku tiba-tiba terkejut oleh suara ledakan dari dalam sekolah.


Ibuku melihat ke arah ledakan. Muka terkejutnya tidak bisa dia sembunyikan, tapi dengan cepat dia memasang ekspresi serius. "Sepertinya kali ini kau yang benar, anakku." Ibuku memujiku sambil membetulkan kacamatanya.


Aku melihat 8 elemen terpecah ke seluruh isi sekolah, sekarang aku sadar maksudnya. Rasyid mencoba melawan masa lalunya, tapi berujung kegagalan dan hancur berkeping-keping.


"8 elemen menyebar, berarti memang ada kesempatan, bu!" Aku berteriak dan refleks menyentuh bahu ibuku dengan keras.


"Sungguh tidak sopan sekali kau." Ibuku melepaskan peganganku. "Anak itu masih belum bisa melawan masa lalunya, untuk kali ini aku akan mengikuti kata-katamu, nak." Ibuku mengeluarkan pageblug-nya dan sebuah tongkat sihir terbentuk dari chip itu.


Sebuah benda mirip meteor akan jatuh di atas kami. "Ada yang datang!" Aku lari menangkap ibuku dan menggendongnya untuk menjauh dari arahnya serang.


Sebuah naga petir dan kura-kura tanah muncul dari bekas meteor itu. Tubuh mereka diselimuti elemen yang sangat kental, bahkan misalnya naga petir itu melawan sihir tanah tingkat menengah yang merupakan penangkalnya , maka tanah yang menghalanginya akan hancur tanpa sisa.


Aku menurunkan ibuku dan maju sambil mengaktifkan pageblug-ku, sebuah kapak bermata dua terbentuk.


"Kalau cuman begini aku bisa melawannya!" Aku mengangkat kapakku di bahuku dan mengangkat genggamanku.

__ADS_1


"Tidak perlu melawannya! Buat kerusakan seminimal mungkin!" Ibuku melengking dari belakang.


Seketika langkah majuku terhenti dan menoleh ke arahnya. "Kenapa?! Bukannya akan berbahaya jika dibiarkan, kalau ibu kesulitan masalah ganti rugi, biar aku yang menggantinya!" Aku mengoceh.


"Dasar anak kurang ajar!" Ibuku berjalan maju dan memukul kepalaku dengan tongkat sihirnya. Sebuah perasaan mengerikan tiba-tiba terasa setelah aku terpukul tongkat itu.


"Apa yang akan kau lakukan, Bu!" Aku bertanya melihat ibuku yang berjalan ke makhluk itu dengan santai.


"Lihat saja." Ibuku berkata dengan santai meskipun sekarang ini dia menghadapi sesuatu yang sangat kuat.


Dia menghentakkan tongkatnya dan mengucapkan sebuah mantra yang menyerupai kode. "CODE NAME: NAGA, REMOVE CORE, CODE NAME: KURA-KURA, REMOVE CORE!" Ibuku mengangkat tongkatnya yang bersinar ke atas.


Kedua makhluk itu langsung mengerang kesakitan karena tubuh mereka melepuh. Hanya dalam sekejab 2 makhluk tadi lenyap tanpa jejak dan hanya menyisakan kristal dari tubuh mereka.


Kristal itu terbang ke pergelangan tangan ibuku. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Aku tidak tahu hal seperti itu bisa dilakukan.


Ibuku menoleh ke arahku dengan pelan. "Dari dulu Anitya bukanlah sebuah percobaan sihir atau sebuah evolusi manusia. Melainkan senjata biologi yang diremot oleh seseorang, jika orang yang mengendalikan Anitya ingin mematikan Anitya dalam diri seseorang. Mereka tinggal memasukkan kode dan orang itu bukan hanya kehilangan kekuatan sihir mereka, tapi juga kehilangan keabadian mereka. Mereka akan kembali menjadi manusia yang rapuh dan muda mati seperti dulu kala." Sebuah senyum terlukis di wajahnya.


Aku bergerak mundur dengan wajah yang ketakutan. "Jadi selama ini, kau mengirim Rasyid untuk menghabisi seseorang melalui cara itu?" Aku mengingat saat aku bertanya-tanya, bagaimana Rasyid bisa menghabisi nyawa seseorang di bawah perlindungan Anitya. Sekarang semuanya sudah terungkap di depan mataku.


"Hmm." Ibuku mengangguk.


GWARRRRR!


Suara macan terdengar dari sini. Ibuku melihat ke sumber suara dan berlari dengan cepat. Aku mengikutinya dan mencoba menggendongnya, akan aneh jika orang-orang melihat seorang nenek berumur lebih dari setengah abad berlari cepat.


"Terima kasih." Ibuku menerima bantuan yang kuberikan.


Kami berhenti di dekat sebuah kerumunan siswa yang sedang bertarung melawan sebuah macan. Seorang guru perempuan yang pendek dengan rambut pirang twintail telah berhasil melawan macan itu.


"Masih belum." Aku mengatakn itu sambil menurunkan ibuku. Macan itu masih bisa berdiri.


"Biar aku yang menyelesaikannya." Ibuku menghentakkan tongkatnya dan mengatakan hal yang sama. "CODE NAME: MACAN, REMOVE CORE." Seketika macan yang mau menerkam siswa yang lengah lenyap, untungnya kejadian terjadi pas guru itu mengibaskan cambuknya.


"Sepertinya para siswa akan mengira kalau guru itulah yang berhasil mengalahkannya." Aku menyilangkan tanganku dengan tersenyum.


"Biarkan saja, ayo ke lokasi selanjutnya." Ibuku menarik 3 kristal dari bekas pertarungan itu.


"Dimana?" Aku jujur tidak tahu lokasi mereka.

__ADS_1


Ibuku menunjuk ke arah toilet guru. Aku mengusap mataku untuk memastikan ibuku tidak sedang bercanda. Sekali lagi kulihat ibuku, tapi dia masih menatapku dan menunjuk ke toilet itu.


Aku menghela nafas dan menggendong ibuku ke depan toilet itu. Dua orang sedang bertarung melawan makhluk berwujud tupai dan kerbau. Salah satu orang sudah kalah, menyisakan satu orang yang dikepung dua makhluk.


Ibuku langsung melakukan seperti yang dia lakukan. Dua makhluk itu hilang dan kristalnya diambil olehnya.


Aku tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakan ibuku pada guru itu. Yang kutahu dia membangkitkan tubuh Rasyid di sana dan membicarakan sesuatu yang penting karena yang diajaknya bicara adalah seorang pangeran kerajaan.


Kami meninggalkan 2 orang tadi dan berjalan ke lokasi selanjutnya. Kali ini ibu menolak untuk kugendong dan memilih berjalan pelan ke tempat terakhir.


Sebuah kantin yang sudah rusak karena bekas serangan makhluk elemental kami masuki. Kami melihat kekacauan yang sudah diperbuat makhluk itu.


"Padahal cuman satu makhluk elemental saja, tapi kerusakannya sangat parah." Aku melihati sekitaran kanti yang sudah berantakan.


"Itu dia! Kristal terakhir." Ibuku menariknya.


"Tunggu! Apa yang sedang kalian berdua lakukan!" Seorang guru dengan senjata pedang melayang menghampiri kami.


"Cuman melihat-lihat kerusakan kantin..." Aku tertawa dengan paksa sambil menggaruk rambutku.


"Tenanglah anakku..., kalau kau tidak suka. Maka kami akan pergi." Ibuku berjalan keluar kantin karena semua yang dia butuhkan sudah selesai. Aku mengikutinya keluar dari tempat itu. Pria tadi hanya bisa melihat dengan ekspresi bingung.


"Hey! Kalian benar-benar numpang lewat?" Teriak guru itu lantang.


Aku mengarahkan kampakku ke hadapannya. "Jangan banyak tanya! Kami sedang pusing!" Aku menegur guru itu sambil memperlihatkan kartu namaku.


Guru itu langsung menonaktifkan pageblug-nya dan melangkah mundur, karena tidak mau mengacau lebih jauh.


Di kartu itu tertulis kalau aku adalah kepala dari yayasan ansuransi. Dengan begitu, dia langsung paham maksud kedatangan kami. Meskipun itu bukan tujuan kami sebenarnya.


Entah kenapa saat keluar salah satu siswi perempuan berambut hitam menarik perhatianku. Bukan berarti aku suka padanya, tapi aku merasakan banyak energi Rasyid telah masuk dalam dirinya.


Saat di perjalananan menuju parkiran, ibuku menghentikan sebuah langkah. Seseorang dengan jas hitam menerima kristal dari ibuku. Rambut panjangnya langsung membuatku sadar, dia adalah Rizki.


"Sejak kapan kau kesini?" Aku terkejut, namun dia hanya menatapku tidak menjawab. Dia memalingkan badannya dan pergi ke arah mobilnya lalu pergi meninggalkan kami.


Ibuku menundukkan kepalanya dengan mata tertutup. "Biarkan saja, kita sebaiknya tidak ikut campur urusan keluarga lebih dalam lagi." Ibuku berjalan ke arah mobil jeepku.


Aku mengikutinya tanpa bertanya lebih jauh.

__ADS_1


__ADS_2