
Aku menatap mobil yang membawa Hakam pergi ke tempat antah barata. Seketika naluri bahayaku aktif dan mencoba mendengar apa yang dibicarakan oleh orang-orang di dalam mobil itu.
"Sial...! Padahal lawannya cuman bocah, tapi nyusahinnya setengah mati!" Sang sopir mengeluh sambil menahan rasa sakitnya.
"Tidak aneh bila mereka disebut murid Sekolah Podoagung! Mereka semua ada di atas rata-rata saat sudah bertarung menggunakan pageblug!" Temannya yang duduk di sampingnya mengagumi dalam kesakitan kehebatan para siswa.
"Melawan 2 siswa saja sudah menyusahkan, dan terlebih 7 dari teman kita masih tertinggal di sana. Aku bingung, bagaimana dengan nasib rekan kita yang lainnya saat melawan mereka! Kita dengan regu yang paling banyak saja sudah kewalahan, apalagi mereka yang cuman membawa sekitar 3-5 orang!" Sopir itu khawatir.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Siswa yang menggunakan kacamata tadi sungguh mengerikan. Aku bahkan kehilangan anggota tubuhku saat melawannya!" Ungkap teman dari sang sopir yang sekarang sudah baik-baik saja.
" Tapi untunglah, orang yang satu ini tidak terlalu kuat! Dia cuman punya tenaga yang hebat, tapi tidak diimbangi dengan pemilihan strategi yang tepat." Sopir itu menjelaskan apa yang menyebabkan Hakam bisa berakhir di mobil itu.
"Kira-kira butuh berapa banyak sandra yang dibutuhkan untuk membuat Putri Tyas menyerahkan diri?!" Temannya sang sopir bertanya.
"Entahlah, sebanyak mungkin yang penting atasan kita bisa mendesaknya. Semakin banyak semakin bagus, kan?!" Sopir itu tersenyum lebar.
Sudah cukup sampai situ. Aku tidak perlu mendengarnya lebih lama lagi. Aku harus segera bertindak sebelum ini menjadi semakin besar.
Aku menolehkan tatapanku ke arah Dahlia yang masih melihati para penculik.
"Laporlah pada polisi! Aku masih ada urusan dengan mereka!" Aku memerintahnya dengan tatapan datarku.
Ini bukanlah sesuatu yang bisa melibatkan orang-orang seperti Dahlia. Kuharap dia tidak memaksa untuk ikut.
"Ha?Lalu kau mau kemana?! Menemui boss mereka?!" Dahlia menatap terkejut tapi datar.
"Mungkin, tapi aku harap kau tidak terlibat dengan masalah ini! Jika kau bertemu lagi dengan mereka, satukan kedua tanganmu seperti sedang memohon. Katakan "CODE: KEPO EMPEROR!" Maka itu akan melindungimu dari bahaya seperti mereka." Aku menjelaskan bagaimana menggunakan kekuatan KODE yang tidak sengaja kutanamkan padanya.
"Jika misi itu terlihat sangat berbahaya sampai membuatmu cemas. Maka aku akan mengerti, dan akan mencoba tidak terlibat." Dahlia yang kalem tapi cerewet, sekarang terlihat penurut saat dia membuat orang yang dia cintai khawatir.
"Makasih..." Aku tersenyum padanya karena sudah mengerti.
Aku pergi meninggalkan Dahlia bersama barang belanjaanku yang sudah hancur untuk menguru orang-orang tadi.
Saat sudah berjalan cukup jauh dan tidak ada yang bisa melihat. Aku mengaktifkan sihir cahaya dan mengejar mengikuti mobil itu dengan berlari.
'Kemana kalian akan pergi?' Aku semakin penasaran dengan siapa yang mengirim mereka.
Dalam hatiku yang sedang ngos-ngosan ngejar mobil itu, aku teringat kata-kata Nova. Sepertinya aku memang benar-benar menari di telapak tangannya.
Tapi biarlah, aku sudah tidak peduli. Yang kulakukan hanyalah mencoba menjaga reputasiku dan nama baik sekolah ini.
Akan buruk bila Nusantara melihat para murid Sekolah Podoagung dijadikan sandra oleh para penculik. Image mereka sebagai sekolah bergengsi akan hilang seandainya mereka mengetahuinya.
Saat jarak sudah semakin dekat. Aku mulai menyadari kalau ada mobil lain yang mengejarnya. Seseorang dengan pakaian pelayan menyetir mobil itu dengan tatapan tajam, sedangkan dibelakangnya ada tuannya yang duduk di dibelakang dengan tatapan khawatir.
'Stevent, ya?' Aku menatapi anak itu dengan kasihan.
Sebaiknya dia tidak ikut campur dulu. Aku mengaktifkan sihir api dan menembak kedua ban depannya sampai terbakar. Jalan yang sepi membuat mobil bisa rem mendadak dengan selamat.
Ini lebih baik.
Tidak enak bila ada orang yang melihatku. Ini adalah penculikan skala besar, para murid tidak akan kuat untuk melawan mereka.
__ADS_1
Berdasarkan dari analisaku saat melawan mereka tadi, para penculik adalah pengguna sihir tingkat tinggi. Dan berdasarkan cerita kedua supir itu juga, mereka bilang mereka punya kawan dan sekarang mereka semua berjalan kembali ke markas.
Jika di totalkan dari perkiraanku, butuh sekitar seluruh guru kelas 2 untuk melawan mereka semua yang ada di markas. Itupun mereka harus kompak untuk selamat dari tempat itu.
Mobil yang membawa Hakam berhenti di suatu pabrik yang sudah tak terpakai. Sebuah pabrik roti yang lama sudah tidak beroperasi karena kebangkrutan saat itu. Kudengar bekas pabrik ini akan dibeli oleh pengusaha asing baru-baru ini. 'Jadi untuk alasan ini dia membelinya?'
Mereka berdua keluar dari mobil mereka dan membawa Hakam yang terikat keluar dari dalam mobil dan menggotongnya ke dalam pabrik.
Aku segera mencoba menyusul mereka. Tapi dari pengamatanku, ini tidak akan mudah. Ada sekitar 12 penjaga yang berada di gerbangnya saja. Masih ada puluhan penjaga di sekitaran dinding pabrik.
"Ha...." Aku menghela nafas.
Aku harus menyelesaikan ini dengan segera sebelum para guru juga ikut campur. Lagipula aku sudah janji pada Bahar untuk tidak membuat para guru dan murid terjun ke duniaku.
Aku mengaktifkan sihir es untuk menutup mulut mereka semua. Dalam sekejab mereka terkejut dan ingin berbicara dengan rekan mereka. Tapi sayangnya, teman mereka juga mengalami hal yang sama.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menggunakan pageblug mereka sendiri untuk menghancurkan es yang membeku di mulut mereka sendiri.
Aku jelas tidak akan mengijinkan hal itu terjadi. Dengan cepat sebelum mereka menghancurkannya, aku mengaktifkan sihir angin dan mengumpulkan mereka semua ke depan gerbang pabrik.
Para penjaga semakin kebingungan. Takut, bingung, terkejut, dan perasaan mati rasa mereke rasakan saat ini.
'Semoga tenang di alam sana!' Aku mengucapkannya meskipun tahu mereka tidak akan benar-benar mati.
Sebuah sihir listrik yang sangat kuat akan kukeluarkan. Tapi sebelum itu, aku menurunkan sebuah hujan yang sangat deras di tempat mereka berkumpul.
Wajah ketakutan mereka semakin menjadi-jadi. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi jelas hal buruk akan menimpa mereka.
Di sisi lain, aku malah tersenyum datar dan menatap detik-detik kehancuran mereka.
JDARRR!
Sebuah petir menyambar mereka yang sedang basah kuyup. Hal itu jelas akan sangat fatal, dan membuat mereka menjadi lumpuh total.
Mereka semua tepar seperti robot yang dimatikan dengan tombol turn off.
Masalah para penjaga sudah selesai, tinggal orang-orang yang ada di dalamnya.
Aku berlari menggunakan sihir cahaya dan menyelinap masuk ke dalam pabrik. Kemungkinan para penjaga masih ada sangatlah tinggi.
Aku berhasil menyelinap masuk lewat salah satu jendela raksasa yang ada di dinding paling atas. Terlihat di dalamnya ada sekitar lebih dari 100 siswa sudah mereka amankan. Hakam dan Moka juga termasuk dalam mereka.
"Sudah kuduga mereka berdualah yang akan tertangkap." Mataku menatap tajam mereka.
Tak lama setelah itu, aku menatap ke beberapa siswa lainnya dari atas. Masih ada beberapa murid dari kelasku yang masih tidak kukenal. Terutama siswa gemuk itu, kuingat dia adalah yang pertama kali termotivasi dengan kata-kataku saat itu. Jika kuhitung, ada 13 muridku yang berada di sana.
'Sudahlah, kerjakan saja urusanku!' Aku mengingatkan pada diriku sendiri.
Aku melompat turun dari jendela menuju platform-platform yang ada di dalam pabrik itu. Berjalan perlahan, aku menyergap satu persatu para penjaga dengan pisau dari sihir es meskipun itu agak berbahaya.
Sampai pada akhirnya, aku menemukan ketua dari para penculik. Tapi berdasarkan pengalamanku, dia bukanlah otak dari ini semua. Aku harus mengintrogasinya untuk membuatnya berbicara.
Perlahan aku berjalan menuju orang yang sedang asyik mengobrol dengan seseorang melalui ponsel itu. Jarak sudah dekat, aku bersiap menusuknya untuk melumpuhkannya.
__ADS_1
CTANG!
Pisauku hancur oleh tangannya yang dilapisi besi.
"Ternyata Sang Champion suka bermain diam-diam?" Ujarnya sambil tersenyum menghina ke arahku.
Aku melompat mundur dan bersiap menyerang. Dia juga sudah bersiap, sebuah tepuk tangan ia lakukan. Tak lama setelah itu, aku dikerumuni oleh para penculik.
"Hah...." Aku kembali menghela nafas.
Bila begini, aku harus menggunakannya lagi.
Beberapa dari mereka sudah bersiap menembakkan sihir mereka ke arahku. Sayangnya itu tidak akan terjadi.
Mulutku melengkuk membuat senyuman jahat. "CODE NAME: REMOVE ANITYA, IF SOMEONE IS AROUND ME: TO EVERY MAN ABOVE 20 YEAR OLD! IF NOT: DO NOTHING!" Aku meneriakkan sihir KODE dengan pelan tapi bernada kental.
Seketika sihir mereka terhenti dan mereka semua terbarung pingsan tanpa terkecuali.
Aku yang sadar apa yang akan terjadi bila tidak segera menyelesaikannya, harus segera menghabisi mereka semua.
Aku mengangkat tanganku dan membuat aliran listrik di sekitar tanganku yang mengangkat. Perlahan benda itu membesar dan menyebar ke arah mereka.
"Hanguslah!" Mataku menatap tajam mereka semua yang terbaring pingsan.
ZASHH!
Sihir listrik yang kukeluarkan menyebar ke arah mereka dan masuk kedalam tubuh mereka.
Terlihat tidak ada yang terjadi, namun beberapa detik kemudian. Seluruh dari komplotan itu meledak dan bertaburan kemana-mana, aku mengecualikan sang ketua mereka. Tapi aku juga tidak bisa membiarkannya hidup lebih lama lagi.
Cairan merah mulai menyiprat hampir ke seluruh bagian tubuhku. Sebuah pengalaman yang sudah lama tidak kurasakan kembali terulang.
Jika tidak salah, terakhir kali aku merasakan ini saat menghancurkan kepala keluarga kerajaan. Para prajurit mereka cukup keras kepala dalam melindungi tuaanya, padahal mereka cuman butuh uang. Kenapa mereka mau mengobarkan nyawanya seperti itu?
Begitu juga dengan mereka saat ini, kasihan sekali. Mereka bekerja untuk hal yang sama, tapi kematian mereka bahkan tidak ada yang memperdulikannya.
Aku berjalan ke ketua mereka yang menjadi-satunya yang selamat dari kejutan listrik itu.
"A-apa yang kau inginkan?!" Dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan merangkak mundur dariku dengan ekspresi yang ketakutan.
Dia benar-benar sudah di fase 'asalkan selamat'. Mulutku tersenyum jahat dengan lebar, mataku bercahaya dalam gelapnya pabrik, tangan mengepal kuat untuk segera menghabisinya.
Aku menangkap kepala orang itu. "Bila mau selamat, beri tahu. Siapa tuanmu...?!" Aku menanyainya dengan suara yang dingin.
Dia menatapku ketakutan setengah mati. "Tuan Norman, Norman Colbertstein. Itulah tuanku!" Dia memohon ampun dengan tubuhnya yang sudah bergetar hebat.
Tidak ada tanda-tanda kebohongan darinya. Aku merasa puas setelah mendengarnya, mulutku bahkan semakin tersenyum lebar. Sayangnya, semua yang sudah terkena KODE, harusku...
Aku berjalan berbalik dan menjauh darinya. Aku dalam sekejab mengaktifkan pageblugku dan menebaskan pedangku ke tubuhnya. Sihir es kuarahkan ke badannya yang sudah tak bernyawa.
Dia seketika mati, dan tergeletak ke tanah dalam keadaan beku. Aku menghancurkan tubuhnya dengan sihir api sampai tak bersisa.
Semua yang kuinginkan sudah terkumpul. Aku sebaiknya segera menelepon polisi. Para guru juga kelihatannya akan datang ke sini untuk menyelamatkan mereka.
__ADS_1
Aku berjalan keluar dengan pelan. Para murid masih ada di dalam tapi itu sudah bukan menjadi urusanku. Mereka nanti juga pasti akan diselamatkan oleh para guru yang datang.
Aku mengaktifkan sihir cahaya dan pergi dari tempat itu dalam sekejap.