
Pertemuan mereka dengan keempat guru lainnya membuat sebuah reuni kecil yang bahagia di dalam hati mereka. Namun kebahagiaan itu seketika mereka tebas sendiri dengan perasaan waspada terhadap satu sama lain.
Mereka semua mengaktifkan senjata mereka seakan mengira kalau salah satu grup akan menyerang duluan.
Kepercayaan mereka menurun satu sama lain.
"Kalian... Kenapa kalian membuka senjata kalian?" Haran melotot ke arah ke empat guru itu.
"Kalian duluan! Kenapa kalian mengangkat pedang ke arah kami?!" Fredrica mencengkram pisaunya seperti pencopet yang sedang menodongkan senjata ke korbannya.
"Itu mungkin masuk akal... Baiklah kalau begitu..." Haran paham dengan keadaan, dia menurunkan busurnya.
Situasi menegangkan ini tidak akan berakhir bila salah satu dari dua sisi ini tidak ada yang mengalah. Dia langsung menoleh ke belakang tanpa membalikkan badannya. Tangan kanannya diangkat sebahu untuk memberi isyarat agar teman-temannya ikut menurunkan senjatanya.
"Ah... Kalau begitu..." Fredrica yang bingung karena lawannya dengan segera mengalah hanya bisa mengikuti mereka.
Bagaimanapun, ini adalah permintaannya. Lawannya sudah melakukan apa yang diminta. Jadi kini adalah gilirannya.
Kini kedua grup telah menurunkan senjatanya. Tidak ada lagi situasi genting untuk saat ini.
......................
Angin malam berhembus kuat di atas bukit yang mereka pijaki itu. Sinar rembulan yang tertempel di samping artilery membuat sebuah pemandangan yang indah.
Kedua grup itu saling berhadap-hadapan dengan pencahayaan yang minim. Mata mereka tidak berbelok sedikitpun ke arah lain selain grup sebrang.
"Jadi... Apakah kalian ke sini untuk alasan yang sama?" Daniel membuka percakapan.
Meskipun dengan pencerahan yang minim, semua guru seketika tahu kalau orang yang berbicara itu adalah dia. Badannya yang gemuk menjadi ciri-ciri khas pria itu.
"Jika kalian pikir target kami adalah Rasyid... Maka kalian salah." Zarbeth maju kedepan kelompoknya untuk memimpin perbincangan.
"Maaf, tapi bila tujuan kalian berbeda. Maka kami tidak bisa menganggap kalian sebagai sekutu!"
"Apakah itu adalah jawaban 'asli' dari dirimu, Daniel?"
Meskipun lawan bicaranya menggunakan nada yang menghina, Zarbeth tidak merasa tertegur ataupun marah. Suaranya tetap datar, keras, dan tegas seperti orang berwibawa.
"Geh!"
Pernyataan nenek itu membuat Daniel tersentak. Dirinya mulai mempertanyakan apa yang dia mulai lakukan saat ini.
*Jes! *Jes! *Jes!
Penerangan seketika hidup di sekitar mereka. Api yang terbakar seperti api unggun itu terbuat dari sebuah kartu yang diletakkan di atas tanah. Mereka seketika tahu siapa yang membuatnya.
"Lodo?" Zarbeth menoleh ke arahnya.
"Zarbeth, apa kau mau mengoceh soal teman lamamu itu lagi?"
Teman lama yang dimaksud Lodo adalah Nova. Nama itu sering terdengar di seluruh kelas 3 Sihir waktu sebelum Penilaian Guru. Zarbeth selalu menceritakan detil tentang nenek itu sebelum rencana mereka dieksekusi.
"Seperti perkiraanmu, saat ini pertarungan kalian tidak hanya melawan pria itu, namun juga sesuatu yang lebih kuat dari itu... Nova Sena sang Bupati."
"Kami tahu itu... `Meskipun hanya sebagian`." Dia seketika mengatakan seusatu secara berbisik.
Ketiga orang di sampingnya tidak mendengar apa yang dia katakan. Tapi Zarbeth yang berdiri di depannya tahu apa yang diucapkan pria tua itu.
__ADS_1
"Huh(menghela nafas)..." Nenek itu menundukkan kepalanya. "Jadi kau membiarkan mereka yang tidak tahu, berjalan menuju misi bunuh diri, begitu?"
Lodo tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya menutup matanya secara pelan dan menundukkan kepalanya tanpa membalikkannya ke posisi semula.
"He-hey... Apa yang sebenarnya kalian berdua perbincangkan?" Fredrica yang merasa tertinggal dialog berjalan ke tengah di antara mereka berdua.
"Sesuatu yang hanya dimengerti oleh orang tua seperti kami." Zarbeth mengelak pertanyaannya. "Lupakan saja soal tadi, kalian(menoleh ke arah tiga orang lainnya)... Apakah kalian mau ikut bersama kami? Apa yang kami lakukan di sini tidak ada sangkut pautnya dengan mereka berdua(Rasyid dan Nova). Kedatangan kami di sini hanya untuk membawa kalian keluar dari neraka ini."
Mereka semua melebarkan mata mereka dan tersentak dengan apa yang diucapkan nenek itu barusan.
"Membebaskan kami?" Fredrica memiringkan kepalanya.
"Dari neraka..." Rasputra menunduk sedih seketika tahu maksud dari perkataan nenek itu.
"Apa maksudmu dari neraka?! Kita di sini untuk menghancurkan neraka itu!" Terbalik dari mereka berdua, Daniel malah menepis niat baik nenek itu.
"Menghancurkan neraka? Apa kau sudah lupa seberapa mengerikannya Rasyid itu, bahkan dengan artilery sebesar itu sekalipun tidak akan bisa menghentikannya."
"Itu kaunya saja yang tidak tahu! Kami dibantu oleh sang Gubernur untuk menghancurkan pria itu! Dan bisa kalian lihat, artilery itu adalah bukti bisu dari bantuannya!" Sambil menunjuk ke arah artilery.
Seluruh kelompok Zarbeth terkejut saat mendengar gelar itu disebut, namun Zarbeth tetap tenang.
"Apakah kalian berhasil?"
"Tentu saja belum!"
"Lalu, sudah berapa banyak korban yang jatuh?"
Pertanyaan itu lagi-lagi membuat mereka bertiga membisu.
Zarbeth tidak perlu mengetahui jawabannya dari mulut mereka. Hanya dari melihat saja sudah kelihatan apa yang terjadi.
Kalimat tadi adalah fakta yang tak terbantahkan. Meskipun dengan bantuan Gubernur sekalipun, namun bila lawannya saat ini adalah Rasyid dan Nova. Maka yang mereka lakukan saat ini tidak lebih dari hanyalah hal bodoh.
......................
Merasa perdebatan hanya akan berjalan panjang, Haran berjalan kedepan lalu berhenti sejajar dengan Zarbeth. Dirinya berkacak pinggang sambil menatapi ke empat orang itu dengan wajah yang mengatakan 'ya sudahlah'.
"Pembicaraan ini hanya akan berlangsung lama jika tidak segera diakhiri sekarang. Jadi... Begini saja."
Haran memberikan sebuah saran pada keempat orang itu. Saran itu jelas sesuatu yang menguntungkan mereka dan membuat mereka percaya pada wanita itu.
Kesepakatan telah terbentuk.
Haran mengangkat tangannya sedada untuk memberi jabatan tangan. Senyuman di mukanya membuat situasi semakin ringan dan seakan memberi tahu pada mereka untuk menyerahkan semuanya padanya.
Daniel mencoba membalas jabatan tangan itu, namun sebelum dia bisa menyentuh tangan wanita itu. Lodo menyerobot dan mencuri jabatan tangan iu.
"Ini adalah misi yang berbahaya, Haran..."
"Tenang saja kakek tua, aku kali ini tidak akan gagal. Aku pastikan itu." Haran membalas kerisauan Lodo padanga dengan senyuman yang melewati cerahnya api unggun di gelapnya malam.
"Semoga beruntung." Lodo memutar badannya.
Dia menatap Daniel yang dia salib sebelumnya.
"Maafkan aku, kebiasaan di hari tua." Dia membungkuk dan berjalan melewatinya.
__ADS_1
Saat berada di jajaran yang sama dengan Fredrica dan Rasputra, Lodo balik badan dan menunggu gerakan dari tim yang satunya.
"Dasar orang tua..." Daniel menatap orang tua itu dengan tatapan bodoh.
Dia tidak marah karena diserobot begitu saja. Sifat kakek itu yang seperti itu sudah bagaikan makanan sehari-hari baginya.
Dengan begitu, Daniel mengikuti arah langkah Lodo dan berbaris seperti yang lainnya.
Kedua kelompok saling bertatapan.
Namun itu tidaklah lama.
Kelompok Zarbeth selain Haran maju ke arah kelompok Lodo untuk bergabung bersama mereka. Haran tertinggal di sana dan masih berdiri sambil masih memasang senyuman yang sama cerahnya seperti sebelumnya.
Kelompok itu menatap Haran dengan tatapan sedih karena harus berpisah. Namun, mereka tahu kalau di dalam diri Haran sudah terdapat sebuah tekad untuk mengatasi ini semua. Barang-barang yang dia bawa sebelum datang ke sini menjadi bukti tekad itu.
"Kak Haran... Semoga kita bisa bertemu lagi." (Tasya)
"Anda memiliki sebuah keberanian yang tidak kumiliki... Kembalilah dengan selamat!" (Xander)
"Jika kau bertemu dengan Rasyid, kau bisa menghajarnya sesukamu, aku ikhlas kok!" (Samuel)
"Semoga beruntung, Haran." (Widodo)
"Aku akan menaikkan jabatanmu sampai yang tertinggi bila kau berhasil kembali." (Bahar)
"Kami semua mempercayaimu, Haran..." (Zarbeth)
"Semoga beruntung." (Rasputra dan Fredrica)
"Tch! Ingatlah Haran! Ini adalah kenekatanmu yang terakhir!" (Daniel)
"Terkadang aku berpikir, kalau ini adalah tugasku karena di sini aku adalah yang paling tua. Namun, dari aku melihat tekadmu. Mataku terbuka, kalau masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh kalian orang muda." (Lodo)
Mereka semua memberikan kalimat perpisah terakhir dengan wanita itu.
"Semuanya... Terima kasih." Haran tersentuh, dadanya dia pegang dengan lembut. Air mata tertahan di matanya.
Dia berbalik dan menatap ke arah gedung yang sudah rata jadi tanah itu. "Semuanya, aku pergi!" Tekadnya terlihat jelas di wajahnya.
"Kami juga akan pergi!"
Secara bersamaan, mereka berpisah dan berjalan menuju tujuan mereka masing-masing.
Haran berjalan ke arah gedung, sedangkan kelompok yang sudah bersatu mencoba berjalan menyusuri bukit untuk bertemu yang lainnya.
Haran tidak merasa sendiri saat ini. Dia merasakan teman-temannya yang tadi bersamanya menyoraki kepergiannya.
Dirinya bahkan sempat menengok ke belakang.
Dia tidak hanya melihat bayangan temannya, dia juga melihat bayangan dari orang yang sangat dia sayangi.
Bayangan gadis itu bercahaya dalam kegelapan. Senyumannya terlihat begitu berkilau di mata wanita itu. Itu adalah senyuman adiknya, Tania.
"Tania, lihatlah kakakmu saat ini! Kakakmu melakukan sesuatu yang benar saat ini! Bersama dengan teman-teman kakak! Kakak akan membuat dunia yang kamu impi-impikan!"
Kalimat itu berucap di atas air mata kebahagiaan wanita itu. Ini mungkin akan menjadi akhir darinya, namun dia tidak takut. Dia sudah bertekad.
__ADS_1
Haran langsung terbang ke udara menggunakan Hover shoes yang diciptakan. Dia terbang dengan indah bagaikan peri di dunia fantasi yang memberikan jejak penuh warna.
Tujuannya saat ini, sang bupati, Nova Sana.