
Mata Astra menatapku secara tajam. Busurnya dihadapkan ke arahku seperti mau memanahku. Tapi sayangnya, kebereniannya terhalangi oleh tangannya yang bergetar.
Aku menatapnya seakan sudah tahu maksudnya. Apakah dia mau menyelesaikan masalahnya dengan cara pride of man atau yang lain?
"Kau mau berduel melawanu?" Aku menatap datar wajah tajam anak itu.
Kemarahan, kesedihan, kecemburuan, dan rasa iri bersatu dalam dirinya. Dia ingin menghilangkan perasaan itu hanya dengan melawanku.
Sayangnya menurutku itu masih belum cukup untuk menghilangkannya tapi setidaknya dia sudah berusaha untuk mencobanya. Maka aku akan menerima tantangannya.
"Ya, aku akan berduel denganmu, tapi bukan duel secara cara formal tapi dengan cara para petarung liar!" Astra mengepalkan tangannya yang satunya.
Duel secara formal dan liar tidaklah banyak perbedaan. Yang jadi pembeda mereka adalah tempatnya dilakukan. Jika duel formal dilakukan di atas arena, maka duel liar bisa dilakukan dimana saja, bahkan bisa membawa taruhan bersamanya.
Mataku yang tadi datar langsung menajam saat mendengar kata-katanya. Itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya dikatan oleh anak sekolahan. Duel liar tidak kelihatan seperti yang mereka lihat, itu lebih dari itu.
Aku akan tutup mulut saja untuk sekarang.
"Baiklah, tapi kau mau bertarung di mana? Apakah di sini?" Ucapku sambil sedikit bercanda.
WUSHHH
Anak panah melesat tepat di pinggir leherku. Mungkin jika aku banyak bergerak maka leherku akan tertusuk benda itu.
Mata anak itu belum mengalami perubahan sama sekali. Busurnya belum diturunkan, menandakan kalau dia benar-benar ingin di sini.
"Kalau itu maumu, ya sudah." Aku mengeluarkan pageblug-ku dari saku dan mengaktifkannya.
Wajahku mencoba untuk tidak serius terbawa suasa, senyumku kupaksakan, dan curved sword kuarahkan ke arahnya. "Aku cuman mengingatkan saja padamu, ini akan menyakitkan!" Aku menatap kecewa anak ini. 'Dia mencoba menantangku di lorong seperti ini, dimana jelas-jelas busurnya akan mengalami kerugian.'
Kami berdua saling bertatapan satu sama lain untuk menunggu salah satu dari kami bergerak. Tapi kelihatannya itu mustahil, dia terlalu waspada untuk maju.
'Ya sudah!'
Aku melompat ke dinding dan berlari di atasnya. Sebuah charge attack akan kugunakan untuk pembuka pertarungan.
'Kena kau!' Pedang kutebaskan ke arahnya.
Tiba-tiba pas aku sudah dekat dengannya kabut asap yang gelap membutakan penglihatanku. Lorong yang tadi memiliki cahaya yang minim kini menjadi benar-benar tanpa penerangan sama sekali.
Mulutku secara tak sadar tersenyum melihat rencananya. 'Jadi ini alasannya dia memilih tempat ini?' Aku telah salah menilainya.
Dia benar-benar disebut Ketua OSIS bukan hanya karena kesigapannya tapi juga kepintarannya dalam mengurus sebuah rencana. Kupikir awalnya dia hanya bertarung secara membabi buta karena ini adalah masalah hati.
Kupingku dengan cekatan menyadari ada anak panah yang melesat ke arahku. Salah satu tanganku kuarahkan ke arah anak panah itu muncul.
BRAK!
Anak panah itu seketika hancur oleh perisai tanah yang kubuat tepat saat anak panah melesat melewati telapak tanganku.
WUSH WUSH WUSH.
3 anak panah datang menyusul anak panah yang pertama.
'Merepotkan saja.' Aku menonaktifkan curved sword-ku dan mengangkat kedua tangan untuk bersiap menahan serangan.
BRAKK!
Seluruh bagian lorong tertutupi oleh gumpalan tanah yang tebal sehingga para anak panah sudah tidak bisa melewatinya.
"Yang tadi itu bukan anak panah, melainkan sihir angin," ucapku sambil menepuk-nepuk telapak tanganku yang kotor.
Sudah kuduga, yang tadi itu hanyalah serangan umpan. Karena yang sebenarnya ini adalah untuk serangan yang sebenarnya.
__ADS_1
JDAGGG!
Astra ada tepat di atasku dan menendang dari atas.
Aku memutarkan badanku dan menahan high jump kick nya dengan kedua tanganku. Bunyi kretek karena tulang yang patah terdengar di tanganku.
"Memanfaat lorong untuk bergelantungan ke atas dan membuat serangan kejutan, sungguh mengagumkan. Sayangnya itu tidak sesuai dengan peranmu sebagai pemanah, Arjuna!" Mataku menatapnya dengan senyum puas.
Dia terlalu tenang saat pertarungan, matanya hanya melototiku terus tanpa menjawab.
Padahal aku sudah memprovokasinya, tapi dia tidak termakan sama sekali.
"Diam terus membuatku kesal!" Aku mendorong Astra yang masih berada di atasku.
Dia terlempar ke atas tapi dengan cepat tangannya menangkap besi yang berada di lorong-lorong itu untuk digunakan bergelantungan.
Dia berputar layaknya sirkus dan melompat ke atas. Busurnya ia keluarkan dan dibidik ke arahku.
JDARRR!
Gelombang angin hitam keluar dari busurnya yang dia lesatkan.
Gerakanku yang melambat membuat lengan kananku yang biasa kugunakan untuk memegang senjata terkena serangan.
Saat terkena serangan aku menyadari sesuatu, biasanya dalam pertarungan. Akulah yang tenang dan musuhku yang banyak mengoceh. Tapi sekarang, dalam pertarungan ini, aku lebih banyak mengoceh daripada bertarung. Apakah ada mantra yang digunakannya sehingga aku banyak ngoceh?
Apa boleh buat, jika seperti ini terus aku akan kalah. Sebaiknya aku memanfaatkan kondisi Astra yang sedang terjun untuk mendarat ke tanah saja.
Aku menghentakkan kakiku ke tanah.
BWAR!!!!
Sebuah tornado air muncrat ke atas dan menjadi sangat padat. Benda itu kebentukkan menjadi meruncing.
Sebagai guru yang baik, aku membawa turun Astra perlahan dengan air yang kumuncratkan tadi.
Wajahnya yang kelelahan serta tubuhnya yang berlubang sedang mencoba berdiri dengan paksa.
Dia berdiri dengan perlahan sambil mengatur nafasnya. Tangan kanannya memegang tangan kirinya yang terluka. Kacamatanya yang ia gunakan pecah begitu saja. Busurnya terlempar jauh kebelakangnya.
Aku menatap datar bocah malang itu, dia tidak terlihat berbahaya lagi.
Tapi itu jika ini adalah pertarungan formal. Nyatanya ini adalah duel liar.
Aku maju ke arah Astra dan menendangnya dengan kaki yang kuberikan elemen tanah.
BRUAKKK!
Dia terlempar kesamping dan menatap tong sampah yang ada di pinggir lorong itu, pipinya membengkak karena bekas tendanganku.
Tapi dia masih belum menyerah. Dia bangkit dan berlari dengan pincang menjauh dariku.
Aku tanpa belas kasihan maju mengejarnya. Tendangan keras kugunakan dan mengenai tepat di punggungnya.
Astra kembali tersungkur ke tanah.
"Aku akan mengakhiri ini," ucapku dengan datar.
Aku mengeluarkan pageblug-ku dan mengaktifkannnya. curved sword yang berbentuk seperti arabian sword akan kutancapkan pada punggung Astra yang tersungkur.
Saat mencoba menancapkan senjataku, aku menoleh ke wajahnya. Mulutnya yang tadi menganga karena kelelahan tiba-tiba tersenyum.
Aku yang sadar akan hal itu langsung menghilangkan niatku untuk menusuknya dan melompat mundur ke belakang.
__ADS_1
'Sial, tidak sempat!'
Daguku terkena tendangan kakinya.
Astra kembali berdiri dengan tubuh yang sudah terluka parah. Meskipun begitu, wajahnya tersenyum puas. Dia senang melakukannya, dia senang telah mencobanya.
Mulutnya perlahan membuka lebar. "AHHHHHHHHH!" Teriakan yang keluar dari mulutnya mengeluarkan sihir anginyang sangat dahsyat.
Tubuhku terbawa angin sampai ke belakang.
Jadi ini alasannya kenapa dia diam dari tadi. Dia sedang mengumpulkan sihir angin dari mulutnya untuk dilesatkan ke arahku.
'Sasuga, Ketua OSIS. Meskipun sableng tapi kau cerdas!" Ungkap dalam hati sambil tersenyum dengan menutup mata meskipun sedang terlempar ke belakang oleh angin kencang.
"Tapi ini bukanlah kemenanganmu!" Mataku membuka lebar dan mengeluarkan sihir tanah di belakangku.
BRAKK!
Tubuhku menabrak dinding tanah yang kubuat dan mendarat di tanah karenanya.
"Ah... ah... ah..." Aku kelelahan karena melawannya.
Saat aku mencoba menengok ke depan, Astra sudah mengambil busurnya dan mengancang-ancang untuk memanahku.
"Ini kemenanganku, Pak. Lakukanlah, Gandhiwa!" Astra melepaskan tali busur itu.
Anak panah melesat ke arahku dengan sangat indah. Benda itu bercahaya di dalam kegelapan lorong itu. Keindahannya membuatku terdiam dalam kekaguman.
ZLEBBB!
Anak panah itu menancap tepat di pinggirku.
Aku hanya bisa melirik anak panahnya yang mengagumkan.
"Aku kalah, benar-benar kalah." Aku berdiri dan menyatakan kekalahanku.
Untuk pertama kalinya, aku dikalahkan oleh sebuah keindahan. Dan hasil dari duel ini adalah aku yang benar-benar kalah tanpa membiarkan lawanku menang.
Wajah Astra yang tersenyum lega tergambar di sana. Dia berjalan pincang ke arahku tapi gagal dan jatuh.
Aku menahannya dirinya yang mau jatuh menggunakan kedua tanganku.
"Selamat nak, kekuatanmu dan cintamu telah menang." Aku memberinya selamat.
"I-ini bukan apa-apa, a-aku menang ka-karena ini du-duel liar." Astra merendah di atas tanganku yang menahan tubuhnya.
"Woi woi..., apa kau lupa? Aku ini petarung liar... Seharusnya akulah yang seharusnya mendapat keuntungan saat ini. Tapi takdir berkata lain, saat ini kau menang melawanku, bahkan di bidangku sendiri."
"Te-terima kasih..."
"Jadi, apa yang kau inginkan? Ingat ini duel liar, jelas ada taruhannya. Jika kau ingin aku menjauhi Dahlia mungkin aku akan memikirkan soal itu."
"Tidak, itu ti-tidak perlu. Yang kuinginkan hanyalah 'jangan melukai hatinya...' I-itu saja yang kuinginkan."
"Kau benar-benar pria sejati, Astra."
Tubuh Astra pingsan karena luka yang telah kuberikan.
Aku memberikan hormatku padanya, dia adalah pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab.
"Siapa di sana!" Suara polisi dari belakangku mengagetkanku.
Tubuhku dengan santai menatap ke depan dan bersiap kabur. Bagiku ini adalah hal biasa dalam duel liar.
__ADS_1
Aku mengangkat tubuh Astra menjauh dari sini dan meninggalkan polisi itu di lorong yang gelap dan berantakan karena bekas pertarungan kami.