Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 64. Hati yang Berdebu


__ADS_3

Di teras-teras kelas, seorang wanita berumur lebih dari 23 tahun berjalan dengan nada yang konstan menyusuri seisi sekolah.


Matahari yang masih mengintip membuat suhu di sekolah ini terasa seperti malam di padang pasir.


Putri yang menatapi setiap ruang bentuk dari sekolah itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi datar yang bagaikan papan di wajahnya.


Hari pertama ujian akan dimulai dengan sangat letoy dan terasa seperti marathon Hyouka 2 season.


Note: Hyouka itu anime.


Kantong mata dibuat terus menurun setiap kali mengganti tema yang ia lihat.


Namun karena yang disebut pekerjaan, sang putri tetap harus melakukan pekerjaan yang selalu menyerang kantuknya.


Suara yang tidak berirama di belakangnya adalah satu-satunya sumber semangat sang wanita itu.


Suara itu berasal dari bagian muda sayapnya, sayap muda itu adalah yang akan menjadi pendamping hidupnya sepanjang hidupnya.


......................


Point of View: Earl Xander Xander


Aku tak paham dengan situasi ini, namun keinginanku untuk tetap tidak menatap bunga lili oranye itu sangatlah kuat.


Kenapa ini terjadi?


Bukankah, aku yang sudah memutuskannya?


Lalu kenapa?


Apakah perasaanku pada orang itu masih belum berdebu dan dihinggapi laba-laba?


Tapi, bahkan meskipun aku saya mencari menemukan orang wanita itu sekalipun.


Tak mungkin juga dia mau menerimaku.


Inikah, yang disebut dilemma buah simalakama?


Memikirkannya saja sudah membuatku seperti terseret ke dalam pusaran air yang ada di keningku.


"Kau kenapa, Xander?"


Suara harmonica menanyaiku dan membuatku kembali ke dunia nyata.


Kepala wanita itu berputar 25% ke kiri tanpa mengubah arah tubuh utamanya.


Meskipun suara harmonica itu merdu, tapi tetap mengejutkan nadiku.


"Tidak, tidak ada apa-apa." Aku memamerkan gigi-gigiku yang putih sambil menahan keringat dingin di wajahku.


"Kalau ada masalah..." Suaranya lirih sambil mengembalikan posisi kepalanya. "Aku bisa jadi host 'Bukan Empat Mata'-mu."


"Nanti saja, setelah matahari berada tepat di atas kita saja!" Aku menunjukkan telapak tangan kananku padanya.


"Ehmm... Sebaiknya kalau mau membicarakan hal pribadi bisa sekarang saja!" Widodo yang menjadi sayap kanan putri itu mulai merasa tidak enak berada di antara kami.


"Bila kalian bedua mengijinkan, aku akan meninggalkan kalian berdua..." Ucap pria tua itu dengan suara yang gemetaran.


"Ah tidak usah-(terpotong oleh suara lain)"


"Ide bagus!" (Anjani)


"Apa maksudmu?!"


"Istirahatlah, masalah ini mungkin akan sangat panjang!" (Anjani)


Dengan sigap, Widodo sedikit membungkuk dan menaruh telapak tangannya di depan jantungnya untuk pamit.


"Baiklah, Putri Tyas..."


Brak Brak Brak


Suara langkah kaki yang keras dari sepatunya kini kian mengecil dan siluet dari punggungnya juga semakin tidak terlihat.


Kini kami hanya bagaikan pasangan yang mencari tempat sepi.


"Mari bicarakan di ruangan itu!"


Aku yang masih menatapi pria tua itu tersentak oleh suara harmonica yang ditiup kencang.


"Eh, i-iya!"


Aku terpaksa mengikuti apa maunya.

__ADS_1


Ini akan jadi sedikit sesuatu yang bermasalah buatku.


Andai saja aku bukan orang yang terikat politik, maka kebebasan memilih pasangan mungkin aku bisa dapatkan.


BRAK! KREK!


Suara dua kayu yang bergesek memberi suara yang sangat kencang, dan lalu, diiringi sebuah logam yang berputar dan merapatkan dua bagian kayu itu.


......................


Point of View: Rasyid Londerik


Menunggu dari mata elang membuatku merasa tidak nyaman, mungkin dengan berjalan-jalan menyusuri sekolah ini dapat menghilangkan ketidaknyamananku.


"Pak Rasyid?" Suara cempreng dari wanita yang mersahkan terdengar di sampingku.


"Selamat pagi, Tasya..." Aku menyapa dengan senyuman yang menahan dinginnya pagi.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak berada di posmu?!" Dia mengangkat telunjuknya.


"Cuman jalan-jalan..."


"Hmm, memang benar ada bagusnya dari pada diam di pos tanpa melakukan apa-apa."


Dagunya dipijat-pijat dengan jari telunjuk dan jempolnya. Matanya tertutup seperti membayangkan sesuatu yang hebat.


Tapi sesuatu yang Amazing hanya dapat terpikirkan oleh loli legal ini hanya saat pikirannya diambil oleh miras saja.


Aku sampai pernah berpikir, kalau Tasya ini orang pintar yang menyamar jadi bodoh.


"Dan aku sekarang tanya...!" Ucapku dengan intonasi yang terus meninggi.


"Kau sekarang... Sedang apa?" Retinaku menatap rendah guru itu, sampai-sampai cahaya yang ada di mataku tidak dapat mencerminkan wajahnya.


Dia tiba-tiba tersetrum dan menjadi batu layaknya patung.


Melihat reaksinya setelah mendengar pertanyaan tadi...


Hanya ada satu kemungkinan yang terlintas di otakku.


Tiba-tiba nafasku kuhelakan, mataku kukunci ke bawah, keningku di tahan oleh kuatnya telapak tanganku.


"Kau... mau bolos, kan?" Ucapku dengan sayu.


"Ehe!"


Melihat kelakukannya yang sok imut seakan membuat tanganku bergerak dengan sendirinya.


Kedua pipi loli legal itu kutarik keluar dari posisi aslinya.


"Akh, Pak-Pak Rasyid... Berhenti! Aku gak suka diginiin! Ini seperti, kalau aku adalah anak kecil!"


"Makanya jangan coba-coba mengelak dari jawabanku!"


"Ma-maaf maaf!"


Merasa frustasiku hilang, aku melepaskan cubitan di pipinya dan mengembalikan tanganku ke posisi semula.


Pipi wanita itu sekarang malah terlihat melar dan kayak orang kena gondok.


"Oh, maaf..." Aku merasa tidak enak setelah melihat kondisi pipinya.


"Ti-tidak apa-apa..." Ucapnya lirih sambil mengangkat jempolnya ke arahku.


"Kau ini aneh!" Kataku sambil berkacak pinggang.


"Aneh kenapa?"


Tiba-tiba kemelaran dan efek gondok di mukanya hilang sesaat setelah kutanya.


Dia ini aneh pake banget, suer dah.


"Kau tidak marah meskipun aku sakiti seperti tadi..."


Aku mencoba menganalisa.


"Apakah kau..." sambil memegang daguku. "...Seorang masokis sepertiku?"


"Heh?" Ucapnya sambil berpikir.


"HEH?!" Kagetnya delay.


"A-aku masokis?! YANG BENER?!" Suaranya seperti kapal yang mau berlayar.

__ADS_1


"Apakah aku, apakah aku, apakah aku tertular virus Rasyid?!"


Kedua bagian empuk di wajahnya terus ia pegangi sambil berteriak.


"Mana ada yang namamya virus Rasyid?! Mana pakai namaku lagi!" Aku menyentaknya.


"Habis... Habis... Habisnya aku merasa senang setelah kau cubit! Berarti aku sudah tertular olehmu!"


"Mana ada yang namanya tertular?!"


Aku menunjuk ke arahnya dengan mata yang terbuka lebar dan suara yang melewati batas jakunku.


Tasya terdiam setelah kalimat itu, dia menunduk dan wajahnya terlihat gelap.


Aku menjadi merasa bersalah setelah mengatakan itu.


Langkahku mendekat ke arah loli itu untuk memeriksanya.


"Apa kau tid-


"Hihi."


Suaraku terputus oleh senyumannya.


Sebuah senyuman yang sangat lebar dan layaknya bulan setengah yang terbalik.


Matanya tidak kuat untuk mengangkat penutupnya, air mata yang mengalir di pipinya menyertai senyuman itu.


Itukah, senyuman tulus?


"Kenapa kau?" Aku bertanya dengan nada hampa.


"Tidak apa-apa." Dia mengatakan itu sambil berlarian sedikit menjauh dariku.


Badannya sedikit ditundukkan ke samping, dia menghadapku dari kejauhan dengan ekspresi yang masih belum berubah.


Pose tubuhnya seakan terseret angin bersama dengan rambut twintail-nya.


Bila saat ini ia difoto, mungkin akan mendapat sebuah jepretan yang sangat luar biasa.


"Sampai nanti, Pak Rasyid!" Dengan senyuman itu, dia pergi begitu saja.


Tunggu, bukankah itu artinya dia lari dari pertanyaanku?


Sial, aku dibodohi lagi.


......................


Merasa jalan-jalanku belum puas, aku membalikkan badanku dan melanjutkan langkahku yang terhenti karena loli tua itu.


Langkahku terus kuhentakkan, namun anehnya, setiap TAK dari tabrakan sepatuku dengan lantai selalu saja tidak mengeluarkan bunyi sama sekali.


Apakah ini adalah kebiasaan?


Tapi sepertinya, kebiasaan ini tidak boleh kutumpulkan.


Kelas-kelas yang terbuka lebar kulalui satu persatu layaknya aku sedang mengeceknya.


Padahal aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan, tapi karena kelihatannya sedikit berguna, maka aku lakukan saja.


Sampai ada satu kelas yang tertutup rapat tertangkap oleh indra penglihatanku.


Kulihat pola lubang besi di pintu itu menghadap ke samping. Itu artinya, ruangan itu dikunci.


'Bisa gawat kalau Putri Tyas Anjani melihat kelas yang tertutup saat dia berkeliling. Si Gendut Baseball itu pasti akan dalam masalah!' Erangku dalam hati sambil mendekati pintu yang terkunci itu.


Sebuah es berpola kecil yang merupakan bentuk dari kunci itu kubuat.


Meskipun dari balok es, sekalipun bentuknya pas, maka pintu itu tetap bisa dibuka.


Namun saat es itu mau masuk ke lubangnya, aku merasakan adanya hawa dua orang yang berada di dalamnya.


Musuh?!


Pencuri?!


Atau Para Penculik?!


Aku mendekatkan indra pendengaranku di kayu tipis yang berdiri di depan kelas itu.


"Xander, aku ingin jawaban! Apakah kau serius dengan pertunangan ini?!"


Suara nyelekit layaknya assault riffle yang ditembakkan berkali-kali kudengar dari dalam kelas yang tidak ada tempat masuk itu.

__ADS_1


Xander?!


Kenapa dia?


__ADS_2