
Keesokan harinya, tepatnya di kantor Nova, dia memanggilku untuk keperluan dari Anitya-ku.
"Ini bukan masalah besar..." ucapnya santai di balik meja bupatinya.
"Lalu? Bagaimana caranya?"
"Kau atur saja ke default Anitya-mu menggunakan sihir kode..."
"Efek samping?"
"Tidak ada efek samping bila kau menggunakan itu pada dirimu sendiri..."
Efek samping akan menjadi sesuatu yang paling akan aku tanyakan setiap kali menggunakan sihir KODE, aku tidak mau hal itu terulang lagi.
Tapi sepertinya apa yang dikatakan nenek ini ada benarnya juga, hal seperti itu tidak mungkin mengenai diri sendiri, kan?
Atas saran dari nenek itu, aku mencoba melakukan apa yang nenek itu katakan.
"CODE NAME: KPMPR, RESTART TO DEFAULT!"
Dengan segera, aku merasakan aliran Anitya yang berada di sekujur tubuhku tertarik ke dalam jantung dan terkunci di sana.
Butuh waktu sekitar 10 detik setelah penyerapan agar jantung itu terbuka kembali.
Dalam diriku, aku merasakan aliran Anitya kembali menyebar normal.
"Cobalah..." Melihat hal itu, Nova menyarankanku untuk melakukannya.
"Hmm(mengangguk)..."
Sesaat setelah itu, tangan kananku kuangkat dan telapaknya kuhadapkan ke atas.
BURN!
Dengan sedikit konsentrasi, bola api muncul di atas telapak tanganku.
Sepertinya memang benar-benar berhasil, kini Anitya-ku telah kembali normal dan tidak terlihat seperti ada masalah yang membebani diriku saat mengeluarkannya.
......................
"Kita ganti topik, Rasyid..."
"Aku dengar... Kau dikeluarkan dari sekolahmu... Apa itu benar?"
Sepertinya hal itu menyebar terlalu cepat, bahkan sampai ke kuping nenek ini.
Tapi informasi yang ia dapat sepertinya sudah dimodifikasi agar aku terlihat seperti seorang pecundang yang gagal dalam bertugas.
"Tidak, aku hanya bebas tugas sampai dua keluarga itu memutuskan..." Mendengar itu, aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Begitu ya... Tapi tidak ada yang tahu sampai kapan mereka menahanmu, bukan?"
"Aku akan menunggu, berapa lamapun itu..." Aku membungkukkan badanku sambil memegang dadaku dengan telapak tangan kananku.
__ADS_1
"Setidaknya khawatirlah sedikit... Jika kau terus seperti itu, maka kau tidak bisa menemukan jawabanmu lo..."
Aku tak tahu apa yang nenek ini maksud, tapi dia pasti memberi informasi mentah lagi, dan itu artinya aku harus mengolahnya untuk mendapatkan informasi yang kuinginkan.
"Sebenarnya, apa yang anda inginkan, Nova?" Ucapku tanpa berbelit-belit.
Bila dia sudah mengatakan hal-hal seperti itu, dia pasti memiliki tugas yang akan diserahkan kepadaku.
"Jika kau benar bila kau hanya bebas tugas beberapa hari saja, berarti kau juga masih belum menyelesaikan urusanmu di sekolah itu, kan?"
"Urusan?!"
Urusan apa, apakah aku terlupakan oleh sesuatu?
"Kau lupa? Ingatlah, para penculik itu masih ada dan tersisa satu saja yang belum memperlihatkan batang hidungnya..." nada nenek itu semakin lama semakin terdengar seram.
Sesaat setelah mendengar apa yang nenek itu katakan, aku menyadari itu, masih ada satu pebisnis yang belum dikalahkan, dan itu adalah orangnya, Jainal Zaka Zaki Mahesa Jinail.
......................
Di keramaian kota, aku berdiri di gedung tertinggi mencari hawa keberadaan orang itu berdasarkan lokasi yang diberikan pada Nova.
Dinginnya angin yang meniup-niup rambut dan bajuku membuat suhu tubuhku terasa seperti sedang berada di dalam kulkas.
"Seharusnya kemarin mereka ujian bertarung, dan hari ini seharusnya aku menonton mereka memperebutkan bendera..."
Sebuah lekukan di mulut tanpa sengaja terbentuk saat mengingat-ingat itu. Namun kini aku tidak punya pilihan lagi, kini aku hanya akan bergerak dibalik layar.
"Melihati pemandangan kota dari atas gedung tertinggi memanglah hal yang menakjubkan!" Teriakku secara tidak sadar.
......................
"Bagaimana, apakah mereka bisa melakukannya?" (Xander)
"Entahlah, tapi saat ini aku lebih memilih kelas itu..." Sambil menunjuk ke tim satunya.
Saat ini, di lapangan akan dimulainya pertarungan perebutan bendera antar siswa.
Sebagai pengingat, timnya akan berjumlah 4 orang dan akan diacak dengan satu angkatan lalu mereka harus bisa merebut bendera lawan dan dengan segera harus dimasukkan ke kotak yang ada di markas mereka.
Pemain yang kehilangan benderanya masih bisa bertarung sampai bendera itu dimasukkan ke kotak lawannya.
Bila bendera mereka sudah masuk kotak, maka pemain yang kehilangan bendera itu dinyatakan gugur.
Tim yang di dukung Xander adalah tim yang berisi 2 dari murid kelasnya, 1 dari kelas fisik 5, dan 1 lagi dari sihir 3.
Tim yang didukung lawannya adalah tim yang berisi 1 dari kelas fisik 1, 2 dari sihir 1, dan 1 dari sihir 4.
Sebentar lagi pertarungan akan dimulai, dan kedua guru itu mulai pasang harga.
"Kau tidak akan menang..." Ucap pangeran itu dengan licik.
"Kita lihat saja..."
__ADS_1
Tak lama setelah itu, orang itu bertanya kembali.
"Ngomong-ngomong, soal kau dan Anjani, kalian berdua sepertinya tidak kelihatan akrab."
Xander ingin mengatakan kalau dia malah membenci sifat kekanak-kanakan wanita itu, namun ini adalah politik, dia tidak bisa seenaknya asal ngerocos soal itu.
"Begitukah yang kau tahu?" Tubuh Xander terlihat sedikit berkeringat ragu.
"Hmm(menundukkan kepala dengan pelan)... Aku hanya sedikit mengira, bila kau..." Orang itu tampak ragu mengatakannya, namun dia seperti dipaksa untuk meneruskan perkataanya. "... Tidak menyukainya."
Tepat setelah itu, Xander menatap kaget apa yang orang itu katakan, dia tidak berani melawan maupun membenarkan ucapan orang itu.
Seakan dia berada di dalam dilemma hidup, bila dia jawab 'Kau salah!' maka dia akan memperlihatkan kalau dia sedang berjuang tanpa cinta, tapi bila dia menjawab 'Iya.' Maka dia akan tamat sebagai pangeran penerus, bagaimanapun juga, dia adalah anak yang paling dibanggakan keluarganya, jika dia membuat keluarganya hancur, maka dia akan jatuh ke jurang emosi yang berlebih.
"Apa pilihanmu... Xander?!"
Orang itu menunjukkan wajahnya, saat dilihat orang itu seperti wanita itu.
"Pilihanku.... Aku tidak tahu, Widya..."
Dia terlihat seperti pecundang yang kabur dari masalahnya, senyumnya yang licik tadi seakan hilang entah kemana.
Dia tidak tahu jawaban...
"Kau payah, cepatlah pilih, maka salah satu dari kami akan selamat!"
Widya tiba-tiba mengatakan sesuatu yang aneh, kata 'salah satu dari kami akan selamat' jelas-jelas akan membuat Xander bingunh.
"Apa maksud-"
Belum selesai mengatakan itu, wanita itu malah pergi dengan cepat.
"Ingatlah, taruhan kita disini masih berlanjut..."
Dia mengucapkan itu sebelum sepenuhnya hilang seperti debu.
Tak lama setelah wanita itu pergi, Anjani yang berjalan mencarinya akhirnya menemui tunangannya.
"Akhirnya ketemu juga kau, Xander!" Ucapnya dengan cepat dan langsung merangkul tangan pria itu tanpa rasa malu dilihati para penonton lain.
......................
Di lain sisi, Erika menghadap Bahar untuk menanyai kenapa orang itu mundur.
"Kenapa dia berhenti? Apakah karena kejadian kemarin?" Tanya Erika pada pria besar yang duduk dibalik meja itu.
"Dia bukan berhenti, hanya ambil cuti..." Ucapnya tanpa menatap langsung wanita itu.
"Sampai kapan?"
"Sampai dua keluarga itu memaafkannya mungkin?"
Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung keluar tanpa salam dan pergi keluar dari sekolah.
__ADS_1
Tujuannya saat ini adalah mencari pria itu.