Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 132.


__ADS_3

Gurun salju menimpa bukan hanya di Sekolah Podoagung, namum hampir seluruh wilayah sekitarnya. Para warga sekitar mulai bingung dengan fenomena alam aneh ini. Bagi para anak muda mungkin ini fenomena langka yang hanya terjadi beberapa kali dalam dekade, namun bagi para orang dewasa, fenomena ini adalah mimpi buruk mereka. Mereka seketika teringat dengan fenomena Musim Panas Api yang membakar seluruh penduduk Kota Ningru yang tidak memakai Anitya seperti yang disarankan nenek itu.


Di jalan-jalan pedesaan, Erika bersama Xander berlarian untuk memperingati apa yang terjadi saat ini.


"Semuanya, berhati-hatilah! Fenomena Musim Dingin Es akan segera berlangsung, dan bagi apra penduduk segeralah mengungsi ke luar kota!" Erika tanpa melembutkan cara penyampaiannya langsung membuat heboh satu desa itu.


Warga-warga mulai yang kebingungan akhirnya mengunci mata mereka ke arah Erika dan Xander yang berlari seperti orang gila di tengah jalan itu.


"Fenomena ini, apakah sama dengan seperti yang dulu?" Salah satu warga mencoba mendekat dengan menyilangkan kedua tangannya yang menggigil karena kedinginan.


"Kemungkinan, tapi efek dari fenomena ini mungkin tidak sama dengan dulu, bila api melenyapkan maka bila es akan membekukan kalian semua..." Pernyataan Erika membuat warga ketakutan, dan itu masih pernyataan awalnya. "...Ditambah dengan teknologi Anitya, itu mungkin artinya kalian akan terus hidup di dalam es itu sampai beratus-ratus tahun sampai orang melelehkan kalian!"


Pernyataan terakhir Erika tadi membuat warga yang tadi bergemetar karena dingin berubah menjadi bergemetar karena takut. Keringat dingin di tengah salju mulai membasahi tubuh para warga sipil itu, mereka tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan bila apa yang dikatakan pada Erika terjadi pada mereka.


"Hoy, bukankah itu artinya opsi kita hanya mengungsi saat ini juga?!" (Warga)


"Ya, karena itu kalian harus pergi segera!" (Xander)


"Bagaimana dengan barang berharga kami?"


"Tinggalkan, barang berharga kalian pasti aman, tapi tidak dengan nyawa kalian! Bila kalian membeku di sini, maka sesuatu yang lebih mengerikan dari kematian akan mengenai kalian! Apa kalian masih tidak paham?!"


Ceramah yang keluar dari mulut pangeran itu membuat warga yang tadi bermandikan keringat dingin menjadi semakin tak bernyawa. Tak ada satupun dari mereka yang bisa berkata.


Melihat ekspresi warga yang khawatir membuat Xander menghela nafas dan berpikir 'Apakah aku harus menggunakannya?' dari dalam hatinya.


Dengan helaan nafas yang singkat, Xander menepuk dadanya dengan membuat ekspresi serius. "Tenanglah, barang-barang kalian akan aman di bawah nama Xander!"


"Be-benarkah?!"


"Hmm(mengangguk)"


"Ka-kalau begitu, permisi."

__ADS_1


Mendengar kejelasan yang pasti, para warga merasa lega dan akhirnya bersiap meninggalkan lokasi dengan anggapan kalau semua barang berharga mereka diawasi langsung oleh Keluarga Xander.


Desa semakin sepi karena ditinggalkan, di lain sisi mereka berdua hanya bisa melihat dengan diam para warga yang meninggalkan desa mereka dengan terburu-buru itu.


"Apakah kau yakin dengan ini, Xander?"


Saat ditanya seperti itu, Xander hanya bisa menatap ke tanah yang sudah ditutupi salju itu.


"Ini adalah kesalahan mereka untuk mempercayai diriku!"


Mendengar pernyataan itu, Erika melebarkan matanya dan mulutnya terbuka karena terkejut.


"Apa maksudmu?!"


"Ini tahun 2056, mempercayai orang besar adalah kesalahan..." Saat mengatakan itu, Xander berbalik dan berjalan meninggalkan Erika yang masih tidak paham dengan jawaban pria itu. "Yang penting tugas kita selesai, maka aku tidak peduli lagi..."


Erika berbalik menghadap ke arah Xander, giginya menggigit keras bibirnya yang beku itu, air matanya turun dan membasahi pipinya yang dingin. Dia saat ini hanya ingin mengatakan satu hal, yaitu saat ini dia sangat kesal dengan perilaku Xander.


Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada pria itu, namun menghiraukan warga sipil dan lebih berfokus ke misi bukanlah gaya Xander yang ia tahu.


*Whush!


"Erika..." Xander menghindari anak panah itu, dia menoleh ke arah Erika dengan membaca wajah wanita itu.


Wajah Erika yang memasang mata yang lancip, dan mengunci pandangannya ke arah Xander terus terlihat di mata pria itu.


"Aku kesal dengan perbuatanmu, kau bertindak seperti penjahat, bahkan sama seperti orang tinggi lainnya... Hal itu~ membuatku kesal!"


Kebencian Erika pada orang-orang tinggi yang kini redup kembali membara. Dia seperti mengingat betapa ego-nya orang-orang itu. Bila saja dia tidak mengenal siapa Xander itu, mungkin saja dia akan langsung menambahkan serangan lain setelah Xander berhasil menghindari anak panah pertamanya itu.


"Begitu, ya? Baiklah, kita akan tunjukkan siapa yang berhak berkata! Jika kau menang, maka aku akan menjaga kata-kata itu, dan bila kau kalah~ maka diamlah dan nurut dengan rencanaku!"


Pertarungan di tengah-tengah bencana telah disepakati. Mereka berdua yang seharusnya mengekavuasi warga kini malah beradu cekcok dan berakhir bertarung satu sama lain. Bagaimanapun ini tidak bisa dihindari, mereka berdua berada dalam kondisi shock tentang kebenaran temannya, dan kini mereka emosi karena tidak tahu bagaimana harus bertindak.

__ADS_1


Mereka berdua menerima misi evakuasi ini juga karena sebenarnya mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan jika bertemu Rasyid secara langsung saat ini.


"Majulah, Erika!" Xander melakukan taunt sambil mengaktifkan pageblug-nya.


Tidak ada kata mundur, di sini mereka sudah menetapkan hati mereka. Mereka hanya harus mengulur waktu untuk tidak melihat temannya itu.


"Tidak, kaulah yang maju, Xander!" Di sisi lain, Erika menarik tali busurnya dan bersiap menembak Xander seberapa cepatpun dia bergerak.


......................


Mendengar secara logika, Xander mengaktifkan sihir cahayanya dan berlari secaea zigzag untuk menghindari arah anak panah yang bergerak ke arahnya.


*Whush!


Tapi dengan mata yang sudah terlatih, Erika berhasil menebak ke mana arah tubuh Xander akan berada.


Dia melepaskan anak panah ke arah lawannya, dan membuat Xander berhenti tepat di dekat anak panah yang melesat itu. Pria itu melihat bagaimana anak panah melewati kedua matanya lalu menatap sebuah pagar kayu di dekatnya.


"Tadi itu hampir saja, Champion!" Senyuman menyeringai menyertai kesenangan pria itu saat berhasil menghindari anak panah itu.


Tapi tepat saat dia kembali melihat ke arah lawannya, dia melihat sebuah wajah yang sudah berada tepat di depan matanya, jaraknya mungkin hanya seujung jari bahkan terlihat seperti orang yang mau bergesek bibir.


Erika dengan memasang wajah mengerikan menembus perut Xander dengan anak panah yang terbakar oleh api yang membara.


"Emosimu saat ini, membuatmu menjadi sangat teledor, Xander!"


Erika memandang rendah lawannya itu, dia bahkan menghabisinya hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat dan tanpa perlawanan yang berarti sedikit pun.


Perlahan kesadaran Xander mulai menurun dan akhirnya rubuh di tanah dengan lubang besar di perutnya.


Erika melihati dengan hina betapa rendahnya pangeran itu saat ini, dan betapa menyedihkannya pria ini sampai jatuh ke dasar jurang kesedihan seperti ini. "Kau berjanji padaku, Xander! Dan sekarang kau harus menepatinya!"


Meskipun lawannya sudah kehilangan kesadaran, namun Erika tetap meneriakinya, dia berharap kalau pria itu mendengarnya.

__ADS_1


Erika berselebrasi kemenangannya dengan menyambut bulan yang terbit dan matahari yang tenggelam.


"Ibu, apakah ucapanmu saat itu benar?" Erika tiba-tiba mengingat perkataan ibunya di malam itu.


__ADS_2