
Hujan deras menyertai pagi dunia ini. Payung-payung bertebaran di lapangan.
Suasana ini sangat berbeda dari biasanya, kini para murid dan guru berdiri di lapangan upacara untuk memberi penghormatan terakhir pada mereka bedua...
...Murid yang gagal kuselamatkan.
Bukannya menghadiri itu, aku malah ada di ruang kepala sekolah untuk menghadap langsung ke kedua orang tuam mereka.
'Ini... Adalah hukuman buatku!'
'Aku siap mental kapan saja...'
'Karena mentalku ini sudah hilang sejak awal...'
'Jadi aku tidak perlu takut lagi untuk kehilangan lebih banyak...'
Ucapku pada diri sendiri di waktu yang seakan melambat ini.
Di depan mereka, aku menundukkan badanku sambil menapakkan telapak tangan kananku ke depan dadaku.
"Maafkan saya, saya sudah mencoba sebisa mungkin.... Tapi... Saya datang terlambat..."
Salah satu dari ibu murid menggeser bibirnya ke samping.
Dia terlihat seperti sangat marah pada apa yang telah kulakukan, dia seperti ingin mencabik-cabik setiap kulitku yang akan terus meregenerasi sampai trauma.
Namun...
Tepat sebelum ibu dari Julia menyerangku, ibu dari Camal berjalan mendekat ke arahku dan menangis...
Kedua tangannya memegang erat kedua bahuku...
"Bilanglah pak, apakah... Anakku sangat baik saat di sekolah?" Ucap ibu itu padaku.
Dia setidaknya ingin tahu, apakah anaknya sudah berbuat banyak pada kelas apa belum.
Yang namanya ibu, dia pasti akan bangga sekecil apapun prestasi anaknya.
Pupilku perlahan menurun dan menatap uban-uban di rambut tua wanita itu.
"Ya... Anak anda menjadi sumber semangat pada kelas, seandainya anak anda tidak menyemangati seisi kelas saat itu, mereka pasti tidak akan menghadapi ujian ini dengan wajah yang bersinar dan optimis..." Ucapku sambil memaksa senyumku yang hampa.
Ini terlaku sakit untuk kukatakan, meskipun... Aku belum terlalu kenal dengan anak itu, tapi dia sudah memberi impact yang besar pada kelas dan teman-temannya, mungkin juga padaku? Tapi aku tidak terlalu ingat akan hal itu.
"Tch... Padahal kau lalai, tapi bisa-bisanya kau menangis bersama kami yang sedang berduka?!" Ibu dari Julia memakiku sampai liurnya melesat ke mataku yang berair.
ZRAGGH...
Namun makian itu segera dihentikan oleh ibu Camal dengan mengangkat tangan kirinya ke samping.
Wajahnya masih menempel ke dadaku, namun dia bisa menghentikan cacian wanita itu.
__ADS_1
"Saya tahu apa yang anda rasakan saat ini, namun... memaki orang ini juga bukanlah jalan yang benar." (Ibu Camal)
"Dia juga berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan murid-muridnya, tapi akhirnya... Dia hanya bisa menyelamatkan satu dari tiga muridnya..." (Ibu Camal)
"Menurutku... Itu saja sudah cukup buatku untuk memahami apa yang dirasakan pemuda ini..."(Ibu Camal)
Melihat hal itu, Ibunya Julia masih sedikit menangkap apa yang dimaksud wanita itu, namun dalam dirinya dia masih tidak bisa menerima itu begitu saja.
Fakta bahwa aku gagal menyelematkan anak mereka berdua tidak terbantahkan saat ini.
"Jika begitu, kenapa anda tidak memundurkan diri saja?! Anda gagal sebagai guru, lalu apa gunanya anda terus mengajar di sini?! Lagipula ini sekolah bergengsi, mana ada guru seteledor anda!"
Ucapan tadi bila di dengar oleh orang biasa mungkin itu akan menghancurkan mental mereka, namun buatku, aku merasa hampa seperti biasa.
"Baiklah... Bila itu yang anda inginkan, maka saya akan memundurkan diri sebagai guru di sini..." Ucapku untuk membuat wanita tua ini tenang.
Mendengar perkataan itu, para suami dan Bahar yang dari tadi diam, kini terkejut dan seperti tersetrum oleh sesuatu.
"Apa kau yakin untuk keluar?!" Bahar berdiri dari kursinya sambil menatap tajam ke arahku.
"Hmm(mengangguk)... Bila itu adalah konsekuensinya, maka aku siap!"
Aku menatap wajah pria gendut dan berjanggut lebat itu dengan kepercayaan yang sangat mantap.
Namun sepertinya saat ini masih ada yang masih berotak normal.
Ayah dari Julia tiba-tiba mengangkat tangannya, dan membuka mulutnya.
"Saya tidak keberatan bila anda keluar dari sekolah ini, namun buat saya...Ini sepertinya terlalu berlebihan..." Ucapnya sambil sedikit malu-malu.
"Tapi bila kita pautkan dengan apa yang terjadi di era sekarang, bagi kita... Kematian seperti sesuatu yang mustahil, bukan?" (Ayah Julia)
"Bukankah itu artinya lawan kita sangat berbahaya, bahkan sampai bisa menghancurkan kekuatan Anitya?!"(Ayah Julia)
"Benar juga, itu artinya... Kita harus melaporkan ini pada kepolisian! Ini akan jadi breaking news bila mereka tahu!" Ayah Camal menyaut apa yang dikatakan pria itu.
Namun ada satu masalah bila hal itu tersebar, yaitu tingkat pembunuhan akan menjadi tumbuh dan berkembang terus seperti dahulu kala.
Jadi apa gunanya Anitya kalau hal itu ketahuan?!
Dan terlebih lagi, pasti adanya deskriminasi antara pengguna sihir es dan listrik akan menyebar.
Terlebih lagi, bila ada pengguna sihir es dan listrik di satu jiwa, maka orang itu bila dijual di perdagangan budak, maka akan sangatlah mahal.
Hal itu juga bisa terjadi, kan?
Aku melirik pelan ke arah raut muka kepala sekolah itu.
Dia kelihatan berkeringat hebat saat mendengar ucapan dari pria-pria itu.
'Seseorang harus dijadikan kambing hitam, dan dia harus benar-benar berpengaruh!' Itu apa yang kudapat dari membaca raut muka pria besar itu.
__ADS_1
BRAKKK!
Tak lama kemudian, sebelum kedua ayah dari murid itu berbicara semakin entah ke sana ke mari, Bahar menggebrak meja kayu jati itu.
"Ini semua karna Putri Tyas Anjani..." ucapnya lirih namun seram.
Aku tidak menyangka kalau dia akan menggunakan nama orang itu sebagai kambing hitam.
"Para penculik sangat menginginkan benda berharga milik wanita itu, namun tak ada rencana mereka yang berhasil, dan alhirnya... Mereka memakai rencana sandra untuk membuat Putri itu keluar, namun hasilnya... Seperti yang kalian lihat... Putri itu tidak peduli, dan lebih memilih membiarkan wali kelas ini membereskan semuanya!"
Ucapan Bahar saat ini terlalu jauh, bila saja dia terdengar oleh orang lain, maka hal ini akan membuat fitnah dan membuatnya masuk bui.
Aku sadar dia melakukan ini agar menjaga nama baik sekolah ini, namun bila dia sudah kelewatan seperti ini, maka aku sebaiknya menghentikannya.
Meskipun apa yang dikatakan Bahar meringankan kebencian padaku sekalipun, ini tetaplah tidak bisa diterima.
Terlebih lagi, nama Earl Xander juga akan tercemar bila Putri Anjani terkena getah.
Aku sangat menghormati pria itu, bila ada yang berani menjatuhkan martabat orang itu, misal dia orang dekatku sekalipun, maka aku tidak akan membiarkannya begitu saja.
Tapi yang bisa kulakukan saat ini adalah tidak ada, dan sebaiknya aku mengambil tawaran untuk keluar dari sekolah ini saja.
"Berhenti Bahar...!" Ucapku lirih sambil menghantam lubang kuping pria itu dengan suaraku.
Bahar langsung terhenti dan tenang karena dengungan di kupingnya tidak bisa berhenti.
"Begini saja, saya akan keluar dari sekolah ini dalam beberapa hari SAMPAI anda semua sudah memutuskan takdir apa yang ingin anda berikan pada saya"
"Saat ini adalah saat yang tidak tepat untuk memutuskan ini, maka sebaiknya anda semua pikirkan betul-betul soal ini, seminggu? Sebulan? Setahun? Saya tidak keberatan seberapa lamapun anda semua memikirkan itu... Bagaimana?"
Para orang tua kedua muris itu menatap dengan berpikir.
Namun suami dari mereka mengangguk tanpa syarat.
"Ini lebih baik, bukan? Kita pikirkan ini di rumah saja, daripada di sini, malah jadi masalah?"
......................
10 menit kemudian, kedua orang tua murid itu meninggalkan kantor itu dan pulang untuk mendoakan anak-anak mereka.
Bahar yang duduk di kursi akhirnya sudah sembuh dari suara dengungan dahsyat itu. Meskipun kupingnya masih terlihat dikorek-korek oleh jemarinya.
"Apa kau yakin, Syid?"
"Hmm(mengangguk)..."
"Baiklah, kalau begitu... Apapun pilihanmu, aku akan mendukungmu, tapi ingatlah... Meskipun saat ini kau tidak punya sihir sekalipun, sekolah ini akan selalu menerimamu..."
Aku menoleh kewajah pria yang sedih itu, tak ada satupun kalimat atapun kata yang bisa kuucapkan padanya.
Yang bisa kulakukan saat ini adalah tersenyum ke arahnya, dan berkata.
__ADS_1
"Maaf, aku terlalu gegabah... Sepertinya aku akan gagal melihat perkembangan murid-muridku."
Aku mengatakan itu sambil menatap keluar jendela tepat ke langit yang gelap karena mendung dan percikan air yang ganas.