
Di pagi hari yang sama saat Rasyid memberi motivasi pada muridnya, disuatu tempat yang dijadikan sebuah markas sebuah organisasi penjual informasi, SANGKUNI.
Seseorang dengan berpakaian rapi menggunakan jas dan dasi, rambutnya yang pendek disisir rapi ke kanan dan sedang duduk di bangku ketua rapat.
Bersama dengan 6 orang lainnya, dia memimpin rapat yang tersembunyi dan minim penerangan itu.
"Baiklah, mari kita mulai rapat kita. Pertama, bagaimana kabar perusahaan kalian?" Sang ketua yang mari kita sebut dengan sebutan 'Sang Sangkuni' menanyakan sesuatu pada 6 orang lainnya dengan cengingisan.
"Tentu saja, semua berada di ujung tanduk...! Hahaha, tidak mungkin kalian ke sini saat keadaan baik-baik saja,kan?" Tawa mengerikan dia sertai saat mengatakannya.
Namun, para tamu hanya menatap diam orang itu. Orang yang menjadi ketua rapat itu pastilah orang yang sangat berpengaruh. Bahkan konglomerat-pun tunduk padanya.
Merasa puas tertawa, dia melanjutkan rapatnya." Kedua, apakah kalian sudah tahu tentang batu akik panca warna?"
Para bawahannya terlihat kebingungan dan saling melihat satu sama lain. Sampai pada akhirnya, salah satu orang dari mereka mengangkat tangannya.
"Batu akik panca warna, itu batu yang punya warna yang banyak, kan. Warnanya yang bervariatif membuatnya memiliki harga yang fantastis." Orang itu tersenyum optimis pada Sang Sangkuni.
Para tamu rapat lainnya hanya terlihat bingung dengan yang orang itu katakan. Banyak dari mereka tidak tahu apa itu. Mau bagaimana lagi, mereka bukanlah orang asli Nusantara melainkan orang luar negeri yang datang ke sini hanya untuk berbisnis. Mendengar nama batu akik saja sudah membuat mereka bingung.
Sang Sangkuni tertawa lepas saat mendengar pernyataan dari orang yang sudah memberanikan diri untuk menjelaskan itu. "Hahahaha ha ha, tepat sekali. Batu akik sangatlah mahal, semakin bewarna maka semakin mahal harganya. Tapi selain itu, batu itu juga punya kekuatan lain." Dia berdiri dan mulai mengitari para tamu rapat.
Para tamu hanya terdiam sambil menahan keringat yang jatuh di wajah mereka. Serasa ada tekanan berat yang membuat mereka tidak biaa berkata ataupun melawan orang itu.
"Batu akik bukan hanya punya harga yang mahal, tapi juga kekuatan." Sang Sangkuni berjalan mendekati tamu pertama yang duduk di dekatnya.
Wajahnya mendekati orang itu dari belakang menuju kupingnya, seakan ingin membisiki sesuatu.
"Tapi juga, sebuah kekuatan yang dapat melampaui Anitya," ucapnya lirih di depan kuping tamu pertamanya.
Setelah itu, dia melanjutkan pidatonya dan berjalan ke tamu yang kedua. "Teknologi Anitya memanglah kuat, tapi seperti yang kita tahu."
Dia sampai pada tamu kedua dan melakukan hal yang sama seperti pada tamu kedua. "Anitya masihlah punya kelemahan."
Kini langkahnya agak melambat menuju tamu ketiga. "Seperti yang kalian saksikan kemarin, saat penilain guru di kota Ningru yang diadakan di alun-alun kota. Secara tiba-tiba, sang kepala sekolah mengehentikan jalannya pertarungan di saat serangan akhir peserta ujian."
Dia sampai pada belakang tamu ketiga. Berbeda dengan mereka yang dibisiki. Tamu ketiga hanya diitari olehnya dari belakang.
__ADS_1
"Menurutmu, kenapa?" Kepalanya mendekat ke wajah tamu ke tiga sambil bertanya.
Dia mengembalikan posisinya sambil berjalan menuju tamu keempat yang berada di meja seberang.
"Apakah itu tidak aneh, bukannya Anitya adalah teknologi yang digadang-gadang sudah sempurna?" Dia mengangkat kedua bahunya dan melebarkan tangannya dengan penuh tanya.
"Lalu kenapa, kenapa pertarungan perlu dihentikan?" Ucapnya sambil berjalan ke tamu keempat yang sudah dekat.
"Apakah karena cemas seseorang akan terbunuh oleh sihir yang bahkan dibuat dari kekuatan Anitya itu sendiri?" Dia menatap dengan ekspresi marah tamu keempatnya.
Setelah itu dia berhenti, dan berjalan ke belakang tamu ke 4,5, dan 6. Dia mulai mengambil posisi istirahat di tempat.
"Bukankah kalian, para konglomerat tidak senang dengan adanya teknologi ini?" Sang Sangkuni mulai tersenyum licik dari sana.
"Kalian tidak bisa melenyapkan lawan usaha, bahkan OB sekaligus!" Dia memasang ekspresi yang kesal.
Keberadaan Anitya bagai pedang bermata dua bagi mereke, para Konglomerat mulai kehilangan kekuatan mereka. Bahkan keluarga kerajaan yang punya kekuatan saja tunduk pada teknologi ini.
Keberadaan Anitya membuat banyak perusaahaan bangkrut karena banyak data mereka yang tersebar. Mulai dari kasus pencurian proyek, kas, dan informasi tidak bisa mereka hentikan. Bahkan untuk orang yang bekerja sebagai OB sekalipun seringkali kedapatan melakukan hal diatas.
Dulu saat Anitya masih belum ada, mereka hanya perlu menindak mereka dengan kecelakaan buatan sebagai hukuman terberat dan pemecatan sebagai hukuman paling ringan. Tapi jelas, hukuman terberat yang dilakukan untuk menjaga informasi tidak bisa dilakukan karena Anitya saat ini melindungi mereka.
Sementara itu, Sang Sangkuni tertawa lepas melihat ekspresi mereka yang kesal.
"Tenanglah, meskipun begitu, ada cara untuk membuat keinginan kalian untuk melakukan itu tercapai." Dia berkata sambil berjalan perlahan ke tamu kelima yang merupakan orang yang menjawab tadi.
"Batu akik itu, batu yang saat ini dimiliki oleh Keluarga Ningrat, Keluarga Tyas!" Dia berteriak di belakangnya.
"Keluarga itu sudah tahu akan kekuatan dari batu itu, makanya dengan di bawah perintah presiden. Keluarga Tyas menyimpan seluruh batu akik panca warna di keraton mereka!" Dia berteriak keras ke arah tamu keenam tanpa menghampirinya.
Salah satu tamu yang merupakan tamu pertama memberanikan diri untuk bertanya. "Bukankah anda bilang tadi, saat pertarungan penilaian guru. Apakah ada hubungannya dengan ini?" Tubuhnya bergetar hebat.
Bukan wajah kebingungan yang Sang Sangkuni keluarkan, melainkan wajah yang tersenyum seram. Dia menunjuk ke arah tamu pertama.
"Bingo, seperti yang kubilang. Anitya tidak sempurna, oleh karena itu. Beberapa kekuatan elemen Anitya bisa membunuh orang itu." Dia bersuara bangga dengan nada seram.
Tamu pertama masih memberanikan diri untuk bertanya lebih jauh. "Bukankah itu cara termudah untuk membunuh seseorang? Kenapa harus pakai batu akik?" Badannya masih bergetar hebat.
__ADS_1
Para tamu mulai menatap satu sama lain. Sang Sangkuni hanya tersenyum gila.
"Kau bodoh atau apa? Jika kita melakukan itu, maka itu akan meninggalkan jejak? Siapapun yang tersambung dengan Anitya tidak akan bisa menipu sang pangeran." Dia menatap tajam orang itu.
Sontak orang itu menundukkan kepalanya dengan berkeringat hebat dan merasa takut karena sudah bertanya.
"Setiap gerakan, langkah, makanan yang kita makan, bahkan nyawa yang telah kita hilangkan akan tercatat oleh sang pangeran!" Sang Sangkuni melebarkan tangannya dan mencoba bertanya pada mereka dengan suara yang keras.
"Itulah kenapa, batu akik itu. Jika digabungkan ke pageblug kita, benda itu bisa menghilangkan nyawa tanpa terdeteksi kekuatan Anitya!" Dia mulai mengitari tamu-tamu itu dengan pelan.
"Bukankah kalian, ingin niatan kalian tersembunyi?!" Matanya mulai menutup perlahan sambil menoleh dari tamu pertama sampai keenam.
Para tamu mulai menganggukkan kepala mereka menunjukkan kalau mereka telah paham maksudnya.
"Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan untuk mendapatkan batu itu?" Tanya dari tamu ketiga.
Sang Sangkuni dengan senyum iblisnya membuka layar hologram yang berisikan berita terkini. Di dalam berita itu tertulis bahwa Putri Tyas akan mengunjungi Sekolah Podoagung saat ujian berlangsung sebagai tamu VIP.
Para tamu melebarkan matanya dengan paham maksudnya.
"Kita bisa memaksa Putri Tyas untuk menyerahkan batu itu pada kita?" Ucap dengan bertanya tamu kelima.
Para tamu lain hanya bisa memegang kening mereka. Mereka merasa malu melihat kebodohannya.
"Kenapa?" Dia menatapi tamu yang lain dengan bingung.
Para tamu tidak menjelaskan sama sekali, tapi Sang Sangkuni berjalan mendekati orang itu.
"Apakah kau lupa, apa yang terjadi pada istri dan anakmu?" Sang Sangkuni memegang kedua bahu orang itu dari belakang sambil berbisik di kupingnya.
Matanya melebar dengan tatapan kosong. Dia paham maksud dari Sangkuni. Yang terjadi pada keluarganya adalah...
"Kita harus melakukannya, dengan cara itu!" Dia menggebrakkan meja rapat dan menyetujui rencana itu.
Para tamu lain juga mengangguk setuju, demi keberlangsungan perusahaan mereka. Mereka rela melakukan hal kotor ini.
Tapi semua itu sebenarnya hanyalah hasutan Sang Sangkuni.
__ADS_1
Ruangan rapat saat ini telah kosong, para tamu sudah bersiap menjalankan rencananya. Dia terdiam di ruangan yang gelap itu hanya dengan ditemani cahaya dari hologram. Mulutnya sedikit membuka. "Bodoh sekali...hi hi hi hihihihi!" Dia tertawa gila sendirian di ruangan itu.
"Cìkè Nǚwáng, kita akan bertemu kembali..."