
Mobil yang kami tumpangi berhenti tepat di depan tempat tujuan yang kumaksud.
Saat baru menginjakkan tanah di sini, suasana tempat ini langsung menyelimuti kulit kami dengan hawa dinginnya.
Karena itu juga, sebuah perasaan kalau saat ini ada yang dua pasang mata yang mengintip juga tidak terelakkan.
Atau mungkin, ini karena sekarang adalah jam 5 pagi, makanya suhu di sini dingin?
Terserahlah, aku akan tetap masuk.
"Rasyid..."
"Apa?"
"Apakah ini adalah tempat yang kau maksud?"
"Ya, jika kubilang alasannya. Alasanku sama denganmu."
"Alasan yang sama denganku, tapi ini kuburan lo?!"
"Aku ingin bertemu dengan temanku..." Suaraku terasa berat saat ingin melanjutkannya, tapi dengan sekuat tenaga. Aku memaksa mengucapkannya. "Dan mengucapkan selamat tinggal dengan benar."
Tatapan Erika yang diberikan padaku saat mendengar omonganku langsung berubah menjadi prihatin.
Apakah aku salah ngomong?
Tidak, itu tidak mungkin. Kalimatku tadi adalah kalimat simpel yang berangkai S.P.O.K
"Rasyid, aku tidak yakin dengan ini. Tapi, apa kau benar-benar sudah bersiap untuk ini?"
Aku menelan ludahku dan menghadap ke papan nama kuburan yang ada di atas gerbang itu.
"Ya, aku sudah siap!"
"Kalau begitu, ayo masuk..."
Dengan begitu, aku dengan ditemani Erika akan menghadap temanku yang sudah membantuku bangkit.
"Kau tahu tempatnya?" Sambil dijalan, dia mencoba mencairkan suasana.
"Tentu saja, jika aku tidak tahu malah bakal kerepotan."
"Hehehe, syukurlah."
......................
Saat ini, di depan kami berdua terbaring tubuh orang yang sudah terkubur. Batu nisan yang ada di bagian kepalanya menuliskan nama 'Jauhari' di sana.
"Jauhari... Dia temanmu yang pernah kau ceritakan saat itu, 'kan?" Nama Jauhari sudah sering dia dengar dari ceritaku saat itu.
"Ya..."
Saat ini, meskipun belum pernah bertemu dengannya. Tapi Erika menatap makam itu dengan raut yang sedih.
"Dia pasti orang yang sangat baik sampai peduli pada temannya sendiri." (Erika)
"Meskipun kau menghajarnya sekalipun, dia tetap akan ada di pihakmu dan mengasihinimu lagi dan lagi." (Erika)
"Saat kau berada di atas keterpurukan karena ulahmu sendiri, dia masih mengulurkan tangannya buatmu." (Erika)
"Meskipun kau berbohong padanya bila sudah melakukan tugasnya, dia tetap akan memamerkan giginya padamu." (Erika)
Erika menceritakan beberapa kilas balik yang dulu pernah kuceritakan padanya.
Tapi entah kenapa, ini malah terasa seperti mengejek. Namun wajah Erika yang tersenyum dengan air mata yang tertahan di matanya menandakan kalau dia tidak sedang menghinaku.
Aku jongkok dan membuka beberapa kitab untuk mendoakannya.
Sekitar 15 menit, kami menutup kitab itu dan berdiri lagi. Tak lupa beberapa bunga yang kudapat dari jalan kutaburkan di nisannya.
Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Ini juga akan menjadi upacan selamat tinggalku padanya.
"Terima kasih, Jauhari... Tanpamu, mungkin aku yang sekarang hanyalah boneka pembunuh."
"Dan sebagai temanmu yang bodoh ini, aku ingin mengucapkan: 'Kumohon maafkan aku!' Kebodohanku saat itu sungguh tidak bisa dimaafkan, tapi kau dengan entengnya menganggap hal itu tidak pernah terjadi!"
"Jika saja aku mendengarkanmu, mungkin hasilnya akan sedikit berbeda!" Tanpa sadar air mataku terpental-pental ke tanah saat menjeritkan itu.
"Namun... saat ini semuanya sudah terlambat, tidak ada yang bisa berubah!"
"Jadi..." Pernapasanku kuatur agar menghilangkan kegelisahan dalam diriku. "Sekali lagi, aku ingin mengucapkannya dengan benar..."
Matahari terbit dari timur dan bersinar tepat di belakangku. Bayanganku tampak besar sampai melewati 5 makam lainnya.
Di depan matahari itu, aku melengkungkan bibirku. Mataku yang mengantuk kupaksakan terbuka, air mataku yang mengumpul di bola mataku kutahan, dan tenggorokanku yang serak kupaksakan berdengung.
Dengan badan yang bergemetar, aku mengatakan: "Terima kasih, dan selamat jalan."
Bersamaan dengan itu, matahari yang baru saja terbit kini sudah berada di atasku dan membuat bayanganku mengecil kembali.
......................
Grak Grak Grak!
Jalan di makam ini terlihat tak terurus, maklum saja, tukang kebersihan hanya ada setiap satu bulan sekali di awal bulan dan saat ini adalah akhir bulan.
"Apa sudah selesai?" Erika yang berjalan di sampingku menatap prihatin diriku.
__ADS_1
Bagaimana tidak, wajahku saat ini sangatlah buruk. Terlebih tadi aku menangis layaknya orang bodoh.
Tapi,
"Belum, masih ada dua lagi." Ini belum selesai.
"Kalau begitu, ayo!"
"Hmm(mengangguk)..."
......................
Pemberhentian kedua kami adalah makam dari orang yang pernah menjadi kebahagiaanku yang pertama.
Di batu itu, tertulis nama Rosa dan tanggal lahir sampai matinya.
"Dia..." Mata Erika melebar tak percaya. "Rosa, dia adalah mantanmu yang pernah ter-(aku memotongnya)"
"Kumohon, jangan katakan lebih jauh!" Mengingatnya saja membuatku sakit.
Siapa yang bisa tahan mental, saat mengingat kenangan dirinya ter-NTR dengan brutal.
"Maaf..."
"Lupakan saja."
"Tapi, kenapa kau mau mengunjunginya?"
"Dia menjadi seperti itu karena kesalahanku juga. Saat itu, aku tidak menyadari gemetar di tangannya!" Dan terlebih, pesan yang ditinggalkan Salwa padaku juga menjadi penggerakku.
Semua kejadian ini sudah terbongkar, dalang utama dari Musim Panas Api.
Tapi itu masih garis kecilnya saja. Mungkin ada sesuatu yang lebih besar dibalik insiden itu.
Kembali ke topik, aku mulai jongkok dan membacakan kitab untuknya.
Sama seperti sebelumnya, hanya sekitar 15 menit aku berdiri lagi. Kali ini aku meninggalkannya tanpa melakukan apa-apa.
"Maafkan aku..."
Tidak mungkin buatku untuk dapat maaf darinya. Aku sudah gagal, bahkan total.
......................
Kembali ke jalanan makam yang kotor tak terawat itu.
Ada satu makam lagi, tapi ini sudah terlalu pagi. Dia akan datang ke sini dan berkunjung.
"Urusan kita sudah selesai."
"Heh?! Bukannya tadi kau bilang masih ada dua lagi?!"
Tapi untuk sekarang, aku sebaiknya tidak memperlihatkan wajahku saat bertemu orang itu. Bisa gawat soalnya.
"Ya, kalau begitu. Apa boleh buat." Erika sedikit kecewa, namun dia tidak bisa berbuat banyak.
......................
Langkah kami saat melewati perbatasn pintu gerbang terasa berbeda dari yang tadi.
Kini terasa panas menyengat, kulit kami terasa terbakar oleh panas matahari.
"Wah cerah sekali, padahal saat kita ke sini langit masih bewarna jingga."
Suara Erika tampak samar di kupingku. Kenapa itu terjadi?
Aku merasakan bunyi 'Nging!' yang berdenyut keras di kupingku.
Bunyi itu seakan memanggilku.
Tapi dari mana?
Saat melihat-lihat sekitar, tak ada satupun yang terllihat selain Erika yang masih menatapi langit biru.
Bunyi itu semakin keras tiap kali aku menghadap ke arah yang spesifik.
NGING!
Tepat saat aku menoleh ke bagian bunyi paling keras.
Mataku menangkap sosok pria dan wanita menatapku dari gerbang yang kulewati tadi.
Hantu?
Mataku tidak terlalu bisa melihat wajah mereka dari jauh. Tapi aku yakin kalau tubuh mereka disinari cahaya. Di bagian wajah mereka seperti... Sedang tersenyum.
Apakah senyum itu ditujukan padaku?
"Rasyid?! Kau kenapa?" Namun pandanganku teralihkan oleh Erika yang menatapku dengan bingung.
"Eh bukan apa-apa!"
Tidak mungkin aku bilang. 'Aku melihat hantu!' Dia tidak akan percaya, lagipula kalau aku beritahu dan dia percaya lalu ketakutan, maka aku juga yang akan repot.
"Kau aneh, kuharapkan kau tidak melamun karena ini kuburan."
"Hehehe tenang saja!"
__ADS_1
Erika langsung berjalan ke mobilnya.
Aku mencoba mengikutinya, tapi sebelum itu. Pandanganku kubalikkan ke gerbang itu lagi.
Kini tidak ada siapapun di sana.
"Rasyid?! Kau kenapa lagi?!"
"Bukan apa-apa!" Aku langsung berlari ke arahnya tanpa memikirkan lebih jauh apa itu tadi.
......................
Mobil berjalan dengan kecepatan penuh menuju tempat tujuannya.
Tapi kemana?
Dia tidak menyetir ke rumahnya, 'kan?
"Kita kemana?" Tanyaku mengantuk.
"Ke sekolah."
"Kau belum mandi..."
"Aku pulang dulu lah, baru ke sekolah. Mana mungkin aku mau ke sana tanpa mandi?!"
"Ucapanmu ambigu sekali."
"Heh... Ngomong-ngomong, apa kau tidak mau melihatnya?"
Mukanya berubah serius.
"Saat ini adalah hari terakhir ujian, dan seperti yang kau tahu. Ujian terakhir adalah pertarungan yang mirip seperti siege battle."
Ya aku ingat, itu tapi...
"Aku sebaiknya pass saja, lagipula saat ini aku bukan guru mereka."
Ini adalah kewenanganku saat ini, aku tidak boleh menginjakkan kaki di sekolah itu sampai dua orang tua itu memaafkanku.
"Kau tahu, dengan adanya guru. Para murid akan terlihat sedikit lebih termotivasi!" Dia mulai ceramah. "Karena guru adalah sosok pemimpin mereka, guru adalah moral mereka! Tanpa pemimpin di peperangan, maka para prajurit akan kehilangan will of fight mereka."
"Ya, aku mengerti. Tapi tetap saja... Ini adalah kewajibanku." Tidak banyak yang bisa kulakukan saat ini.
TING TING TING!
Tiba-tiba ponselku berdering.
"Telpon?"
"Bukan, cuman pesan."
"Tapi mukamu menjijikkan sekali lo!"
Melihat isi pesan yang tertera di layar ponselku membuat mulutku melengkung dan sangat senang.
"Erika..." Aku memanggilnya tanpa melepas ekspresi itu.
"Apa lagi? Bila itu sesuatu yang menjijikan, aku tidak akan segan-segan menendangmu dari mobil!" Dia menjawab dengan senyum gelisah.
Dia pikir aku gila.
"Aku sudah memutuskan untuk melihat mereka..."
"Hah?!"
Kalimat iu membuat dia terkejut. Stir yang ia pegang hampir oleng namun dia atasi dengan cepat.
[Isi pesan]
Bahar:
Kedua orang tua itu sudah berunding, mereka akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat.
Syaratnya: Kau tidak boleh menoleh ke belakang dan terus maju.
'Anda adalah contoh guru yang baik' Itu adalah apa yang orang tua itu katakan.
Aku dengar dari mereka, katanya anak-anak mereka sering menceritakan tentang kebaikan dan kehebatanmu.
Jadi mereka sadar, kalau anda sudah berjuang sebisa mungkin untuk menahan kejadian itu terjadi.
[Akhir pesan]
......................
Di sisi lain, tempat kuburan yang baru saja mereka datangi.
Seorang wanita dengan menggendong anaknya, berjalan membawa tas penuh bunga menyisiri area makam.
Dia menaburi bunga itu di tiga tempat, makam Rosa, makam Salwa, dan makam suaminya.
Matanya agak terkejut saat melihat nisan dari mendiang suaminya.
Ada banyak tumpukan bunga di sebelahnya.
"Apakah ada yang berkunjung, sayang?" (Haniyah)
__ADS_1
Tentu saja dia tidak tahu, karena yang menaburi itu sudah pergi sejak tadi pagi.