Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 125.


__ADS_3

*Wush!


Pageblug guru-guru itu diaktifkan dan bersiap untuk menghadapi masalah.


"Jadi, apa rencana kita?"


"Kita punya dua opsi, yaitu membawa diriku dan mereka berdua menjauh dari kerumunan, atau mengekavuasi orang-orang sekitar." Haran memberikan rencana pada mereka meskipun dadanya terlihat sangatlah sakit.


"Tunggu! Kenapa anda juga harus?!" Xander menajamkan matanya dengan penuh kejut.


Tasya yang tadi hanya numpang lewat kini juga memasang wajah curiga pada Haran.


"Heh(menyeringai), baiklah akan kujelaskan..." Tidak ada rasa keberatan sama sekali pada dirinya. "Baik aku, Sophia, dan Dahlia... Terkena sihir KODE."


"Sihir KODE?!" Bahkan Erika yang awalnya bersama Haran ikut terkejut.


Informasi ini sepertinya disembunyikan Haran sejak awal. Dia tidak mau orang lain tahu kalau dia terkena sihir murahan.


"Bagaimana menjelaskannya? Itu adalah semacam sihir khusus yang hanya dimiliki sedikit orang saja, dan aku yakin orang yang memiliki sihir itu pasti mendapatkannya dari seseorang." Saat mengatakan itu, Haran memikirkan wajah Rasyid yang menerima sesuatu misterius dari nenek itu.


"Sihir yang bukan dari elemen?!" Samuel menambahkan pertanyaan. "Apakah sihir itu seperti sihir yang akan diupgrade saat ini?!"


"(menggelengkan kepala)... Sihir ini bukan hanyalah sihir biasa, sihir ini tidak berhubungan dengan Anitya sama sekali." Saat mengatakan itu, beberapa keraguan masih menyertai guru itu.


"Dari nada bicaramu, sepertinya anda masih belum benar-benar memahami sihir ini." (Xander)


Sambil tersenyum hina, Haran menatap rendah sang pangeran. "Dunia sihir ini masihlah penuh misteri, sama seperti teknologi keabadian ini."


"Jangan-jangan..." Xander mengingat pertarungannya dengan Rasyid tadi malam.


Dia mengingat bagaimana sihirnya sama sekali tidak memengaruhi pria itu sama sekali.


Hanya dari pemikiran ini, Xander menyadari akar dari semua masalah ini.


Sophia dan Dahlia...


Xander mengingat-ingat nama dua siswi itu, mereka berdua tiba-tiba berubah setelah kedatangan Rasyid, terlebih lagi Dahlia yang seharusnya menyukai si ketua OSIS malah berubah haluan menjadi pacarnya pria itu. Puzzle demi puzzle mulai terbentuk, lalu dia langsung menoleh ke arah Haran.


Apakah Haran juga terkena sihir yang sama? Dia beberapa hari ini memang terlihat dekat dengan pria itu.


Saat memikirkan itu, Xander mengingat lagi kejadian semalam.


Sepatu terbang...


Dia tahu siapa penciptanya, tapi dia masih belum tahu kalau itu sudah prototype.


"Apa yang ingin kau tanyakan padaku, Xander?" Haran menyadari mata penuh tanya pangeran itu.


"Ti-tidak... Hanya saja, apakah anda juga memiliki sihir itu(sihir KODE)?"


"Heh(menggelengkan kepala)..."

__ADS_1


Haran tahu alasan kenapa pangeran itu tiba-tiba bertanya begitu. Sepatu buatannya jelas memiliki inti Sihir KODE, namun itu bukan berasal darinya, melainkan dari yang lain.


Sejujurnya aku saja masih belum menyadarinya saat itu, aku baru saja menyadarinya setelah dada-ku mulai merasa sakit. (Haran)


"Ngomong-ngomong, kenapa anda memilih kami, bukan guru seangkatan anda?" Tasya kini ganti bertanya.


"Hampir dari mereka semua adalah peneliti, aku tidak mau masalah ini menarik perhatian mereka." Haran menoleh ke bawah dan menatapi lantai teras sekolah. Terlebih lagi pada dia, Zarbeth Paniati. Nama itu adalah nama yang paling tidak diingikan Haran untuk tahu. Bila dia tahu, mungkin Haran akan dicap sebagai penghianat.


....


"Sepertinya sesi tanya jawabnya sudahi dulu..." Haran mencengkram dadanya lebih kuat. "Rasa sakit ini terlalu berat buat para remaja."


Dengan perintah guru itu, mereka berlima beranjak dari teras kelas itu dan pergi ke tempat dua siswi itu berada.


......................


Suasana yang mencengkam masih terasa di sekolah itu.


Dahlia dan Sophia yang mulai merasakan sakit yang menggelegar, bukan hanya itu saja, perasaan marah juga akan merasuki dalam diri mereka. Mereka saat ini dibawa ke UKS untuk diperiksa.


Para murid dan guru masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.


Dengan berbekal panik, para guru mencoba beberapa medis namun tidak ada yang berhasil. Mereka juga mencoba beberapa mesin dari teknologi modern untuk meredakan sakit, dan hasilnya masihlah nihil.


Di pojok dinding dekat pintu, seorang nenek tua menatapi kedua siswi itu dengan mata tajam dan tangan yang menyilang.


"Apakah ini perbuatanmu, Nova?"


"Seandainya sihir KODE tidak pernah ada..." Air mata penyesalan mulai turun dari pipinya. Meskipun tidak terlibat langsung, Zarbeth merasa sangat bersalah dengan apa yang pernah diperbuat temannya itu. "Seandainya kau tidak mengejar mimpi suamimu yang hanyalah memenuhi harapan orang lain..." Zarbeth menahan kalimat selanjutnya. "...Itu hanyalah harapan dari orang purba. Dia bahkan sudah mati lebih dari 700 tahun yang lalu, tapi kenapa kalian sangat keras kepala ingin mewujudkannya."


Saat di tengah-tengah drama sedih seorang makhluk tua, sebuah langkah kaki yang berkerumun terdengar keras sedang mendekat.


Langkah-langkah itu berbunyi *tak* dengan sangat tenang, namun penuh akan keyakinan. Di antara langkah-langkah kaki dari orang banyak itu, Zarbeth mengenali salah satu langkah kaki itu.


"Haran, apa yang kau inginkan?"


Saat mengatakan itu, Zarbeth menoleh ke arah pintu yang berada di sampingnya. Saat itu pula, dia langsung melihat wajah dewasa yang elegan dengan rambut hitam panjang dan mata merah yang sedang melotot ke arahnya.


Zarbeth merasakan kalau Haran sesang sedikit berakting. Dia sadar kalau wanita itu sedang menahan sakit, tapi dia tidak ingin memperlihatkannya


"Apa yang kau inginkan dari datang kemari?"


"Biarkan aku membawa mereka berdua jauh dari sini."


"Kenapa?"


Saat ditanya, Haran terdiam dan masih mencoba mencari alasan. Bila saja itu orang lain mungkin tidak akan menyadarinya, tapi Zarbeth sudah bersama Haran sejak sekolah ini dibuat. Kebohongan kecil akan mudah terlihat dari mereka berdua.


"Sepertinya berbohong padamu tidak akan membuahkan hasil."


"Apakah kau tidak bisa menjelaskan alasannya?"

__ADS_1


"Tidak, tapi aku akan tetap mengambil mereka." Haran mendekatkan cakram miliknya ke dekat leher wanita tua itu.


*Ctang!


Namun dengan sangat cepat, Zarbeth melakukan parry dan mementalkan senjata wanita itu. Tongkatnya yang terbuat dari kayu oak dan memiliki ujung yang menyerupai kepala naga terlihat bercahaya dan dicengkram kuat oleh nenek itu.


Dia memasang posisi bersiap.


"Jika kau mengatakan begitu, maka aku juga akan mengatakan hal yang sama. Aku akan tetap menahannya sampai kau menjelaskannya."


Haran menyeringai dan melihat rendah nenek tua sok kuat itu.


Di sisi lain, Zarbeth sudah tahu apa yang akan terjadi setelahnya.


"Keluarlah kalian, kalian juga mau menghajarku, bukan?"


Setelah berteriak, dua orang pria dan wanita memperlihatkan batang hidungnya dengan Pageblug yang sudah diaktifkan.


Saat melihat keempat guru itu, Zarbeth menajamkan matanya dan mencengkram lebih kuat tongkatnya. Dia menjadi semakin yakin kalau mata-mata itu adalah dia.


"Jadi memang begitu, ya?" Zarbeth sedikit kecewa dengan Haran karena sudah berhianat.


Atau-...


Sayangnya pikirannya teralihkan oleh sesuatu. Nenek itu merasakan sesuatu yang lain dari Haran. Matanya langsung tertuju pada mata wanita itu.


Saat dilihat, mata Haran tidak menunjukkan sedikitpun cahaya, dan seperti bertindak bukan karena keinginannya.


Bulu kuduk nenek itu semakin menjadi-jadi setelah melihat itu, dan sepertinya mereka berempat belum tahu keadaan asli wanita itu. Dia sudah sepenuhnya dikendalikan oleh emosi seseorang.


"Kalian berempat, menjauh dari Haran! Dia sudah-" Zarbeth mencoba memperingati keempat guru itu, namun sesuatu terjadi sebelum dia berhasil menyelesaikan kalimatnya.


SLASH!


Haran mengayunkan cakramnya kebelakang dan menyerang Xander yang berada di dekatnya. Ayunan itu mengenai bagian tangan Xander yang memegang Rapier.


Dengan seketika tangannya yang masih memegang senjata itu terjatuh ke lantai dan membuat Xander hanya bisa melongo bodoh.


Xander yang menjadi korban pertama Haran masih belum memberikan reaksi sama sekali, namun itu tidaklah lama.


"GYAHHHHH!" Xander memegangi tangannya yang terputus, dia merasakan sakit yang hebat meskipun dia sudah pernah tepotong beberapa kali. Kali ini rasa sakitnya sangatlah berbeda, rasa sakit yang ia alami saat ini sangatlah fatal.


"Xander-!" Belum juga Erika bereaksi, Haran seketika melesat dan kembali mengayunkan cakramnya ke arah leher wanita itu.


"Tidak akan kubiarkan!" Zarbeth yang menyadari bahaya yang besar seketika mengangkat tongkatnya dan mencoba mengaktifkan sebuah sihir.


*WUSH!


Tubuh Haran membeku dan tidak terlihat seperti bisa bergerak dalam waktu dekat.


"Lari!" Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Zarbeth meminta mereka semua meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


Xander masih bisa berlari normal, namun Erika harus dibopong oleh Samuel menjauh karena kondisi wanita itu sedang dalam kondisi pingsan.


__ADS_2